ANALISIS NOVEL “SEMBRANI KARYA MEILIANA K. TANSRI DAN MENANTU & MERTUA METROPOLITAN
KARYA THREES EMIR”
IFADATUS SAROFIL ANALISAH, ST.
(NIM : 20152110014)
ANALISIS NOVEL SEMBRANI
A.
Struktur
Novel :Sembraani
Penulis : Meiliana K. Tansri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Pertama Terbit : 2010
Jumlah Halaman : 239
B.
Sinopsis
Novel Sembrani bisa dikatakan novel fiksi kontemporer mimpi seekor kuda yang
berkeinginan mempunyai sayap dan bisa bebas terbang. Novel Sembrani Merupakan
rangkaian ketiga dari trilogy darah emas karya Meiliana K. Tansri. Secara umum,
sang penulis mengisahkan tentang penyelamatan
sang putri naga yang ditolong oleh 3 tikus jadi – jadian yang mengajak kuda
yang bernama Sembrani sebagai tokoh utama dalam novel tersebut. Secara singkat dikisahkan tiga tikus jadi-jadian
berusaha menolong Leng Cu, sang Putri Naga, yang kehilangan kendali atas
dirinya akibat mengenakan mahkota rampasan dan juga tercemar oleh kekuatan
jahat Datuk Itama. Dalam usaha pencariannya membaca membajak Sembrani, seekor
kuda penarik sado yang bermimpi punya sayap dan bisa terbang.
Reuben Moore, arkeolog yang membantu
Rigel mengungkapkan keberadaan situs Kemiring, ternyata sama sekali tidak
seperti pengakuannya. Dia justru memiliki rencana jahat yang sudah tersusun baik, dan Hartanto, Rigel, dan Leng Cu
menjadi penentu keberhasilan misinya.
C.
Unsur
Intrinsik Sembrani
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur
yang membangun karya itu sendiri. Unsur intrinsik dalam novel adalah
unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar
bebagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Unsur-unsur
intrinsik yang membangun sebuah novel antara lain peristiwa, cerita, plot,
penokohan, tema, latar, sudut pandang, bahasa atau gaya bahasa dan lain lain.
Adapun analisis novel ini dilihat dari unsur intrinsik adalah sebagai berikut :
1. Tema Adapun tema dari novel Sembrani adalah kisah
kebaiakan. Kebaikan seekor kuda dan tiga tikus
jadi-jadian yang ingin menyelamatkan Putri Naga dari kekuatan jahat Datuk
Intan.
2. Plot/Alur Alur dari Novel ini
adalah alur maju mundur. Dimana cerita adalah kilas balik ingatan tokoh utama
seekor kuda dan tiga tikus jadi-jadian yang ingin menyelamatkan Putri Naga dari
kekuatan jahat Datuk Intan.
3. Tokoh dan Penokohan Adapun tokoh dan penokohan pada
novel tersebut adalah :
Sembrani (tokoh
utama) dalam novel ini adalah tokoh yang protagonis. Penggunaan dalam novel
tersebut kebanyakan menggunakan majas. Mulyani sebagai tokoh pembantu anak
seorang pemilik kuda yang sangat menyayangi sembrani, 3 ekor tikus juga sebagai
tokoh pembantu yang sangat antusias menginginkan bantuan dari sembrani untuk
menolong putri naga.
Disini tidak
ditemukan stilistika bahasa yang kurang dimengerti karena dalam novel tersebut
mamakai bahasa yang mudah dimengerti.
A.
Struktur
Novel : Menantu dan
Mertua Metropolitan
Penulis : Threes Emir
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun
Pertama Terbit : 2012
Jumlah
Halaman : 238
B.
Sinopsis
Novel Menantu dan Mertua Metropolitan
Novel Menantu dan Mertua
Metropolitan adalah gambaran dari kehidupan nyata yang sering dialami oleh para
menantu dan mertua. Akan tetapi buku tersebut sangatlah memberikan inspirasi
bagi pembacanya. Banyak
temuan-temuan dan pelajaran penting dalam buku ‘Menantu dan Mertua Metropolitan’ ini,
mengajarkan bagaimana menjadi menantu dan mertua yang baik di dalam kekerabatan.
Menurut buku tersebut, seorang menantu dapat memberikan pengertian kepada
mertua sebaliknya seorang mertua yang sangat perhatian terhadap menantunya.
Selanjutnya
diperlukan kecermatan untuk melakukan pemilahan agar terhindar dari kerancuan
dalam memposisikan maupun memfungsikan suatu pendapat maupun permasalah
kemudian diperlukan pemahaman makna dibalik kata maupun kalimat agar pengertian
yang didapat pemahaman yang benar.
Dari bahasa
tutur dalam buku ini banyak kita jumpai susunan kalimat yang sedikit modern.
Dalam artian kata memiliki makna tersembunyi. Bisa kita lihat dari kalimat
berikut ini;
“Sifat ibu mertuanya ini sangat bertolak
belakang dengan ibunya sendiri. Sejak kecil, Priatna dibesarkan dengan kondisi
rumah tangga yang lebih dikendalikan oleh ayahnya. Ibu hanya figur kedua,
perannya kurang lebih sebagai “pelengkap penyerta” saja. Semua hal
ditentukan oleh Ayah, sementara Ibu selalu Mengekor
tanpa pernah memiliki pendapat sendiri, mulai dari memilih menu harian sampai
membantu anak – anak memilih jurusan yang diminati di perguruan tinggi.”
Disini
dapat dilihat sebuah persoalan, bahwa dalam tokoh ibu disitu hanya bisa menjalankan
keputusan dari seorang Ayah dan tidak bisa memutuskan.
“Ibu tuh kasih
sayangnya keluar dari hati, bukan basa – basi, sehingga kadang aku merasa
dialah ibu kandungku,” kata Pri suatu pagi saat sarapan
Disamping
itu pada novel ini juga menggunakan kata – kata perumpamaan atau kiasan yang
mempunyai arti yang sangat dalam.
Selain
itu dalam penulisan pada novel tersebut banyak sekali kalimat yang memakai
bahasa yang sekarang lagi trend atau anak muda biasa menyebutnya bahasa gaul.
Ada juga yang memakai bahasa ilmiah dan sebagainya.
“Begini loh,
Mam,” akhirnya sheila bersuara. “Saya dan Marko berpendapat ada hal – hal
tertentu yang menjadi otoritas kami sebagai mama dan papanya Mariska.
Percayalah, Mam, bukannya kami melarang Mami menyayangi cucu, tapi biarlah yang
rutin – rutin kami yang bertanggung jawab. Soal Mami merasa menelantarkan
Marko, buat apa dijadiakn ganjalan? Marko tidak pernah komplain, kan? Memang
situasinya yang tidak mengizinkan.”
Dari
percakapan diatas antara menantu dan mertua menggunakan kata – kata otoritas
diamana kata tersebut biasa digunakan pada bidang pemerintahan.
Unsur Intrinsik Tema: Kisah ini
menggambarkan kehidupan kekerabatan antara menantu dan mertua yang dijalankan
dalam kehidupan sehari – hari, terutama pada kalangan masyarakat menengah keatas
karena kehidupan metropolitan.
Tokoh: Tokoh: 1. Mertua (Tokoh Utama) 2. Menantu 3. Anak 4. Cucu
Tempat •Jakarta
Alur: Campuran. Karena dalam novel
tersebut cerita berawal dari sebuah kehidupan nyata dikota metropolitan dan
dalam hubungan kekeranbatan yang selama ini dikenal paling sensitif antara
mertua dan menantu.
Gaya Bahasa: Ilmiah, kiasan, bahasa
gaul
Kesimpulan
Perbedaan Gaya Penulisan Meiliana K.
Tansri Dan Threes Emir
Meiliana K. Tansri Dan Threes Emir mempunya latar
belakang kehidupan yang berbeda yang pada akhirnya juga mempengaruhi gaya
penulisannya. Meiliana K. Tansri adalah seorang penulis yang menceritakan
tentang fiksi dan menggunakan bahasa yang mana bisa membawa pembaca
berimajinasi.
Sedangkan
karya tentang Menantu dan
Mertua Metropolitan karangan Threes Emir sangat berbeda sekali yang
menggambarkan kisah nyata dan menggunakan bahasa yang modern atau disebut juga
bahasa gaul dan bahasa ilmiah.
Itulah yang
menjadikan keistimewaan dalam kedua buku tersebut menggunakan metode penulisan
dengan gaya yang berbeda dalam bentuk cerita. Dengan cara ini pembaca dapat
membangun imajinasi tersendiri melalui kesadaranya menyerap informasi penting
dari kepentingan buku tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar