Hegemoni Islam Pada Novel Ayat-Ayat Cinta
Berdasarkan Cerminan dari Respon Pembaca
Kajian Stilistika
DISUSUN OLEH :
LINTANG FITRIAWAN GUNADARMA
(20132110003)
1.
Latar
Belakang
Ayat-Ayat Cinta
merupakan novel berbahasa Indonesia karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 melalui penerbit Basmala & Republika.
Novel ini berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi best
seller di Indonesia yang dicetak sampai dengan 200 ribu
eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun (Rehal, Republika Online). Ayat-Ayat Cinta juga merupakan pelopor
karya sastra islami yang sedang dalam masa kebangkitannya dewasa
ini (Wikipedia Indonesia). Novel
inilah yang mengispirasi novel-novel serupa seperti: Ketika Cinta Bertasbih,
Khasidah Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, dan lain-lain.
Fenomena Novel Ayat-Ayat Cinta yang
menjadi booming di masyarakat
tentunya sangat menarik untuk diteliti. Novel tersebut tersebut menceritakan
seorang tokoh yang begitu alim dan soleh. Seorang sosok yang begitu
diidam-idamkan oleh kebanyakan orang. Selain itu novel ini juga merupakan novel
romantis yang menceritakan tentang kemapanan sosial. Novel tersebut mengajarkan
kebaikan sehingga terkesan dakwah. Di dalam dakwah terkadung suatu hegemoni
karena di situ ada suatu kepentingan yang mendorong pembaca untuk melakukan
sesuatu. Poin itulah yang dibicarakan pada makalah ini.
Latar belakang masyarakat pembacanya
sangat menentukan sebuah karya sangat
diminati atau tidak. Makalah ini juga membicarakan tentang bagaimana tanggapan
masyarakat terhadap karya tersebut. Tanggapan tersebut sangat menentukan sebuah
nilai karya sastra apakah dapat diterima ataukah tidak. Alasan mengapa karya
tersebut diterima masyarakat dapat dilihat dari bagaimana bentuk penilaian dan
tanggapan terhadap karya tersebut. Sehingga akan tampak bagaimana selera
masyarakat pada periode waktu tersebut. Dari tanggapan tersebut akan tampak
bagaimana bentuk hegemoninya. Apakah masyarakat menerima atau tidak. Apakah
masyarakat sadar dengan hegemoni tersebut ataukah tidak.
Pada zaman teknologi informasi
mutakhir yang semakin berkembang seperti saat ini, penilaian-penilaian tersebut
banyak dituliskan pada media informasi digital di internet. Banyak sekali
pemilik blog-blog yang mencurahkan tulisannya yang dapat diakses dan dibaca
melalui jaringan internet. Tulisan-tulisan tersebut mencakup juga
tanggapan-tanggapan terhadap karya sastra termasuk juga novel Ayat-Ayat Cinta. Walaupun diantara
resepsi-resepsi tersebut kebanyakan bukan berasal dari kritikus dan ahli sastra
namun itu semua sudah dapat mewakili pikiran dan penilaian pembaca terhadap
karya sastra karena pada hakekatnya karya sastra diciptakan untuk memenuhi
kebutuhan pembaca.
1.
Pembahasan
Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy merupakan karya yang monumental. Novel
tersebut dicetak lebih dari 160 ribu eksemplar yang habis hanya dalam waktu
tiga tahun. Tidak
berlebihan jika buku ini disebut-sebut sebagai best seller serta menjadi buku terlaris pada periode ini. Juga
bukan prestasi yang buruk karena novel ini berhasil menjadi pemenang Pena Award
Novel Terpuji Nasional 2005 (Indonesia) dan Pemenang Anugerah Penghargaan The
Most Favourite Book 2005.
Dari
prestasi-prestasi tersebut mencerminkan bahwa Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena tersendiri dalam dunia sastra
Indonesia. Hal tersebut membuat novel ini banyak sekali mendapat resepsi dan
tanggapan dari pembacanya. Banyak sekali resepsi positif terhadap novel ini
salah satunya resepsi dari Alex Diansyah yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat edisi Senin, 25 September
2006 dengan judul Membangun Jiwa dengan Cinta. Menurutnya, sebuah novel yang
terilhami dari kitab-kitab Al Qur’an pasti akan memberikan manfaat bagi
masyarakat. Kasan dakwah yang disajikan begitu halus dan tidak terkesan
dipaksakan hingga tidak kentara. Secara pragmatik novel tersebut sangat
bermanfaat bagi masyarakat. Di tengah masyarakat yang dilanda krisis moral
seperti saat ini, rasanya novel tersebut begitu pas kehadirannya. Kehadiran Ayat-Ayat Cinta menjadi sebuah angin
segar bagi masyarakat pembacanya.
El Shirazy mampu menyisipkan pesan-pesan moral dalam
ceritanya. Pesan dakwah dijasadkan dengan sangat halus yang jauh dari kesan
dipaksakan. Bahkan tanpa kita sadari ilmu fikih dan akidah kita bertambah
setelah kita mengikuti dialog-dialog yang disampaikan.( Pikiran Rakyat edisi Senin, 25 September 2006 )
Kisah percintaan
yang terdapat dalam novel tersebut begitu romantis namun digambarkan dengan
begitu sopan dan indah hingga tidak terperosok dalam kevulgaran. Berdasarkan
pengalaman hidup pengarang di Mesir telah berhasil menghidupkan setting dalam
novel ini. Setting dengan latar belakang Mesir tersaji dengan begitu halusnya.
Menurutnya,
kekukatan novel ini tidak hanya terletak pada segi pragmatiknya saja, tetapi
nilai estetik kesastraannya membuat pembaca tidak hanya disuguhi wejangan dan dakwah saja namun pembaca
dapat menerima pesan moralnya dengan menyenangkan. Secara struktural, novel
tersebut sudah matang, artinya novel tersebut tidak terasa sebagai novel
eksperimental saja. Novel tersebut disajikan dalam format yang matang ketika
hadir pada pembaca sehingga mengesankan Habiburrahman merupakan penulis yang
bertalenta, mapan, dan berpengalaman.
Hal senada juga
diungkapkan oleh Yunita Ramadhana .Menurutnya, pengarang mencoba menyebarkan
dakwah melalui karya sastra dan itu ternyata berhasil. Ternyata novel tersebut
mendapat respon yang baik dari masyarakat. Dakwah yang coba diangkat dalam
sebuah novel membuat novel tersebut menjadi novel bercorak islami, berbudaya,
dan juga romantis. Sehingga novel tersebut menjadi media dakwah yang sangat
efektif dengan tidak kehilangan unsur estetiknya. Dalam tulisannya, mahasiswa
India asal Indonesia tersebut juga mendeskripsikan masing-masing tokoh dalam
novel tersebut. Tokoh Fahri yang menjadi tokoh utamanya merupakan pria yang
dapat dijadikan teladan. Tokoh tersebut merupakan gambaran manusia yang selalu
menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sesuai yang diajarkan nabi. Walaupun
demikian ternyata penggambaran yang baik terhadap tokoh Fahri membuat
kesempurnaanya tampak masuk akal.
Ternyata
kepopuleran novel Ayat-Ayat Cinta
tidak hanya di Indonesia saja tetapi telah sampai di negara Malaysia. Terbukti
adanya resepsi pembaca dari Malaysia terhadap karya tersebut. Karya Ayat-Ayat Cinta merupakan cerita yang
unik. Sebuah novel cinta yang tidak hanya menceritakan tentang percintaan
seorang pria dan wanita saja. Iman Mawaddah juga mengakui hal itu.
Dikemukakannya bahwa Ayat-Ayat Cinta
tidak hanya menyajikan rasa cinta antar manusia saja, tetapi esensinya lebih
universal, yaitu kecintaan seorang hamba pada Allah dan Rosul-Nya, juga
perasaan cinta dan persaudaraan sesama muslim dan sesama manusia pada umumnya.
Dikisahkan dalam cerita saat Fahri bertemu dengan orang-orang Amerika yang
mendapat hujatan dari orang Mesir yang notabene beragama Islam. Saat itu Fahri
berperan sebagai penengah. Ia mencuplik ayat-ayat Al Qur’an dan mencoba
mengingatkan bahwa betapa pentingnya sikap saling mencintai antar sesama. Ia mencontohkan
sikap yang diperlihatkan Baginda Nabi tentang bagaimana menghormati seorang
tamu. Setelah itu, orang-orang Mesir tersebut terketuk hatinya dan mengakui
bahwa perbuatannya salah. Dari situ tampak bahwa sebenarnya Ayat-Ayat Cinta tidak hanya membicarakan
cinta semata, namun perwujudan cinta tersebut lebih universal.
Menurutnya, di
dalam Ayat-Ayat Cinta mengajarkan
tentang sifat-sifat Rosulullah yang perlu ada dalam jiwa muslim dalam
menghadapi berbagai cobaan Allah. Selain itu juga terdapat petikan-petikan
ayat-ayat Al Quran yang disajikan secara tidak memaksa dan terasa tidak
dibuat-buat. Dia berpendapat bahwa dengan adanya ayat-ayat tersebut secara
tidak langsung pembaca akan mempelajari ajaran Islam dengan menyenangkan.
Menurutnya, membaca Ayat-Ayat Cinta
akan mendapatkan dua manfaat, selain mendapat hiburan, secara tidak langsung
kita telah mendalami ajaran Islam. Hal tersebut sesuai dengan komentarnya
sebagai berikut.
Ia juga dilengkapkan dengan petikan ayat-ayat suci
Al-Quran, Al-Hadith, sajak-sajak motivasi diri dan diserikan lagi dengan
ilmu-ilmu dunia seperti dunia perubatan, perundangan dan psikologi yang
menjadikan Ayat-ayat Cinta amat berkesan bagi yang menghayatinya.
Dalam resepsinya
tersebut selain menggunakan pandangan struktur estetik juga manilai berdasarkan
segi pragmatiknya. Menurutnya Ayat-Ayat
Cinta memiliki nilai pragmatik yang tinggi bagi masyarakat. Berdasarkan
kriteria tersebut Iman Mawaddah menilai Ayat-Ayat
Cinta bernilai positif sehingga sangat layak bila disebut best seller disamping memang
kenyataannya demikian.
Resepsi positif
banyak diutarakan oleh pembaca. Menurut Safriyani dalam tulisannya yang
berjudul Ayat-Ayat Cinta, Romantisme Gaya
Sufi (PintuNet.com), Ayat-Ayat Cinta
merupakan novel yang tidak berat namun bermutu. Mungkin hal tersebut
dikarenakan pengarangnya adalah orang Indonesia sehingga gaya penulisan dan
bahasanya begitu mudah diterima. Sangat berbeda dengan karya-karya Timur Tengah
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang kebanyakan sangat sulit dipahami.
Menurutnya lebih lanjut bahwa novel tersebut syarat dengan ajaran agama namun
karena penyajiannya yang bagus membuat pembaca tidak terasa diajari. Petikan
ayat dan sejarah begitu terasa nyambung
dengan jalan ceritanya, terasa mulus dan tidak terasa dipaksakan. Dia
sependapat dengan pendapat Hamizar ''BAZARVIO''
Ridwan, “Novel ini begitu membuat hati gerimis.”
Selain itu nilai
pragmatik novel Ayat-Ayat Cinta
begitu tinggi. Mereka semua sependapat mengenai bahwa novel tersebut sangat
baik jika dibaca oleh semua orang. Ajaran-ajaran keislamannya disajikan dengan
sangat menarik hingga membuat pembaca tidak seperti digurui. Walaupun mengusung
misi keislaman, ternyata novel tersebut tidak menyinggung agama lain, malah
sarat denga ajaran-ajaran mengenai menghormati perbedaan.Tema novel romantis
disajikan dengan penuh kesopanan sehingga tidak terjatuh dalam kevulgaran. Hal
tersebut membuat novel begitu indah sesuai akidah Islam.
Hal senada juga
dikemukakan oleh penulis website ONTAHAPO
(blogspot.com). Diungkapkan bahwa nilai keislaman yang dimasukkan dalam
cerita begitu mengesankan pembaca. Setiap
ayat Quran dan hadist disebutkan sumbernya, begitu juga dengan fakta-fakta yang
disebutkan. Selain itu menurutnya penghayatan cerita dapat ditemukan hampir
diseluruh jalan cerita. Ditambahkannya bahwa novel tersebut tidak dapat disebut
sebagai novel yang hanya sekedar bacaan biasa, namun juga tidak bisa disebut
sebagai novel ilmiah. Namun secara keseluruhan Ayat-Ayat Cinta merupakan novel yang baik seperti yang dikutip dari
komentarnya berikut.
Kesimpulan aku terhadap novel ini, sebuah novel yang
cukup baik. Dan alangkah elok sekiranya para remaja kita pada hari ini boleh
membaca dan menghayati dan mengambil iktibar dari kisah tersebut, terutama
perkara yang menyangkut paut tentang cinta. Ini kerana pada hari ini, antara
punca kerosakan yang berlaku di kalangan remaja kita adalah yang berkaitan
dengan cinta. Semoga dengan pembacaan terhadap novel ini, kita akan menjadi lebih
mengerti tentang apakah dia cinta yang sebenar, cinta yang hakiki......
Dari
tanggapan-tanggapan tersebut tampak sekali bahwa novel Ayat-Ayat Cinta mengandung sebuah hegemoni ajaran Islam. Sebanarnya
masyarakat sadar telah dihegemoni. Hegemoni
tersebut ternyata sangat diterima oleh masyarakat karena memang sepaham dengan
iman yang selama ini mereka anut. Selain itu memang di dalam novel tersebut
tidak ada sesuatu yang ekstrim melenceng dengan ajaran moral masyarakat. Hal
tersebut tampak dari penilaiaan masyarakat yang bernilai positif terhadap novel
Ayat-Ayat Cinta.
2. Kesimpulan
Sastra
merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan yang
berada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra adalah
bentuk seni yang diungkapkan oleh pikiran dan perasaan manusia dengan keindahan
bahasa.Menurut Hudson (dalam Tarigan 2009:10), sastra merupakan pengungkapan
baku dari peristiwa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, yang telah
direnungkan, dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang menarik
minat secara langsung dan kuat dari seorang pengarang atau penyair.Sastra hadir
sebagai hasil perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada.
Karya
sastra adalah wujud permainan kata-kata pengarang yang berisi maksud tertentu,
yang akan disampaikan kepada penikmat sastra. Karya sastra merupakan luapan
perasaan pengarang yang dicurahkan dalam bentuk tulisan, menggunakan kata-kata
yang disusun sedemikian rupa. Karya sastra adalah wacana yang khas yang di
dalam ekspresinya menggunakan bahasa dengan memanfaatkan segala kemungkinan
yang tersedia (Sudjiman 1993:7).
Lazimnya pada naluri manusia, biasanya
seorang pengarang berminat mengusung realitas yang dijumpainya dalam sebuah
cerita. Ia menjadi saksi yang mempunyai kekuatan imajinasi untuk menceritakan
keaadaan zamannya, bahkan ia tidak tabu untuk mengangkat realitas empiris yang
pernah dialaminya sebagai pribadi dalam karangannya, selama yang menjadi
tumpuan baginya bukanlah fakta semata-mata. Meskipun hal yang diangkat adalah
hasil pengalaman pribadi dari sang pengarang, setelah menjadi sebuah cerita
realitas empiris ini sudah mengalami perubahan melalui kekuatan imajinasinya.
Dengan imajinasi inilah seorang pengarang mampu membuat realitas empiris
menjadi sebuah cerita fiksi. Jika seorang pengarang tidak mengindahkan
imajinasi, maka hasil karyanya akan mendapati kekeringan bahasa, karena
imajinasi merupakan usaha keras dari seluruh potensi linguistik yang dimiliki
oleh seoarang pengarang untuk sampai atau mendekati sedekat-dekatnya dasar hati
manusia. Oleh karena itulah seorang pengarang dituntut untuk tetap berpijak
pada kreatifitas estetis dalam mengaitkan antara realitas dan imajinasi
sehingga buah karyanya tidak terpantul kembali pada hati pembaca.
Novel Ayat-Ayat Cinta sangat diterima oleh
masyarakat. Hal tersebut terbukti dari tanggapan dan penilaian masyarakat yang
diwakili oleh tulisan-tulisan di internet. Di dalam Novel Ayat-Ayat Cinta mengandung sebuah hegemoni ajaran Islam. Masyarakat
sadar dengan hegemoni tersebut dan diterima dengan baik.
a.
Gaya
Bahasa Berdasarkan Pilihan Leksikal
Pilihan
leksikal merupakan unsur yang sangat penting dalam menampilkan sebuah cerita.
Pilihan leksikal yang tepat dapat membantu mengungkapkan makna yang ingin disampaikan
sehingga akan memudahkan penggambaran unsur-unsur dalam cerita seperti penokohan,
latar, alur amanat, dan sebagainya. Dengan demikian, pilihan leksikal yang tepat
pula akan menciptakan kedekatan hubungan antara pembaca dengan tokoh-tokoh yang
ada dalam cerita seolah-olah pembaca ikut serta mengalami peristiwa demi
peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Uraian mengenai gaya bahasa berdasarkan
pilihan leksikal dalam hal ini meliputi uraian tentang penggunaan kata abstrak
dan konkret, penggunaan kata umum dan kata khusus, penggunaan kata populer dan
kata kajian, penggunaan kata percakapan, penggunaan kata-kata atau istilah
asing, dan penggunaan kata-kata arkaik.
b.
Penggunaan
Kata-kata atau Istilah Asing
Kata-kata atau istilah asing yang
digunakan meliputi kata benda dalam istilah asing, dan kalimat dalam percakapan
tokoh. Kata atau istilah asing berasal dari bahasa inggris, sedangkan kalimat
yang diucapkan tokoh merupakan bahasa inggris dan bahasa daerah yang digunakan
tokoh dalam cerita tersebut.
c.
Gaya
Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna
Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna yang
biasa disebut trope atau figure of speech dibagi atas dua
kelompok, yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan.
Gaya bahasa retoris
Gaya bahasa retoris merupakan gaya bahasa yang membuat
penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu. Polisindenton
digunakan menguraikan, menegaskan dengan menyatakan beberapa hal, benda atau
keadaan secara berturut-turut dengan menggunakan konjungsi, seperti dan, lalu,
namun. Pleonasme dapat membantu mengalihkan pemakaian kata pada kata tertentu
sehingga kalimat terasa tidak membosankan. Hiperbola digunakan untuk
menggambarkan keadaan jiwa atau semangat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh cerita.
koreksio dimanfaatkan untuk memperjelas pernyataan yang telah dikemukakan
sebelumnya agar makna bisa lebih tepat. Retoris merupakan pertanyaan-pertanyaan
yang menghantui tokoh-tokoh cerita.
Personifikasi melekatkan sifat-sifat insani pada
barang atau bendayang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.
Personifikasi bisa memudahkan penulis dalam menuangkan ide atau gagasannya.
Personifikasi dipergunakan untuk melukiskan perasaan tokoh.
Metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang tidak
menggunakan kata-kata pembanding. Metaforamerupakan ungkapan yang menyatakan
sesuatu sama dengan yang lain yang sesungguhnyatidak sama. Ada yang
dibandingkan dan ada pula pembanding.
Daftar
Pustaka
El Shirazy, Habiburrahman. 2004. Ayat-Ayat
Cinta. Republika: Jakarta.
Darmono,
Sapardi Djoko. 1078. Sosiologi Sastra:
Sebuah Pengantar Ringkas. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.
Pradopo,
Rachmat Djoko. 2003. Beberapa Teori
Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar:
Yogyakarta-Indonesia.
Teeuw,
A. 1955. Pokok da Tokoh dalam
Kesusastraan Indonesia Baru. Jilid I. Pembangunan: Jakarta.
Teeuw,
A. 1980. Sastra Baru Indoenesia I. Nusa Indah-Persecatakan Arnoldus: Ende -
Flores.
Diansyah, Alex. 2006. Membangun Jiwa dengan Cinta. Pikiran Rakyat edisi Senin, 25 September 2006.
Ramadhana,
Yunita. Ayat-Ayat Cinta: Makna Cinta
dalam Islam. Blogsome.com. 20 Juni 2008. 13.05 WIB.
Safriyani.
Ayat-Ayat Cinta, Romantisme Gaya Sufi.
www.PintuNet.com.
20 Juni 2008. 13.10 WIB.
Achmatim. Resensi: Ayat-Ayat Cinta. Achmatim.net. 20 Juni 2008. 13.15 WIB.
Ontahapo. Ayat-Ayat Cinta. www.blogspot.com.
20 Juni 2008. 13.25 WIB.
Ryagita. Novel Bagus. www.PintuNet.com. 20 Juni 2008. 13.35 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar