ANALISIS STILISTIKA CERPEN
Oleh:
MOHAMMAD ANWAR ( 2015211024 )
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Cerpen atau
cerita pendek merupakan salah satu karya seni yang berfungsi sebagai notulen
kehidupan. Pengarang dengan daya imajinasi yang dimilikinya tidak akan bisa
tertidur dengan nyaman sebelum semua peristiwa itu ditulis, yang akhirnya dapat
dibaca, dipahami, dan direntangkan oleh siapa saja. Dengan demikian cerita
pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan
manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti,
kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku
manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang
universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia
serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi,
agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah
mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang
membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat
dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu
ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan
pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika
itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan
mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Jika
kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan
sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman
kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49). Oleh karena itu,
jika cerpen dijadikan bahan ajar di kelas tentunya akan membuat pembelajarannya
lebih hidup dan menarik.
Tidak hanya itu,
kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata
menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan
mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di
kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen yang dikaitkan dengan
kegiatan pembelajaran di kelas khususnya kajian stilistika suatu cerpen. Cerpen
yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang berjudul Robohnya Surau Kami
karya A.A. Navis, dan cerpen yang
berjudul “Daun-daun di Samirono” karya Nh. Dini .
Permasalahan
Berdasarkan
latar belakang di atas, saya mencoba mengidentifikasi masalah saya ini.
Identifikasi masalahnya sebagai berikut:
1.
Bagaimana kajian
stilistika suatu cerpen ?
2.
Apa perbedaan
stilistika cerpen “Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, dan
cerpen “Daun-daun di Samirono” karya Nh.
Dini .
PEMBAHASAN
Pengertian Cerpen
Cerpen merupakan sebuah
cerita. Cerita dalam sebuah karya fiksi merupakan suatu hal yang amat esensial.
Cerita memiliki peranan sentral dari awal sampai akhir karya itu yang ditemui
adalah cerita. Cerita berkaitan dengan unsur pembangun yang lain dalam karya
sastra tersebut. Kelancaran cerita akan ditopang oleh kepaduan berbagai unsur
pembangun itu. Oleh karena itu, cerita merupakan hal yang fundamental dalam
suatu karya fiksi. Tanpa unsur cerita, eksistensi sebuah cerita tidak mungkin
terwujud, sebab cerita merupakan inti sebuah karya fiksi sendiri sebagai cerita
rekaan. Baik-buruknya cerita yang disajikan, di samping akan memotivasi
seseorang untuk membacanya, juga akan mempengaruhi unsur-unsur pembangun yang
lain.
Selain itu, cerita
diartikan sebagai sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun
berdasarkan urutan waktu, misalnya kejadian mengantuk kemudian tertidur,
marah-marah karena disinggung perasaannya, dan sebagainya.3 Dalam kaitannya dengan pengisahan
peristiwa-peristiwa itu terdapat dua kemungkinan sikap yang diberikan kepada
pembaca, dimana pembaca tertarik untuk mengetahui kelanjutan peristiwa, atau
sebaliknya. Cerita yang menarik biasanya mampu mengikat pembaca untuk selalu
ingin mengetahui kelanjutan kejadian, mampu membangkitkan rasa ingin tahu,
mampu membangkitkan suspence, yaitu hal yang amat penting dalam sebuah
cerita fiksi. Kadar suspence untuk setiap cerita tentu tidak sama.
Namun, sebuah cerita yang tidak mampu memberikan rasa ingin tahu pembaca, boleh
dikatakan gagal dengan misinya yang ingin menyampaikan cerita.
Dalam bukunya Abrams memberikan
pengertian tentang cerita sebagai sebuah urutan kejadian yang sederhana dalam
urutan waktu, 4
sedangkan
Kenny mengartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi berdasarkan urutan
waktu disajikan dalam sebuah karya fiksi.Dengan demikian, dalam cerita
peristiwa yang satu berlangsung sesudah terjadi peristiwa yang lain. Dalam
kaitanya waktu dan urutan peristiwa yang dikisahkan jelas dan sesuai dengan
pengertian-pengertian diatas dan mempunyai sifat kronologis.
Cerpen atau cerita pendek
merupakan cabang seni sastra yang dapat memberikan ketenangan dan kepuasaan
jiwa. Hal ini menjelaskan bahwa cerpen tak ubahnya sebagai dokumentasi kehidupan yang
tercipta dalam bentuk seni. Dokumentasi tersebut memuat peristiwa kehidupan
yang telah terjadi dan akan terjadi. Dalam bukunya, Keegan berpendapat bahwa
cerpen atau short story adalah “it was something which could be read
in one sitting and brought a singular illumination to the reader”. Menurut
Keegan cerpen merupakan penyajian suatu peristiwa yang dapat dibaca sekali
duduk dan dapat memberikan kesan tunggal bagi pembaca. Yang berarti cerpen sebagai suatu cerita
fiksi pendek tetapi dapat memberikan kesan yang mendalam kepada pembaca.
Dengan pengertian lain, cerpen adalah
sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara
setengah sampai dua jam – suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan kalau
kita membaca sebuah novel.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen
merupakan ungkapan perasaan si pengarang tentang tanggapannya terhadap
kehidupan, dan dengan daya imaginasinya ditulis dengan bahasa yang indah,
imajinasi yang dalam serta tema yang kuat sehingga dapat memberikan kesan yang
dalam bagi pembaca.
Telaah Stilistika
Gaya tidak dapat dipisahkan hubunganya
dengan pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra. Gaya memang
dihubungkan dengan pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra ini
adalah hakikat stilistika.
Stilistika berada di tengah-tengah antara bahasa dan
kritik sastra. Fungsi stilistika adalah sebagai jembatan antara keduanya. Bahasa sebagai media utama bagi karya sastra.
Bahasa sastra sebagai media ungkapan perasaan, pikiran, dan batin pengarang,
dimana berkaitan erat dengan gaya. Gaya bahasa merupakan cara pengarang
memilih, menata, dan menempatkan kata dalam susunan kalimat sehingga memiliki
pengaruh atau efek tertentu bagi pembaca. Oleh karena itu, Keraf menyatakan
bahwa gaya bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa, perasaan, dan
kepribadian, pengarang.
Gaya bahasa merupakan wujud pikiran dan
perasaan pengarang dalam karyanya, sedangkan keindahan timbul dari pikiran yang
dalam dan murni, dari pikiran yang luas dan mengetahui batas-batas
melahirkannya pada waktu menulis.
Sementara itu, Slametmuljana dalam Pradopo menyebutkan gaya bahasa
adalah susunan perkataan yang timbul atau hidup dalam hati penulis sehingga
ketika diekspresikan akan menimbulkan perasaan atau efek tertentu bagi pembaca
karya sastra.
Selanjutnya, Pradopo juga menyatakan bahwa
gaya bahasa itu bertujuan untuk menghidupkan kalimat dan memberi Jarak pada
kalimat serta menimbulkan reaksi tertentu dan atau tanggapan pikiran kepada
pembaca. Di samping itu, gaya bahasa merupakan ekspresi ideologi
pengarang. Gaya bahasa memiliki fungsi
terhadap penyampaian ide pengarang dalam bentuk informasi terutama dalam karya
sastra. Oleh karena itu, dalam telaah gaya bahasa (karya sastra), analisis
dapat diarahkan pada pilihan kata (diksi), susunan kalimat dan sintaksisnya,
kepadatan dan tipe-tipe bahasa kisahannya, pola ritmenya, komponen bunyi, dan
ciri-ciri formal lainnya.
a.
Pilihan Kata (Diksi)
Gaya
atau pemilihan kata dalam karya sastra adalah cara pengarang menggunakan
kata-kata atau kalimat untuk menyampaikan gagasan atau ide-ide. Dalam
menganalisa pilihan kata, yang harus dilakukan pertama kali adalah mengamati
apakah teks itu berisi kata-kata konkret dan khusus, ataupun berisi kata-kata
abstrak dan umum. Pemilihan kata dalam kreasi penciptaan, juga memperhatikan
kesesuaian kata yang dipilih dengan jenis karya sastra yang akan dikarang.
Bahasa pengarang untuk puisi tentu berbeda dengan teks carita.
Ketepatan
pemilihan kata berhubungan dengan makna kata yang meliputi denotasi dan
konotasi. Pada umumnya makna kata dibedakan atas makna yang bersifat denotative
dan makna kata yang bersifat konotatif. Setiap kata memiliki makna denotasi.
Disebut makna denotasi karena makna itu menunjuk kepada suatu referen, konsep,
atau ide tertentu dari suatu referen. Makna denotasi adalah makna yang
sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan. Untuk lebih mempertajam makna
atau memperindah kalimat berbagai macam gaya bahasa akan bermunculan. Gaya
sebuah teks ditandai tidak hanya oleh pilihan kata, tetapi juga gaya bahasa
yang dipilih pengarang.
b.
Simile
Simile
bisa diartikan dengan perbandingan satu objek dengan objek yang lainnya dengan
menggunakan kata perbandingan.
c.
Metafora
Metafora hampir sama dengan simile tetapi yang membedakan
adalah metafora tidak menggunakan kata pembanding jadi pembandingnya terlihat
secara implisit.
d.
Personifikasi
Personifikasi
adalah memberikan atribut manusia pada hewan, sebuah objek dan sebuah ide.
e.
Hiperbola
Hiperbola adalah melebih-lebihkan segala sesuatu yang sangat
berbeda dengan kenyataan aslinya (real) hal ini dimaksudkan memberikan pengaruh
dramatisir kepada pembaca
f.
Simbol
Simbol pada dasarnya sama dengan image. Kenny (1996: 66)
literary symbol is the author’s attempt to name those many areas human
experience that ordinary language, literal of figurative is inadequate to deal
with.20
g.
Ironi
Ironi bisa
dikatakan mengucapkan apa yang berlawanan dari apa yang sebenarnya. Ironi
digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang berbeda.
Analisis Cerpen “Robohnya Surau Kami” karyaA.A. Navis,dan“Daun-daun di Samirono” Karya NH Dini
Gaya merupakan
sarana bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan
seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa
spesifik oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang
pengarang dalam memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan
ungkapan.
Di dalam cerpen “Robohnya
Surau Kami” karya A.A. Navis pengarang menggunakan kata-kata yang biasa
digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), seperti garin, Allah Subhanau
Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan
pahala, Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu,
hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id,
juga Sedekah.
Selain ini,
pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. Simbol yang terdapat dalam
cerpen ini tampak jelas pula judulnya, yakni Robohnya Surau Kami. Suaru di sini
merupakan simbol kesucian, keyakinan. Jadi, melalui simbol ini sebenarnya
pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa kesucian hati atau keyakinan
kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh. Sebab, cukup banyak tokoh-tokoh
kita dari berbagai kalangan tidak lagi suci hatinya. Mereka sudah
menggadaikannya dengan kedudukan, jabatan, dan pangkat. Mereka tenggelam dalam
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya. Bahkan ada pula yang
keyakinannya terhadap Tuhan dan agamanya terlibat luntur-pudar. Mereka ini
tidak hanya tenggelam dalam KKN dan egoisme tetapi juga tenggelam dalam
kemunafikan dan maksiat serta dibakar emosi dan dendam demi keakuan dirinya dan
kelompoknya.
Sedangkan majas
yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam
cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang, yakni tokoh Haji Saleh dan
kehidupan di akhirat, atau lebih tepatnya menggunakan majas parabel (majas ini
merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama,
moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Majas ini sangat
dominan dalam cerpen ini
Selain majas
alegori atau parabol, pengarang pun menggunakan majas Sinisme seperti yang
diucapkan tokoh aku: ”…Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia
sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi” (hlm.8).
Inilah sebuah kritik untuk masyarakat kita sekarang ini. Dengan demikian
penggunaan majas-majas itu untuk mengingatkan atau menasehati sekaligus
mengejek pembaca atau masyarakat. Nasehat dan ejekannya itu ternyata berhasil.
Sedangkan pada cerpen “Daun-daun di Samirono” Karya NH Dini menunjukkan kepada pembaca bahwa cerpen ini
menunjukkan suasana kultural masyarakat Jawa dan tentang kehidupan
masyarakatnya khususnya di Yogyakarta. Dan menunjukkan adanya istilah-istilah
Jawa yang digunakan yaitu sumbere kasep, Jumadil Akhir, Ruwah, Poso,
ontran-ontran, priyagung, ngerso dalem, kondur dan sebagainya. Warna
kejawaan ini juga dipertegas dengan menghadirkan bahasa yang digunakan oleh
orang Bangsawan Jawa seperti priyagung, ngerso dale, kondur dan masih
banyak lagi. Dan dalam kutipan diatas menggunakan bahasa yang datar, tidak
meluap-luap, lemah-lembut dan santun. Hal ini melambangkan warna kultural
masyarakat Jawa (Yogyakarta dan sekitarnya). Serta alur dan tema cerita
menunjukkan ciri khas kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya. Dini realismenya lebih kukuh. Yang di
kisahkan ialah peristiwa-peristiwa kecil yang dialami seorang ibu tua miskin
pada hari terakhir hidupnya, hingga maut menjemputnya. Latar belakang kultural
dinyatakan dengan pasti di Jawa, tepatnya Yogyakarta. Aneka detail, dari
penggunaan istilah Jawa sampai ke nama tempat dan sikap dasar sang tokoh,
bertujuan menghidupkan suasana kultural khas Jawa - yang agaknya disadari
sebagai mata air literernya. Warna kejawaan itu di pertegas dengan menghadirkan
bangsawan nun jauh diseberang. Menariknya, gaya bertuturnya di bangun melalui
pilihan bahasa yang sengaja dibuat “datar”, tidak meluap-luap, lemah-lembut,
sebagaimana langgam gaya ala Jawa, seperti yang terlihat dalam kutipan berikut
ini:
“Kemarau tiba-tiba terputus sejenak
walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat
Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumbere
kasep. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui
hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah .... Dia baru menyadari
bahwa poso atau puasa sudah tampak diambang waktu”
Selain itu juga menggunakan piranti
stilistika seperti personifikasi, ironi, hiperbola dan metafora. Seperti pada
kutipan berikut ini:
“Matahari bersinar lembut. Tadi malam hujan
yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega
hati”
Dalam kutipan diatas terdapat gaya bahasa
personifikasi dan hiperbola. Pada “matahari bersinar lembut” menunjukkan gaya
bahasa personifikasi, dimana matahari di bandingkan atau diumpamakan seperti
sifat manusia yaitu “lembut” yang mempunyai arti keadaan cuaca dan suasana
waktu itu cerah dengan adanya sinar matahari. Sedangkan pada kutipan “tadi
malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget”
menunjukkan adanya gaya bahasa hiperbola, dimana ditunjukkan dengan adanya
bahasa yang dilebih-lebihkan pada “hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram
membikin orang-orang kaget” yang berarti akibat hujan yang deras menyebabkan
kagetnya orang-orang di sekitar Mataram (Yogyakarta). Hal ini menunjukkan
adanya gaya bahasa yang dilebih-lebihkan karena tentu saja bukan semata-mata
karena hujan dapat menyebabkan orang-orang kaget di seluruh Mataram
(Yogyakarta).
“Langit mendung. Tampak kemurungan masih
akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung sangat
besar, kata seorang dari cucu Bu Guru”
Dalam kutipan diatas terdapat gaya bahasa
personifikasi dan metafora. Pada “langit mendung. Tampak kemurungan masih akan
berlanjut hari itu” menunjukkan gaya bahasa personifikasi yang ditunjukkan
“mendungnya langit” di umpamakan atau dibandingkan dengan “murungnya wajah”
yang mempunyai arti keadaan cuaca dan warna langit pada saat itu mendung yang
berarti akan turun hujan. Sedangkan pada kutipan “tampak kemurungan masih
berlanjut hari itu.
Cerpen Robohnya Surau
Kami karya A.A. Navis sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di Kelas.
Cerpen sebagai
salah satu karya sastra jelas dapat memberikan manfaat seperti layaknya karya
sastra yang lain. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hiburan, dia juga
dapat mengembangkan imajinasi, memberikan pengalaman pengganti, mengembangkan
pengertian perilaku manusia dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal.
Oleh karena itu dapat memberikan manfaat, maka sewajarnya sebuah cerpen dapat
dijadikan bahan/materi pembelajaran sastra di kelas. Pemilihan dan penetapan
cerpen sebagai bahan/materi pembelajaran tentunya harus mengikuti kriteria yang
sudah ditetapkan secara umum yaitu:
a. Dilihat dari segi bahasanya, kedua cerpen ini jelas
menggunakan bahasa yang bisa dipahami pembaca orang Indonesia, yaitu bahasa
Indonesia. Tidak hanya ini, gaya bahasanya pun menarik dan pilihan katanya pun
dapat memperkaya kosa kata siswa.
b. Latar belakang budaya yang
ditampilkan pun masih terasa umum. Jadi, siapa pun (baik yang beragama Islam, Kristen,
Hindu,maupun Budha) bisa dengan mudah memahaminya dan tidak menimbulkan
pertentangan yang mendasar. Meskipun di dalamnya terdapat kosa kata Islami, hal
ini tidaklah menggangu bahkan akan menarik jika siswa membandingkan dengan kosa
kata non-Islam yang sejenis.
Berdasarkan kriteria-kritera inilah
kiranya cerpen ini sangat sesuai dan tepat bila dijadikan bahan ajar untuk
pembelajaran sastra di kelas X dan XI, apalagi di kelas XII SMA. Selain itu,
akan lebih menarik lagi jika gurunya pun aktif-kreatif ketika membelajarkan
siswanya dalam menelaah cerpen tersebut. Namun demikian, agar pembelajaran
sastra dengan bahan cerpen itu menarik dan lancar, guru dan siswanya pun
haruslah sama-sama membaca cerpen itu lebih dari satu kali dan jangan coba-coba
membaca ringkasannya.
PENUTUP
Simpulan
Dengan menggunakan piranti stilistika
berupa personifikasi, metafora, simbol, simile, hiperbola dan sebagainya,
terlihat bagaimana kedua
cerpen ini dianalisis sehingga
diharapkan mempunyai keunggulan dan pengaruh tekstual terhadap sisi reaktif
emosionil pembaca.
Namun apapun yang diungkapkan dalam kedua cerpen diatas, telah dinyatakan bahwa cerpen ini amat
sederhana dari sudut bentuk. Pola tutur linear yang dipilih tidak banyak
membuka peluang interpretasi.
Memang telah disadari oleh penulis masih
terdapat banyak kekurangan pembahasan tentang ragam penyikapan pembaca. Dari
upaya generalisasi tersebut dapat dilihat faktor-faktor yang menentukan tingkat
efektifitas keterpengaruhan pembaca pada teks yakni kemampuan mengenal sarana
estetik teks sastra, wawasan tentang wacana yang dibicarakan teks, kondisi
psikologis berupa tingkat kemampuan berempati dan hal-hal lain terkait
keterlibatan emosional seorang individu dan latar belakang pembaca yang
membentuk penyikapinya terhadap teks.
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1981. A
Glossary of Literary terms. New York: Holt, Renehart and Winston
Abdullah,
Imran Teuku. 1991. Hikayat Meukuta Alam Suntingan Teks dan Terjemahan
Beserta Telaah Struktur dan Resepsi. Jakarta: Intermasa
Chapman,
Seymour. 1980. Story and Discourse, Narrative Structure in Fiction and Film.
Ithaca and London: Cornell University Press.
Dini,
NH. 2005. Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas
2005: Daun-daun Waru di
Samirono. PT. Gramedia Jakarta.
H.T.,
Faruk. 1999. Hilangnya Pesona Dunia: Siti
Nurbaya, Budaya Minang,
Struktur Sosial kolonial. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
Junus,
Umar. 1989. Stilistika Suatu Pengantar.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka
Arikunto, Suharsimi.1999. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Badudu, J.S. 1979. Sari Kesusasteraan Indonesia
Jilid 2. Bandung: Pustaka Prima.
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dinas
Kebudayaan DKI Jakarta.1994. Metode Penelitian Seni Budaya Jakarta:
Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar