Minggu, 20 Desember 2015

Hegemoni Islam Pada Novel Ayat-Ayat Cinta Berdasarkan Cerminan dari Respon Pembaca Kajian Stilistika DISUSUN OLEH : LINTANG FITRIAWAN GUNADARMA (20132110003)

   Hegemoni Islam Pada Novel Ayat-Ayat Cinta  
  Berdasarkan Cerminan dari Respon Pembaca 
                Kajian Stilistika                




DISUSUN OLEH :  
LINTANG FITRIAWAN GUNADARMA 
(20132110003)

















1.      Latar Belakang

Ayat-Ayat Cinta merupakan novel berbahasa Indonesia karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 melalui penerbit Basmala & Republika. Novel ini berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi best seller di Indonesia yang dicetak sampai dengan 200 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun (Rehal, Republika Online). Ayat-Ayat Cinta juga merupakan pelopor karya sastra islami yang sedang dalam masa kebangkitannya dewasa ini (Wikipedia Indonesia). Novel inilah yang mengispirasi novel-novel serupa seperti: Ketika Cinta Bertasbih, Khasidah Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, dan lain-lain.
Fenomena Novel Ayat-Ayat Cinta yang menjadi booming di masyarakat tentunya sangat menarik untuk diteliti. Novel tersebut tersebut menceritakan seorang tokoh yang begitu alim dan soleh. Seorang sosok yang begitu diidam-idamkan oleh kebanyakan orang. Selain itu novel ini juga merupakan novel romantis yang menceritakan tentang kemapanan sosial. Novel tersebut mengajarkan kebaikan sehingga terkesan dakwah. Di dalam dakwah terkadung suatu hegemoni karena di situ ada suatu kepentingan yang mendorong pembaca untuk melakukan sesuatu. Poin itulah yang dibicarakan pada makalah ini.
Latar belakang masyarakat pembacanya sangat menentukan  sebuah karya sangat diminati atau tidak. Makalah ini juga membicarakan tentang bagaimana tanggapan masyarakat terhadap karya tersebut. Tanggapan tersebut sangat menentukan sebuah nilai karya sastra apakah dapat diterima ataukah tidak. Alasan mengapa karya tersebut diterima masyarakat dapat dilihat dari bagaimana bentuk penilaian dan tanggapan terhadap karya tersebut. Sehingga akan tampak bagaimana selera masyarakat pada periode waktu tersebut. Dari tanggapan tersebut akan tampak bagaimana bentuk hegemoninya. Apakah masyarakat menerima atau tidak. Apakah masyarakat sadar dengan hegemoni tersebut ataukah tidak.
Pada zaman teknologi informasi mutakhir yang semakin berkembang seperti saat ini, penilaian-penilaian tersebut banyak dituliskan pada media informasi digital di internet. Banyak sekali pemilik blog-blog yang mencurahkan tulisannya yang dapat diakses dan dibaca melalui jaringan internet. Tulisan-tulisan tersebut mencakup juga tanggapan-tanggapan terhadap karya sastra termasuk juga novel Ayat-Ayat Cinta. Walaupun diantara resepsi-resepsi tersebut kebanyakan bukan berasal dari kritikus dan ahli sastra namun itu semua sudah dapat mewakili pikiran dan penilaian pembaca terhadap karya sastra karena pada hakekatnya karya sastra diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pembaca.

1.      Pembahasan
Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy merupakan karya yang monumental. Novel tersebut dicetak lebih dari 160 ribu eksemplar yang habis hanya dalam waktu tiga tahun. Tidak berlebihan jika buku ini disebut-sebut sebagai best seller serta menjadi buku terlaris pada periode ini. Juga bukan prestasi yang buruk karena novel ini berhasil menjadi pemenang Pena Award Novel Terpuji Nasional 2005 (Indonesia) dan Pemenang Anugerah Penghargaan The Most Favourite Book 2005.
Dari prestasi-prestasi tersebut mencerminkan bahwa Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena tersendiri dalam dunia sastra Indonesia. Hal tersebut membuat novel ini banyak sekali mendapat resepsi dan tanggapan dari pembacanya. Banyak sekali resepsi positif terhadap novel ini salah satunya resepsi dari Alex Diansyah yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat edisi Senin, 25 September 2006 dengan judul  Membangun Jiwa dengan Cinta. Menurutnya, sebuah novel yang terilhami dari kitab-kitab Al Qur’an pasti akan memberikan manfaat bagi masyarakat. Kasan dakwah yang disajikan begitu halus dan tidak terkesan dipaksakan hingga tidak kentara. Secara pragmatik novel tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat. Di tengah masyarakat yang dilanda krisis moral seperti saat ini, rasanya novel tersebut begitu pas kehadirannya. Kehadiran Ayat-Ayat Cinta menjadi sebuah angin segar bagi masyarakat pembacanya.
El Shirazy mampu menyisipkan pesan-pesan moral dalam ceritanya. Pesan dakwah dijasadkan dengan sangat halus yang jauh dari kesan dipaksakan. Bahkan tanpa kita sadari ilmu fikih dan akidah kita bertambah setelah kita mengikuti dialog-dialog yang disampaikan.( Pikiran Rakyat edisi Senin, 25 September 2006 )

Kisah percintaan yang terdapat dalam novel tersebut begitu romantis namun digambarkan dengan begitu sopan dan indah hingga tidak terperosok dalam kevulgaran. Berdasarkan pengalaman hidup pengarang di Mesir telah berhasil menghidupkan setting dalam novel ini. Setting dengan latar belakang Mesir tersaji dengan begitu halusnya.
Menurutnya, kekukatan novel ini tidak hanya terletak pada segi pragmatiknya saja, tetapi nilai estetik kesastraannya membuat pembaca tidak hanya disuguhi wejangan dan dakwah saja namun pembaca dapat menerima pesan moralnya dengan menyenangkan. Secara struktural, novel tersebut sudah matang, artinya novel tersebut tidak terasa sebagai novel eksperimental saja. Novel tersebut disajikan dalam format yang matang ketika hadir pada pembaca sehingga mengesankan Habiburrahman merupakan penulis yang bertalenta, mapan, dan berpengalaman.
Hal senada juga diungkapkan oleh Yunita Ramadhana .Menurutnya, pengarang mencoba menyebarkan dakwah melalui karya sastra dan itu ternyata berhasil. Ternyata novel tersebut mendapat respon yang baik dari masyarakat. Dakwah yang coba diangkat dalam sebuah novel membuat novel tersebut menjadi novel bercorak islami, berbudaya, dan juga romantis. Sehingga novel tersebut menjadi media dakwah yang sangat efektif dengan tidak kehilangan unsur estetiknya. Dalam tulisannya, mahasiswa India asal Indonesia tersebut juga mendeskripsikan masing-masing tokoh dalam novel tersebut. Tokoh Fahri yang menjadi tokoh utamanya merupakan pria yang dapat dijadikan teladan. Tokoh tersebut merupakan gambaran manusia yang selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sesuai yang diajarkan nabi. Walaupun demikian ternyata penggambaran yang baik terhadap tokoh Fahri membuat kesempurnaanya tampak masuk akal.
Ternyata kepopuleran novel Ayat-Ayat Cinta tidak hanya di Indonesia saja tetapi telah sampai di negara Malaysia. Terbukti adanya resepsi pembaca dari Malaysia terhadap karya tersebut. Karya Ayat-Ayat Cinta merupakan cerita yang unik. Sebuah novel cinta yang tidak hanya menceritakan tentang percintaan seorang pria dan wanita saja. Iman Mawaddah juga mengakui hal itu. Dikemukakannya bahwa Ayat-Ayat Cinta tidak hanya menyajikan rasa cinta antar manusia saja, tetapi esensinya lebih universal, yaitu kecintaan seorang hamba pada Allah dan Rosul-Nya, juga perasaan cinta dan persaudaraan sesama muslim dan sesama manusia pada umumnya. Dikisahkan dalam cerita saat Fahri bertemu dengan orang-orang Amerika yang mendapat hujatan dari orang Mesir yang notabene beragama Islam. Saat itu Fahri berperan sebagai penengah. Ia mencuplik ayat-ayat Al Qur’an dan mencoba mengingatkan bahwa betapa pentingnya sikap saling mencintai antar sesama. Ia mencontohkan sikap yang diperlihatkan Baginda Nabi tentang bagaimana menghormati seorang tamu. Setelah itu, orang-orang Mesir tersebut terketuk hatinya dan mengakui bahwa perbuatannya salah. Dari situ tampak bahwa sebenarnya Ayat-Ayat Cinta tidak hanya membicarakan cinta semata, namun perwujudan cinta tersebut lebih universal.
Menurutnya, di dalam Ayat-Ayat Cinta mengajarkan tentang sifat-sifat Rosulullah yang perlu ada dalam jiwa muslim dalam menghadapi berbagai cobaan Allah. Selain itu juga terdapat petikan-petikan ayat-ayat Al Quran yang disajikan secara tidak memaksa dan terasa tidak dibuat-buat. Dia berpendapat bahwa dengan adanya ayat-ayat tersebut secara tidak langsung pembaca akan mempelajari ajaran Islam dengan menyenangkan. Menurutnya, membaca Ayat-Ayat Cinta akan mendapatkan dua manfaat, selain mendapat hiburan, secara tidak langsung kita telah mendalami ajaran Islam. Hal tersebut sesuai dengan komentarnya sebagai berikut.
Ia juga dilengkapkan dengan petikan ayat-ayat suci Al-Quran, Al-Hadith, sajak-sajak motivasi diri dan diserikan lagi dengan ilmu-ilmu dunia seperti dunia perubatan, perundangan dan psikologi yang menjadikan Ayat-ayat Cinta amat berkesan bagi yang menghayatinya.

Dalam resepsinya tersebut selain menggunakan pandangan struktur estetik juga manilai berdasarkan segi pragmatiknya. Menurutnya Ayat-Ayat Cinta memiliki nilai pragmatik yang tinggi bagi masyarakat. Berdasarkan kriteria tersebut Iman Mawaddah menilai Ayat-Ayat Cinta bernilai positif sehingga sangat layak bila disebut best seller disamping memang kenyataannya demikian.
Resepsi positif banyak diutarakan oleh pembaca. Menurut Safriyani dalam tulisannya yang berjudul Ayat-Ayat Cinta, Romantisme Gaya Sufi (PintuNet.com), Ayat-Ayat Cinta merupakan novel yang tidak berat namun bermutu. Mungkin hal tersebut dikarenakan pengarangnya adalah orang Indonesia sehingga gaya penulisan dan bahasanya begitu mudah diterima. Sangat berbeda dengan karya-karya Timur Tengah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang kebanyakan sangat sulit dipahami. Menurutnya lebih lanjut bahwa novel tersebut syarat dengan ajaran agama namun karena penyajiannya yang bagus membuat pembaca tidak terasa diajari. Petikan ayat dan sejarah begitu terasa nyambung dengan jalan ceritanya, terasa mulus dan tidak terasa dipaksakan. Dia sependapat dengan pendapat Hamizar ''BAZARVIO'' Ridwan, “Novel ini begitu membuat hati gerimis.”
Selain itu nilai pragmatik novel Ayat-Ayat Cinta begitu tinggi. Mereka semua sependapat mengenai bahwa novel tersebut sangat baik jika dibaca oleh semua orang. Ajaran-ajaran keislamannya disajikan dengan sangat menarik hingga membuat pembaca tidak seperti digurui. Walaupun mengusung misi keislaman, ternyata novel tersebut tidak menyinggung agama lain, malah sarat denga ajaran-ajaran mengenai menghormati perbedaan.Tema novel romantis disajikan dengan penuh kesopanan sehingga tidak terjatuh dalam kevulgaran. Hal tersebut membuat novel begitu indah sesuai akidah Islam.
Hal senada juga dikemukakan oleh penulis website ONTAHAPO (blogspot.com). Diungkapkan bahwa nilai keislaman yang dimasukkan dalam cerita begitu mengesankan pembaca. Setiap ayat Quran dan hadist disebutkan sumbernya, begitu juga dengan fakta-fakta yang disebutkan. Selain itu menurutnya penghayatan cerita dapat ditemukan hampir diseluruh jalan cerita. Ditambahkannya bahwa novel tersebut tidak dapat disebut sebagai novel yang hanya sekedar bacaan biasa, namun juga tidak bisa disebut sebagai novel ilmiah. Namun secara keseluruhan Ayat-Ayat Cinta merupakan novel yang baik seperti yang dikutip dari komentarnya berikut.
Kesimpulan aku terhadap novel ini, sebuah novel yang cukup baik. Dan alangkah elok sekiranya para remaja kita pada hari ini boleh membaca dan menghayati dan mengambil iktibar dari kisah tersebut, terutama perkara yang menyangkut paut tentang cinta. Ini kerana pada hari ini, antara punca kerosakan yang berlaku di kalangan remaja kita adalah yang berkaitan dengan cinta. Semoga dengan pembacaan terhadap novel ini, kita akan menjadi lebih mengerti tentang apakah dia cinta yang sebenar, cinta yang hakiki......

Dari tanggapan-tanggapan tersebut tampak sekali bahwa novel Ayat-Ayat Cinta mengandung sebuah hegemoni ajaran Islam. Sebanarnya masyarakat sadar telah dihegemoni. Hegemoni tersebut ternyata sangat diterima oleh masyarakat karena memang sepaham dengan iman yang selama ini mereka anut. Selain itu memang di dalam novel tersebut tidak ada sesuatu yang ekstrim melenceng dengan ajaran moral masyarakat. Hal tersebut tampak dari penilaiaan masyarakat yang bernilai positif terhadap novel Ayat-Ayat Cinta.

2.      Kesimpulan

Sastra merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan yang berada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra adalah bentuk seni yang diungkapkan oleh pikiran dan perasaan manusia dengan keindahan bahasa.Menurut Hudson (dalam Tarigan 2009:10), sastra merupakan pengungkapan baku dari peristiwa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, yang telah direnungkan, dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang menarik minat secara langsung dan kuat dari seorang pengarang atau penyair.Sastra hadir sebagai hasil perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada.
Karya sastra adalah wujud permainan kata-kata pengarang yang berisi maksud tertentu, yang akan disampaikan kepada penikmat sastra. Karya sastra merupakan luapan perasaan pengarang yang dicurahkan dalam bentuk tulisan, menggunakan kata-kata yang disusun sedemikian rupa. Karya sastra adalah wacana yang khas yang di dalam ekspresinya menggunakan bahasa dengan memanfaatkan segala kemungkinan yang tersedia (Sudjiman 1993:7).
Lazimnya pada naluri manusia, biasanya seorang pengarang berminat mengusung realitas yang dijumpainya dalam sebuah cerita. Ia menjadi saksi yang mempunyai kekuatan imajinasi untuk menceritakan keaadaan zamannya, bahkan ia tidak tabu untuk mengangkat realitas empiris yang pernah dialaminya sebagai pribadi dalam karangannya, selama yang menjadi tumpuan baginya bukanlah fakta semata-mata. Meskipun hal yang diangkat adalah hasil pengalaman pribadi dari sang pengarang, setelah menjadi sebuah cerita realitas empiris ini sudah mengalami perubahan melalui kekuatan imajinasinya. Dengan imajinasi inilah seorang pengarang mampu membuat realitas empiris menjadi sebuah cerita fiksi. Jika seorang pengarang tidak mengindahkan imajinasi, maka hasil karyanya akan mendapati kekeringan bahasa, karena imajinasi merupakan usaha keras dari seluruh potensi linguistik yang dimiliki oleh seoarang pengarang untuk sampai atau mendekati sedekat-dekatnya dasar hati manusia. Oleh karena itulah seorang pengarang dituntut untuk tetap berpijak pada kreatifitas estetis dalam mengaitkan antara realitas dan imajinasi sehingga buah karyanya tidak terpantul kembali pada hati pembaca.
Novel Ayat-Ayat Cinta sangat diterima oleh masyarakat. Hal tersebut terbukti dari tanggapan dan penilaian masyarakat yang diwakili oleh tulisan-tulisan di internet. Di dalam Novel Ayat-Ayat Cinta mengandung sebuah hegemoni ajaran Islam. Masyarakat sadar dengan hegemoni tersebut dan diterima dengan baik.

a.      Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Leksikal
Pilihan leksikal merupakan unsur yang sangat penting dalam menampilkan sebuah cerita. Pilihan leksikal yang tepat dapat membantu mengungkapkan makna yang ingin disampaikan sehingga akan memudahkan penggambaran unsur-unsur dalam cerita seperti penokohan, latar, alur amanat, dan sebagainya. Dengan demikian, pilihan leksikal yang tepat pula akan menciptakan kedekatan hubungan antara pembaca dengan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita seolah-olah pembaca ikut serta mengalami peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Uraian mengenai gaya bahasa berdasarkan pilihan leksikal dalam hal ini meliputi uraian tentang penggunaan kata abstrak dan konkret, penggunaan kata umum dan kata khusus, penggunaan kata populer dan kata kajian, penggunaan kata percakapan, penggunaan kata-kata atau istilah asing, dan penggunaan kata-kata arkaik.

b.      Penggunaan Kata-kata atau Istilah Asing
Kata-kata atau istilah asing yang digunakan meliputi kata benda dalam istilah asing, dan kalimat dalam percakapan tokoh. Kata atau istilah asing berasal dari bahasa inggris, sedangkan kalimat yang diucapkan tokoh merupakan bahasa inggris dan bahasa daerah yang digunakan tokoh dalam cerita tersebut.

c.       Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna
Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna yang biasa disebut trope atau figure of speech dibagi atas dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan.
Gaya bahasa retoris
Gaya bahasa retoris merupakan gaya bahasa yang membuat penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu. Polisindenton digunakan menguraikan, menegaskan dengan menyatakan beberapa hal, benda atau keadaan secara berturut-turut dengan menggunakan konjungsi, seperti dan, lalu, namun. Pleonasme dapat membantu mengalihkan pemakaian kata pada kata tertentu sehingga kalimat terasa tidak membosankan. Hiperbola digunakan untuk menggambarkan keadaan jiwa atau semangat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh cerita. koreksio dimanfaatkan untuk memperjelas pernyataan yang telah dikemukakan sebelumnya agar makna bisa lebih tepat. Retoris merupakan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui tokoh-tokoh cerita.
Personifikasi melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau bendayang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak. Personifikasi bisa memudahkan penulis dalam menuangkan ide atau gagasannya. Personifikasi dipergunakan untuk melukiskan perasaan tokoh.
Metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang tidak menggunakan kata-kata pembanding. Metaforamerupakan ungkapan yang menyatakan sesuatu sama dengan yang lain yang sesungguhnyatidak sama. Ada yang dibandingkan dan ada pula pembanding.














Daftar Pustaka

El Shirazy, Habiburrahman. 2004. Ayat-Ayat Cinta. Republika: Jakarta.
Darmono, Sapardi Djoko. 1078. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta-Indonesia.
Teeuw, A. 1955. Pokok da Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru. Jilid I. Pembangunan: Jakarta.
Teeuw, A. 1980. Sastra Baru Indoenesia I. Nusa Indah-Persecatakan Arnoldus: Ende - Flores.
Diansyah, Alex. 2006. Membangun Jiwa dengan Cinta. Pikiran Rakyat edisi Senin, 25 September 2006.
Ramadhana, Yunita. Ayat-Ayat Cinta: Makna Cinta dalam Islam. Blogsome.com. 20 Juni 2008. 13.05 WIB.
Safriyani. Ayat-Ayat Cinta, Romantisme Gaya Sufi. www.PintuNet.com. 20 Juni 2008. 13.10 WIB.
Achmatim. Resensi: Ayat-Ayat Cinta. Achmatim.net. 20 Juni 2008. 13.15 WIB.
Ontahapo. Ayat-Ayat Cinta. www.blogspot.com. 20 Juni 2008. 13.25 WIB.
Ryagita. Novel Bagus. www.PintuNet.com. 20 Juni 2008. 13.35 WIB.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar