Minggu, 20 Desember 2015

ANALISIS NOVEL “SEMBRANI KARYA MEILIANA K. TANSRI DAN MENANTU & MERTUA METROPOLITAN KARYA THREES EMIR” IFADATUS SAROFIL ANALISAH, ST. (NIM : 20152110014)

    ANALISIS NOVEL  “SEMBRANI KARYA MEILIANA K.     TANSRI  DAN  MENANTU & MERTUA METROPOLITAN     

                                KARYA THREES EMIR”                          


IFADATUS SAROFIL  ANALISAH, ST.
 (NIM :  20152110014)










ANALISIS NOVEL SEMBRANI

A.    Struktur Novel                  :Sembraani
               Penulis                               : Meiliana K. Tansri
                          Penerbit                             : Gramedia Pustaka Utama
      
Tahun Pertama Terbit        : 2010 
         Jumlah Halaman                : 239  

B.     Sinopsis Novel Sembrani bisa dikatakan novel fiksi kontemporer mimpi seekor kuda yang berkeinginan mempunyai sayap dan bisa bebas terbang. Novel Sembrani Merupakan rangkaian ketiga dari trilogy darah emas karya Meiliana K. Tansri. Secara umum, sang penulis mengisahkan tentang penyelamatan sang putri naga yang ditolong oleh 3 tikus jadi – jadian yang mengajak kuda yang bernama Sembrani sebagai tokoh utama dalam novel tersebut. Secara singkat dikisahkan tiga tikus jadi-jadian berusaha menolong Leng Cu, sang Putri Naga, yang kehilangan kendali atas dirinya akibat mengenakan mahkota rampasan dan juga tercemar oleh kekuatan jahat Datuk Itama. Dalam usaha pencariannya membaca membajak Sembrani, seekor kuda penarik sado yang bermimpi punya sayap dan bisa terbang.

         Reuben Moore, arkeolog yang membantu Rigel mengungkapkan keberadaan situs Kemiring, ternyata sama sekali tidak seperti pengakuannya. Dia justru          memiliki rencana jahat yang sudah tersusun baik, dan Hartanto, Rigel, dan Leng Cu menjadi penentu keberhasilan misinya.


C.     Unsur Intrinsik Sembrani

        Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur intrinsik dalam novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar bebagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Unsur-unsur intrinsik yang membangun sebuah novel antara lain peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang, bahasa atau gaya bahasa dan lain lain. Adapun analisis novel ini dilihat dari unsur intrinsik adalah sebagai berikut :

 1. Tema Adapun tema dari novel Sembrani adalah kisah kebaiakan. Kebaikan seekor kuda dan tiga tikus jadi-jadian yang ingin menyelamatkan Putri Naga dari kekuatan jahat Datuk Intan.
2. Plot/Alur Alur dari Novel ini adalah alur maju mundur. Dimana cerita adalah kilas balik ingatan tokoh utama seekor kuda dan tiga tikus jadi-jadian yang ingin menyelamatkan Putri Naga dari kekuatan jahat Datuk Intan.
 3. Tokoh dan Penokohan Adapun tokoh dan penokohan pada novel tersebut adalah :

Sembrani (tokoh utama) dalam novel ini adalah tokoh yang protagonis. Penggunaan dalam novel tersebut kebanyakan menggunakan majas. Mulyani sebagai tokoh pembantu anak seorang pemilik kuda yang sangat menyayangi sembrani, 3 ekor tikus juga sebagai tokoh pembantu yang sangat antusias menginginkan bantuan dari sembrani untuk menolong putri naga.

Disini tidak ditemukan stilistika bahasa yang kurang dimengerti karena dalam novel tersebut mamakai bahasa yang mudah dimengerti.

A.                Struktur Novel            : Menantu dan Mertua Metropolitan
Penulis                         : Threes Emir
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Pertama Terbit : 2012
Jumlah Halaman         : 238  

B.                Sinopsis Novel Menantu dan Mertua Metropolitan

Novel Menantu dan Mertua Metropolitan adalah gambaran dari kehidupan nyata yang sering dialami oleh para menantu dan mertua. Akan tetapi buku tersebut sangatlah memberikan inspirasi bagi pembacanya. Banyak temuan-temuan dan pelajaran penting dalam buku ‘Menantu dan Mertua Metropolitan’ ini, mengajarkan bagaimana menjadi menantu dan mertua yang baik di dalam kekerabatan. Menurut buku tersebut, seorang menantu dapat memberikan pengertian kepada mertua sebaliknya seorang mertua yang sangat perhatian terhadap menantunya.

Selanjutnya diperlukan kecermatan untuk melakukan pemilahan agar terhindar dari kerancuan dalam memposisikan maupun memfungsikan suatu pendapat maupun permasalah kemudian diperlukan pemahaman makna dibalik kata maupun kalimat agar pengertian yang didapat pemahaman yang benar.

Dari bahasa tutur dalam buku ini banyak kita jumpai susunan kalimat yang sedikit modern. Dalam artian kata memiliki makna tersembunyi. Bisa kita lihat dari kalimat berikut ini;

Sifat ibu mertuanya ini sangat bertolak belakang dengan ibunya sendiri. Sejak kecil, Priatna dibesarkan dengan kondisi rumah tangga yang lebih dikendalikan oleh ayahnya. Ibu hanya figur kedua, perannya kurang lebih sebagai “pelengkap penyerta” saja. Semua hal ditentukan oleh Ayah, sementara Ibu selalu Mengekor tanpa pernah memiliki pendapat sendiri, mulai dari memilih menu harian sampai membantu anak – anak memilih jurusan yang diminati di perguruan tinggi.”

Disini dapat dilihat sebuah persoalan, bahwa dalam tokoh ibu disitu hanya bisa menjalankan keputusan dari seorang Ayah dan tidak bisa memutuskan.

“Ibu tuh kasih sayangnya keluar dari hati, bukan basa – basi, sehingga kadang aku merasa dialah ibu kandungku,” kata Pri suatu pagi saat sarapan

Disamping itu pada novel ini juga menggunakan kata – kata perumpamaan atau kiasan yang mempunyai arti yang sangat dalam.
Selain itu dalam penulisan pada novel tersebut banyak sekali kalimat yang memakai bahasa yang sekarang lagi trend atau anak muda biasa menyebutnya bahasa gaul. Ada juga yang memakai bahasa ilmiah dan sebagainya.

“Begini loh, Mam,” akhirnya sheila bersuara. “Saya dan Marko berpendapat ada hal – hal tertentu yang menjadi otoritas kami sebagai mama dan papanya Mariska. Percayalah, Mam, bukannya kami melarang Mami menyayangi cucu, tapi biarlah yang rutin – rutin kami yang bertanggung jawab. Soal Mami merasa menelantarkan Marko, buat apa dijadiakn ganjalan? Marko tidak pernah komplain, kan? Memang situasinya yang tidak mengizinkan.”

Dari percakapan diatas antara menantu dan mertua menggunakan kata – kata otoritas diamana kata tersebut biasa digunakan pada bidang pemerintahan.
  
Unsur Intrinsik Tema: Kisah ini menggambarkan kehidupan kekerabatan antara menantu dan mertua yang dijalankan dalam kehidupan sehari – hari, terutama pada kalangan masyarakat menengah keatas karena kehidupan metropolitan.

Tokoh: Tokoh: 1. Mertua  (Tokoh Utama) 2. Menantu 3. Anak 4. Cucu

Tempat •Jakarta

Alur: Campuran. Karena dalam novel tersebut cerita berawal dari sebuah kehidupan nyata dikota metropolitan dan dalam hubungan kekeranbatan yang selama ini dikenal paling sensitif antara mertua dan menantu.

Gaya Bahasa: Ilmiah, kiasan, bahasa gaul


















Kesimpulan

Perbedaan Gaya Penulisan Meiliana K. Tansri Dan Threes Emir

Meiliana K. Tansri Dan Threes Emir mempunya latar belakang kehidupan yang berbeda yang pada akhirnya juga mempengaruhi gaya penulisannya. Meiliana K. Tansri adalah seorang penulis yang menceritakan tentang fiksi dan menggunakan bahasa yang mana bisa membawa pembaca berimajinasi.

Sedangkan karya tentang Menantu dan Mertua Metropolitan karangan Threes Emir sangat berbeda sekali yang menggambarkan kisah nyata dan menggunakan bahasa yang modern atau disebut juga bahasa gaul dan bahasa ilmiah.

Itulah yang menjadikan keistimewaan dalam kedua buku tersebut menggunakan metode penulisan dengan gaya yang berbeda dalam bentuk cerita. Dengan cara ini pembaca dapat membangun imajinasi tersendiri melalui kesadaranya menyerap informasi penting dari kepentingan buku tersebut.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar