ANALISIS
GAYA BAHASA
DALAM NOVEL TERATAK KARYA EVI
IDAWATI
DAN NOVEL 9 DARI NADIRA KARYALEILA S.
CHUDORI
Di ajukan untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah
LINGUISTIK LANJUT DAN TERAPAN
Disusun Oleh:
SRI
LINDAWATI
NPM.
20142110035
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Karya sastra merupakan hasil ciptaan manusia yang
mengekspresikan pikiran, gagasan, dan tanggapan perasaan penciptanya tentang
kehidupan dengan menggunakan bahasa yang imajinasif dan emosional. Sebagai
hasil imajinatif, sastra selain berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan,
juga berguna untuk menambah pengalaman batin bagi pembacanya. Karya dapat
dikaji dari beberapa aspek, misalnya bahasa.
Sastra merupakan sebuah media untuk menuangkan ide, imajinasi maupun
pengalaman kehidupan manusia dalam sebuah karya dengan menggunakan bahasa yang
khas sehingga memiliki nilai estetis. Al-Ma’ruf (2010: 2) mengemukakan bahwa
karya sastra merupakan dunia imajinatif yang merupakan hasil kreasi pengarang
setelah merefleksi lingkungan sosial kehidupannya. Dunia dalam karya sastra
dikreasikan dan sekaligus ditafsirkan lazimnya melalui bahasa. Apa pun yang
dipaparkan pengarang dalam karyanya kemudian ditafsirkan oleh pembaca,
berkaitan dengan bahasa.
Dewasa
ini, stilistika telah menjadi sebuah cabang ilmu, yang berasal dari
interdisipliner linguistik dan sastra. Sebelumnya, stilistika belum dikaji
secara ilmiah. Dengan demikian sesungguhnya sudah sejak lama ditelaah.
Istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam
bahasa Inggris. Istilah stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata style dan ics.
Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya
bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics atau ika adalah
ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa.
Majas atau gaya
bahasa adalah pemanfaatan kekayaan pemakaian ragam tertentu untuk
memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok dan
cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun
tertulis . Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata,
struktur kalimat, majas dan citra, polarima, makna yang digunakan seorang
sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Dengan membaca sebuah
karya sastra, kita dapat juga menentukan ragamnya (genre) berdasarkan gaya
bahasa teks karena kekhasan penggunaan bahasa, termasuk tipografinya. Gaya
bahasa sebuah karya juga dapat mengungkapkan periode, angkatan, atau aliran
sastranya. Misalnya kita dapat mengenal gaya sebuah karya sebagai gaya
egaliter(gaya ragam); kita mengenal gaya realisme dalam karya yang lain (gaya
aliran). Sebuah karya kita perkirakan terbit pada zaman Balai Pustaka dengan
memperhatikan gaya bahasa (gaya angkatan).
Gaya bahasa bagian dari diksi yang mempersoalkan
cocok tidaknya pemakaian kata, frase atau kalimat tertentu. Adapun jankauan
gaya bahasa tidak hanya unsur kalimat yang mengandung corak tertentu, seperti
dalam retorik klasik (Keraf, 2008:112). Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian gaya bahasa tidak hanya
ditentukan oleh faktor internal saja melainkan faktor-faktor sosial dan
situasional. Faktor sosial misalnya
status sosial, jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi dan sebagainya.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah diuraikan di atas, maka dirumuskan dua rumusan
masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana
gaya bahasa dalam novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori?
2. Gaya
bahasa apa yang dominan dalam novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori?
C. Tujuan
Masalah
Tujuan
yang hendak dicapai dalam penelitian ini ada tiga (3) hal,yaitu:
1. Mendeskripsikan
gaya bahasa yang terdapat pada novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
2. Mendeskripsikan
gaya bahasa yang dominan dalam novel
Teratak karya Evi Idawati dan
novel 9
Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
D. Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian ini,
yaitu:
1. Manfaat
teoritis
Seorang penulis dapat
mengetahui gaya bahasa yang terdapat pada novel Teratak karya Evi Idawati.
Seorang penulis dapat memberikan contoh tentang gaya bahasa yang terdapat pada
novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
2. Manfaat
praktis
Bagi pembaca dapat
mengetahui tentang gaya bahasa yang terdapat pada novel Teratak karya Evi
Idawati. Pembaca dapat mengetahui contoh tentang gaya bahasa yang terdapat pada
novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
BAB II
KAJIAN
TEORI
A. Novel
1. Pengertian
Novel
Novel adalah sebuah
fiksi prosa yang tertulis dan naratif
biasanya dalam bentuk cerita. Novel juga mampu menjadikan topiknya menonjol
seperti mokrokomis cerpen. Sebaliknya, novel mampu menghadirkan perkembangan
atau karankter, situasi, dan sebagai peristiwa ruwet yang terjadi beberapa
tahun silam secara mendetail (Stanton, 2007:90). Novel lebih panjang dan lebih
kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan material
sandiwara atau sajak. Umumnya novel bercerita tentang toko-tokoh dan kehidupan
sehari-hari, dengan menitik beratkan
pada sisi yang aneh dari naratif tersebut.
Novel merupakan salah
satu media untuk menyampaikan ide dan gagasan melalui cerita yang ditulis oleh
novelis yang memanfaatkan bahasa dan gaya bahasa. Seperti dalam novel
Teratak banyak sekali jenis gaya bahasa
yang digunakan oleh seorang novelis lain untk mengungkapkan ide dan gagasan
yang dituangkan dalam sebuah cerita. Hal ini menunjukkan gaya bahwa adanya
keanekaragaman variasi gaya bahasa. Adanya variasi dalam penulisan gaya bahasa
pada novel menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pemakaian gaya
bahasa yang digunakan oleh seorang penulis.
Sebuah kata yang tepat untuk menyanpaikan maksud tertentu perlu
diperhatikan kesesuian situasi yang dihadapi. Dalam hal ini diperlukan gaya
bahasa yang tepat digunakan dalam suatu
situasi. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi berkaitan dengan dengan
ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik
tinggi (Keraf, 2004: 23). Dengan kemampuan
seseorang menggunakan bahasa.
2. Macan-Macam
Novel
Nurgiyantoro
(2007:16) membedakan novel menjadi dua yaitu novel polpuler dan novel serius.
a. Novel
Popular
Sastra populer adalah
perekam kehidupan dan tidak banyak membincangkan kembali kehidupan dalam serba
kehidupan. Sastra populer menyajika
kembali rekaman-rekaman kehidupan dengan tujuan membaca akan mengenali kembali
pengalannya. Oleh karena itu, sastra populer yang baik banyak mengundang
pembaca untuk mengidentifikasi dirinya (Kayam dalam Nurgiyantoro 2007:18).
b. Novel
Serius
Novel serius atau yang
lebih dikenal dengan sebutan novel sastra merupakan jenis karya sastra yang
dianggap pantas dibicarakan dalam sejarah sastra. Nurgiyantoro (2007: 18)
menyatakan bhwa novel serius harus sanggup memberikan segala sesuatu yang
mungkin, hal yang itu yang disebut makna sastra yang sastra. Novel serius
bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca, juga memberikan pengalaman
yang berharga dan mengajak untuk meresapi dan merenungkan secara lebih
sungguh-sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan.
Novel sastra menutut
aktivitas pembaca lebih serius dan mengoprasikan dan intlektualnya. Hal ini
dikarenakan novel sastra cenderung menampilkan tema-tema yang lebih serius. Hal
yang berbeda dengan novel populer yang selalu mengikuti selera pasar dan
mengamdi kepada pembaca. Nugiyantoro (2007: 18) mengungkapkan bahwa dalam novel
serius, jika ingin memahaminya dengan baik diperlukan daya kosentrasi yang
tinggi disertai kemauan untuk itu.
B. Gaya
Bahasa
1. Pengertian
Gaya Bahasa
Gaya bahasa bagian dari diksi yang
mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frase atau kalimat tertentu.
Adapun jankauan gaya bahasa tidak hanya unsur kalimat yang mengandung corak
tertentu, seperti dalam retorik klasik (Keraf, 2008:112). Sebagai gejala
sosial, bahasa dan pemakaian gaya bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor
internal saja melainkan faktor-faktor sosial dan situasional. Faktor sosial misalnya status sosial, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, umur, tinkat ekonomi dan sebagainya.
Gaya bahasa tidak ubahnya sebagai aroma
dalam makanan yang berfungsi untuk menikatkan
selera. Gaya bahasa merupakan retorika, yakni penggunaan kata-kata dalm
berbicara dan menulis untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar (Al-Ma’ruf,
2009:15). Jadi, gaya bahasa berfungsi ebagai alat untuk meyakinkan atau
mempengaruhi pembaca atau pendengar.Gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga
unsur yaitu kejujuran, sopan santun dan menarik. Kejujuran dalam bahasa berarti
kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam
berbahasa.
Pemakaian kata yang kabur dan tidak
terarah serta penggunaan kalimat yang
berbelit-belit adalah jalan mengandung ketidak jujuran. Sopan santun adalah
memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara. Kata hormat
bukan berarti memberikan penghargaan atau penciptaan kenikmatan melalui
kata-kata manis sesuai dengan basa-basi
dalam pergaulan masyarakat beradap. Pengertian diatas dapat disipulkan bahwa
gaya bahasa adalah cara mengungkapkan bahasa yang indah melalui pemikiran. Gaya
bahasa memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis dengan membandingkan sesuatu
dengan hal lain. .
2. Penggolongan
Gaya Bahasa
Kerap (2004:113) gaya bahasa digolongkan menjadi
empat kategori :
a) Berdasarkan
pilihan kata : Resmi, Tak resmi, Percakapan
b) Gaya
bahasa berdasarkan nada (Keraf: 2004 : 121-122): Sederhana, Mulia, Menengah
c) Jenis-Jenis
Gaya Bahasa : Repitisi, Letotes, Erotesis atau pertanyaan retoris, Hiperbola,
Paradoks, Persamaan atau
simile, Metafora, Personifikasi, Epitet,
Sinedoks, Metonimia, Hipasase,
Antonomasia, Klimaks,
Pleonasi, Pararelisme, Aliterasi, Asonansi,
Anastrop, Apostrof, Asindeton,
Rolisindeton, Kiasmus, Apofasif,
Elepsis, Eufimisme, Histeron, Perifrasis, Prolepsis, Silepsis, Koreksio,
Oksimoran, Parabel, Alusu, Eponim,
Satire, Inuendo, Antrifrasis,
Paranomasia (keraf, 2008:127-145), Senentensia (Waridah, 2009:322)
3. Analisis
Gaya Bahasa dalam Bentuk
Penelitian tentang pemakaian gaya bahasa dalam novel
ini setelah dilakukan teknik analisis dokumen data, diperoleh sebanyak 45 data
berupa kalimat yang mengandung gaya bahasa yang terdiri dari 16 jenis gaya bahasa yaitu:
a) Gaya
bahasa berdasarkan struktur kalimat yaitu: Klimaks, Antitetis, Repitisi
b) Gaya
bahasa berdasarkan langsung tindakannya makna kerap (2004 : 129): 1).Gaya
bahasa retoris (Pertanyaan retoris
(erotesis) dari kata apakah, Korelasi,
Hiperbola, 2) Gaya bahasa kiasan (Simile, Metafora), 3) Personifikasi (Alusia, Sinedoks,
Epitek, Metonomia, Gaya bahasa yang dominandalam novel Teratak
karya Evi Idawati).
C. Pengertian
Stilistika
Berbagai
pengertian stilistika telah dirumuskan oleh ahli sastra dan linguistik.
Pengertian stilistika secara sederhana dan luas diurai di bawah ini.
Istilah
stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah
stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata styledan ics. Stylist adalah
pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam
mode. Icsatau ikaadalah ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmu gaya atau
ilmu gaya bahasa.
Dalam
Tifa Penyair dan Daerahnya, Jassin merumuskan bahwa ilmu bahasa yang
menyelidiki gaya bahasa disebut stilistika atau ilmu gaya (1978:127). Dalam
Mitos dan Komunikasi, “Strategi untuk Suatu Penyelidikan Stilistika,” Yunus
merumuskan stilistik (a) dibatasi kepada penggunaan bahasa dalam karya sastra.
Dalam
beberapa kamus umum dan istilah pengertian stilistika itu sama atau hampir
bersamaan. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia(1988:859), stilistika, ilmu tentang penggunaan bahasa dan gaya bahasa
di dalam karya sastra. Dalam Kamus Dewan(1996:1305), Dewan Bahasa dan Pustaka,
Kuala Lumpur, Stilistik:
1) Kajian
tentang penggunaan gaya bahasa secara berkesan dalam penulisan.
2) Berkaitan
dengan stailatau gaya, terutama gaya bahasa penulisan.
Dalam
Kamus Istilah Sastra, Sudjimar (1990:79) menuliskan stilistika (Stylistics),
ilmu yang menyelidiki penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra.
Dalam Kamus Istilah Sastra, Zaidan dkk (1994:194) menuliskan stilistika ilmu
yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa dalam karya sastra. Dalam
Leksikon Sastra, Yusuf (1995:277) menuliskan stilistika (Stylistics), ilmu yang
menyelidiki bahasa yang digunakan dalam karya sastra, perpaduan ilmu linguistik
dan sastra.
Dalam
Kamus Linguistik, Kridalaksana (1982:159) membeberkan pengertian stilistika.
1) Ilmu
yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu
interdisipliner antara
linguistik dan kesusastraan.
linguistik dan kesusastraan.
2) Penerapan
linguistik pada penelitian gaya bahasa.
Dalam Kosa Semiotika,
Budiman menuliskan bahwa dilihat dari sudut pandangan tertentu,
stilistikmerupakan subsidiplin linguistik yang mengarah perhatian terhadap
teks-teks sastra. Stilistikmenerapkan metode-metode struktural terhadap
teks-teks sastra. Di samping itu dilihat dari perspektif lain, stilistik dapat
dipahami sebagai suatu disiplin otonom yang mencoba menerapkan secara ekfektik
metode-metode baik linguistik maupun ilmu sastra (1999:111).
Dalam Perbincangan Gaya
Bahasa Sastra, sastrawan negara Keris Mas, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur
(1988:8) berpengertian bahwa stilistika tidak lain dari pada kajian stail, yang
mengkaji segala kemungkinan gaya kesusastraan untuk menilai dan mendapat
kefahaman benar mengenai sebuah teks kesusastraan.
Dalam Stylistics,
Harmondworth Penguin Book Tunner (1977:7) merumuskan bahwa stilistika adalah
bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan
bahasa terutama bahasa dalam kesusastraan.
Berdasarkan berbagai
uraian di atas dapat dirumuskan bahwa:
1) Stilistika
adalah ilmu interdisipliner linguistik dengan sastra.
2) Stilistika
adalah ilmu tentang pemakaian bahasa dalam karya sastra.
3) Stilistika
adalah ilmu gaya bahasa yang digunakan dalam wacana sastra.
4) Stilistika
adalah mengkaji wacana sastra dengan orientasi linguistik.
Sebagai
ilmu interdisipliner stilistika dapat dilihat pada gambar di bawah ini.




Subjek
Bahasa Sastra
Diadaptasi dari
Widdowson (1985:4).
D. Gaya
Novel Teratak karya Evi Idawati
1. Gaya
bahasa berdasarkan struktur kalimat meliputi: repitisi, anafora, mesodiplosis,
antitesis.
2. Gaya
bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna meliputi: retoris, litotes
3. Gaya
bahasa berdasarkan gaya bahasa kiasan meliputi: simile atau persamaan,
metafora, ironi, personifikasi, sinentensia
bahasa yang paling dominan dalam Novel Teratak
karya Evi Idawati dapat dilihat di bawah ini.
1. Gaya
bahasa berdasarkan struktur kalimat: Klimaks 0, Antiklimaks 0, Paralelisme 0,
Antitesis 2, dan dalam Repitisi:
Epizeukjsis 7, Tautotes 0,
Simploke 0, Epannelepsis 0, Mesodiplosis
4, Anafora 9 .
2. Gaya
bahasa berdasarkan langsung tidaknya: Gaya bahasa letotes: Aliterasi 0,
Asonansi 0, Apostrof 0, Asidentol 0, Polisidentol 0, Kiasus 0, Ellipsis 0,
Eufemisme 0, Litotes 3, Histeron
proteron 0, Pleonasme 0, Prolepsis
0, Perifrasis 0, Koreksio 0, Pertanyaan 3, Silepsis
0, Hiperbola 0, Oksimoron 0, Paradoks 0.
3. Gaya
bahasa kiasan: Simile 1, Metafora 9, sinentensia 1, Personifikasi 1, Alusia 0, Eponim 0,
Epitet 0, Sinedoks 0, Metonomia 0, Antonomasia
0, Hiperbola 3, Ironi 0, Satire
0, Inuendo 0, Antifrasis 0, Paronomasia 0.
Dapat
kita liat pada tabel di atas bahwa dalam penggunakan gaya bahasa metafora dalam
novel Teratak Karya Evi
Idawati itu lebih menonjol dibanding
dengan personifikasi maupun sinentensia. Hasil analisis Novel Teratak
di atas menunjukan bahwa Evi Idawati
lebih banyak menggunakan gaya bahasa repetisi. Hal ini terbukti kalau gaya bahasa lebih banyak
datanya dibanding dengan gaya bahasa yang lain.
E. Gaya
Bahasa Novel 9
Dari Nadira Karya Leila S. Chudori.
Analisis Stilistika Novel 9 Nadira yang dirasakan penting
dianalisis untuk mengetahui bentuk artikel politik yang ada di Indonesia
menyangkut bahasanya dan makna yang terkandung didalamnya.perti seseorang yang
meminta pengampunan dosa dan memang begitu isinya. Gaya bahasa yang dominan
adalah gaya bahasa hiperbola, seperti yang nampak pada bait berikut:
Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Makna Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang lebih
ditekankan kepada seorang yang meminta diampuni dosanya karena sudah membunuh
orang-orang yang bersalah maupun tidak bersalah. Ini dapat terlihat dari
penggalan puisi berikut :
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Serdadu tersebut menerima nasib sebagai serdadu yang
tugasnya membunuh orang dimedan perang. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya
membunuh orang lain yang dianggap musuh. Tetapi ia mesti melaksanakan tugasnya
itu. Mungkin dalam hal ini serdadu itu menyesali mengapa tugasnya demikian.
tify;l)
a h i 0 l'>
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan
menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
Kelaparan digambarkan seperti iblis dan batu-batu karang
yang menakutkan.
Analisis yang pertama akan dimulai dengan puisi yang pertama
puisi Doa Orang lapar.
Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Dalam penggalan puisi diatas, kelaparan digambarkan seperti seekor
burung gagak yang licik dan hitam. Kita bisa perhatikan seekor burung gagak
yang lapar mereka akan memakan apa saja yang ada dihadapan mereka, tidak peduli
lawan atau kawan yang penting burung itu merasa kenyang. Dan kelaparan
digambarkan seperti demikian, karena jika seseorang lapar akan berbuat layaknya
burung gagak tersebut. Kelaparan juga dapat membuat seseorang menjadi
pemberontak dan menjadi pembunuh. Jika kita lihat berita-berita di televisi,
seseorang tega menghabisi rekan atau sanak saudaranya sendiri kebanyakan
disebabkan oleh orang-orang miskin yang kesulitan ekonomi dan pastinya lapar.
Mengapa dalam puisi tersebut digambarkan orang miskin? Itu disebabkan karena
kebanyakan orang yang kelaparan adalah orang miskin dan orang kaya tidak pernah
merasakan apa itu kelaparan. Kelaparan juga digambarkan seperti batu karang
yang tenang tetapi dapat melahap siapa saja.
Seorang pemuda yang gagah akan
menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
Dari bait diatas, dapat kita lihat jikalau kelaparan juga
membuat seseorang yang gagah dapat menangis. Intinya kelaparan dapat merusak
siapa saja, tua-muda ataupun gagah-lemah. Tak peduli bagaimana kehormatan itu
yang penting kenyang.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Berdasarkan
hasil penelitian tentang analisis gaya bahasa pada Novel Teratak karya Evi
Idawati dan novel 9
Dari Nadira Karya Leila S. Chudori, maka dapat
disimpulkan di bawah ini.
2. Gaya
bahasa yang terdapat dalam novel Teratak karya Evi Idawati dan novel 9 Dari Nadira Karya Leila S. Chudori
adalah sebagai berikut:
a. Gaya
bahasa berdasarkan struktur kalimat meliputi: repitisi, anafora, mesodiplosis,
antitesis.
b. Gaya
bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna meliputi: retoris, litotes
c. Gaya
bahasa berdasarkan gaya bahasa kiasan meliputi: simile atau persamaan,
metafora, ironi, personifikasi, sinentensia.
3. Gaya
bahasa yang paling dominan dipakai dalam novel
Teratak karya Evi Idawati dan
novel 9
Dari Nadira Karya Leila S. Chudori adalah repitisi.
Tujuan pemakaian gaya bahasa dalam novel
Teratakadalah agar pembaca
mengetahuai dan memahami gaya bahasa yang terdapat dalam novel terdebut.
B. Saran
Berdasarkan
kesimpulan diatas, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Makalah
ini dapat dijadikan sebagai motivasi dan referensi dalam pengembangan
pembelajaran terutama pada gaya bahasa. Diharapkan setelah penulisan makalah
ini muncul penulisan makalah sehingga dapat menumbuhkan motivasi dalam membaca
dan mempelajari gaya bahasa.
2. Pembelajar
bahasa dapat menambah pengetahuan mengenai gaya
bahasa dan jenis-jenis gaya bahasa, Pembelajar bahasa juga dapat
memberikan contoh dari gaya bahasa.
3. Guru
hendaknya dapat menggunakan novel atau sumber belajar laennya sebagai materi
pembelajar Bahasa Indonesia di sekolah untuk menambah pengetahuan siswa
mengenai bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009.
Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian
Estetika Bahasa. Solo: Cakra Books.
Idawati, Evi. 2009. Teratak. Yogyakarta
: ISAC BOOK
Keraf, Gorys. 2008. Diksi dan Gaya
Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kusuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta:
Rosdakarya.
Mahsun . 2005. Metode Penelitian Bahasa.
Jakarta: Grafindo Pustaka
Ratna, Nyoman Kunta. 2006. Teori, Metode, Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sudaryanto.1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta:
DutaWacana University
Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar