Minggu, 29 November 2015

ANALISIS GAYA BAHASA DALAM NOVEL TERATAK KARYA EVI IDAWATI DAN NOVEL 9 DARI NADIRA KARYALEILA S. CHUDORI Disusun Oleh: SRI LINDAWATI NPM. 20142110035



ANALISIS GAYA BAHASA

DALAM NOVEL TERATAK KARYA EVI IDAWATI

DAN NOVEL 9 DARI NADIRA KARYALEILA S. CHUDORI



Di ajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
                                        LINGUISTIK LANJUT DAN TERAPAN 



Disusun Oleh:
SRI LINDAWATI
NPM. 20142110035




















BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Karya sastra merupakan hasil ciptaan manusia yang mengekspresikan pikiran, gagasan, dan tanggapan perasaan penciptanya tentang kehidupan dengan menggunakan bahasa yang imajinasif dan emosional. Sebagai hasil imajinatif, sastra selain berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan, juga berguna untuk menambah pengalaman batin bagi pembacanya. Karya dapat dikaji dari beberapa aspek, misalnya bahasa.  Sastra merupakan sebuah media untuk menuangkan ide, imajinasi maupun pengalaman kehidupan manusia dalam sebuah karya dengan menggunakan bahasa yang khas sehingga memiliki nilai estetis. Al-Ma’ruf (2010: 2) mengemukakan bahwa karya sastra merupakan dunia imajinatif yang merupakan hasil kreasi pengarang setelah merefleksi lingkungan sosial kehidupannya. Dunia dalam karya sastra dikreasikan dan sekaligus ditafsirkan lazimnya melalui bahasa. Apa pun yang dipaparkan pengarang dalam karyanya kemudian ditafsirkan oleh pembaca, berkaitan dengan bahasa.
Dewasa ini, stilistika telah menjadi sebuah cabang ilmu, yang berasal dari interdisipliner linguistik dan sastra. Sebelumnya, stilistika belum dikaji secara ilmiah. Dengan demikian sesungguhnya sudah sejak lama ditelaah. Istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata style dan ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics atau ika adalah ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa.
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok  dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata, struktur kalimat, majas dan citra, polarima, makna yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Dengan membaca sebuah karya sastra, kita dapat juga menentukan ragamnya (genre) berdasarkan gaya bahasa teks karena kekhasan penggunaan bahasa, termasuk tipografinya. Gaya bahasa sebuah karya juga dapat mengungkapkan periode, angkatan, atau aliran sastranya. Misalnya kita dapat mengenal gaya sebuah karya sebagai gaya egaliter(gaya ragam); kita mengenal gaya realisme dalam karya yang lain (gaya aliran). Sebuah karya kita perkirakan terbit pada zaman Balai Pustaka dengan memperhatikan gaya bahasa (gaya angkatan).
Gaya bahasa bagian dari diksi yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frase atau kalimat tertentu. Adapun jankauan gaya bahasa tidak hanya unsur kalimat yang mengandung corak tertentu, seperti dalam retorik klasik (Keraf, 2008:112). Sebagai gejala sosial, bahasa  dan pemakaian gaya bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor internal saja melainkan faktor-faktor sosial dan situasional.  Faktor sosial misalnya status sosial, jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi dan sebagainya.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar  belakang yang telah diuraikan di atas, maka dirumuskan dua rumusan masalah sebagai berikut.
         1.      Bagaimana gaya bahasa dalam novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori?
         2.      Gaya bahasa apa yang dominan dalam novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori?
C.  Tujuan Masalah
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini ada tiga (3) hal,yaitu:
         1.      Mendeskripsikan gaya bahasa yang terdapat pada novel  Teratak  karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
        2.      Mendeskripsikan gaya bahasa yang dominan dalam novel  Teratak  karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
D.  Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian ini, yaitu:
      1.      Manfaat teoritis
Seorang penulis dapat mengetahui gaya bahasa yang terdapat pada novel Teratak karya Evi Idawati. Seorang penulis dapat memberikan contoh tentang gaya bahasa yang terdapat pada novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
      2.      Manfaat praktis
Bagi pembaca dapat mengetahui tentang gaya bahasa yang terdapat pada novel Teratak karya Evi Idawati. Pembaca dapat mengetahui contoh tentang gaya bahasa yang terdapat pada novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.


  









BAB II
KAJIAN TEORI
A.  Novel
1.    Pengertian Novel
Novel adalah sebuah fiksi prosa yang  tertulis dan naratif biasanya dalam bentuk cerita. Novel juga mampu menjadikan topiknya menonjol seperti mokrokomis cerpen. Sebaliknya, novel mampu menghadirkan perkembangan atau karankter, situasi, dan sebagai peristiwa ruwet yang terjadi beberapa tahun silam secara mendetail (Stanton, 2007:90). Novel lebih panjang dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan material sandiwara atau sajak. Umumnya novel bercerita tentang toko-tokoh dan kehidupan sehari-hari, dengan menitik  beratkan pada sisi yang aneh dari naratif tersebut.
Novel merupakan salah satu media untuk menyampaikan ide dan gagasan melalui cerita yang ditulis oleh novelis yang memanfaatkan bahasa dan gaya bahasa. Seperti dalam novel Teratak  banyak sekali jenis gaya bahasa yang digunakan oleh seorang novelis lain untk mengungkapkan ide dan gagasan yang dituangkan dalam sebuah cerita. Hal ini menunjukkan gaya bahwa adanya keanekaragaman variasi gaya bahasa. Adanya variasi dalam penulisan gaya bahasa pada novel menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pemakaian gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penulis.  Sebuah kata yang tepat untuk menyanpaikan maksud tertentu perlu diperhatikan kesesuian situasi yang dihadapi. Dalam hal ini diperlukan gaya bahasa yang  tepat digunakan dalam suatu situasi. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi berkaitan dengan dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik tinggi (Keraf, 2004: 23).  Dengan kemampuan seseorang menggunakan bahasa.
      2.      Macan-Macam Novel
Nurgiyantoro (2007:16) membedakan novel menjadi dua yaitu novel polpuler dan novel serius.
          a.       Novel Popular
Sastra populer adalah perekam kehidupan dan tidak banyak membincangkan kembali kehidupan dalam serba kehidupan.  Sastra populer menyajika kembali rekaman-rekaman kehidupan dengan tujuan membaca akan mengenali kembali pengalannya. Oleh karena itu, sastra populer yang baik banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasi dirinya (Kayam dalam Nurgiyantoro 2007:18).
          b.      Novel Serius
Novel serius atau yang lebih dikenal dengan sebutan novel sastra merupakan jenis karya sastra yang dianggap pantas dibicarakan dalam sejarah sastra. Nurgiyantoro (2007: 18) menyatakan bhwa novel serius harus sanggup memberikan segala sesuatu yang mungkin, hal yang itu yang disebut makna sastra yang sastra. Novel serius bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca, juga memberikan pengalaman yang berharga dan mengajak untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan.
Novel sastra menutut aktivitas pembaca lebih serius dan mengoprasikan dan intlektualnya. Hal ini dikarenakan novel sastra cenderung menampilkan tema-tema yang lebih serius. Hal yang berbeda dengan novel populer yang selalu mengikuti selera pasar dan mengamdi kepada pembaca. Nugiyantoro (2007: 18) mengungkapkan bahwa dalam novel serius, jika ingin memahaminya dengan baik diperlukan daya kosentrasi yang tinggi disertai kemauan untuk itu.
B.  Gaya Bahasa
1.      Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa bagian dari diksi yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frase atau kalimat tertentu. Adapun jankauan gaya bahasa tidak hanya unsur kalimat yang mengandung corak tertentu, seperti dalam retorik klasik (Keraf, 2008:112). Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian gaya bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor internal saja melainkan faktor-faktor sosial dan situasional.  Faktor sosial misalnya status sosial, jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, tinkat ekonomi dan sebagainya.
Gaya bahasa tidak ubahnya sebagai aroma dalam makanan yang berfungsi untuk menikatkan  selera. Gaya bahasa merupakan retorika, yakni penggunaan kata-kata dalm berbicara dan menulis untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar (Al-Ma’ruf, 2009:15). Jadi, gaya bahasa berfungsi ebagai alat untuk meyakinkan atau mempengaruhi pembaca atau pendengar.Gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur yaitu kejujuran, sopan santun dan menarik. Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa.
Pemakaian kata yang kabur dan tidak terarah serta  penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan mengandung ketidak jujuran. Sopan santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara. Kata hormat bukan berarti memberikan penghargaan atau penciptaan kenikmatan melalui kata-kata  manis sesuai dengan basa-basi dalam pergaulan masyarakat beradap. Pengertian diatas dapat disipulkan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan bahasa yang indah melalui pemikiran. Gaya bahasa memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis dengan membandingkan sesuatu dengan hal lain. .
2.      Penggolongan Gaya Bahasa
Kerap (2004:113) gaya bahasa digolongkan menjadi empat kategori :
a)    Berdasarkan pilihan kata : Resmi, Tak resmi, Percakapan
b)   Gaya bahasa  berdasarkan  nada (Keraf: 2004 : 121-122):  Sederhana, Mulia, Menengah
c)    Jenis-Jenis Gaya Bahasa  : Repitisi, Letotes,  Erotesis atau pertanyaan retoris,  Hiperbola,  Paradoks,  Persamaan atau simile,  Metafora, Personifikasi,  Epitet,    Sinedoks,    Metonimia,    Hipasase,    Antonomasia, Klimaks,    Pleonasi,    Pararelisme,    Aliterasi,    Asonansi,    Anastrop, Apostrof, Asindeton,    Rolisindeton,  Kiasmus,  Apofasif,  Elepsis, Eufimisme, Histeron, Perifrasis, Prolepsis, Silepsis, Koreksio, Oksimoran, Parabel,  Alusu,  Eponim,  Satire,  Inuendo,  Antrifrasis,  Paranomasia (keraf, 2008:127-145), Senentensia (Waridah, 2009:322)
3.      Analisis Gaya Bahasa dalam Bentuk
Penelitian tentang pemakaian gaya bahasa dalam novel ini setelah dilakukan teknik analisis dokumen data, diperoleh sebanyak 45 data berupa kalimat yang mengandung gaya bahasa yang terdiri dari  16 jenis gaya bahasa yaitu:
a)    Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yaitu: Klimaks, Antitetis, Repitisi
b)   Gaya bahasa berdasarkan langsung tindakannya makna kerap (2004 : 129): 1).Gaya bahasa retoris  (Pertanyaan retoris (erotesis) dari kata apakah,  Korelasi, Hiperbola, 2)  Gaya bahasa kiasan  (Simile, Metafora), 3)  Personifikasi (Alusia,  Sinedoks,  Epitek,  Metonomia,  Gaya bahasa yang dominandalam novel Teratak karya Evi Idawati).
  C.  Pengertian Stilistika
Berbagai pengertian stilistika telah dirumuskan oleh ahli sastra dan linguistik. Pengertian stilistika secara sederhana dan luas diurai di bawah ini.
Istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata styledan ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Icsatau ikaadalah ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa.
Dalam Tifa Penyair dan Daerahnya, Jassin merumuskan bahwa ilmu bahasa yang menyelidiki gaya bahasa disebut stilistika atau ilmu gaya (1978:127). Dalam Mitos dan Komunikasi, “Strategi untuk Suatu Penyelidikan Stilistika,” Yunus merumuskan stilistik (a) dibatasi kepada penggunaan bahasa dalam karya sastra.
Dalam beberapa kamus umum dan istilah pengertian stilistika itu sama atau hampir bersamaan. Dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia(1988:859), stilistika, ilmu tentang penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Dalam Kamus Dewan(1996:1305), Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Stilistik:
           1)      Kajian tentang penggunaan gaya bahasa secara berkesan dalam penulisan.
           2)      Berkaitan dengan stailatau gaya, terutama gaya bahasa penulisan.
Dalam Kamus Istilah Sastra, Sudjimar (1990:79) menuliskan stilistika (Stylistics), ilmu yang menyelidiki penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Dalam Kamus Istilah Sastra, Zaidan dkk (1994:194) menuliskan stilistika ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa dalam karya sastra. Dalam Leksikon Sastra, Yusuf (1995:277) menuliskan stilistika (Stylistics), ilmu yang menyelidiki bahasa yang digunakan dalam karya sastra, perpaduan ilmu linguistik dan sastra.
Dalam Kamus Linguistik, Kridalaksana (1982:159) membeberkan pengertian stilistika.
              1)      Ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara  
                 linguistik dan kesusastraan.
              2)      Penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa.
Dalam Kosa Semiotika, Budiman menuliskan bahwa dilihat dari sudut pandangan tertentu, stilistikmerupakan subsidiplin linguistik yang mengarah perhatian terhadap teks-teks sastra. Stilistikmenerapkan metode-metode struktural terhadap teks-teks sastra. Di samping itu dilihat dari perspektif lain, stilistik dapat dipahami sebagai suatu disiplin otonom yang mencoba menerapkan secara ekfektik metode-metode baik linguistik maupun ilmu sastra (1999:111).
Dalam Perbincangan Gaya Bahasa Sastra, sastrawan negara Keris Mas, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1988:8) berpengertian bahwa stilistika tidak lain dari pada kajian stail, yang mengkaji segala kemungkinan gaya kesusastraan untuk menilai dan mendapat kefahaman benar mengenai sebuah teks kesusastraan.
Dalam Stylistics, Harmondworth Penguin Book Tunner (1977:7) merumuskan bahwa stilistika adalah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan bahasa terutama bahasa dalam kesusastraan.
Berdasarkan berbagai uraian di atas dapat dirumuskan bahwa:
     1)      Stilistika adalah ilmu interdisipliner linguistik dengan sastra.
     2)      Stilistika adalah ilmu tentang pemakaian bahasa dalam karya sastra.
     3)      Stilistika adalah ilmu gaya bahasa yang digunakan dalam wacana sastra.
     4)      Stilistika adalah mengkaji wacana sastra dengan orientasi linguistik.
Sebagai ilmu interdisipliner stilistika dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Disiplin                        Linguistik                   Studi Sastra

                    Stilistika

Subjek                         Bahasa                         Sastra
Diadaptasi dari Widdowson (1985:4).
D.  Gaya Novel  Teratak  karya Evi Idawati
1.    Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat meliputi: repitisi, anafora, mesodiplosis, antitesis.
2.    Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna meliputi: retoris, litotes
3.    Gaya bahasa berdasarkan gaya bahasa kiasan meliputi: simile atau persamaan, metafora, ironi, personifikasi, sinentensia
 bahasa yang paling dominan dalam Novel  Teratak  karya Evi Idawati dapat dilihat di bawah ini. 
            1.      Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat: Klimaks 0, Antiklimaks 0, Paralelisme 0, Antitesis 2, dan dalam Repitisi:  Epizeukjsis 7, Tautotes  0, Simploke 0, Epannelepsis 0,  Mesodiplosis 4, Anafora 9 .
            2.      Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya: Gaya bahasa letotes: Aliterasi 0, Asonansi 0, Apostrof  0, Asidentol  0, Polisidentol 0, Kiasus 0, Ellipsis 0, Eufemisme   0, Litotes 3, Histeron proteron  0, Pleonasme  0, Prolepsis   0, Perifrasis  0, Koreksio   0, Pertanyaan   3, Silepsis   0, Hiperbola 0, Oksimoron 0, Paradoks 0.
            3.      Gaya bahasa kiasan: Simile 1, Metafora 9, sinentensia  1, Personifikasi 1, Alusia 0, Eponim 0, Epitet 0, Sinedoks 0, Metonomia 0, Antonomasia  0, Hiperbola 3, Ironi   0, Satire 0, Inuendo 0, Antifrasis 0, Paronomasia 0.
Dapat kita liat pada tabel di atas bahwa dalam penggunakan gaya bahasa metafora dalam novel  Teratak  Karya Evi  Idawati  itu lebih menonjol dibanding dengan personifikasi maupun sinentensia. Hasil analisis Novel  Teratak  di atas menunjukan bahwa Evi Idawati  lebih banyak menggunakan gaya bahasa repetisi. Hal ini  terbukti kalau gaya bahasa lebih banyak datanya dibanding dengan gaya bahasa yang lain.
E.  Gaya Bahasa Novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
Analisis Stilistika Novel 9 Nadira  yang dirasakan penting dianalisis untuk mengetahui bentuk artikel politik yang ada di Indonesia menyangkut bahasanya dan makna yang terkandung didalamnya.perti seseorang yang meminta pengampunan dosa dan memang begitu isinya. Gaya bahasa yang dominan adalah gaya bahasa hiperbola, seperti yang nampak pada bait berikut: 

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Makna Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang lebih ditekankan kepada seorang yang meminta diampuni dosanya karena sudah membunuh orang-orang yang bersalah maupun tidak bersalah. Ini dapat terlihat dari penggalan puisi berikut :
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Serdadu tersebut menerima nasib sebagai serdadu yang tugasnya membunuh orang dimedan perang. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya membunuh orang lain yang dianggap musuh. Tetapi ia mesti melaksanakan tugasnya itu. Mungkin dalam hal ini serdadu itu menyesali mengapa tugasnya demikian.
tify;l) a h i 0 l'> 
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

Kelaparan digambarkan seperti iblis dan batu-batu karang yang menakutkan.
Analisis yang pertama akan dimulai dengan puisi yang pertama puisi Doa Orang lapar.

Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Dalam penggalan puisi diatas, kelaparan digambarkan seperti seekor burung gagak yang licik dan hitam. Kita bisa perhatikan seekor burung gagak yang lapar mereka akan memakan apa saja yang ada dihadapan mereka, tidak peduli lawan atau kawan yang penting burung itu merasa kenyang. Dan kelaparan digambarkan seperti demikian, karena jika seseorang lapar akan berbuat layaknya burung gagak tersebut. Kelaparan juga dapat membuat seseorang menjadi pemberontak dan menjadi pembunuh. Jika kita lihat berita-berita di televisi, seseorang tega menghabisi rekan atau sanak saudaranya sendiri kebanyakan disebabkan oleh orang-orang miskin yang kesulitan ekonomi dan pastinya lapar. Mengapa dalam puisi tersebut digambarkan orang miskin? Itu disebabkan karena kebanyakan orang yang kelaparan adalah orang miskin dan orang kaya tidak pernah merasakan apa itu kelaparan. Kelaparan juga digambarkan seperti batu karang yang tenang tetapi dapat melahap siapa saja.
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
Dari bait diatas, dapat kita lihat jikalau kelaparan juga membuat seseorang yang gagah dapat menangis. Intinya kelaparan dapat merusak siapa saja, tua-muda ataupun gagah-lemah. Tak peduli bagaimana kehormatan itu yang penting kenyang.














BAB III
PENUTUP
A.  SIMPULAN
      1.      Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis gaya bahasa pada Novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori, maka dapat disimpulkan di bawah ini.
        2.      Gaya bahasa yang terdapat dalam novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori adalah sebagai berikut:
a.       Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat meliputi: repitisi, anafora, mesodiplosis, antitesis.
b.      Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna meliputi: retoris, litotes
c.       Gaya bahasa berdasarkan gaya bahasa kiasan meliputi: simile atau persamaan, metafora, ironi, personifikasi, sinentensia.
          3.      Gaya bahasa yang paling dominan dipakai dalam novel  Teratak  karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori adalah repitisi. Tujuan pemakaian gaya bahasa dalam novel  Teratakadalah agar  pembaca mengetahuai dan memahami gaya bahasa yang terdapat dalam novel terdebut.
B.  Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:
        1.      Makalah ini dapat dijadikan sebagai motivasi dan referensi dalam pengembangan pembelajaran terutama pada gaya bahasa. Diharapkan setelah penulisan makalah ini muncul penulisan makalah sehingga dapat menumbuhkan motivasi dalam membaca dan mempelajari gaya bahasa.
         2.      Pembelajar bahasa dapat menambah pengetahuan mengenai gaya  bahasa dan jenis-jenis gaya bahasa, Pembelajar bahasa juga dapat memberikan contoh dari gaya bahasa.
        3.    Guru hendaknya dapat menggunakan novel atau sumber belajar laennya sebagai materi pembelajar Bahasa Indonesia di sekolah untuk menambah pengetahuan siswa mengenai bahasa.













DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma’ruf, Ali Imron.  2009.  Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian
Estetika Bahasa. Solo: Cakra Books.
Idawati, Evi. 2009. Teratak. Yogyakarta : ISAC BOOK
Keraf, Gorys. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kusuma, Tri Mastoyo Jati. 2007.  Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta:
Rosdakarya.
Mahsun . 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Grafindo Pustaka
Ratna, Nyoman Kunta. 2006.  Teori, Metode, Teknik Penelitian Sastra.  Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sudaryanto.1993.  Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.  Yogyakarta:
DutaWacana University Press.
Waridah, Ernawati. 2009. EYD  dan Seputar Kebahasaan. Jakarta : Kawan Pustaka.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar