Rabu, 30 Desember 2015

KAJIAN STILISTIKA BUKU “INDONESIA BAGIAN DARI DESA SAYA” KARYA EMHA AINUN NAJIB DAN “BEKERJA DENGAN HATI NURANI” KARYA AKH. MUWAFIK SALEH



KAJIAN STILISTIKA
BUKU “INDONESIA BAGIAN DARI DESA SAYA”
KARYA EMHA AINUN NAJIB
DAN
“BEKERJA DENGAN HATI NURANI”
KARYA AKH. MUWAFIK SALEH **)

DISUSUN OLEH:
MOCH. MALIK (NIM. 20152110005) *)


A. Pendahuluan
Setiap pengarang memiliki gaya bertutur atau gaya penulisan yang khas dirinya. Ada pengarang yang suka memasukkan idiom-idiom sesuai latar belakang budayanya maupun kosa kata yang tidak umum atau bahkan jarang dipakai orang lain. Dari segi struktur gramatika, ada pula pengarang yang cenderung memakai kalimat-kalimat panjang, sementara yang lain lebih banyak memakai kalimat-kalimat pendek. Untuk menelaah gaya bahasa pengarang ini dapat dikaji melalui kajian stilistika.
Stilistika, menurut Budiman  (1999:111) merupakan subdisiplin linguistik yang mengarahkan perhatian terhadap teks-teks sastra. Stilistika menerapkan metode-metode struktural terhadap teks-teks sastra. Disamping itu dilihat dari perspektif lain, stilistika dapat dipahami sebagai suatu disiplin otonom yang mencoba menerapkan secara efektif metode-metode, baik linguistik maupun ilmu sastra.
Gaya bahasa sastra memiliki kekhasan, karena berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Kendati demikian, tidak berarti buku-buku non sastra tidak memiliki kekhasan dan tidak menggunakan gaya bahasa maupun kalimat-kalimat sebagaimana dalam sastra. Buku-buku sosiologi maupun psikologi sering kali ditulis dengan menggunakan gaya bahasa yang umum dipakai dalam sastra. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan sugesti atau daya tarik kepada pembaca agar dapat menyelami isi buku tanpa harus merasa digurui atau diceramahi penulis.
Buku Indonesia Bagian dari Desa Saya, yang ditulis oleh Emha Ainun Najib dan buku Bekerja dengan Hati Nurani Karya Akh. Muafik Saleh  laik kita perbincangkan untuk kita telaah dari kajian Stilistika ini. Kedua buku ini ditulis untuk membangkitkan kesadaran pembaca tentang pentingnya menggunakan hati dalam setiap tindakan kita.
Dalam konteks kajian ini, gaya bahasa tidak hanya sebatas majas, tetapi mencakup gaya penulisan atau gaya bertutur, pilihan kata, dan kata-kata khas yang orisinal dari penulisnya. Karena penulis mengkaji buku nonfiksi, maka kajian ini difokuskan pada masalah leksikal dan gramatikal.
B. Kajian Teoritis
1. Pengertian Stilistika
Stilistika (stylistic) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan stil (syle) secara umum sebagaimana akan dibicarakan secara lebih luas pada bagian berikut adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal.
Dalam Kamus Linguistik, Kridalaksana (1982:159) membeberkan pengertian stilistika.
1) Ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan.
2) Penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa.
Dalam Kosa Semiotika, Budiman menuliskan bahwa dilihat dari sudut pandang tertentu, stilistik merupakan subsidiplin linguistik yang mengarah perhatian terhadap teks-teks sastra. Stilistik menerapkan metode-metode struktural terhadap teks-teks sastra. Disamping itu dilihat dari perspektif lain, stilistik dapat dipahami sebagai suatu disiplin otonom yang mencoba menerapkan secara efektif metode-metode baik linguistik maupun ilmu sastra (1999:111).
Menurut Shipley (1957:341) stilistika (stylistic) adalah ilmu tentang gaya (style), sedangkan style itu sendiri berasal dari kata stilus (latin), semula berarti alat berujung runcing yang digunakan untuk menulis diatasbidang berlapis lilin. Bagi mereka yang dapat menggunakan alat tersebut secara baik disebut sebagai praktisi gaya yang sukses (stilus exercitotus), sebaliknya bagi mereka yang tidak dapat menggunakannya dengan baik disebut praktisi gaya yang kasar atau gagal (stilus rudis).
Sukada (1987 :87) mendefinisikan gaya bahasa dalam sejumlah butir pernyataan: a) gaya bahasa adalah bahasa itu sendiri, b) yang dipilih berdasarkan struktur-struktur tertentu, c) digunakan dengan cara yang wajar, d) tetapi tetap memiliki ciri personal, e) sehingga memiliki ciri-ciri, f) sebab lahir dari diri pribadi penulisnya, g) disusun secara sengaja agar menimbulkan efek tertentu dalam diri pembaca, h) isinya adalah persatuan antara keindahan dengan kebenaran.
Dengan mempertimbangkan definisi gaya bahasa sebagai pemakaian bahasa secara khas dan stilistika sebagai ilmu pengetahuan mengenai gaya bahasa, maka sumber penelitiannya adalah semua jenis komunikasi yang menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Jadi, meliputi baik karya sastra dan karya seni lainnya, maupun bahasa sehari-hari.
2. Komponen Stilistika
Komponen stilistika teks nonfiksi yang dikaji dalam artikel ini meliputi: a). unsur leksikal; b). unsur gramatikal; dan c). unsur retorika.
1. Unsur Leksikal
Unsur leksikal sama pengertiannya dengan diksi adalah penggunaan kata tertentu yang sengaja dipilih penulis dalam paparannya. Dalam konteks ini dipertimbangkan dari segi bentuk dan makna.
Bentuk kata berkaitan dengan jenis-jenis kata yang digunakan. Makna kata lebih dipilih yang yang memberi motivasi dan dapat  mengungkapkan gagasan, yang membangkitkan semangat dan inspiratif.
2. Unsur Gramatikal
Unsur gramatikal maknanya sama dengan struktur kalimat. Struktur kalimat ini lebih penting dari kata-kata. Berdasarkan struktur kalimat ini akan dapat diungkapkan pesan, atau makna yang sering disebut struktur batin.
Dalam  menganalisis teks nonfiksi dapat dikaji unsur kalimat itu berupa (1) Kompleksitas kalimat; (2) Jenis kalimat; dan (3) Jenis klausa dan frasa.
3. Unsur Retorika
Retorika sebagai kemahiran atau seni mengandung unsur bakat (nativisme), kemudian retorika sebagai ilmu akan mengandung unsur pengalaman (empirisme), yang bisa digali, dipelajari dan diinventarisasikan. Hanya sedikit perbedaan bagi mereka yang sudah mempunyai bakat akan berkembang lebih cepat, sedangkan bagi yang tidak mempunyai bakat akan berjalan dengan lamban. Dari sini kemudian lahirlah suatu anggapan bahwa Retorika merupakan artistic science (ilmu pengetahuan yang mengandung seni), dan scientivicart (seni yang ilmiah). Sementara menurut yang lain, retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara Dan kini lebih dikenal dengan nama Public Speaking.
Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai “omong kosong” atau “permainan kata-kata” (“words games”), juga bermakna propaganda (memengaruhi atau mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain). Teknik propaganda “Words Games” terdiri dari Name Calling (pemberian julukan buruk, labelling theory), Glittering Generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan label asosiatif bercitra baik), dan Eufemism (penghalusan kata untuk menghindari kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya). Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat jama’ah merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling). Karenanya, jika kita mampu bercerita sesungguhnya kita punya potensi untuk berceramah dan untuk menjadi muballigh.
C. Pembahasan
Kajian Stilistika Buku “Indonesia Bagian dari Desa Saya” Karya Emha Ainun Najib dan Buku “Bekerja dengan Hati Nurani” Karya Akh. Muwafik Saleh
1. Unsur Leksikal
Dari segi bentuk, Buku Bekerja dengan Hati Nurani, Akh. Muwafik Saleh lebih banyak menggunakan kata-kata yang diperhalus yang mengesankan kesantunan penulisnya sebagai seorang motivator dan penceramah. Dari segi makna, Saleh tetap berpijak pada makna denotasi untuk memperkuat gagasan dan memperjelas maksud. Misalnya, pada bab 2, Motivasi Kerja dalam Islam, Saleh mengawali tulisannya dengan tujuh baris pernyataan yang ditulis dengan kata-kata indah seperti tertera di bawah ini.
Bekerja adalah rekreasi terbesar
Dapat mendatangkan uang
Mengundang simpati,dan sebagai ladang ibadah 
Dengan bekerja, zakat, infak, dan sedekah dapat dilaksanakan.
Dengan bekerja, kita mengenal diri.
Dengan bekerja, kita mengenal dunia
Bekerja adalah jembatan menuju akhirat.
Dilihat dari segi bentuk penyampaian, baris-baris pernyataan di atas disusun layaknya puisi. Kendati demikian, itu merupakan kata-kata bijak yang dirangkai untuk memberikan motivasi kepada pembaca agar bekerja tidak dianggap sebagai beban tetapi merupakan kebutuhan semua orang.
Kata-kata simpati, ibadah, bekerja, zakat, infak, sedekah, dunia, akhirat merupakan bentuk-bentuk kata yang masih bisa dicari rujukan secara langsung dalam arti yang sesungguhnya (denotatif). Kendati demikian, untuk memberikan sentuhan keindahan, Saleh juga kerap menggunakan kata-kata konotatif, seperti dalam contoh di atas dimunculkan kata: rekreasi, ladang ibadah, dan jembatan.
Buku Indonesia Bagian dari Desa Saya, Emha Ainun Najib banyak menggunakan kata-kata yang terkesan kasar, lugas, dan apa adanya.  Hal itu dapat ditemukan hampir pada semua bagian bab demi bab dalam buku ini. Cak Nun kerap menggunakan kata-kata yang banyak dipakai dalam obrolan di warung-warung, atau dalam suasana jagongan. Misalnya, kata maling, nyolong, bromocorah, gendruwo, ngakali, dengkulmu, kere, petakilan, rai gedhek, sumpah,dll. Hal itu tidak terlepas dari latar belakang penulis sebagai orang Jawa Timur yang dikenal lugas, terang-terangan, apa adanya.
Kendati demikian, Cak Nun juga masih memberikan sentuhan keindahan dan kesantunan berbahasa dengan menyajikan kata-kata jawa halus. Misalnya, penggunaan kata ngapunten, nuwun sewu, nyuwun sepuro, panjenengan, tanggap ing sasmito, tanggap ing pamrih, dll.
2. Unsur Gramatikal
Kalimat-kalimat yang dipakai Saleh dalam buku Bekerja dengan Hati Nurani  cenderung formal. Pernyataan-pernyataan yang dibuat juga mencerminkan sasaran buku ini adalah untuk kalangan berpendidikan dengan kemampuan berbahasa yang memadai. Dalam setiap uraiannya, Saleh selalu mengawali dengan definisi formal. Hal itu dapat dilihat pada contoh kutipan di bawah ini.
Salah satu konsep yang menjadi perhatian dalam Islam adalah tentang bekerja. Bekarja merupakan hal mendasar dalam kehidupan. Manusia dapat bekerja baik jika setiap orang mau bekerja. (Saleh, 2005: 17)

Kesan bahwa Saleh sebagai pembicara yang sedang berceramah dalam seminar begitu terasa.
Emha Ainun Najib dalam buku Indonesia Bagian dari Desa Saya lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat pendek dengan gaya bertutur. Hampir dalam semua bagian dalam buku ini, Cak Nun banyak menggunakan ungkapan-ungkapan keseharian layaknya obrolan di kampung-kampung. Terlihat sekali, Cak Nun ingin tidak ada jarak dengan pembaca. Pembaca seolah-olah diajak bicara empat mata. Kaidah gramatika yang kaku mencoba dilepaskan oleh Cak Nun agar komunikasi lebih efektif.
Berikut contohnya.
Adik-adik manis, dengarkan ini ada cerita dari desa buat kalian. Cerita tentang kemajuan: bermula dari seorang kakak kalian yang bernama Kang Kanip. Syahdan tersebutlah pada suatu hari, sehabis merantau selama dua tahun ke kota Surabaya, ia pulang ke desanya, sebuah pelosok di Jawa Timur. (Najib, 1994: 1)

Narasi seperti di atas sering dipakai Cak Nun dalam mengawali tema-tema yang diangkat. Kesan mengalir dan cair amat terasa dalam baris-baris kalimat di atas. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang penulis sebagai budayawan yang sering berbicara di depan orang-orang desa dalam forum-forum informal seperti Pengajian Padang Bulanan.

3. Unsur Retorik
Dari sisi retorik, kedua buku ini tampak ingin menyajikan gagasan dengan tidak memberi jarak yang longgar dengan pembaca.  Pembaca dianggap sebagai mitra tutur yang setara dengan tidak terkesan menggurui. Baik Cak Nun maupun Saleh memposisikan pembaca sebagai teman berbagi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal  ini tidak terlepas dari latar belakang keduanya sebagai public speaker yang sukses.
Dalam pandangan saya, cara berkomunikasi Cak Nun lebih mampu mendekatkan pembaca pada realitas kehidupan dengan penyampaian gaya bertutur yang khas. Ungkapan-ungkapan sederhana dengan bahasa keseharian memberi kesadaran baru bagi pembaca tentang kebesaran negeri bernama Indonesia.  Buku Indonesia Bagian dari Desa Saya layak dibaca siapa pun agar makin bangga dan bersyukur atas karunia Tuhan atas pemberian negeri besar yang kaya raya ini. Kendati buku ini juga dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran religius pembaca, namun Cak Nun sama sekali tidak mengutip ayat Al-Quran. Tampaknya, Cak Nun sadar bahwa yang membaca gagasannya dari berbagai latar belakang budaya dan agama.
Buku Bekerja dengan Hati Nurani karya Akh. Muwafik Saleh dapat membangkitkan semangat bekerja untuk mencapai ridho Tuhan. Saleh berhasil menyadarkan pembaca bahwa bekerja bukanlah sekedar mencari uang semata tapi lebih dari itu bekerja adalah ibadah.
Dalam setiap pembahasan, Saleh selalu memberikan penguatan pandangannya dengan kutipan-kutipan ayat Al-Quran agar pembaca yakin melalui kesadaran religius. Dari sisi retorik hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca bahwa apa yang disampaikan penulis adalah benar di mata manusia dan benar di mata Tuhan.

D. Penutup
Berdasarkan uraian dalam pembahasan tulisan ini dapat ditarik simpulan seperti tertera di bawah ini.
1.      Dari segi leksikal, Buku Indonesia Bagian dari Desa Saya, Emha Ainun Najib banyak menggunakan kata-kata yang terkesan kasar, lugas, dan apa adanya. Sementara itu, Buku Bekerja dengan Hati Nurani, Akh. Muwafik Saleh lebih banyak menggunakan kata-kata yang diperhalus yang mengesankan kesantunan penulisnya sebagai seorang motivator dan penceramah.
2.      Dari segi gramatika, Emha Ainun Najib dalam buku Indonesia Bagian dari Desa Saya lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat pendek dengan gaya bertutur layaknya obrolan di warung kopi.  Lain lagi, kalimat-kalimat yang dipakai Saleh dalam buku Bekerja dengan Hati Nurani  yang cenderung formal. Dalam setiap uraiannya, Saleh selalu mengawali dengan definisi formal.
3.      Dari segi retorika, cara berkomunikasi Cak Nun lebih mampu mendekatkan pembaca pada realitas kehidupan dengan penyampaian gaya bertutur yang khas disertai contoh-contoh nyata di sekitar kita. Dalam setiap pembahasan, Saleh selalu memberikan penguatan pandangannya dengan kutipan-kutipan ayat Al-Quran agar pembaca yakin melalui kesadaran religius.

E. Daftar Pustaka

Junus, Umar, 1989, Stilistika; Suatu Pengantar, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
Keraf, Gorys, 2006, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : PT Gramedia Pustka Utama.
Kridalaksana, Harimurti, 1983, Kamus Linguistik,Jakarta : Gramaedia.
Najib, Emha Ainun. 1994. Indonesia Bagian dari Desa Saya. Yogyakarta: SIPRESS.
Pradopo, Rahmad Djoko, 2003, Stilistika, Hand Out untuk bahan kuliah pada Pascasarjana UGM, 1996;
Saleh, Akh. Muwafik. 2005. Bekerja dengan Hati Nurani. Malang: Penerbit Erlangga.
Sudjiman, Panuti, 1993, Bunga Rampai Stilistika,Jakarta : Grafiti.
Sukesti, Restu, Cerpen “Derabat” karya Budi Darma; Analisis Stilistika, dalam Jurnal Widyaparwa, vol.31, no.2, Desember 2003. 


*) Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Surabaya

**) Disajikan untuk memenuhi tugas matakuliah Linguistik Lanjut & Terapan, Dosen Pengampu: Dr. Dwiyani Ratna Dewi, M.Pd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar