Sabtu, 19 Desember 2015

MENGANALISIS DUA BUKU CERITA DARI PENGARANG YANG BERBEDA SECARA STILISTIKA Nama : Kardi Minulyo. NIM : 20152110020


MENGANALISIS DUA BUKU CERITA DARI PENGARANG YANG BERBEDA 
SECARA STILISTIKA          


              Nama : Kardi Minulyo.            

NIM : 20152110020
















BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Ilmu sastra sudah merupakan ilmu yang cukup tua usianya. Ilmu ini sudah berawal pada abad ke-3 SM, yaitu pada saat Aristoteles (384-322 SM) menulis bukunya yang berjudul Poetica yang memuat tentang teori drama tragedi. Istilah poetica sebagai teori ilmu sastra, lambat laun digunakan dengan beberapa istilah lain oleh para teoretikus sastra seperti The Study of Literatur, oleh W.H. Hudson, Theory of Literature Rene Wellek dan Austin Warren, Literary Scholarship Andre Lafavere, serta Literary Knowledge (ilmu sastra) oleh A. Teeuw.
Ilmu sastra meliputi ilmu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiga displin ilmu tersebut saling terkait dalam pengkajian karya sastra.
            Dalam perkembangan ilmu sastra, pernah pernah timbul teori yang memisahkan antara ketiga disiplin ilmu tersebut. Khususnya bagi sejarah sastra dikatakan bahwa pengkajian sejarah sastra bersifat objektif sedangkan kritik sastra bersifat subjektif. Di samping itu pengkajian sejarah sastra menggunakan pendekatan kesewaktuan, sejarah sastra hanya dapat didekati dengan penilain atau kriteria yang ada pada zaman itu. Bahkan dikatakan tidak terdapat kesinambungan karya sastra suatu periode dengan periode berikutnya karena dia mewakili masa tertentu. Walaupun teori mendapat kritikan yang cukup kuat dari teoritikus sejarah sastra, namun pendekatan ini sempat berkembang dari jerman ke Inggris dan Amerika. Namun demikian, dalam pratiknya, pada waktu seseorang melakukan pengkajian karya sastra, antara ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait.
Atas dasar latar belakang tersebut penganalisis akan menganalisis dari dua buku cerita yang berbeda pengarang dengan stilistika.


1.2. Tujuan
            Tujuan dari menganalisis dua buku novel dari pengarang yang berbeda adalah untuk mengetahui perbedaan gaya penulis masing-masing pengarang. Di lihat dari segi gaya bahasa yang digunakan, penulis atau penutur, majas, penggunaan teori-teori sastra dan sosiolinguistik.

1.3. Teori
          Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.
Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya (diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.
            Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan, dan  pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.
Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya mempelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi sastra, serta pristiwa-pristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra haru mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.
            Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra, baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Sasaran kerja kritikus satra adalah penulis karya sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra.
            Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.

















BAB II METODE
2.1. waktu menganalisis buku
          Penganalisis memerlukan waktu tiga hari membaca buku novel yang berjudul “Laskar Pelangi” dan tiga hari untuk membaca buku yang kedua berjudul “Manusia Setengah Salmon”.
Buku I Laskar Pelangi adalah novel yang pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh benteng pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD,SMP) disebuah Muhammadiyah dipulau belitung yang penuh keterbatasan.
Identitas novel tersebut :
Judul Buku : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Genre : Roman
Penerbit : Yogyakarta : Benteng Pustaka
Tanggal Penerbit : 2005
Halaman : xxxiv, 529 halaman
ISBN : ISBN 979-3062-79-7

            Dari isi novel tersebut saya dapat mengambil beberapa pelajaran hidup yang penting, salah satunya kita harus menghargai hidup, menghargai pemberian tuhan. Tidak pantang menyerah bila menginginkan sesuatu, dan tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau dan berusaha.  Dan satu lagi pintar tidak menjamin kita selalu sukses, seperti cerita pada anak pintar namun di akhir cerita dia menjadi supir truck. Di sinilah kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kehidupan manusia sudah ada yang mengaturnya yaitu tuhan.
Buku II
Judul : Manusia Setengah Salmon
Penulis : Raditia Dika
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gagas Media
Tahun Penerbit : Desember 2011
Kota : Jakarta

            Dalam novel ini penulis menceritakan setiap manusia akan mengalami perubahan atau perpindahan baik yang disadari atau tidak disadari. Penulis dalam novel ini mengangkat cerita dari pengalaman kecil hingga dewasa dari lingkungan keluarganya.















BAB III PEMBAHASAN
3.1. Pada buku I penulis menggunakan tutur bahasa melayu khas desa gantung,
kabupaten gantung belitung timur sebagai sarana komunikasi antar pelaku
dalam novel tersebut.
Gaya bahasa yang dipakai penulis menggunakan bahasa formal karna dalam
       cerita tersebut dipakai dalam dunia pendidikan.
3.2. Dalam buku II tutur bahasa yang menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah
       dimengerti oleh para pembacanya karna cerita yang diangkat berdasarkan
       pengalaman pribadi dari kecil hingga dewasa ketika dia hidup dilingkungan
       keluarganya dan masyarakat sekitar.
       Gaya bahasa yang dipakai yang dipakai gaya bahasa yang kocak mengajak
parapembacanya untuk mengintip berbagai macam kehidupan supaya
pembaca bisa tertawa. Contoh dalam kutipan: hidup adalah potongan-potongan
antara perpindahan satu dengan yang lainnya. Dalam hidup kasih seorang ibu
tidak dapat dilupakan seperti zaman belanda (Hal 254), bahasanya bijak, humor
dan berakhir galau.
Contoh: “Sepotong hati didalam kardus untuk manusia setengah salmon”.
Kata-kata yang terdapat dalam novel ini terlalu fulgar dan menjelek-jelekan diri
sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar