‘ANALISI DUA NOVEL’
“AYAT-AYAT CINTA”(GADIS MESIR ITU BERNAMA
MARIA) KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN NOVEL
“PEREMPUAN KEMBANG JEPUN” KARYA LAN FANG
DENGAN TEORI
STILISTIKA”
WINDA
FRISTIKA SARI, S.Pd.
20152110007
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Stilistika merupakan kajian terhadap wujud performasi kebahasaan
atau struktur lahirnya kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra.
Studi tentang stile tersebut sebenarnya dapat digunakan dalam berbagai
penggunaan ragam bahasa, tidak dibatasi pada ragam bahasa sastra saja. Namun,
ada kecenderungan analisis stilistika lebih sering digunakan dalam ragam bahasa
sastra yang bertujuan untuk menemukan unsur keindahan yang terdapat dalam karya
sastra yang akan dikaji. Maksudnya analisis stilistika bertujuan untuk
menerangkan sesuatu, yang pada umumnya dalam karya sastra digunakan untuk menerangkan
hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya.
Analisis stilistika ini menjadi sangat penting, karena dapat
memberikan informasi tentang karakteristik khusus sebuah karya sastra. Untuk
memeroleh informasi tentang karakteristik khusus sebuah karya sastra, kita
harus menganalisis tanda-tanda stilistika yang ada dalam karya sastra.
Tanda-tanda stilistika tersebut dapat berupa unsur fonologi, leksikal,
gramatikal, sintaksis, dan penggunanan bahasa figuratif (figurative language), wujud pencitraan (imagery) dalam sebuah karya sastra.
Sebuah karya yang pada hakikatnya dibuat dengan mengedepankan aspek
keindahan di samping keefektifan penyampaian pesan adalah karya sastra. Aspek
keindahan tersebut sengaja dibentuk oleh pengarang dengan memanfaatkan potensi
bahasa yang digali dari kekayaan bahasa setempat. Aspek keindahan itu juga yang
digunakan oleh pengarang agar dapat memberikan daya tarik kepada suatu karya
sastra sehingga mampu memikat pembacanya. Ciri khas pengarang yang menjadi daya
tarik dari suatu karya dapat dikaji dengan kajian stilistika yaitu dilihat dari
gaya bahasanya.
Dalam kajian ini, saya berusaha melakukan analisis stilistika
terhadap dua buku, yaitunovel “Ayat-ayat Cinta” (Gadis Mesir itu Bernama Maria)
karya Habiburrahman El Shirazy dan novel ”Perempuan Kembang Jepun”
karya Lan Fang. Pada bab ini dimaksudkan untuk menerangkan hubungan antara bahasa
dengan fungsi artistik dan maknanya.
BAB II
KAJIAN TEORI
Analisis
stilistika merupakan sebuah metode analisis karya sastra. Analisis karya sastra
ini bertujuan untuk menggantikan kritik yang sifatnya subjektif dan impresif
dengan analisis stile yang sifatnya obyektif dan ilmiah. Untuk memeroleh
bukti-bukti konkret stile pada sebuah karya sastra, harus dikaji tanda-tanda
yang terdapat dalam sebuah sruktur lahir suatu karya sastra. Kajian stile
dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur stile dalam karya sastra untuk
mengetahui konstruksi masing-masing unsur untuk mencapai efek keindahan
(estetis) dan unsur yang dominan dalam karya sastra tersebut.
Stilistika
juga merupakan ilmu yang mempelajari tentang stile. Stile adalah cara
pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan
sesuatu hal yang akan dikemukakan (Abrams lewat Nurgiyantoro, 1994: 276). Stile
atau gaya bahasa merupakan cara ekspresi kebahasaan oleh pengarang. Pradopo
(1994) menyebutkan bahwa gaya bahasa adalah bagaimana seorang penulis berkata
mengenai apapun yang dikatakannya. Dengan kata lain bahasa merupakan penggunaan
bahasa atau cara bertutur secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, baik
efek estetis atau efek puitis.
Abrams
dalam Nurgiyantoro (1994: 289) mengemukakan bahwa unsur stile (stylistic feature) terdiri dari unsur
fonologi, unsur sintaksis, unsur leksikal, unsur retorikal (rhetorical berupa
karakteristik penggunaan bahasa figuratif, pencintraan, dan sebagainya).
Sementara itu, Leech dan Short Nurgiyantoro (1994: 289) mengemukakan bahwa
unsur stile (stylistics categories)
terdiri dari unsur atau kategori leksikal, gramatikal, figures of speech,
konteks, dan kohesi. Unsur stile dengan menggabungkan pembagian unsur stile
menurut Abrams dan pembagian unsur stile menurut Leech dan Short tanpa
memasukkan unsur fonologis Abrams, karena unsur-unsur tersebut dianggap tidak
banyak memberikan kontribusi dalam stilistika fiksi.
A. UNSUR
LEKSIKAL
Unsur
leksikal dalam stilistika fiksi ini mempunyai pengertian yang sama dengan
diksi. Diksi merupakan sesuatu yang mengacu pada pengertian penggunaan
kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang dalam karya yang
diciptakan. Pemilihan kata-kata tersebut harus melewati
pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dimaksudkan untuk mendapatkan efek
estetis (keindahan). Ketepatan kata-kata tersebut dapat dipertimbangkan dari
segi bentuk dan makna atau isi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah
diksi tersebut mampu mendukung efek estetis dari karya itu sendiri, mampu
mengkomunikasikan makna, pesan, dan gagasan pengarang. Oleh karena itu, setiap
pengarang pasti memiliki gaya ungkapan kata yang berbeda-beda pada karya sastra
yang ditulisnya.
Menurut
Chapman lewat Nurgiantoro (2005: 290), pemilihan kata dapat melalui
pertimbangan-pertimbangan formal tertentu yaitu pertimbangan fonologis,
pertimbangan mode, pertimbangan masalah sintagmatik, pertimbangan masalah
paradigmatik, dan identifikasi jenis kata. Setelah identifikasi selesai
dilakukan masing-masing bentuk dan makna yang muncul dihitung untuk menentukan
jumlah frekuensi masing-masing.
Pertimbangan
fonologis biasanya terdapat dalam karya sastra yang berwujud puisi.
Pertimbangan fonologis digunakan untuk kepentingan aliterasi, irama, dan efek
bunyi tertentu. Dalam karya fiksi, unsur fonologi juga dipertimbangkan walaupun
tidak seintensif karya sastra yang berbentuk puisi.
Pertimbangan
dari segi makna, mode, dan bentuk yang dimaksudkan sebagai media memusatkan
atau mengkonsentrasikan gagasan. Masalah pemusatan gagasan sangat penting,
karena hal inilah yang membedakan bahasa sastra dengan bahasa nonsastra.
Penggunaan diksi dalam karya sastra dapat menggunakan ragam bahasa koloqial
(keseharian) selama mampu mewakili gagasan yang ditawarkan oleh sipengarang.
Pertimbangan
sintagmatik mengacu pada hubungan antarkata secara linier untuk membentuk
sebuah kalimat. Bentuk-bentuk kalimat yang disusun oleh seorang pengarang, baik
berupa kalimat sederhana, kompleks, unik, dan jenis kalimat lainnya akan memengaruhi
kata, khususnya bentuk kata.
Pertimbangan
paradigmatik mengacu pada diksi atau pilihan kata di antara sejumlah kata yang
memilki hubungan makna. Pengarang harus mampu memilih kata-kata yang
konotasinya paling tepat untuk mengungkapkan gagasan sehingga pengarang mampu
mencapai efek yang diinginkan.
Identifikasi
jenis kata sangat diperlukan dalam analisis leksikal sebuah karya fiksi. Kita
dapat mengidentifikasi jenis kata dengan menganalisis kata yang dipergunakan
sederhana atau kompleks, kata formal atau koloqial, kata yang berkaitan dengan
bahasa lain atau tidak, dan kata yang berkaitan dengan arah makna yang dituju.
Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan jenis kata seperti kata benda,
kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata tugas yang diikuti oleh
pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang sesuai dengan jenis kata yang
bersangkutan.
B. UNSUR
GRAMATIKAL
Unsur
gramatikal pada kajian stilistika mengacu pada pengertian struktur kalimat.
Menurut Nurgiyantoro (2005: 292), bahwa dalam kegiatan komunikasi bahasa juga
jika dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna dari
pada sekedar kata meskipun gaya kalimat dalam banyak hal juga dipengaruhi oleh
pilihan katanya (diksi). Sebuah gagasan atau amanat yang ingin disampaikan oleh
pengarang dapat menggunakan berbagai kalimat yang berbeda-beda struktur dan
kosa katanya. Jadi, penyampaian isi yang sama dapat diungkapkan dengan bentuk
yang berbeda-beda.
Setiap
pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa. Oleh karena
itu, unsur deviasi atau penyimpangan dalam bahasa sastra menjadi suatu hal yang
wajar. Seperti yang diungkapkan oleh Chapman lewat Nurgiyantoro (2005: 293),
secara teoritis jumlah kata yang berhubungan secara sintagmatik dalam sebuah
kalimat tak terbatas, dapat berapa saja sehingga mungkin panjang sekali. Secara
formal tak ada batas berapa jumlah kata yang seharusnya dalam sebuah kalimat.
Deviasi
atau penyimpangan struktur kalimat dalam karya sastra dapat berupa pembalikan,
pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu, dan lain-lain.
Penyimpangan struktur kalimat dimaksudkan untuk memperoleh kesan estetis dan
sebagai sarana utnuk menekankan pesan tertentu. Menurut Nurgiyantoro (2005:
293), hal seperti di atas dikenal sebagai pengendapan atau foregrounding yang
dianggap oleh sebagian orang sebagai salah satu bahasa sastra. Kegiatan
analisis penyimpangan kalimat, dapat berupa kompleksitas kalimat, jenis
kalimat, jenis klausa, dan frasa.
a).
Kompleksitas Kalimat
Kompleksitas
kalimat mengacu pada jenis kalimat sederhana atau kalimat kompleks yang
digunakan oleh pengarang dalam karyanya. Bagaimanakah keadaaan secara
keseluruhan? Berapa rata-rata jumlah kata per kalimat? Bagaimanakah variasi
penampilan struktur kalimat sederhana dan kalimat kompleks yang digunakan?
Dalam kalimat kompleks, hubungan apakah ynag menonjol, koordinatif,
subordinatif, ataukah parataksis?
b).
Jenis Kalimat
Jenis
kalimat dapat berupa kalimat deklinatif, kalimat imperatif, kalimat interogatif,
atau kalimat minor. Pembedaan jenis kalimat ini juga dapat berupa kalimat aktif
pasif, nominal verbal, langsung tak langsung, dan sebagainya.
c).
Jenis Klausa dan Frasa
Jenis
klausa dan frasa dapat mengacu pada klausa dan frasa apa sajakah yang menonjol,
sederhana ataukah kompleks? Jenis klausa dan frasa dapat diambil yang jumlahnya
dominan. Pembatasan tersebut misalnya, untuk klausa dibatasi pada klausa
adverbial, kondisional, dan temporal.
Dalam
analisis struktur kalimat karya fiksi perlu diperhatikan apakah penggunaan
struktur kalimat yang dominan mempunyai efek tertentu bagi karya yang
bersangkutan atau tidak. Apakah penggunaan struktur kalimat tersebut lebih
tepat apabila dibandingkan dengan struktur kalimat yang lain? Apakah struktur
kalimat itu lebih memperjelas makna yang ingin disampaikan? Apakah ada
penekanan makna dan sebagainya?
C.
RETORIKA
Retorika
merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Retorika
dapat diperoleh melalui kreatifitas pengarang dalam mengungkapkan bahasa
sebagai media pengarang untuk menyampaikan gagasan. Sebenarnya, retorika
berkaitan dengan pendayagunaan semua unsur bahasa, baik yang menyangkut masalah
pilihan kata dan ungkapan, struktur kalimat, segmentasi, penyusunan, penggunaan
bahasa kias, pemanfaatan bentuk citraan, dan lain-lain yang semuanya
disesuaikan dengan situasi dan tujuan penuturan.
Menurut
Keraf (1980:1), retorika adalah suatu istilah yang secara tradisional diberikan
pada suatu cara pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu
pengetahuan yang disusun baik. Oleh karena itu retorika harus dipelajari oleh
orang-orang yang ingin mrnggunakan bahasa sebaik-baiknya untuk tujuan tertentu
baik dalam karya sastra maupun karya nonsastra, pembicaraan formal, dan
lain-lain. Retorika sendiri bertujuan menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi
landasan dari tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk
pidato atau ceramah, untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang. Untuk
mencapai tujuan tersebut, retorika dapat menggunakan unsur yang bertalian
dengan kaidah-kaidah keefektifan dan keidahan gaya bahasa, misalnya ketepatan
pengungkapan, keefektifan struktur kalimat, penggunaan bahasa kiasan yang
serasi, penampilan yang sesuai dengan situasi, dan sebagainya. Secara singkat
retorika membicarakan dasar-dasar yang fundamental untuk menyusun sebuah wacana
baik sastra maupun non sastra yang efektif.
Menurut
Abrams lewat Nurgiyantoro (2005: 296), unsur stile yang berwujud retorika
meliputi pemakaian bahasa figuratif (figurative language) dan wujud pencitraan
(imagery). Bahasa figuratif itu sendiri dapat dibedakan menjadi (1) figures of
though atau tropes, dan (2) figures of
speech, rhetorical figures, atau schemes.
Figures of thought atau
tropes mengacu pada penggunaan unsur kebahasaan yang menyimpang dari makna
harfiah dan lebih mengacu pada makna literal atau literal meaning. Secara
singkat figures of thought
mempersoalkan pemajasan. Sementara itu, figures
of speech, rhetorical figures, atau schemes
mengacu pada pengurutan kata, masalah permainan struktur. Jadi, rhetorical figures di sini menekankan
pada cara penstrukturan atau bisa disebut sebagai cara penyiasatan struktur.
Penyiasatan struktur merupakan suatu warisan retorika klasik yang sering
dianggap oleh orang awam sebagai “satu-satunya” gaya bahasa. Berikut ini
merupakan unsur retorika
1).
Pemajasan
Pemajasan
merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak
menunjuk pada makna harfiah kata atau kata yang mendukungnya, melainkan pada
makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi, pemajasan merupakan gaya
yang sengaja memanfaatkan penuturan dengan menggunakan bahasa kias Menurut
(Nurgiyantoro, 2005: 296). Dalam pemajasan ini, masih ada hubungan makna antara
bentuk harfiah dengan makna kiasnya. Akan tetapi, hubungan tersebut bersifat
tidak langsung yang membutuhkan penafsiran pembaca. Jadi, penggunaan bahasa
dalam kesusastraan merupakan salah satu bentuk penyimpangan makna.
Berdasarkan
langsung tidaknya makna yang terkandung dalam sebuah kata, frasa, atau klausa.
Keraf (1981: 114) membagi gaya bahasa menjadi dua bagian yaitu gaya langsung
atau gaya retoris (rhetorical figures)
dan bahsa kiasan (tropes). Untuk
mendapatkan efek estetis yang diharapkan gaya retoris dan bahasa kiasan
tersebut harus tepat dalam penggunaannya, gaya bahasa tersebut harus mampu
mengarahkan interpretasi pembaca yang kaya dengan asosiasi-asosiasi, di samping
juga dapat mendukung terciptanya suasana dan nada tertentu.
a) Gaya
Bahasa Retoris
Gaya
bahasa retoris merupakna gaya bahasa yang mengacu pada makna yang diartikan menurut
nilai lahirnya. Oleh karena itu, tidak akan menemui kesulitan dalam pemakaian
selama diksinya tepat. Berikut ini merupakan bentuk-bentuk dari bahasa retoris
1) Aliterasi
Aliterasi
merupakan gaya bahasa yang memakai kata-kata yang dimulai dengan konsonan yang
sama. Biasanya digunakan dalam karya sastra berbentuk puisi. Contoh: Takut
titik lalu tumpah.
2) Anastrof
Anastrof
merupakan inversi atau pembalikan susunan kata-kata dalam sebuah kalimat,
berbeda dari susunan biasa. Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami
melihat perangainya.
3) Apostrof
Apostrof
merupakan gaya bahasa yang berbentuk sebuah amanat yang disampaikan kepada
sesuatu yang tidak hadir. Makna apostrof adalah berpaling atau berputar.
Sesuatu yang tidak hadir dimaksudkan kepada mereka yang sudah meninggal, atau
kepada barang atau obyek khayalan atau abstrak.
4) Inuendo
Inuendo
merupakan sindiran dengan mengecilkan kenyatan yang sebenarnya. Inuendo
menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung dan sering tampak tidak
menyakitkan hati pada mulanya.
5) Perifrasis
Perifrasis
merupakan gaya atau acuan untuk menyatakan maksud secara tidak langsung atau
dapat dikatakan suatu cara yang abstrak untuk mengungkapkan suatu maksud.
6) Pleonasme
atau tautologi
Pleonasme
atau tautalogi merupakan acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak
daripada yang diperlukan.
7) Prolepsis
Prolepsis
atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih
dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang
sebelumnya terjadi.
8) Pertanyaan
retoris
Pertanyaan
retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pembicaraan atau
penulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang baik dan penekanan yang wajar,
dan tidak menghendaki suatu jawaban.
9) Silepsis
dan Zeugma
Silepsis
atau zeugna adalah gaya di mana orang mempergunakan sepatah kata dalam
hubungannya dengan dua kata atau lebih yang disangka sama tapi sebenarnya
tidak.
10) Apofais
Apofais
merupakan gaya bahasa di mana pengarang menegaskan sesuatu tapi tampak
menyangkalnya. Contoh: Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran,
maka sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa anda pasti membiarkan anda menipu
diri sendiri. Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini, bahwa saudara telah
menggelapkan uang ratusan juta rupiah uang negara.
11) Asindeton
Asindenton
merupakan gaya bahasa yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata yang
sederajat berurutan, atau klausa-klausa yang sederajat, tidak dihubungkan
dengan kata sambung.
12) Kiasmus
(Chiasmus)
Kiasmus
adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang mengandung dua bagian, baik frasa
atau klausa, yang sifatnya berimbang yang dipertentangan satu sama lain, tetapi
susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa,
klausa, atau lainnya.
13) Elipsis
Elipsis
merupakan gaya bahasa dengan menghilangkan satu kata atau lebih yang dengan
mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar,
sehingga struktur gramatikalnya memenuhi pola yang berlaku.
14) Eufemismus
Eufemismus
merupakan acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang,
atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk mengantikan acuan-acuan yang mungkin
dirasakan menghina, menyinggung perasaan, atau mensugestikan sesuatu yang tidak
menyenangkan.
15) Histeron
Portenon
Histeron
portenon merupakan gaya bahasa kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan
dari urutan yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terakhir pada awal.
16) Ironi
Ironi
atau sindiran merupakan semacam acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan
makna atau maksud yang berlainan daripada yang terkandung dalam rangkaian
kata-katanya itu.
17) Litotes
Litotes
merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan
merendahkan diri.
b) Gaya
Bahasa Kiasan
Gaya
bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang dilihat dari segi makna dan tidak dapat
ditafsirkan sesuai dengan kata-kata yang membentuknya.
1. Persamaan
atau simile
Persamaan
atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Perbandingan yang
bersifat eksplisit ini dimaksudkan bahwa ia langsung menyatakan sesuatu yang
sama dengan hal yang lain dan menggunakan kata-kata seperti, sama, sebagai,
bagaikan, laksana, dsb.
2. Personifikasi
Personifikasi
adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau
barang-barang yang tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.
3. Alusi
Alusi
adalah semacam acuan yang berusaha untuk mensugestikan kesamaan antara orang,
tempat, atau, peristiwa. Contoh: Bandung adalah paris jawa.
4. Metonimia
Metonimia
merupakan gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal
lain karena mempunyai pertalian yang sangat erat.
5. Metafora
Metafora
adalah perbandingan yang tanpa menggunakan kata-kata: bagaikan, seperti,
laksana, dsb. Jadi, pokok yang pertama langsung dihubungkan dengan pokok yang
kedua. Contoh: pemuda adalah bunga bangsa.
6. Sinekdoke
Sinekdoke
merupakan bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk
menyatakan keseluruhan (pars pro toto)
atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
7. Eponim
Eponim
adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan
dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu,
misalnya hercules untuk menyatakan kekuatan.
8. Epilet
Epilet
adalah acuan yang berwujud sebuah frasa deskriptif yang menjelaskan atau
menggantikan nama seseorang atau suatu barang. Contoh: lonceng pagi untuk ayam
jantan.
9. Pun atau
paranomasia
Pun atau
paranomasia adalah permainan kata-kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi,
tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Contoh: tanggal dua gigi saya
tanggal dua.
10. Hiperbola
Hiperbol
merupakan gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan
membesar-besarkan segala sesuatu.
11. Paradoks
Paradoks
merupakan gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan
fakta-fakta yang ada.
12. Oksimoron
Oksimoron
adalah suatu acuan yang berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai objek
yang bertentangan.
13. Hipalse
Hipalse
merupakan semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu digunakan untuk menerangkan
sebuah kata yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata lain.
2).
Penyiasatan Struktur
Pencapaian
efek estetis yang diharapkan dipengaruhi oleh bangunan struktur kalimat secara
keseluruhan bukan semata-mata oleh gaya bahasa tertentu. Namun dari keseluruhan
unsur tertentu ada struktur yang menonjol yang mampu menghadirkan kesan yang
berbeda.
Dalam
sebuah karya fiksi, pendayagunaan struktur kalimat pun menghasilkan suatu
bentuk stile yang lain. Pertama menekankan pengungkapkan melalui penyiasatan makna
dan yang kedua melalui penyiasatan struktur. Dalam pencapaian efek retoris,
peranan penyiasatan struktur (rhetorical
figures/figure of speech) lebih menonjol dari pemajasan. Namun keduanya
bisa digabungkan untuk memperoleh suatu yang lebih segar. Dengan demikian,
sebuah kalimat penuturan dapat saja mengandung gaya pemajasan dan gaya
penyiasatan struktur. Ada banyak hal yang biasa digunakan dalam penyiasatan
struktur diantaranya repetisi, paralelisme, anafora, polisindenton, asindenton,
antitesis, aliterasi, klimaks, antiklimaks, dan pertanyaan retoris.
Repetisi
dan anafora adalah dua bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan
kata atau kelompok kata yang sama. Kata atau kelompok kata yang diulang bisa
terdapat dalam satu kalimat atau lebih dan berada pada posisi awal, tengah,
ataupun akhir. Sementara itu, anafora menampilkan pengulangan kata pada awal
beberapa kalimat yang berurutan.
Di pihak
lain, paralelisme mengacu pada penggunaan bagian-bagian kalimat yang mempunyai
kesamaan struktur gramatikal (dan menduduki fungsi yang sama pula) secara
berurutan. Bentuk-bentuk gramatikal yang paralel dapat berupa struktur kata,
frasa, kalimat, ataupun alinea.
Di
samping paralelisme, ada gaya lain yang menggunakan unsur paralelisme dan
dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan yang bertentangan. Bentuk gaya bahasa
tersebut disebut antitesis.
Bentuk
gaya pengulangan yang lain adalah polisendenton dan asindenton. Polisindenton
berupa penggunaan kata tugas tertentu, misalnya kata “dan”, sedangkan asidenton
yaitu pengulangan yang menggunakan pungtuasi yang berupa tanda koma. Selain itu
ada penggunaan aliterasi, aliterasi adalah penggunaan kata-kata yang sengaja
dipilih karena memiliki kesamaan fonem konsonan, baik yang berada di awal
maupun di tengah kata.
Gaya klimaks
dan antiklimaks bertujuan untuk mengungkapkan dan menekankan gagasan dengan
cara menampilkannya secara berurutan. Pada gaya klimaks, urutan tersebut
menunjukan semakin meningkatnya kadar pentingnya gagasan itu. Sementara itu,
antiklimaks menunjukan semakin merendahnya kadar gagasan tersebut.
Pertanyaan
retoris merupakan gaya yang menekankan atau mengungkapkannya dengan menampilkan
semacam pertanyaan yang tak menghendaki atau tak membutuhkan jawaban.
Pertanyaan retoris dianggap hanya memiliki satu jawaban dan pembaca dianggap
telah mengerti apa jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
3).
Pencitraan
Dalam
dunia kesusastraan dikenal istilah citra (image)
dan pencitraan (imagery) yang
keduanya mengacu pada reproduksi mental. Citra adalah gambaran pengalaman indra
yang diungkapkan lewat kata-kata, gambaran berbagai pengalaman sensoris yang
diangkat oleh kata-kata. Sementara itu, pencitraan merupakan kumpulan citra,
the collection of image, yang
dipergunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang
dipergunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun
secara kias (Abrams lewat Nurgiyantoro, 2005 : 304).
Menurut
Pradopo (1987: 79), gambaran-gambaran angan dalam sajak disebut citraan.
Citraan tersebut khususnya di dalam puisi yang bertujuan untuk memberi gambaran
yang jelas, memberi suasana yang khusus, dan membuat lebih hidup gambaran yang
diungkapkan dalam pikiran atau karya tersebut. Selain itu, citraan juga
digunakan untuk menarik perhatiaan pembaca pada karya sastra khususnya puisi.
Pencitraan terdiri dari lima bentuk yaitu citraan penglihatan (visual),
pendengaran (auditoris), gerakan (kinestetik), rabaan (taktik termal), dan
penciuman (olfaktori). Akan tetapi, kelima pencitraan tersebut berbeda
intensitas pemanfaatannya dalam karya sastra.
Bentuk
pencitraan dalam karya sastra tidak mutlak secara harfiah. Akan tetapi bentuk
pencitraan yang muncul dalam karya sastra dapat juga bersifat kiasan, misalnya
yang berupa perbandingan-perbandingan. Dengan demikain, bentuk atau gaya
pencitraan dapat muncul sekaligus lewat kalimat dengan gaya pemajasan, dan
keduanya pun dapat bergabung dalam satu kalimat dengan gaya penyiasatan
struktur.
D.
KOHESI
Dalam setiap
karya sastra, antara bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain mempunyai
hubungan yang bersifat mengaitkan antar bagian kalimat atau antar kalimat itu.
Antar unsur dalam suatu karya sastra tersebut dihubungkan oleh unsur semantik.
Menurut Halliday dan Hasan via Nurgyiantoro (1994: 306), hubungan semantik
merupakan bentuk hubungan yang esensial dalam kohesi yang mengaitkan
makna-makna dalam sebuah teks. Hubungan kohesi tersebut dapat berupa hubungan
implisit dan eksplisit. Hubungan yang sifatnya eksplisit ditandai dengan kata
hubung atau kata-kata tertentu yang sifatnya menghubungkan. Sementara itu,
hubungan yang sifatnya implisit hanya berupa hubungan kelogisan, hubungan yang
disimpulkan sendiri oleh pembaca (infered connection). Pengungkapan hubungan
secara implisit dan eksplisit tersebut perlu penyiasatan.
Hubungan
antar unsur dalam suatu teks fiksi pada dasarnya merupakan hubungan makna dan
referensi, namun orang cenderung melihatnya dari segi sarana formal sebagai
penanda hubungannya. Hubungan antar unsur dalam karya fiksi dapat diwujudkan
dengan sambungan dan rujuk silang. Sambungan merupakan alat kohesi yang berupa
kata-kata sambung, sedangkan rujuk silang berupa sarana bahasa yang menunjukan
kesamaan makna dengan bagian yang direferensi.
Penanda
kohesi yang berupa sambungan dapat berupa kata tugas seperti dan, kemudian,
sedang, tetapi, namun, melainkan, bahwa, sebab, jika, maka, dsb yang
menghubungkan antar bagian kalimat, sebagai preposisi atau konjungsi. Penanda
kohesi yang menghubungkan antar kalimat biasanya berupa kata atau kelompok kata
yang sama.
Rujuk
silang merupakan penyebutan kembali suatu hal yang telah dikemukakan
sebelumnya, merupakan sarana pengulangan makna dan referensi. Pengulangan
formal adalah bentuk pengulangan paling nyata yang berupa pengulangan kata atau
kelompok kata yang sama.
Menurut
Leech & Short lewat Nurgiyantoro (1994: 307) mengungkapkan bahwa kohesi
mengenal adanya prinsip pengarangan (reduction),
yaitu yang memungkinkan kita utnuk menyingkat apa yang akan disebut kembali.
Pengurangan tersebut pada umumnya dilakukan apabila sesuatu yang dituturkan itu
panjang. Bentuk penyingkatan, pengurangan, atau pergantian yang banyak
dipergunakan adalah berupa pemakaian kata-kata ganti persona seperti kalian,
kau sekalian, kami, kita, dan mereka.
E. NADA
Nada
atau tone, nada pengarang (authorical
tone), dalam pengertian yang luas, dapat diartikal sebagai pendirian atau
sikap yang diambil pengarang (tersirat, implied
author) terhadap pembaca dan terhadap sebagian masalah yang dikemukakan
(Leech & Short via Nurgiyantoro, 2005: 284). Nada merupakan ekspresi sikap,
sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan terhadap pembaca. Dalam
bahasa lisan, nada dapat dikenali melalui intonasi ucapan, misalnya nada rendah
atau lemah lembut, santai, meninggi, sengit, dan sebagainya.
BAB III
HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
Analisis
Novel 1: “Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy “
A. UNSUR
STILE
a. Unsur
Leksikal
Dalam
bagian ini, unsur leksikal yang dimaksud di sini sama pengertiannya dengan
diksi atau pilihan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarangnya.
Pemilihan kata tersebut dipilih melalui beberapa pertimbangan formal. Pilihan
kata dilakukan agar peggunaan kata sesuai dengan apa yang kita maksudkan kepada
pembaca.
a).
Pertimbangan fonologis
Pertimbangan
unsur fonologis dalam karya sastra biasanya lebih ditekankan pada karya sastra
berbentuk puisi. Dalam puisi, pertimbangan fonologis digunakan untuk
kepentingan aliterasi, irama, dan efek bunyi tertentu.Namun dalam novel
“Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir
itu Bernama Maria”, Habiburrahman El Shirazy tidak mempertimbangkan aspek atau
unsur fonologis.
b).
Pertimbangan dari segi bentuk, mode, dan makna
Bahasa
koloqial biasanya digunakan untuk mempermudah pemahaman pembaca. Dalam hal ini
sebaiknya penulis memang menggunakan bahasa koloqial, untuk menghindari
ketidakpahaman pembaca ketika memahami karya sastra. Selain itu, bahasa sastra
digunakan untuk menarik pembaca supaya masuk ke dalam cerita yang ditawarkan. Habiburrahman
El Shrazy dalam novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama
Maria”, mempertimbangkan segi bentuk, mode, dan makna yang digunakan sebagai
sarana untuk mengkonsentrasikan gagasan. Namun dalam pengungkapan gagasan,
Habiburrahman El Shirazy menggunakan bahasa koloqial yang dipadukan dengan
bahasa sastra.
Bahasa
koloqial yang digunakan oleh pengarang didominasi dalam bentuk dialog yang digunakan
dalam novel tersebut. Hal tersebut digunakan untuk mempermudah sampainya maksud
pengarang sehingga pembaca juga lebih mudah memahami maksud yang diinginkan
oleh pengarang. Bahasa koloqial tersebut dapat memperlihatkan keakraban,
kekeluargaan, dan kuatnya persaudaraan antartokoh di dalam novel “Ayat-ayat
Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”. Tampak pada:
“Mas
Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat
saja di rumah?”, saran Saeful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang
merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.”(El Shirazy, 2004: 4)
”Sudah
bawa air putih, Mas?”(El Shirazy, 2004: 5)
“Hey,
Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?
“Shubra.”
“Talaqqi
Al Quran ya?”
“Aku
mengganguk.”
“Pulangnya
kapan?”
“Jam
lima insya Allah.”
“Bisa
nitip?”
“Nitip
apa?”
“Belikan
disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”
“Baik.,
insya Allah”
(El
Shirazy, 2004:8)
Dalam
kutipan di atas tampak jelas adanya kedekatan antara Fahri sang tokoh utama yaitu
dengan Saeful, penghuni flat yang sama dengan Fahri dan dialog yang ketiga
fahri dengan Mariam yang meminta fahri untuk membelikan sebuah disket. Dalam
pergaulan mereka tampak adanya perhatian dan kasih sayang yang dalam. Pengarang
menyampaikan gagasan tersebut dengan bahasa koloqial. Bahasa koloqial tersebut
menggunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa Arab. Habiburrahman El Shirazy
menggunakan bahasa Indonesia dan Arab dalam bentuk bahasa koloqial karena
tokoh-tokoh yang digunakan dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab
“Gadis Mesir itu Bernama Maria” berasal dari Indonesia. Walaupun mereka berlima
belajar di Universitas Al Azhar Mesir. Tokoh-tokoh tersebut bernama Fahri,
Saeful, Rudi, Hamdi, dan Mishbah. Penggunaan bahasa Indonesia tersebut sebagai
salah satu sarana untuk menunjukan pada pembaca bahwa mereka berlima adalah
mahasiswa Indonesia yang sedang mengemban amanahnya untuk belajar di
Universitas Al Azhar Mesir. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetap
menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di antara mereka yang
terkadang diselingi dengan bahasa Arab Fusha yang biasanya digunakan oleh orang
Mesir sebagai bahasa sehari-hari. Penggunaan bahasa Arab Fusha tampak pada:
“Allah
yubarik fik, Mas”. (El Shirazy, 2004: 5)
“Wa
iyyakum!”, balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi menutupi
kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.” (El Shirazy, 2004: 5)
“Fahri,
istanna suwaya!” (El Shirazy, 2004: 9)
“Fi eh
kaman?” (EL Shirazy, 2004: 9)
“Syukron
Fahri.” (El Shirazy, 2004: 9).
Bahasa
Arab Fusha yang digunakan sengaja dipilih oleh pengarang sebagai sarana untuk
menunjukan pada pembaca bahwa latar atau setting cerita dalam novel “Ayat-ayat
Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” tersebut berada di daerah Mesir
dengan bahasa Arab Fusha sebagai bagai sehari-hari penduduk Mesir. Allah
yubarik fik dalam bahasa Indonesia berarti semoga Allah melimpahkan berkah
padamu. Wa iyyakum berarti dan semoga melimpahkan (berkah-Nya) pada kalian
semua. Fahri, Istanna suwayya berati tunggu sebentar. Fi eh kaman berarti ada
apa lagi. Sementara Syukron Fahri berarti terima kasih Fahri.
c).
Pilihan kata berdasarkan masalah sintagmatik
Sintagmatik
berkaitan dengan hubungan antarkata secara linier untuk membentuk sebuah
kalimat. Bentuk-bentuk kalimat yang digunakan oleh Habiburrahman El Shirazy
dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”
berupa kalimat sederhana dan lazim digunakan karena Habiburrahman El Shirazy
menggunakan bahasa koloqial. Penggunaan bahasa koloqial tersebut mempermudah
pembaca menelaah isi novel tersebut. Meskipun penggunaan bahasa koloqial
tersebut diselingi dengan penggunaan bahasa Arab fusha, pembaca akan tetap
paham dengan apa yang dimaksudkan oleh pengarang. Hal tersebut terjadi karena
pengarang membubuhkan catatan kaki sebagai terjemahan dari bahasa Arab Fusha
yang digunakan.
“Fahri,
istana suwayya!”
“Fi eh
kaman?”
“Syukron
Fahri”
Terjemahan:
Tunggu
sebentar
Ada apa
lagi?
Terima
kasih
(El
Shirazy, 2004: 9).
d).
Pilihan kata berdasarkan masalah paradigmatik
Hubungan
Paradigmatik berkaitan dengan pilihan kata di antara sejumlah kata yang
berhubungan secara makna, misalnya dalam kutipan berikut:
“Oh ya,
hampir lupa, nanti sore yang piket masak Hamdi. Dia paling suka masak
oseng-oseng wortel campur kofta.” (El Shirazy, 2004: 5)
“Apalagi
jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam
kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan.” (El Shirazy,
2004: 7)
Dalam
dialog di atas, Habiburrahman memilih kata kofta yang berarti daging yang telah
dicincang halus dengan mesin dan ashir yang berarti juice, karena Habiburrahman
menganggap kata-kata berbahasa Arab Fusha tersebut mempunyai konotasi yang
paling tepat untuk menyatakan bahwa mereka tinggal di dataran Mesir yang kental
dengan dialog Arab Fusha. Dari situ pembaca dapat melihat kebiasaan dan
cerminan orang Mesir. Hal ini dilakukan supaya pembaca ikut merasakan situasi
dan kondisi di Mesir.
Selain
penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Arab Fusha, Habiburrahman El Shirazy
menggunakan atau menyisipi bahasa Jawa sebagai sarana penyampaian gagasan
supaya terlihat ada unsur orang Jawa. Hal tersebut tampak pada kutipan
tersebut:
“Mahasiswa
Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan
darah.” (El Shirazy, 2004: 2)
“Sesekali
ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.”
(El
Shirazy, 2004: 2)
“Dengan
tekad bulat, setelah mengusir rasa aras-arasen, aku bersiap untuk keluar.” (El
Shirazy, 2004: 2)
Penggunaan
kata-kata mimisan, kungkum, dan aras-arasen pada kutipan di atas, digunakan
oleh Habiburrahman El Shirazy dengan alasan bahwa kata-kata berbahasa Jawa
tersebut mempunyai konotasi yang tepat untuk menyatakan bahwa Fahri sang tokoh
utama bersal dari Indonesia yaitu orang Jawa. Dengan demikian pembaca bisa
memahami bahwa tokoh utamanya adalah orang yang berasal dari Indonesia. Selain
itu dalam novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”,
Habiburrahman El Shirazy juga menggunakan istilah Islam yang berkaitan dengan
pembacaan Al-Qur’an. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut:
“Tepat
pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash- Shidiq yang
terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh
Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini, aku belajar qiraah sab’ah dan ushul
tafsir.” (El Shirazy, 2004: 2)
Penggunaan
istilah talaqqi, qiraah sab’ah dan ushul tafsir, memberikan pengertian pada
pembaca bahwa Fahri sang tokoh utama adalah seorang mahasiswa Us’uludin yang hafal
Al-Qur-an dan belajar membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam.
Istilah-istilah tersebut memberikan gambaran siapa dan bagaimana sebenarnya
tokoh utama dalam cerita ini. Adanya istilah-istilah dalam proses pembacaan
Al-Qur’an tersebut tidak menyebabkan pembaca hilang komunikasi dengan
pengarang. Justru hal tersebut memberikan gambaran yang jelas dengan tokoh
Fahri. Hal ini disebabkan karena pengarang memberikan catatan kaki sebagai
terjemahan dari istilah-istilah tersebut. Talaaqi berarti belajar langsung face
to face dengan seorang Syaikh atau ulama. Qiraah sab’ah adalah membaca
Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam. Sementara ushul tafsir adalah ilmu tafsir
paling pokok. Selain itupenggunaan istilah-istilah dalam pembelajaran
Al-Qur’an, Habiburrahman El Shirazy juga menggunakan nama-nama tokoh yang
bernuansa islam dan Mesir sebagai sarana penggambaran bahwa tokoh-tokohnya
adalah seorang muslim. Nama-nama tokoh tersebut mulai dari mahasiswa Indonesia
yang berada dalam flat tersebut yaitu Fahri, Saeful, Misbah, Rudi, dan Hamdi.
Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang biasa dipakai oleh orang Indonesia untuk
seorang muslim. Pengarang juga menggunakan nama-nama para ulama yang sangat
diagungkan dalam islam. Nama-nama tersebut seperti Syaikh Utsman Abdul Fattah,
dan Syaikhul Maqari Wal Huffadh Fi Mashr. Hal tersebut menunjukkan bahwa, tokoh
utama kita Fahri memang belajar di Mesir yang memiliki guru/ dalam islam biasa
disebut Ustad yang berasal dari Mesir.
Jika dilihat
dari segi nama, Pembaca dapat masuk dalam suasana yang ditawarkan oleh penulis.
Selain itu, dalam bab ‘Gadis Mesir itu Bernama Maria’ Habiburrahman memunculkan
nama Maria seorang gadis kristen koptik dari keluarga Tuan Boutros Rafael
Girgis. Kedua nama tersebut menunjukkan bahwa Maria dan Tuan Boutros merupakan
pengikut kristen koptik yang berdarah Mesir. Hal itu juga dapat dilihat dari
nama belakang Tuan Boutros yaitu Girgis. Habiburrahman juga sangat pandai dalam
mendeskripsikan tempat dan keadaan sehingga pembaca pembaca benar-benar merasa
masuk ke dalam negeri Mesir sebagai setting yang ditawarkan oleh pengarang.
Pembaca benar-benar merasakan bagaimana kondisi Mesir dan seolah-olah melihat
serta merasakan sendiri. Pada hakekatnya seorang penulis harus bisa
mengungkapkan bahasa dalam karya sastranya sesuai dengan tokoh yang dia
harapkan, agar pembaca bisa merasakan apa yang pengarang maksudkan. Hal
tersebut tampak pada:
“Tengah
hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit.
Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir
seakan menguakan bau meraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang
bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik.
Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen
berbentuk kubus dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat” (El Shirazy,
2004: 1)
“Tepat
pukul dua siang aku harus sudah berada di masjid Abu Bakar Ash Shiddik yang
terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman
Abdul Fattah (El Shirazy 2004:2)
Selain
penggunaan empat pertimbangan formal di atas, dalam analisis leksikal sebuah
karya fiksi dapat dilakukan berdasarkan tinjauan secara umum dan jenis kata.
Dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” (Gadis Mesir itu Bernama Maria), Habiburrahman
menggunakan kata-kata yang sederhana dari ragam bahasa kolokial. Selain itu,
Habiburrahman juga menggunakan kata-kata berbahasa Arab Fusha yang kadarnya
cukup banyak. Arah makna yang ditunjuk bersifat referensial karena mengacu pada
hal yang dituju dan bersifat denotasi karena menggunakan bahasa yang bermakna
sesungguhnya berupa ragam bahasa koloqial.
Analisis
unsur leksikal selanjuntnya adalah berdasarkan jenis kata. Dalam novel
“Ayat-ayat Cinta” bab I “Gadis Mesir itu Bernama Maria” dipakai kata benda
sederhana yang sifatnya kongkret. Hal ini dikarenakan kata benda yang digunakan
menunjuk pada benda, makhluk, atau manusia. Kata kerja yang digunakan berupa
kata kerja kompleks karena terdiri dari kata kerja transitif dan kata kerja
intransitif. Kata keja transitif dan intransitif tersebut mengacu pada
tindakan, pernyataan, atau peristiwa. Dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya
pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, Habiburrahman El Shirazy sedikit
menggunakan kata sifat dan kata bilangan. Di sisi lain, penggunaan kata tugas
cukup mendominasi. Kata-kata tersebut meliputi: sebagaimana, lalu, dan, atau,
hanya, sementara, apalagi, tapi, ketika, saat, serta lalu.
Maria
lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal,. Anehnya ia terlebih dahulu membaca
ta’awudz. Dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca alquran . jadilah
dalam perjalanan dari mahattah anwar sadat tahrie samapi tura el-esmen
kuhabiskan untuk menyimak seorang maria membaca surat Maryam dari awal samapi
akhir…(El Shirazy 2004:11)
B. UNSUR
GRAMATIKAL
Unsur
gramatikal merupakan unsur yang menyaran pada pengertian struktur kalimat.
Dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna daripada
sekedar kata, walau kegayaan kalimat banyak dipengaruhi oleh pilihan kata. Kegiatan
analisis unsur gramatikal dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode yang
digunakan yaitu kompleksitas kalimat, jenis kalimat, dan jenis kata serta
frasa.
1).
Kompleksitas Kalimat
Pada
novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, menggunakan
kalimat sederhana yang didominasi oleh kalimat kompleks yang mudah dipahami.
Kalimat kompleks tersebut mudah dipahami karena pengarang menggunakan bahasa
koloqial dalam pengungkapan gagasan. Kompleksitas kalimat tampak pada
penggunaan kalimat yang panjang-panjang, dan didominasi oleh tipe kalimat
majemuk koordinatif dan kalimat mejemuk subordinatif. Kesederhanaan kalimat
tampak pada:
“Sudah
bawa air putih, mas? (El Shirazy, 2004: )
“Aku
mengangguk.” (El Shirazy, 2004: 5)
Aku
membalikkan badan dan melangkah(El Shirazy, 2004: 5)
Uangnya”
(El Shirazy, 2004: 9)
Benarkah?”
(El Shirazy, 2004: 9)
Aku diam
tidak menjawab” (El Shirazy, 2004: 11)
Kompleksitas
kalimat tampak pada kutipan berikut ini:
“Memang,
istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman
daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk sholat berjama’ah di
masjid.” (El Shirazy, 2004: 1)
“Ia
tidak kenal kesah, tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil
bertasbih siang dan malam atau seperti matahari yang telah jutaan tahun
membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero maya pada”.
(El Shirazy, 2004: 1-2)
“Penduduknya,
banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk
kubus dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat.” (El Shirazy, 2004: 2)
“juga
keterangan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf itu tak lain adalah
rumus-rumus Tuhan Yang Maha dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis
maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama
tafsir.” (El Shirazy, 2004: 13)
“Ia
sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah.” (El Shirazy,
2004: 12)
Mungkin,
sejak azan berkumandang Mariyam telah membuka daun jendela kayunya. Dari balik
kaca ia melihat ke bawah. Dari balik kaca menunggu aku keluar. Begitu aku
tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendekla kacanya , dan
memanggil dengan suara setengah berbisik…
(El
Shirazy, 2004: 14)
Kompleksitas
kalimat juga dapat terlihat melalui jumlah kata yang digunakan dalam setiap
kalimat. Namun dari sekian paragraf yang muncul kekompleksitasan kalimat
dibangun dengan indah. Pembaca dibuat tidak bingung karena alur cerita yang
ringan dan pilihan kata yang koloqial. Jadi, Kompleksitas kalimat tidak
mempersulit pembaca untuk memahami isi cerita khusunya pada bab ini.
2).
Jenis Kalimat
Dalam
novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”,
Habiburrahman El Shirazy menggunakan jenis kalimat yang bervariasi. Jenis
kalimat tersebut adalah kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat
introgatif, dan kalimat minor.
a).
Kalimat Deklaratif (kalimat pernyataan)
Kalimat
deklaratif tampak pada:
“Tengah
hari ini, kota Cairo seakan membara.” (El Shirazy, 2004: 1)
“Awal-awal
agustus memang puncak musim panas.”
(El
Shirazy, 2004: 1)
Awal-awal
Agustus memang puncak musim panas.
(El
Shirazy, 2004: 2)
Angin
sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar lalu menuruni tangga satu
per satu .
(El
Shirazy, 2004: 8)
b).
Kalimat Imperatif (kalimat perintah atau larangan)
Kalimat
imperatif tampak pada:
“Terus
tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula dan minyak goreng.” (El Shirazy,
2004: 5)
c).
Kalimat Introgatif (kalimat pertanyaan)
Kalimat
Introgatif tampak pada:
“Hei
Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”
(El
Shirazy, 2004: 8)
Pulangnya
kapan? (El Shirazy, 2004: 8)
Nitip
apa ya? (El Shirazy, 2004: 8)
“Apa
bedanya Maria dan Maryam?” (El Shirazy, 2004: 10)
“Kau
juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah dengar?, kataku.” (El
Shirazy, 2004: 11)
“Apa
tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” (El Shirazy, 2004: 4)
d).
Kalimat Minor (kalimat yang fungtor-fungtornya tidak lengkap)
Kalimat
Minor tampak pada:
“wuss!”
(El Shirazy, 2004: 8)
“Psst...psst...Fahri!Fahri!”
(El Shirazy, 2004: 4)
Jenis
kalimat yang menonjol dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis
Mesir itu Bernama Maria” karya habiburrahman El Shirazy adalah kalimat
deklaratif. Hal ini disebabkan karena pengarang adalah pencerita yang baik
sehingga dalam narasinya sering keluar kalimat deklaratif. Hal ini menunujukan
bahwa pada novel ini pengarang menarasikan cerita begitu apik namun tak jarang
muncul dialog-dialog antara tokoh utama dengan tokoh yang lain. Selain itu,
pengarang mencoba mendeskripsikan latar untuk lebih mengenalkan kepada pembaca
masuk dalam dunia yang diceritakannya (baca: kota mesir). Bab I ini begitu
mengalir menceritakan bagaimana kondisi kota mesir yang panas dan mencapai suhu
yang berlipat disbanding Negara Indonesia.
C.
RETORIKA
a)
Pemajasan
1.
Personifikasi, seperti tampak pada:
“Panas
membara dan badai debu menggulung gulung di luar sana.”
(El
Shirazy, 2004:3)
“Tanah
dan pasir seakan menguapkan bau neraka.“(El Shirazy, 2004:1)
“Hembusan
angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin
tinggi dari detik ke detik.”
(El
Shirazy, 2004:1)
“Debu
bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari dimana-mana.”
(El
Shirazy, 2004:4)
“Angin
sahara menampar mukaku dengan kasar.” (El Shirazy, 2004:4)
“Angin
sahara terdengar mendesau-desau.” (El Shirazy, 2004:4)
2.
Hiperbola seperti tampak pada:
“Kota
Cairo seakan membara.”(El Shirazy, 2004:1)
3.
Perumpamaan seperti tampak pada:
“Seumpama
lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi.”
(El
Shirazy, 2004:1)
4.
Penyiasatan Struktur
a.
Paralelisme
Tampak
pada kutipan berikut ini:
“...lidah
api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi.”
(El
Shirazy, 2004:1)
“Panggilan
adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu
menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El
Shirazy, 2004:1)
“ Mereka
yang memiliki tekad beribadah sempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca.”
(El Shirazy, 2004: 1)
“Keras
dan kacau”. (El Shirazy, 2004:4)
“Aku
harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota.” (El Shirazy,
2004:5)
“...jika
tidak diatur dengan bijak dan baik.” (El Shirazy, 2004:6)
“Semua
punya hak dan kewajiban yang sama.”
(El
Shirazy, 2004: 6)
“Inilah
yang membuatku menganggap Maria adalah gadis aneh dan misterius.” (El Shirazy,
2004: 14)
b.
Anafora, tampak pada:
“Meskipun
panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang
ditempuh kira-kira kima puluh kolometer jauhnya”. (El Shirazy, 2004: 3)
c.
Parasendenton tampak pada:
“Padahal
rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo” tukasku sambil bergegas
masuk kamar kembali, mengambil topi, dan kaca mata hitam.” (El Shirazy, 2004:5)
“Terus
tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak goreng/” (El Shirazy,
2004:5)
“Kebetulan
wortel dan koftanya habis.”(El Shirazy, 2004:5)
“Hari
ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu aku, Saiful, dan Rudi.”
(El Shirazy, 2004:6)
d.
Asandenton seperti tampak pada:
“Dalam
flat ini kami hidup berlima, aku, Saiful, Rudi, Hamdi, Misbach.”(El Shirazy,
2004: 5)
“Membaca
bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab’ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan
teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempih S2 dan S3 di Kairo.
Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak, membuang sampah...” (El Shirazy,
2004: 6)
e.
Repetisi, tampak pada:
“Saling
mencintai, mengasihi,dan mengerti.
(El
Shirazy, 2004:6)
“Ah,
kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan
lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mashar dengan
matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa
keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan
dipertanggung jawabkan dengan pasti. Kalau tidak ingat, bahwa masa mudayang
sedenga aku jalani ini akan dipertanggungjawabkan kelak. Kalau tak ingat, bahwa
tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak
ingat, bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan
kakek. Kalau tidak ingat, bahwa aku dilepas dengan linangan air mata, dan
selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat, bahwa jadwal
adalah janji yang harus ditepati.”
(El
Shirazy, 2004:7)
f.
Paradoks, tampak pada:
“Maria
suka pada Al-qur’an. Ia sangatm mengaguminya, meskipun is tak pernah mengaku
muslimah. Penghormatannya pada Al-qur’an mungkin melebihi intelektual
muslim.”(El Shirazy, 2004:12)
“...ia
paling suka dengar suara adzan, tapi pergi ke gereja tak pernah ia tinggalkan.”
(El Shirazy, 2004:12)
“Aku
saja yang koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-qur’an dengan Alif lam
mim-nya.” (El Shirazy, 2004: 13)
b)
Pencitraan
Dalam
novel “Ayat-Ayat Cinta” khususnya pada bab (Gadis Mesir itu Bernama Maria)
terdapat beberapa pencitraan, di antaranya:
1).
Citraan Visual atau Penglihatan
“Tengah
hari ini, kota Kairo seakan membara.” (El Shirazy, 2004:1)
“Matahari
berpijar di tengah petala langit.” (El Shirazy, 2004:1)
“Penduduknya,
banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk
kubus dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat.” (El Shirazy, 2004:1)
“Panggilan
adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu
menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El
Shirazy, 2004:1)
“...seperti
karang yang tegak berdiri dalam terjangan ombak, terpaan badai, dan sengatan
matahari.” (El Shirazy, 2004:1)
“Atau
seperti matahari yang telah jutaan membakar tubuhnya untuk memberikan
penerangan ke bumi dan seantero mayapada.”
(El
Shirazy, 2004: 2)
“...meskipun
panas membara dan debu bergulung-gulung di luar sana.” (El Shirazy, 2004: 3)
“Hari
ketika manusia digiring di padang Mashar dengan matahari hanya satu jengkal di
atas ubun-ubun kepala.” (El Shirazy, 2004:7)
“Sampai
di halaman apartemen, jilatan panas api seakan menembus topi hitam dan kopiah
putih yang menempel di kepalaku.” (El Shirazy, 2004:8)
“Matanya
yang bening menatapku penuh binar.”(El Shirazy, 2004: 8)
“Seandainya
tidak memakai kacamata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa perih
menyilaukan mata.” (El Shirazy, 2004: 8)
2).
Citraan Auditoris atau Pendengaran
“Panggilan
adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu
menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El
Shirazy, 2004:1)
“Ia
tidak pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah
Tuhan.” (El Shirazy, 2004:2)
“Angin
sahara terdengar mendesau-desau.” (El Shirazy, 2004:4)
“Mungkin
sejak adzan berkumandang Maria telah membuka daun jendela kayunya.”(El Shirazy,
2004: 14)
3).
Citraan Gerak (Kinestetis)
“Seumpama
lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi.”
(El
Shirazy, 2004:1)
“Hembusan
angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin
tinggi dari detik ke detik.”
(El
Shirazy, 2004:1)
“...darah
selalu merembes dari hidungnya.”
(El
Shirazy, 2004:2)
“Panas
disertai gulungan debu berterbangan.” (El Shirazy, 2004:4)
“Angin
sahara menampar mukaku dengan kasar.”(El Shirazy, 2004: 4)
“Debu
bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari dimana-mana.”(El Shirazy, 2004:4)
“Darah
yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.”
(El
Shirazy, 2004: 4)
“Hari
ketika manusia digiring di padang Mashar dengan matahari hanya satu jengkal di
atas ubun-ubun kepala.” (El Shirazy, 2004:7)
“Kalau
tidak ingat aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu,
ayah, dan sanak saudara.” (El Shirazy, 2004:7)
“Wuss!,
angin sahara kembali menerpa wajahku.” (El Shirazy, 2004: 8)
“Sampai
di halaman apartemen, jilatan panas api seakan menembus topi hitam dan kopiah
putih yang menempel di kepalaku.”
(El
Shirazy, 2004:8)
“Kulangkahkan
kaki ke jalan. “Psst...psst...Fahri! fahri!”
(El
Shirazy, 2004: 8)
4).
Citraan Penciuman
“Tanah
dan pasir seakan menguapkan bau neraka.”
(El
Shirazy, 2004:1)
Pada novel
“Ayat-ayat Cinta” pada bab (Gadis Mesir itu Bernama Maria), karya Habiburrahman
El Shirazy terdapat banyak citraan yang mampu membawa pembaca lebih larut dalam
cerita yang ditawarkan. Citraan-citraan tersebut meliputi citraan visual,
citraan, gerak, citraan penciuman, dan citraan pendengaran. Citraan visual,
gerak, dan pendengaran lebih mendominasi dibandingkan dengan citraan penciuman.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel frekuensi kemunculan.
5. TONE
Tone
atau nada dalam Novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu
Bernama Maria”, Habiburrahman El shirazy digunakan sebagai sarana untuk
menyiratkan perasaan misalnya nada yang bersifat intim, santai, simpatik,
romantis, mengharukan, sentimental, kasar, dan sinis. Pemilihan bentuk ungkapan
tertentu dalam suasana cerita yang tertentu akan membangkitkan nada yang
tertentu pula. Hal ini dikarenakan bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”
merupakan bab pertama dari novel “Ayat-ayat Cinta” sehingga bab tersebut masih
dalam tahap pengenalan para tokoh. Berikut ini beberapa contoh nada yang
bersifat santai:
“Mas
Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat
saja di rumah? Saran Saeful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang
merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.”
(El
Shirazy, 2004: 4)
“Hei
namamu Fahri, iya kan?
“Benar”
“Kau
pasti tahu namaku, iya kan?”. (El Shirazy, 2004: 10)
“Hei
Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”
“Shubra.”
“Talaqqi
Al Qur’an ya?”
Aku
mengangguk.” (El Shirazy, 2004: 8)
6.
KOHESI
Kohesi
merupakan suatu cara untuk mengungkapkan gagasan yang utuh, tiap bagian
kalimat, tiap kalimat, tiap alinea yang dimaksudkan untuk mendukung gagasan
yang dihubungkan antara satu dengan yanng lainnya. Pengungkapan tersebut
dilakukan baik secara ekslusif, inklusif, maupun keduanya secara bersamaan atau
bergantian. Penanda kohesi yang berupa sambungan dalam bahasa ada banyak sekali
dan berbeda-beda fungsinya. Penanda kohesi ini berupa kata tugas seperti: dan,
kemudian, sedang, tetapi, namun, melainkan, bahwa, dan lain-lain. Di bawah ini
merupakan contoh penanda kohesi yang berupa sambungan dalam bahasa Indonesia.
“
Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh
lebih nyaman daripada berjalan keluar rumah, meski sekedar untuk shalat
berjamaah di masjid”. (El Shirazy, 2004: 1)
“Panggilan
adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu
menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El
Shirazy, 2004:1)
“ Dengan
tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen aku bersiap untuk
keluar”. (El Shiorazy, 2004: 2)
“ Sangat
tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara”. (El
Shirazy, 2004: 3)
“Tahun
ini setelah melalui ujian kelat beliau hanya menerima sepuluh orang murid”. (El
Shirazy, 2004: 3)
Selain
kohesi yang menggunakan penghubung antarkata berupa kata tugas terdapat jyga
kohesi yang menghubungkan kata preposisi dan konjungsi. Hal tersebut tampak
pada:
“ Tiga
hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu
merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali”. (El
Shirazy, 2004: 2)
“ Sangat
tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau
tidak sembarang meneria murid untuk talaqqi qiraah sab’ah”.
(El
Shirazy, 2004: 3)
“ Aku
termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat
mengenalku. Itu karena sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan
Al-qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena aku di antara
sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang
Mesir.”
(El Shirazy,
2004: 3)
“ Kulium
penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong hijau tua.
Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut
ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S2 di Universitas
tertua di dunia, di delta nil ini.”
(El
Analisis
Novel 2
Perempuan
Kembang Jepun karya Lan Fang
Analisis
Stilistika
a.
Diksi
Pilihan
kata yang digunakan Lan Fang dalam novelnya yang berjudul Perempuan
Kembang Jepun tersebut banyak yang mengandung makna konotatif, tetapi secara
denotatif makna kata-kata tersebut mudah dipahami. Datanya adalah sebagai
berikut.
Di
bawah temaram lampu templok, suasana menjadi remang-remang. Mas Sujono masih
telentang memejamkan mata. Sementara di sudut ruangan yang sempit itu, si Mbah
juga tidur dengan dengkur sehalus napas anak kucing. (PKJ: 53).
Bentuk
dengkur sehalus napas anak kucing dengan gaya metaforis merupakan pelukisan
khas tentang keadaan seseorang seseorang yang sedang tertidur pulas dengan
dengkuran yang sangat pelan seperti apas anak kucing yang sangat kalus yang
tidak terdengan oleh sekelilingnya.
Belum
tuntas rasa sakitku, belum sempurna kesadaranku, Mas Sujono bagaikan banjir
bandang, bagaikan harimau kelaparan, datang menerpa, menggulung, menindihku!.
(PKJ: 78).
kalimat
Mas Sujono bagaikan banjir bandang merupakan pelukisan khas tentang keadaan
seseorang yang menakutkan, membahayakan yang tiba-tiba bisa menimbulkan
malapetaka. bagaikan harimau kelaparan melukiskan seseorang yang jahat,
menakutkan dan seseorang tersebut bisa mengancam keselamatan orang di
sekitarnya. Harimau kelaparan simbol keganasan dan kejahatan seseorang.
b.
Majas
Pada
novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, terdapat beberapa majas.
Diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Hiperbola
Majas
hiperbola adalah majas yang melebihi sifat dan kenyataan yang sesungguhnya.
Pada novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang terdapat beberapa majas
hiperbola. Datanya adalah sebagai berikut.
Aku
tetap berjualan jamu gendong walaupun perutku semakin membesar. Berkeliling
dari ujung jalan ke ujung jalan lain di sepanjang trotoar. Matahari menyapu
tubuhku begitu teriknya sehingga peluhku membanjir. (PKJ: 64).
Dari
data di atas, matahari menyapu tubuhku, menggambarkan seseorang yang sedang kepanasan
karena tersengat matahari yang panas pada siang hari. Peluhku membanjir,
menggambarkan seseorang yang sedang tersengat matahari di atas yang berkeringat
karena tidak tahan dengan panasnya matahari yang merasuk ke tubuhnya. Kiasan di
atas terlihat berlebihan.
Terompet
dan peluit bergantian menjerit. Bunyi senapan mesin berat dan ringan
menderu-deru membelah udara. (PKJ: 108).
Dari
data di atas, menderu-deru membelah udara memberi maksud seakan-akan langit
akan terbelah karena bunyi senapan dan peluit yang begitu keras. Pada
keyataannya bila ada hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi. Kiasan di atas
terlihat berlebihan.
“Dia
anak Indonesia. Dia anak orang Jawa...,” akhirnya aku menuliskan beban
berton-ton yang mengimpit dada. (PKJ: 127).
Dari
data di atas, beban berton-ton yang mengimpit dada beban berton-ton yang
mengimpit dada, menggambarkan seseorang yang sedang gelisah dan bingung
sehingga membuat hatinya gundah. Hati gundah tersebut diibaratkan bahwa hatinya
sepeti tetimpa berton-ton beban yang mengakibatkan dadanya terasa terhimpit.
Kiasan di atas terlihat berlebihan.
2.
Anafora
Anafora
adalah kata atau kelompok kata pertama diulang pada baris berikut. Pada novel
Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, terdapat beberapa majas anafora. Datanya
adalah sebagai berikut.
Ia
berbisa
Ia
pahit
Ia
tuba
Ia
racun
Ia
rendah (PKJ: 152).
Pada
data di atas menunjukkan ada perulangan kata ia pada baris kedua sampai baris
kelima.
Aku
tidak peduli Dia adalah dewi orang Cina
Aku
tidak peduli ini tanah Jawa
Aku
tidak peduli Dia mendengarku atau tidak (PKJ: 170).
Pada
data di atas menunjukkan ada perulangan kalimat yaitu aku tidak peduli pada
baris kedua dan ketiga.
Aku
gemetar
Aku
menggelepar
Aku
terkapar (PKJ: 256).
Pada
data di atas menunjukkan ada perulangan kata aku pada baris kedua dan ketiga.
3.
Simile
Majas
simile adalah majas yang menggunakan kata-kata pembanding: seperti, laksana,
umpama. Pada novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, terdapat beberapa
majas simile. Datanya adalah sebagai berikut.
Belum
tuntas rasa sakitku, belum sempurna kesadaranku, Mas Sujono bagaikan banjir
bandang, bagaikan harimau kelaparan. (PKJ: 78).
Pada
majas di atas, menggunakan kata pembanding, yaitu bagaikan. Mengibaratkan
seseorang yang jahat dan kejam dengan seeokor harimau yang ganas dan seperti
banjir bandang yang sewaktu-waktu bisa membahayakan nyawa orang sekitarnya.
Jujur
saja, aku kerap merasa seperti pungguk yang merindukan bulan. (PKJ: 181).
Pada
majas di atas, menggunakan kata pembanding yaitu seperti. Mengibaratkan
seseorang satu dengan yang lainnya berbeda jauh dan perbedaan tersebut
diibaratkan dengan langit dan bumi yang sangat jauh perbedaannya.
4.
Sarkasme
Sarkasme
adalah majas sindiran yang cenderung kasar. Pada novel Perempuan Kembang Jepun
karya Lan Fang, terdapat beberapa majas sarkasme. Datanya adalah sebagai
berikut.
Perempuan
itu culas sekali! (PKJ: 196).
Pada
data di atas, menunjukkan bahwa ada seseorang yang menghina orang lain dengan
kata yang kasar, yaitu dengan sebutan perempuan culas.
Aku
memandangnya dengan perasaan geram. Tetapi justru aku menemukan pandangan puas
di mata besarnya yang seperti ikan mas koki. (PKJ: 196).
Pada
data di atas, menunjukkan bahwa ada seseorang yang menghina orang lain dengan
kata sindiran yang kasar, yaitu dengan menyindir pandangan seseorang yang
seperti ikan mas koki. Pada kenyataannya mata ikan mas koki memang sangat besar
dan bulat.
5.
Litotes
Litotes
adalah majas yang digunakan untuk merendahkan diri kepada seseorang atau lawan
bicaranya. Pada novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, terdapat beberapa
majas litotes. Datanya adalah sebagai berikut.
Tetapi
aku, meninggalkan istana pasirku karena jatuh cinta kepada seseorang lai-laki
yang kukira bisa memberikan cinta utuh kepadaku. (PKJ: 151).
....Aku
Cuma Sujono, seorang kuli, hanya orang biasa, wong cilik, yang tidak mungkin
menerobos panjara itu. (PKJ: 202).
Kata-kata
di atas adalah kata-kata yang digunakan untuk merendahkan diri, dengan
menggunakan istana pasir, wong cilik yang seolah-olah pembaca mempunyai kesan
terhadap orang yang mengucapkan kata-kata itu tidak menyombongkan diri.
c.
Citraan
Pada
novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, terdapat beberapa citraan.
Diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Citraan Visual atau Penglihatan
Citraan
penglihatan pada novel Perempuan Kembang Jepun ini dapat diliahat pada data
berikut.
Aku
kerap melihatnya menemani tamu di kelab itu. Juga sering melihat ia memandikan
tamu di ofuro di belakang kelab. Sampai akhirnya, ia menyelinap bersama
tamunya, di balik pintu geser kamar-kamar yang berjajar. (PKJ: 178).
Kata-kata
yang bercetak miring merupakan citraan penglihatan. Pembaca atau pendengar
pernah melihat orang-orang yang mambawa tamunya ke sebuah kamar, pernah melihat
sebuah kamar mandi. Dengan membaca kata-kata itu seolah-olah pembaca juga
ikut melihat seseorang yang mambawa tamunya ke sebuah kamar yang berjajar.
....keningnya
berkerut sehingga menciptakan cekung yang cukup dalam tepat di antara kedua
bola matanya yang besar. Sorot matanya tajam. Bukan saja tajam, tapi juga keras
dan penuh penolakan. (PKJ: 218).
Kata-kata
yang bercetak miring merupakan citraan penglihatan. Pembaca atau pendengar
pernah melihat kening yang berkerut dan sorot mata yang menandakan sedang marah
dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membaca kata-kata itu seolah-olah
pembaca juga ikut melihat kening yang berkerut dan mata yang bola matanya besar
yang menanandakan seseorang tersebut marah.
2.
Citraan Auditoris atau Pendengaran
Citraan
pendengaran pada novel Perempuan Kembang Jepun ini dapat diliahat pada data
berikut.
Gelap
sudah datang menyelimuti langit Surabaya ketika kaguya kupeluk sambil berjalan
membelah sepi. Dadaku bergemuruh. Jantungku berpacu. Benar-benar nyaring
bunyinya sehingga seakan-akan tertangkap oleh telinga. (PKJ: 164).
Kata-kata
yang bercetak miring merupakan citraan pendengaran. Pembaca atau pendengar
pernah mendengarkan suara yang keras. Dengan membaca kata-kata itu
seolah-olah pembaca juga ikut mendengar sebuah bunyi yang sangat nyaring.
Sementara
itu di kamar petakku, sulis sudah kembali dengan suara sumbangnya. Memekik,
menjerit, melotot, memaki. Juga membanting piring dan pintu. (PKJ: 164).
Kata-kata
yang bercetak miring merupakan citraan pendengaran. Pembaca atau pendengar
pernah mendengarkan suara yang keras. Dengan membaca kata-kata itu
seolah-olah pembaca juga ikut mendengar sebuah suara yang keras yang menjerit.
3.
Citraan Penciuman
Citraan
penciuman pada novel Perempuan Kembang Jepun ini dapat dilihat pada data
berikut.
Nyala
sumbu pelita dan lilin bergoyang-goyang. Wangi hio sua berbaur dengan wangi
bunga, menyesap dalam tarikan napasku. Aku bersimpuh di depan meja altar dengan
seluruh perasaan pasrah. (PKJ: 169).
Kata-kata
yang bercetak miring merupakan citraan penciuman. Pembaca atau pendengar pernah
mencium bau wangi yang seperti bunga . Dengan membaca kata-kata itu
seolah-olah pembaca juga ikut mencium bau wangi yang seperti bunga itu.
4.
Citraan Rasa
Citraan
rasa pada novel Perempuan Kembang Jepun ini dapat diliahat pada data berikut.
“Kapal
itu sampai di Cina saat sudah musim dingin. Dan musim dingin di Cina yang bisa
membunuh karena dinginnya menusuk sampai ke tulang. Sementara yang kukenakan
hanya selembar pakaian yang sudah lusuh. (PKJ: 240).
Kata-kata
yang bercetak miring merupakan citraan rasa. Pembaca atau pendengar pernah
merasakan rasa yang dingin apalagi pada waktu musim dingin. Dengan
membaca kata-kata itu seolah-olah pembaca juga ikut merasakan rasa yang
sangat dingin.
d.
Bahasa Asing dan Bahasa Daerah
Pada
novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang terdapat penggunaan bahasa asing
dan bahasa daerah. Diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Bahasa Jepang
Pada
novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, pengarang menggunakan bahasa
Jepang. Diantaranya adalah sebagai berikut.
-
Ohayo gozaimasu (selamat pagi) pada halaman 31
-
Ofuro (bak mandi air panas) pada halaman 93
-
Okiya (rumah penitipan calon geisha) pada halaman 101
-
Shikomi (pelayan) pada halaman 101
-
Chanoyu (upacara jamuan minum teh) pada halaman 103
-
Fuse (tiarap), hajime (mulai), atsumare (kumpul) pada halaman 108
-
Nan desuka ( sungguh), gomen nasai (maafkan aku), bakayaro (goblok) pada
halaman 141
-
Shin (kebenaran), soe (pendukung), uke (penerima), shaoshin (shin yang
sebenarnya), mikoshi (bergelantungan), hikae (pelunak), nagashi (mengalir), do
(tubuh), maeoki (bagian depan) pada halaman 238
-
Watashiwa anata wo aishiteru (aku cinta padamu) pada halaman 267
2.
Bahasa Jawa
Pada
novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, pengarang menggunakan bahasa
Jawa. Diantaranya adalah sebagai berikut.
-
Mencep (mencibir), mencucu (manyun) pada halaman 37
-
Kabeh (semua) pada halaman 45
-
Melok o si mbah yo, dodolan jamu (kami ikut si mbah berjualan jamu ya), ana apa
( ada apa) pada halaman 51
-
Koncomu lara ta nduk? Mongggo mlebet. Mbah damel jampi rumiyen ( tamunya sakit,
ya? (Silahkan masuk, mbah bikinkan jamu dulu) pada halaman 52
-
Panggilan mas dan nduk (panggilan khas orang jawa)
BAB IV
KESIMPULAN
Novel 1: “Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman
El Shirazy “
Kajian
stilistik novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”
karya Habiburrahman El Shirazy mampu menerangkan hubungan antarbahasa dengan
fungsi artistik dan maknanya. Unsur stile yang terdapat dalam kajian stilistik
novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab I ini karya Habiburrahman El Shirazy meliputi
unsur leksikal, unsur gramatikal, aspek retorikal, aspek nada, dan aspek
kohesi,
Dalam
novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” karya
Habiburrahman El Shirazy menggunakan ragam bahasa koloqial yang dipadukan
dengan bahasa sastra sebagai sarana penciptaan efek estetis. Unsur leksikal
pada novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”
menggunakan kata-kata koloqial berbahasa Indonesia yang dipadukan dengan bahasa
Arab Fusha. Bahasa Arab Fusha mampu menggambarkan latar terjadinya cerita pada
pembaca yaitu di Mesir. Dalam unsur gramatikal, Habiburrahman El Shirazy lebih
dominan menggunakan kalimat deklaratif. Hal ini tampak pada paragraf-paragraf
yang terjalin pada bab I ini. Pengarang mendeskripsikan cerita dalam bentuk
kalimat deklaratif (pernyataan).
Unsur
lain yang mendukung pencapaian efek estetis yaitu penyiasatan struktur. Dalam
pencapaian kesan estetis tersebut pemakaian unsur penyiasatan struktur dan
pemajasan cukup mendominasi. Selain itu, unsur kohesi sangat mempengaruhi
terbentuknya bangunan struktur yang baik untuk mendukung gagasan baik secara
eksplisit maupun implisit. Kesemuanya itu dilengkapi dengan aspek nada yang
bersifat santai membuat pembaca merasa nyaman membaca novel tersebut dengan
gaya penceritaan habiburrahman El Shirazy.
Jadi,
dari kajian ini cukup bisa ditarik kesimpulan bahwa pengarang mampu menciptakan
aspek keindahan dan menghantarkan pembaca untuk menikmati bab berikutnya. Bab I
adalah awal dari semuanya dan hal yang paling menarik dari bab ini adalah
pembaca diajak untuk menikmati bab selanjutnya. Hal ini lah yang menarik dari
novel ayat- ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
Novel 2:
“Perempuan
Kembang Jepun karya Lan Fang”
KESIMPULAN
Struktur
novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang terdiri dari tema, alur,
penokohan. Tema novel Perempuan Kembang Jepun adalah tentang pencarian cinta
sejati karena seberapapun terkenal atau tenarnya seseorang tetap membutuhkan
cinta dan kebersamaan.
Pada
analisis stilistika, yaitu Diksi atau pilihan kata dalam novel Perempuan
Kembang Jepun cenderung menggunakan kata-kata yang mengandung makna konotatif
dan penggunaan majas. Di antaranya menggunakan majas hiperbola, anafora,
simile, sarkasme, litotes. Pencitraan yang dapat ditemukan adalah
citaraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan rasa, dan citaraan
penciuman. Bahasa yang digunakan juga terdapat kata-kata atau bahasa asing,
yaitu bahasa Jepang yaitu ohayo gozaimasu yang artinya selamat pagi dan bahasa
Jawa yaitu Koncomu lara ta nduk? Mongggo mlebet. Mbah damel jampi rumiyen
tamunya sakit, ya? Yang artinya silahkan masuk, mbah bikinkan jamu dulu.
DAFTAR PUSTAKA
El Shirazy,
Habiburrahman. 2004. Ayat-ayat Cinta. Jakarta: Grasindo.
Fang, Lan. 2007.
Perempuan Kembang Jepun. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Keraf, Gorys.
1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Nusa Indah.
Keraf, Gorys.
1984. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah
Maslikatin,
Titik. 2007. Kajian Sastra Prosa, Puisi, Drama. Jember: UNEJ Press.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Univesity Press.
Pradopo, Rachmat
Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar