Sabtu, 12 Desember 2015

ANALISIS STILISTIKA CERPEN Oleh: MOHAMMAD ANWAR ( 2015211024 )



 ANALISIS STILISTIKA CERPEN
 
Oleh:
MOHAMMAD ANWAR  ( 2015211024 )
 






PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu karya seni yang berfungsi sebagai notulen kehidupan. Pengarang dengan daya imajinasi yang dimilikinya tidak akan bisa tertidur dengan nyaman sebelum semua peristiwa itu ditulis, yang akhirnya dapat dibaca, dipahami, dan direntangkan oleh siapa saja. Dengan demikian cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Jika kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49). Oleh karena itu, jika cerpen dijadikan bahan ajar di kelas tentunya akan membuat pembelajarannya lebih hidup dan menarik.
Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen yang dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas khususnya kajian stilistika suatu cerpen. Cerpen yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, dan cerpen  yang berjudul “Daun-daun di Samirono” karya Nh. Dini .
Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, saya mencoba mengidentifikasi masalah saya ini. Identifikasi masalahnya sebagai berikut:
1.        Bagaimana kajian stilistika suatu cerpen ?
2.        Apa perbedaan stilistika cerpen “Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, dan cerpen  “Daun-daun di Samirono” karya Nh. Dini .


























PEMBAHASAN

Pengertian Cerpen
Cerpen merupakan sebuah cerita. Cerita dalam sebuah karya fiksi merupakan suatu hal yang amat esensial. Cerita memiliki peranan sentral dari awal sampai akhir karya itu yang ditemui adalah cerita. Cerita berkaitan dengan unsur pembangun yang lain dalam karya sastra tersebut. Kelancaran cerita akan ditopang oleh kepaduan berbagai unsur pembangun itu. Oleh karena itu, cerita merupakan hal yang fundamental dalam suatu karya fiksi. Tanpa unsur cerita, eksistensi sebuah cerita tidak mungkin terwujud, sebab cerita merupakan inti sebuah karya fiksi sendiri sebagai cerita rekaan. Baik-buruknya cerita yang disajikan, di samping akan memotivasi seseorang untuk membacanya, juga akan mempengaruhi unsur-unsur pembangun yang lain.

Selain itu, cerita diartikan sebagai sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan urutan waktu, misalnya kejadian mengantuk kemudian tertidur, marah-marah karena disinggung perasaannya, dan sebagainya.3 Dalam kaitannya dengan pengisahan peristiwa-peristiwa itu terdapat dua kemungkinan sikap yang diberikan kepada pembaca, dimana pembaca tertarik untuk mengetahui kelanjutan peristiwa, atau sebaliknya. Cerita yang menarik biasanya mampu mengikat pembaca untuk selalu ingin mengetahui kelanjutan kejadian, mampu membangkitkan rasa ingin tahu, mampu membangkitkan suspence, yaitu hal yang amat penting dalam sebuah cerita fiksi. Kadar suspence untuk setiap cerita tentu tidak sama. Namun, sebuah cerita yang tidak mampu memberikan rasa ingin tahu pembaca, boleh dikatakan gagal dengan misinya yang ingin menyampaikan cerita.
Dalam bukunya Abrams memberikan pengertian tentang cerita sebagai sebuah urutan kejadian yang sederhana dalam urutan waktu, 4 sedangkan Kenny mengartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi berdasarkan urutan waktu disajikan dalam sebuah karya fiksi.Dengan demikian, dalam cerita peristiwa yang satu berlangsung sesudah terjadi peristiwa yang lain. Dalam kaitanya waktu dan urutan peristiwa yang dikisahkan jelas dan sesuai dengan pengertian-pengertian diatas dan mempunyai sifat kronologis.
Cerpen atau cerita pendek merupakan cabang seni sastra yang dapat memberikan ketenangan dan kepuasaan jiwa. Hal ini menjelaskan bahwa cerpen tak ubahnya sebagai dokumentasi kehidupan yang tercipta dalam bentuk seni. Dokumentasi tersebut memuat peristiwa kehidupan yang telah terjadi dan akan terjadi. Dalam bukunya, Keegan berpendapat bahwa cerpen atau short story adalah “it was something which could be read in one sitting and brought a singular illumination to the reader”. Menurut Keegan cerpen merupakan penyajian suatu peristiwa yang dapat dibaca sekali duduk dan dapat memberikan kesan tunggal bagi pembaca.  Yang berarti cerpen sebagai suatu cerita fiksi pendek tetapi dapat memberikan kesan yang mendalam kepada pembaca.
Dengan pengertian lain, cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam – suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan kalau kita membaca sebuah novel.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan ungkapan perasaan si pengarang tentang tanggapannya terhadap kehidupan, dan dengan daya imaginasinya ditulis dengan bahasa yang indah, imajinasi yang dalam serta tema yang kuat sehingga dapat memberikan kesan yang dalam bagi pembaca.

Telaah Stilistika
Gaya tidak dapat dipisahkan hubunganya dengan pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra. Gaya memang dihubungkan dengan pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra ini adalah hakikat stilistika.
Stilistika berada di tengah-tengah antara bahasa dan kritik sastra. Fungsi stilistika adalah sebagai jembatan antara keduanya.  Bahasa sebagai media utama bagi karya sastra. Bahasa sastra sebagai media ungkapan perasaan, pikiran, dan batin pengarang, dimana berkaitan erat dengan gaya. Gaya bahasa merupakan cara pengarang memilih, menata, dan menempatkan kata dalam susunan kalimat sehingga memiliki pengaruh atau efek tertentu bagi pembaca. Oleh karena itu, Keraf menyatakan bahwa gaya bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa, perasaan, dan kepribadian, pengarang.
Gaya bahasa merupakan wujud pikiran dan perasaan pengarang dalam karyanya, sedangkan keindahan timbul dari pikiran yang dalam dan murni, dari pikiran yang luas dan mengetahui batas-batas melahirkannya pada waktu menulis.  Sementara itu, Slametmuljana dalam Pradopo menyebutkan gaya bahasa adalah susunan perkataan yang timbul atau hidup dalam hati penulis sehingga ketika diekspresikan akan menimbulkan perasaan atau efek tertentu bagi pembaca karya sastra.
Selanjutnya, Pradopo juga menyatakan bahwa gaya bahasa itu bertujuan untuk menghidupkan kalimat dan memberi Jarak pada kalimat serta menimbulkan reaksi tertentu dan atau tanggapan pikiran kepada pembaca. Di samping itu, gaya bahasa merupakan ekspresi ideologi pengarang.  Gaya bahasa memiliki fungsi terhadap penyampaian ide pengarang dalam bentuk informasi terutama dalam karya sastra. Oleh karena itu, dalam telaah gaya bahasa (karya sastra), analisis dapat diarahkan pada pilihan kata (diksi), susunan kalimat dan sintaksisnya, kepadatan dan tipe-tipe bahasa kisahannya, pola ritmenya, komponen bunyi, dan ciri-ciri formal lainnya.

a.    Pilihan Kata (Diksi)
Gaya atau pemilihan kata dalam karya sastra adalah cara pengarang menggunakan kata-kata atau kalimat untuk menyampaikan gagasan atau ide-ide. Dalam menganalisa pilihan kata, yang harus dilakukan pertama kali adalah mengamati apakah teks itu berisi kata-kata konkret dan khusus, ataupun berisi kata-kata abstrak dan umum. Pemilihan kata dalam kreasi penciptaan, juga memperhatikan kesesuaian kata yang dipilih dengan jenis karya sastra yang akan dikarang. Bahasa pengarang untuk puisi tentu berbeda dengan teks carita.
Ketepatan pemilihan kata berhubungan dengan makna kata yang meliputi denotasi dan konotasi. Pada umumnya makna kata dibedakan atas makna yang bersifat denotative dan makna kata yang bersifat konotatif. Setiap kata memiliki makna denotasi. Disebut makna denotasi karena makna itu menunjuk kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen. Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan. Untuk lebih mempertajam makna atau memperindah kalimat berbagai macam gaya bahasa akan bermunculan. Gaya sebuah teks ditandai tidak hanya oleh pilihan kata, tetapi juga gaya bahasa yang dipilih pengarang.
b.    Simile
Simile bisa diartikan dengan perbandingan satu objek dengan objek yang lainnya dengan menggunakan kata perbandingan.
c.    Metafora
Metafora hampir sama dengan simile tetapi yang membedakan adalah metafora tidak menggunakan kata pembanding jadi pembandingnya terlihat secara implisit.


d.     Personifikasi
Personifikasi adalah memberikan atribut manusia pada hewan, sebuah objek dan sebuah ide.
e.     Hiperbola
Hiperbola adalah melebih-lebihkan segala sesuatu yang sangat berbeda dengan kenyataan aslinya (real) hal ini dimaksudkan memberikan pengaruh dramatisir kepada pembaca
f.      Simbol
Simbol pada dasarnya sama dengan image. Kenny (1996: 66) literary symbol is the author’s attempt to name those many areas human experience that ordinary language, literal of figurative is inadequate to deal with.20
g.     Ironi
Ironi bisa dikatakan mengucapkan apa yang berlawanan dari apa yang sebenarnya. Ironi digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang berbeda.

Analisis Cerpen “Robohnya Surau Kami  karyaA.A. Navis,dan“Daun-daun di Samirono” Karya NH Dini

Gaya merupakan sarana bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan ungkapan.
Di dalam cerpen Robohnya Surau Kami  karya A.A. Navis  pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), seperti garin, Allah Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala, Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga Sedekah.
Selain ini, pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. Simbol yang terdapat dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya, yakni Robohnya Surau Kami. Suaru di sini merupakan simbol kesucian, keyakinan. Jadi, melalui simbol ini sebenarnya pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa kesucian hati atau keyakinan kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh. Sebab, cukup banyak tokoh-tokoh kita dari berbagai kalangan tidak lagi suci hatinya. Mereka sudah menggadaikannya dengan kedudukan, jabatan, dan pangkat. Mereka tenggelam dalam Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya. Bahkan ada pula yang keyakinannya terhadap Tuhan dan agamanya terlibat luntur-pudar. Mereka ini tidak hanya tenggelam dalam KKN dan egoisme tetapi juga tenggelam dalam kemunafikan dan maksiat serta dibakar emosi dan dendam demi keakuan dirinya dan kelompoknya.
Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang, yakni tokoh Haji Saleh dan kehidupan di akhirat, atau lebih tepatnya menggunakan majas parabel (majas ini merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama, moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Majas ini sangat dominan dalam cerpen ini
Selain majas alegori atau parabol, pengarang pun menggunakan majas Sinisme seperti yang diucapkan tokoh aku: ”…Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi” (hlm.8). Inilah sebuah kritik untuk masyarakat kita sekarang ini. Dengan demikian penggunaan majas-majas itu untuk mengingatkan atau menasehati sekaligus mengejek pembaca atau masyarakat. Nasehat dan ejekannya itu ternyata berhasil.
Sedangkan pada cerpen “Daun-daun di Samirono” Karya NH Dini  menunjukkan kepada pembaca bahwa cerpen ini menunjukkan suasana kultural masyarakat Jawa dan tentang kehidupan masyarakatnya khususnya di Yogyakarta. Dan menunjukkan adanya istilah-istilah Jawa yang digunakan yaitu sumbere kasep, Jumadil Akhir, Ruwah, Poso, ontran-ontran, priyagung, ngerso dalem, kondur dan sebagainya. Warna kejawaan ini juga dipertegas dengan menghadirkan bahasa yang digunakan oleh orang Bangsawan Jawa seperti priyagung, ngerso dale, kondur dan masih banyak lagi. Dan dalam kutipan diatas menggunakan bahasa yang datar, tidak meluap-luap, lemah-lembut dan santun. Hal ini melambangkan warna kultural masyarakat Jawa (Yogyakarta dan sekitarnya). Serta alur dan tema cerita menunjukkan ciri khas kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya. Dini realismenya lebih kukuh. Yang di kisahkan ialah peristiwa-peristiwa kecil yang dialami seorang ibu tua miskin pada hari terakhir hidupnya, hingga maut menjemputnya. Latar belakang kultural dinyatakan dengan pasti di Jawa, tepatnya Yogyakarta. Aneka detail, dari penggunaan istilah Jawa sampai ke nama tempat dan sikap dasar sang tokoh, bertujuan menghidupkan suasana kultural khas Jawa - yang agaknya disadari sebagai mata air literernya. Warna kejawaan itu di pertegas dengan menghadirkan bangsawan nun jauh diseberang. Menariknya, gaya bertuturnya di bangun melalui pilihan bahasa yang sengaja dibuat “datar”, tidak meluap-luap, lemah-lembut, sebagaimana langgam gaya ala Jawa, seperti yang terlihat dalam kutipan berikut ini:
“Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumbere kasep. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah .... Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak diambang waktu”
Selain itu juga menggunakan piranti stilistika seperti personifikasi, ironi, hiperbola dan metafora. Seperti pada kutipan berikut ini:
“Matahari bersinar lembut. Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati”
Dalam kutipan diatas terdapat gaya bahasa personifikasi dan hiperbola. Pada “matahari bersinar lembut” menunjukkan gaya bahasa personifikasi, dimana matahari di bandingkan atau diumpamakan seperti sifat manusia yaitu “lembut” yang mempunyai arti keadaan cuaca dan suasana waktu itu cerah dengan adanya sinar matahari. Sedangkan pada kutipan “tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget” menunjukkan adanya gaya bahasa hiperbola, dimana ditunjukkan dengan adanya bahasa yang dilebih-lebihkan pada “hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget” yang berarti akibat hujan yang deras menyebabkan kagetnya orang-orang di sekitar Mataram (Yogyakarta). Hal ini menunjukkan adanya gaya bahasa yang dilebih-lebihkan karena tentu saja bukan semata-mata karena hujan dapat menyebabkan orang-orang kaget di seluruh Mataram (Yogyakarta).
“Langit mendung. Tampak kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru”
Dalam kutipan diatas terdapat gaya bahasa personifikasi dan metafora. Pada “langit mendung. Tampak kemurungan masih akan berlanjut hari itu” menunjukkan gaya bahasa personifikasi yang ditunjukkan “mendungnya langit” di umpamakan atau dibandingkan dengan “murungnya wajah” yang mempunyai arti keadaan cuaca dan warna langit pada saat itu mendung yang berarti akan turun hujan. Sedangkan pada kutipan “tampak kemurungan masih berlanjut hari itu.

Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di Kelas.
Cerpen sebagai salah satu karya sastra jelas dapat memberikan manfaat seperti layaknya karya sastra yang lain. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hiburan, dia juga dapat mengembangkan imajinasi, memberikan pengalaman pengganti, mengembangkan pengertian perilaku manusia dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Oleh karena itu dapat memberikan manfaat, maka sewajarnya sebuah cerpen dapat dijadikan bahan/materi pembelajaran sastra di kelas. Pemilihan dan penetapan cerpen sebagai bahan/materi pembelajaran tentunya harus mengikuti kriteria yang sudah ditetapkan secara umum yaitu:
a. Dilihat dari segi bahasanya, kedua cerpen ini jelas menggunakan bahasa yang bisa dipahami pembaca orang Indonesia, yaitu bahasa Indonesia. Tidak hanya ini, gaya bahasanya pun menarik dan pilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa.
b. Latar belakang budaya yang ditampilkan pun masih terasa umum. Jadi, siapa pun (baik yang beragama Islam, Kristen, Hindu,maupun Budha) bisa dengan mudah memahaminya dan tidak menimbulkan pertentangan yang mendasar. Meskipun di dalamnya terdapat kosa kata Islami, hal ini tidaklah menggangu bahkan akan menarik jika siswa membandingkan dengan kosa kata non-Islam yang sejenis.
Berdasarkan kriteria-kritera inilah kiranya cerpen ini sangat sesuai dan tepat bila dijadikan bahan ajar untuk pembelajaran sastra di kelas X dan XI, apalagi di kelas XII SMA. Selain itu, akan lebih menarik lagi jika gurunya pun aktif-kreatif ketika membelajarkan siswanya dalam menelaah cerpen tersebut. Namun demikian, agar pembelajaran sastra dengan bahan cerpen itu menarik dan lancar, guru dan siswanya pun haruslah sama-sama membaca cerpen itu lebih dari satu kali dan jangan coba-coba membaca ringkasannya.
PENUTUP

Simpulan
Dengan menggunakan piranti stilistika berupa personifikasi, metafora, simbol, simile, hiperbola dan sebagainya, terlihat bagaimana kedua cerpen ini dianalisis sehingga diharapkan mempunyai keunggulan dan pengaruh tekstual terhadap sisi reaktif emosionil pembaca. 
Namun apapun yang diungkapkan dalam kedua cerpen diatas, telah dinyatakan bahwa cerpen ini amat sederhana dari sudut bentuk. Pola tutur linear yang dipilih tidak banyak membuka peluang interpretasi.
Memang telah disadari oleh penulis masih terdapat banyak kekurangan pembahasan tentang ragam penyikapan pembaca. Dari upaya generalisasi tersebut dapat dilihat faktor-faktor yang menentukan tingkat efektifitas keterpengaruhan pembaca pada teks yakni kemampuan mengenal sarana estetik teks sastra, wawasan tentang wacana yang dibicarakan teks, kondisi psikologis berupa tingkat kemampuan berempati dan hal-hal lain terkait keterlibatan emosional seorang individu dan latar belakang pembaca yang membentuk penyikapinya terhadap teks.















DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary terms. New York: Holt, Renehart and Winston
Abdullah, Imran Teuku. 1991. Hikayat Meukuta Alam Suntingan Teks dan Terjemahan Beserta Telaah Struktur dan Resepsi. Jakarta: Intermasa
Chapman, Seymour. 1980. Story and Discourse, Narrative Structure in Fiction and Film. Ithaca and London: Cornell University Press.
Dini, NH. 2005. Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005: Daun-daun Waru di
Samirono. PT. Gramedia Jakarta.
H.T., Faruk. 1999. Hilangnya Pesona Dunia: Siti Nurbaya, Budaya Minang,
Struktur Sosial kolonial. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
Junus, Umar. 1989. Stilistika Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka
Arikunto, Suharsimi.1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Badudu, J.S. 1979. Sari Kesusasteraan Indonesia Jilid 2. Bandung: Pustaka Prima.
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.1994. Metode Penelitian Seni Budaya Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar