GAYA BAHASA METAFORA SEPASANG MATA AYU KARYA M. HELMY PRASETYA DAN CIUMAN HUJAN KARYA PABLO NERUDA
oleh:
DIAH MAYSELLA RACHMAN
20152110025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Persoalan
bahasa adalah jangkauan keilmuan yang luas hingga menjangkau pada ranah sastra
yang banyak melahirkan ragam gaya bahasa di dalamnya. Bahasa dalam karya sastra
menciptakan fungsi sebagai kebutuhan yang yang tidak terbatas. Mengingat karya
sastra yang mediumnya bahasa secara hakikat sastra adalah rekaan, dengan
sebutan yang lebih populer, yaitu imajinasi. Berbeda dengan kenyataan dalam
ilmu kealaman, kenyataan dalam sosial adalah kenyataan yang sudah ditafsirkan.
Berbeda dengan imajinasi dalam kehidupan sehari-hari, yang dianggap sebagai
semata-mata khayalan, imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang
didasarkan atas kenyataan, imajinasi yang juga diimajinasikan oleh orang lain.
Masalah ini perlu dijelaskan dengan pertimbangan bahwa sebagai karya seni karya
sastra tidak secara keseluruhan merupakan imajinasi (Ratna, 2010:306-307).
Fenomena
karya sastra banyak mendatangkan pengertian yang dapat disepakati sebagai hasil
produksi realita hidup yang beragam. Endraswara (2011:7) menyatakan bahwa karya
sastra adalah fenomena unik. Ia juga fenomena organik. Di dalamnya penuh makna
dan fungsi. Makna dan fungsi ini sering kabur dan tak jelas. Oleh karena, karya
sastra memang dengan imajinasi. Itu sebabnya, peneliti sastra memiliki tugas
untuk mengungkap kekaburan itu menjadi jelas. Peneliti sastra akan mengungkap
elemen dasar pembentuk sastra dan menafsirkan sesuai paradigma atau teori yang
digunakan. Di sisi lain, medium tama sastra adalah bahasa, yang merupakan titik
sentral berdirinya suatu karya menjadi sebuah bacaan yang siap dinikmati oleh
pembaca.
Teeuw
(dalam, 1986:1-2) mengemukakan bahwa mempelajari sastra berdasarkan aspek
bahasa ibarat memasuki hutan; makin ke dalam makin lebat, makin belantara. Di
dalam ketersesatan itu ia akan memperoleh kenikmatannya. Dari pendapat ini
terungkap bahwa karya sastra adalah fenomena kemanusiaan yang kompleks dan
dalam. Di dalam penuh makna yang harus digali melalui penelitian yang mendalam
pula. Lebih-lebih sastra yang bergenre puisi, yang penekanan tafsirnya
membutuhkan pembacaan intens dan teliti untuk mengenali kekuatan bahasa di
dalamnya, sehingga dari hal tersebut lahirlah sebutan metafora atau dalam
istilah umumnya disebut majas.
Kajian-kajian terhadap metafora
sebagai gaya bahasa, sebagaimana disampaikan Saeed (2005:346), pada umumnya
menggunakan pendekatan yang didasarkan pada dua pandangan yang berbeda.
Pendekatan pertama didasarkan pada pandangan klasik (Classical View)
terhadap metafora. Pandangan klasik ini muncul sejak beredarnya tulisan
Aristoteles (384-322 SM) tentang metafora. Aristoteles memandang metafora
sebagai satu jenis hiasan tambahan pada penggunaan bahasa dalam kehidupan
sehari-hari. Metafora dianggap sebagai alat retorik yang hanya digunakan pada
saat-saat tertentu untuk mencapai efek tertentu pula. Wujudnya menyimpang dari
bahasa yang dianggap masyarakat sebagai bahasa yang normal. Oleh karena itu,
setiap pendengar menangkap ujaran metafora, ia akan menangkapnya sebagai bentuk
ujaran yang aneh (anomalous),
sehingga ia harus berusaha sedemikian rupa untuk dapat merekonstruksi makna apa
sebenarnya yang terkandung dalam ujaran aneh itu.
Pendekatan kedua didasarkan pada
pandangan romantik (Romantic View). Kemunculannya terjadi sekitar abad
18-19 Masehi. Aliran ini memandang metafora sangat berbeda dengan pandangan
sebelumnya. Dalam pandangan romantik, metafora merupakan wujud integral dari
bahasa dan pikiran sebagai sebuah cara pencarian pengalaman. Sebuah bentuk
metafora dipandang tidak hanya sebagai refleksi dari bagaimana penuturnya
menggunakan bahasa, tetapi juga sebagai refleksi dari bagaimana pikiran-pikiran
penuturnya.
Lebih dari itu, sebagaimana yang
disampaikan Freeborn (1996:63) bahwa George Lokaff dan Mark Johnson, sebagai
penganut pandangan romantik, mengakui metafora bukanlah sekedar alat imajinasi
puitik dan hiasan retorik semata, tetapi meresap dalam kehidupan sehari-hari,
bukan sekedar ada dalam bahasa, namun menyatu dalam pikiran dan tindakan.
Melalui metafora yang digunakan, seseorang dapat diketahui pikiran dan
perbuatannya. Metafora mencerminkan siapa dan bagaimana pemakainya.
Peranan
metafora di situ tidak dapat dipisahkan dari bagian penting karya sastra. Hal
ini dikarnakan karya sastra memiliki ruang dimensi hayalan yang bukan hayalan
kosong belaka. Hayalan dalam sastra adalah hayalan dalam imajinasinya karna
berdasarkan atas kenyataan sebagai interpretasi kenyataan yang sesungguhan,
sehingga kenikmatan dalam membaca karya sastra akan terasa sentuhan maknanya
bahwa di dalam karya sastraitu terdapat proses, bukan hasil.
Fungsi
metafora sering dijumpai dalam puisi. Hal demikian terjadi karena puisi sebagai
bagian dari (genre) sastra tidak luput dari sentuhan inspirasi para pengarang.
Dunia puisi memiliki tempat yang lebih khusus, atau sedikit lebih tertutup
dibandingkan jenis karya sastra lainnya seperti prosa dan drama. Warna dan
bentuk puisi yang padat lebih dianggap menantang bagi para sastrawan. Puisi
sarat dengan intuisi, sehingga ruang imajinasi karya berdasarkan kepentingannya
diberangkatkan dengan menggunakan kata-kata kias. Kedudukan dan fungsi
kata-kata kiasan di sini berperan sebagai pengganti sesuatu yang lain, sehingga
muncullah sebutan metafora dan motonimi (Riffaterre, 1978:2). Menurut
Altenbernd, 1970:15) metafora itu adalah bahasa kiasan yang menyatakan sesuatu
seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama.
Secara
umum dalam pembicaraan puisi, bahasa kiasan seperti perbandingan,
personifikasi, sinekdok, dan metonimi biasa disebut dengan metafora, meskipun
sesungguhnya metafora itu berbeda dengan kiasan lain dan mempunyai sifat
sendiri. Metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan hal atau benda lain
(Pradopo, 2010:148).
Penjelasan
di atas menunjukkan bahwa metafora memiliki kedudukan penting dalam sastra,
khusus buat puisi. Perannya tidak hanya membangun struktur estetik karya
sastra, tetapi juga lebih dari itu semua. Kepentingan metafora sering dijumpai
sebagai pembentuk kalimat atau kata-kata (teks) yang biasanya menjadi tidak
biasa, sehingga teks yang tersusun menjadi istimewa. Teks yang semula berdiri
sebagai struktur isi akhirnya berfungsi ganda, dan memiliki pengertian
universal sebagai pengaruh dari kuatnya fungsi dan peran bahasa.
Contoh
puisi dengan metafora memukau banyak dijumpai dalam perpuisian Indonesia,
sehingga berbagai jenis atau bentuknya muncul bermacam- macam. Puisi dengan
metafora suasana alam atau benda alam, atau suatu tempat seperti gunung,
pantai, bukit, angin, laut, batu, daun, sungai, hujan sering dijumpai pada
konsep sajak Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, atau D.
Zwawai Imron. Sajak-sajak mereka adalah generasi emas yang mengusung metofora
dengan perspektif estetika alam. Tidak mengherankan puisi-puisi mereka mendapat
tempat yang baik di mata pembaca. Metafora dengan jenis berbeda dapat ditemukan
pada puisi Chairil Anwar, WS Rendra, Remy Sylado (Yapi Tambayong), atau Wiji
Tukul yang cenderung menggunakan metafora protes sosial, ketidakadilan, atau
kata-kata yang terkesan menentang kebijakan suatu rezim pemerintah. Puisi-puisi
mereka seolah mewakili suatu zaman yang tertindas, zaman yang harus melawan
keadaan agar tidak selalu menjadi korban penguasa, sehingga pada puisi mereka
sering ditemukan kata seperti peluru, darah, keji, palsu, lawan, mati, kejam,
hangus, bakar, atau kata-kata sejenis itu.
Sejalan
perkembangan puisi yang terus menemukan tempat sebagai media baca, pertumbuhan
puisi terus berlangsung dengan keanekaragaman ekspresi metafora yang semakin
khas, penuh warna, subtil, dan elaboratif. Para penulis genarasi atau angkatan
2000-lah yang diakui sebagai pemrakarsa ide-ide kreatif, bahkan jika berbicara
wilayah, maka Jawa Timur merupakan surga tempat penyair muda bermunculan,
penyair yang pada masa 2000-an diakui turut punya andil besar memberi warna
tersendiri bagi perpuisian Indonesia yang hampir kehabisan sentuhan kreatif.
Ada
sederet nama penyair dari Jawa Timur yang telah berhasil mendapat pengakuan
dengan bukti yang relevan di luar Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, dan Akhudiat.
Mulai dari generai Tengsoe Tjahjono, Aming Aminuddin, Beni Setia, Anas Yusuf,
kemudian disusul generasi W. Haryanto, Mardi Luhung, Ribut Wijoto, Tjahjono
Widjianto, Tjahjono Widarmanto, S. Yoga, sampai berlanjut pada generasi seperti
Mashuri, Aziz Manna, Deny Jatmiko, A. Muttaqin,
Timur Budi Raja, M. Helmy Prasetya, Didik Wahyudi, serta sederet nama
para penyair muda Jawa Timur lainnya. Khusus untuk nama M. Helmy Prasetya,
untuk kepentingan penelitian ini selanjutnya akan dijadikan pembahasan terkait
puisi yang ditulisnya pada awal tahun 2009, yaitu antologi puisi Sepasang Mata Ayu.
Kelebihan
dari Puisi Sepasang Mata Ayuyang
menjadi sumber data analisis ini adalah puisi-puisi di dalamnya beraliran
romantis, puisi yang arah pembacanya lebih menyukai tema-tema cinta kalangan
remaja, bahkan di atas kalangan remaja. Namun meski demikian, puisi tersebut
tidak dapat dianggap begitu saja sebagai puisi yang tidak berkualitas, sebab
jika ditelusuri apa yang terdapat dalam puisi Sepasang Mata Ayu merupakan reduplikasi secara tidak langsung
dengan gaya kepenulisan penyair Pablo Neruda (Chili) pada kumpulan puisi Ciuman Hujan yang diterjemahkan oleh Tia
Setiadi. Oleh sebab itu, untuk membuktikan keterikatan itu, karya Pablo Neruda
juga dijadikan sumber data analisis ini.
Penyampaian
di atas adalah salah satu daya tarik ketika membaca serangkaian puisi yang
terkumpul dalam buku puisi Sepasang Mata
Ayu.Hal lain yang tentunya menjadi daya tarik adalah sang penulis merupakan
penyair dari Madura (Bangkalan) yang masih tergolong angkatan muda, sehingga
dari pandangan tersebut menjadi sangat penting untuk diungkap proses
kreatifnya. Berdasarkan isi sajak yang ditulisnya, kandungan-kandungan
peristiwa di dalamnya mampu dirasakan oleh pembaca, karena rangkaian kata-kata
yang ada merupakan jalinan realita yang wajar. Metafora yang nampak di dalamnya
merupakan bentuk-bentuk estetika bahasa dalam dunia kepenulisan yang tentu
sangat menarik untuk ditelusuri. Diperkuat juga kaitan tersebut dengan
penggunaan bahasa yang terdapat dalam kumpulan puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda asal Cili.
1.2 Ruang Lingkup
Berdasarkan
latar belakang di atas, poin penting dalam analisis gaya bahasa yang membentuk
ruang estetika sajak adalah tentang (1) metafora berdasarkan sifatnya, (2)
metafora berdsarkan keterpakaiannya, dan (3) metafora berdasarkan bentuk
sintaksisnya. Kriteria tersebut perannya tidak lepas dari fungsi metafora yang
terdapat dalam puisi, sehingga makna puisi mampu dirasakan pembaca sebagai
bagian penting struktur puisi.
Dari
lingkup ini diformulasi masalah tentang jenis metafora sebagai penjabaran dari
topik dan pemaknaan dengan sudut pandang gaya bahasa, dengan kata lain jenis
metafora yang menunjukkan kesungguhan hati, keaslian, dan keakuratan untuk
menyingkap pemikiran peyair melalui masing-masing puisinya.
1.3 Rumusan Analisis
Beradasarkan
ruang lingkup di atas, rumusan analisis ini adalah mengungkap jenis-jenis
metafora berdasarkan sifat dan keterpakaian dalam kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy
Prasetya dan Ciuman Hujan karya Pablo
Neruda?
1.4 Tujuan Analisis
Tujuan analisis ini adalah mendeskripsikan
jenis-jenis metafora berdasarkan sifat dan
keterpakaian dalam
kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya
M. Helmy Prasetya dan Ciuman
Hujan karya Pablo Neruda.
1.5
Manfaat Analisis
1.5.1
Manfaat Teoretis
Secara teoretis manfaat penelitian
ini adalah memberikan sumbangan keilmuan untuk pengembangan penelaahan gaya
bahasa metafora dalam puisi dengan menggunakan pendekatan romantik sastra yang
berkaitan dengan kehidupan dunia cinta dalam sebuah puisi.
1.6.2 Manfaat Praktis
Secara
praktis hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan manfaat
a) Sebagai bahan acuan yang dapat
membantu pembaca memahami kandungan isi sebuah puisi sehingga dapat memperluas
wawasan. Khususnya tentang puisi Sepasang
Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan karya
Pablo Neruda.
b) Sebagai masukan bagi pengembangan
materi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.
c) Sebagai dasar acuan untuk mengadakan
penelitian lebih lanjut.
1.6 Definisi Operasional
Definisi
operasional dalam penelitian ini adalah suatu upaya untuk menyamakan persepsi
mengenai istilah penting yang terdapat dalam penelitian ini. Berikut definisi
operasional penelitian ini.
a) Stilistika
b) Gaya
bahasa adalah ragam pemakaian bahasa yang digunakan seseorang dalam menulis,
terutama untuk karya sastra.
c) Metafora
adalah perbandingan langsung, tidak menggunakan perumpaan kata seperti, bagai,
laksana, ibarat dan sebagainya.
d) Jenis-jenis
Metaforaadalah macam-macam dari bentuk metafora (perbandingan tidak langsung)
yang terdapat dalam keilmuan sastra, khususnya puisi.
e) Metafora
berdasarkan sifat adalah tentang metafora yang menegaskan bahwa contoh-contoh
ungkapan metafora seperti lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga
sedap malam, dan sebagainya
f) Metafora
berdasarkan keterpakaian adalah terpakai tidaknya sebagai metafora pada masa sekarang
ungkapan-ungkapan yang sebelumnya merupakan metafora.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Stilistika
Istilah style (bahasa Inggris) dapat diindonesiakan menjadi gaya bahasa
atau sekedar diadaptasikan menjadi ‘stile’.
Jadi istilah gaya bahasa dan stile menunjuk
pada pengertian yang sama. Namun, jika dilihat dari efisiensi bahasa istilah stile dipandang lebih hemat daripada
gaya bahasa (Nurgiyantoro, 2014:39).
Ada berbagai rumusan mengenai stile
yang ditulis orang dan beberapa di antaranya berikut dikemukakan. Stile atau
gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa dalam karya sastra, atau bagaimana
seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Abrams,
1999:303). Stile ditandai dengan ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan
kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk, bahasa figuratif dan sarana retorika,
penggunaan kohesi, dan lain-lain. Jadi, bagaimana cara seseorang, pembicara,
penulis, atau penutur bahasa, atau penutur bahasa mempergunakan bahasa adalah
stile yang dia pilih yang antara lain tampak dalam hal pilihan kata, ungkapan,
struktur kalimat, retorika, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2014:40).
2.2
Gaya Bahasa Metafora
Hendy (1991:69) mengemukakan bahwa
metafora berasal dari kata meta dan phoreo yang berarti bertukar nama atau
perumpamaan. Metafora adalah majas perbandingan langsung, yaitu membandingkan
sesuatu secara langsung terhadap penggantinya.
Waluyo (1987:84), dalam bukunya yang
berjudul Teori dan Apresiasi Puisi,
menyatakan bahwa metafora adalah kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan
itu tidak disebutkan. Metafora itu langsung berupa kiasan. Sebagai contoh
klasik, yaitu lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan
sebagainya. Contoh-contoh yang dipaparkan ini dikatakannya sebagai metafora
konvensional, yaitu metafora yang sudah lazim.Dalam puisi modern, banyak
dijumpai metafora yang tidak konvensional sebagai hasil upaya kreatif penyair.
Jenis metafora ini bersifat original. Ia hanya dimiliki oleh penyairnya.
Selanjutnya, Aminudin (1987:143)
juga mengajukan pengertian metafora yang menekankan pada kandungan makna
kiasnya. Aminudin mengemukakan bahwa metafora merupakan bentuk pengungkapan
yang di dalamnya terdapat hubungan makna secara tersirat, mengungkapkan acuan
makna yang lain selain makna sebenarnya. Suatu kata atau frasa tidak lagi
mewakili acuan maknanya, tetapi mewakili acuan makna yang dimiliki kata atau
frasa lain yang sepadan.
Ahli lain, yakni Saeed
(2005:345-346), juga membenarkan adanya pemindahan makna (concept transference) dalam metafora. Saeed menyatakan bahwa pada
umumnya, metafora disamakan halnya dengan simile bahwa pada keduanya terdapat
identifikasi kemiripan hal-hal yang dianalogikan. Padahal, metafora sebenarnya
lebih dari itu karena dalam metafora terdapat pemindahan konsep dari komponen
yang satu pada komponen yang lainnya. Komponen-komponen pembangun metafora itu
berupa domain target (target domain) dan domain sumber (source domain). Domain target, dalam terminologi I.A. Richard,
disebut sebagai tenor sedangkan domain sumber disebut sebagai vehicle.
Batasan yang diajukan para ahli di atas pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu munculnya makna kias sebagai akibat dari perbandingan antara dua objek secara langsung (directanalogy). Kedua objek yang dibandingkan tersebut sebenarnya merupakan objek-objek yang berbeda. Namun, salah satu objek memiliki kondisi-kondisi yang mirip atau bahkan mungkin sama dengan kondisi-kondisi yang dimiliki oleh objek yang lain. Artinya, kondisi suatu objek dapat menggambarkan kondisi objek lainnya. Objek-objek seperti inilah oleh penyair yang kreatif sering digunakan secara distributif sehingga lahir apa yang disebut dengan kiasan langsung dalam metafora.
Batasan yang diajukan para ahli di atas pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu munculnya makna kias sebagai akibat dari perbandingan antara dua objek secara langsung (directanalogy). Kedua objek yang dibandingkan tersebut sebenarnya merupakan objek-objek yang berbeda. Namun, salah satu objek memiliki kondisi-kondisi yang mirip atau bahkan mungkin sama dengan kondisi-kondisi yang dimiliki oleh objek yang lain. Artinya, kondisi suatu objek dapat menggambarkan kondisi objek lainnya. Objek-objek seperti inilah oleh penyair yang kreatif sering digunakan secara distributif sehingga lahir apa yang disebut dengan kiasan langsung dalam metafora.
Pengertian-pengertian di atas, bila
dicermati tampaknya dirumuskan oleh para ahli berdasarkan tinjauan secara
semantis. Sebuah kata - dapat pula berupa kelompok kata, nama, maupun istilah -
dapat dipakai sebagai perbandingan atau kiasan kata lain apabila keduanya
memiliki kandungan semantis yang mirip atau mungkin sama. Kata-kata itu
dianggap memiliki kandungan konsep yang sepadan sehingga konsep kata yang satu
dipakai untuk menggambarkan konsep kata yang lainnya. Objek yang satu digunakan
untuk menggambarkan kondisi objek yang lainnya.
Di samping rumusan pengertian
metafora yang didasarkan pada tinjauan aspek semantis sebagaimana dipaparkan
sebelumnya, ada pula rumusan-rumusan pengertian metafora yang didasarkan pada
tinjauan aspek sintaksis. Pada rumusan ini, sudut pandang para ahli dipusatkan
pada bagaimana hubungan dua hal yang dibandingkan itu dalam sebuah konstruksi
sintaksis. Mengingat kedua hal tersebut merupakan komponen-komponen pembangun
konstruksi kalimat metaforis. Sebagai kompenen-komponen yang dibandingkan,
keduanya pasti bersifat sepadan dan secara sintaksis hubungannya bersifat
koordinatif. Namun demikian, dalam sebuah konstruksi kalimat metaforis, justru
tidak diperlukan piranti formal lingustik yang berupa konjungsi komparatif
untuk menjalin hubungan di antara keduanya.
Rumusan pengertian metafora yang
menggunakan sudut pandang itu diajukan Siswantoro. Siswantoro (2005:27-28)
menyampaikan bahwa metafora sama halnya seperti simile, motafora juga
membandingkan antara objek yang memiliki titik-titik kesamaan, tetapi tanpa
menggunakan kata-kata pembanding seperti, sebagai, bagai, dan lain-lain.
Siswantoro secara tegas mengatakan bahwa ketiadaan konjungsi komparatif sebagai
piranti formal linguistik secara sintakitis merupakan keharusan dalam sebuah
metafora.
Hal serupa juga disampaikan Pradopo
dan Djajasudarma. Pradopo (2005:66) dan Djajasudarma (1999:21) menjelaskan
bahwa metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak
menggunakan kata-kata pembanding seperti, bagai, laksana, dan sebagainya.
Metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain. Metafora
menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang
sesungguhnya tidak sama.
Selain itu, Pradopo juga menjelaskan
bahwa ada metafora yang disebut dengan metafora mati (dead metaphor). Metafora mati adalah metafora yang sudah klise.
Metafora semacam ini sudah dilupakan orang bahwa itu metafora. Sebagai contoh
ungkapan kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan ini sudah
biasa dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Penyair yang kreatif menghindari
pemakaian metafora seperti ini. Ia akan mencari bentuk-bentuk ungkapan atau
metafora yang baru, yang original.
Para ahli di atas, membicarakan
metafora dari dua sudut pandang yang terpisah dan berbeda, yaitu dari aspek
semantis dan aspek sintaksis. Namun, ada juga ahli lain yang memandang bahwa
kedua sudut pandang itu merupakan satu-kesatuan integral yang harus dibicarakan
dalam pembahasan tentang metafora. Artinya, untuk mendapatkan penjelasan yang
lengkap dan memuaskan, kedua hal tersebut harus dibahas secara serempak,
sebagaimana yang diajukan Griffith, Freeborn, dan Keraf berikut.
Griffith (1982:59-60) menyampaikan
bahwa metafora memiliki dua pengertian, yakni pengertian secara umum (general meaning) dan pengertian secara
khusus (specific meaning). Secara
umum, metafora merupakan bentuk analogi, yakni perbandingan untuk mencari
persamaan-persamaan antara dua hal yang dibandingkan. Sementara secara khusus,
metafora merupakan jenis bentuk perbandingan tersendiri yang khas, yang berbeda
dengan simile. Jika simile membandingkan dua hal yang
berbeda ditandai dengan penggunaan kata like ‘seperti’ atau as ‘bagai atau
bagaikan’, maka metafora justru menghilangkan penggunaan kata-kata pembanding
seperti itu.Dijelaskan bahwa analogi dalam metafora terjadi secara langsung
atau bersifat implisit. Artinya, suatu hal dibandingkan secara langsung dengan
hal lain sehingga makna yang dikehendaki muncul secara tersirat dibalik
perbandingan itu. Untuk memperjelas batasan yang diajukan, Griffith memaparkan
contoh larik-larik puisi Shakespare yang berjudul Fair Is My Love. Perbandingan-perbandingan tak langsung dalam
larik-larik itu dijalin menggunakan kata as sebagai konjungsi komparatif.
Secara sintaksis, perbandingan-perbandingan seperti itu bersifat eksplisit,
bukan implisit sebagaimana perbandingan dalam metafora.
Freeborn (1996:63) menyatakan bahwa
dalam metafora sebutan atau keterangan atas suatu objek dipindahkan pada objek
lain yang berbeda tapi analog, sehingga sebutan atau keterangan-ketarangan itu
dapat berlaku dengan baik atas keduanya. Perbandingan yang terjadi dalam
metafora bersifat implisit karena hubungan kedua objek tanpa disetai kehadiran
konjungsi komparatif. Sementara, perbandingan yang terjadi dalam simile
bersifat eksplisit karena menggunakan konjungsi komparatif like ‘seperti’ atau
as ‘bagai/bagaikan’. Sebuah simile bila konstruksinya dimampatkan (to be compressed) akan dapat menjadi
metafora.
Penegasan yang sama juga disampaikan
Keraf (2006:139-140) bahwa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan
dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, seperti bunga
bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Metafora sebagai perbandingan
langsung, tidak menggunakan kata seperti, bak, bagai, bagaikan dan lain-lain.
Dalam metafora, pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Proses
terjadinya, sebenarnya sama dengan simile, tetapi secara berangsur-angsur
keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan. Selanjutnya,
dijelaskan pula bahwa metafora tidak selalu menduduki fungsi predikat, tetapi
dapat juga menduduki fungsi lain, seperti subjek, objek, dan sebagainya.
Metafora dapat berdiri sendiri sebagai kata. Di sinilah letak perbedaan
metafora dengan simile. Simile tidak dapat berdiri sendiri
sebagai kata karena keberadaan konteks sangat diperlukan untuk membantu
menentukan persamaan makna.
Rumusan yang agak berbeda dan
menarik untuk dikaji adalah rumusan definisi yang diajukan Wahab. Sebelum
mengajukan pendapatnya tentang metafora, Wahab (2006:65-67) mengemukakan bahwa
pembicaraan tentang metafora ada sejak jaman kuno, yakni sejak jaman
Aristoteles dan Quintilian. Menurut Aristoteles (384-322 SM), metafora merupakan
ungkapan kebahasan untuk menyatakan hal yang umum bagi hal yang khusus, hal
yang khusus bagi yang khusus, yang khusus bagi yang umum, atau dengan analogi.
Sementara bagi Quintilian (35-95 M), metafora dipandang sebagai ungkapan
kebahasaan untuk menyetakan sesuatu yang hidup bagi sesuatu yang hidup lainnya,
sesuatu yang hidup untuk sesuatu yang mati, sesuatu yang mati untuk sesuatu
yang hidup, dan sesuatu yang mati untuk sesuatu yang mati lainnya.Menurut
Wahab, kedua tokoh itu terjebak oleh cara-cara berpikir simplistis dan
dikotomis. Aristoteles dianggapnya terjebak pada pola berpikir umum-khusus atau
khusus-umum. Pendapat Quintilian dibatasi oleh kerangka berpikir hidup-mati
atau mati-hidup. Untuk itulah, Wahab mengajukan pengertian metafora yang lebih
fleksibel. Ia mengartikan metafora sebagai ungkapan kebahasaan yang tidak dapat
diartikan secara langsung, melainkan dari predikasi-predikasi yang dapat
dipakai baik oleh lambang maupun makna yang dimaksudkan oleh ungkapan kebahasan
itu. Dengan kata lain, metafora itu adalah pemahaman dan pengalaman terhadap
suatu hal yang dimaksudkan untuk hal lain oleh penulis atau penyairnya.
Dalam bukunya yang lain, Wahab
(2005:72) menjelaskan bahwa predikasi-predikasi yang dapat dipakai bersama
antara lambang (signifier) dengan yang dilambangkan (signified) akan membantu memudahkan pemahaman terhadap ungkapan
metafora. Hal ini karena makna yang dimaksudkan pada yang dilambangkan, dapat
diungkap melalui predikasi-predikasi yang berlaku pada lambang. Oleh sebab itu,
semakin banyak predikasi yang mungkin dapat dimunculkan dan dapat dipakai, akan
semakin baik dan jelas makna ungkapan metafora itu. Sebagai contoh, ungkapan
metafora Waktu adalah uang. Pada ungkapan ini, waktu sebagai signified, uang
sebagai signifier. Predikasi-predikasi yang dapat dipakai bersama adalah
berguna, berharga, sangat dibutuhkan, dipakai secara teratur. Ini membuktikan
predikasi-predikasi itu dapat dipakai bersama antara signifier uang dengan
signified waktu. Dengan demikian, makna yang dimaksud ungkapan metaforis
tersebut adalah waktu itu berharga nilainya, sangat berguna bagi siapa saja,
sangat dibutuhkan siapa saja, dan harus dipakai secara teratur sebagaimana
uang.
Lebih lanjut, ditegaskan pula bahwa
dalam menciptakan ungkapan-ungkapan metaforis, penyair tidak dapat dilepaskan
begitu saja dari intensitas penghayatan penyair terhadap segala sesuatu yang
ada di luar dirinya. Artinya, keseimbangan interaksi itu menggambarkan
kesimbangan persepsi penyair yang dapat ditelusuri melalui penggunaan lambang
dalam ungkapan metaforanya. Lambang-lambang yang dipakai dapat dikategorisasi
menurut ruang persepsi manusia. Taksonomi ruang persepsi manusia yang dipakai
Wahab (2006:71) dipinjam dari Haley, secara berurutan terdiri atas sembilan
ruang persepsi, yaitu Human, Animate,
Living, Objective, Terrestrial, Substantial, Energetic, Cosmos, dan Being.
2.3
Jenis-Jenis Metafora
Di bagian atas telah dijelaskan
bahwa gaya bahasa, termasuk metafora, merupakan cara khas penyair menggunakan
bahasa untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya pada orang lain (pembaca).
Setiap penyair yang kreatif akan mencari dan menemukan keaslianya
(karekteristiknya) masing-masing dalam bertutur. Kenyataan ini mengakibatkan
lahirnya begitu banyak corak dan ragam gaya bahasa, khususnya metafora. Hal ini
karena gaya bahasa kiasan, khususnya metafora, seolah-olah merupakan ladang
subur bagi para penyair untuk berkreasi menciptakan ungkapan-ungkapan yang khas
dan berdaya ungkap kuat tanpa melupakan estetika.
Meskipun begitu banyak corak metafora
yang ditemukan, pada bagian ini akan dipaparkan klasifikasi metafora ditinjau
dari beberapa segi, yaitu segi sifatnya, segi keterpakaiannya, dan segi bentuk
sintaksisnya. Selanjutnya, paparan yang dimaksud disajikan seperti di bawah
ini.
2.3.1
Berdasarkan Sifatnya
Dalam penjelasannya tentang
metafora, Waluyo (1987:84) menegaskan bahwa contoh-contoh ungkapan metafora
seperti lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan
sebagainya digolongkan sebagai metafora klasik (konvensional). Metafora klasik
(konvensional) adalah metafora yang sudah dimiliki masyarakat pemakai bahasa.
Metafora jenis ini lazim di-pahami sebagai bentuk metafora. Ia banyak digunakan
dalam komunikasi sehari-hari. Keberadaannya dapat dilacak dalam kamus-kamus idiom
(ungkapan).
Lebih lanjut, Waluyo menambahkan
bahwa dalam puisi-puisi modern, banyak dijumpai metafora yang tidak
konvensional sebagai hasil upaya kreatif penyair. Jenis metafora ini bersifat
original. Ia hanya dimiliki penyairnya.
2.3.2
Berdasarkan Keterpakaiannya
Pembagian metafora berdasarkan
keterpakaiannya yang dimaksudkan adalah terpakai tidaknya sebagai metafora pada
masa sekarang ungkapan-ungkapan yang sebelumnya merupakan metafora. Hal ini
karena adanya kenyataan bahwa bentuk-bentuk metafora tertentu yang sudah sangat
tua dan lazim dianggap tidak memiliki nilai kias lagi dalam kandungan maknanya.
Sebagaimana yang dijelaskan Pradopo (2005:66), ada metafora yang disebut dengan
metafora mati (dead metaphor). Metafora mati adalah metafora yang sudah klise.
Metafora semacam ini sudah dilupakan orang bahwa itu metafora. Sebagai contoh
ungkapan kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan metafora yang masih hidup dan yang sudah mati, Keraf (2006:139-140) menyatakan bahwa bila pada masa sekarang sebuah metafora masih dapat ditentukan makna dasar dari konotasinya, maka metafora itu masih hidup, tetapi bila konotasinya tidak dapat ditentukan lagi, maka metafora itu sudah mati, sudah merupakan klise.
Dalam kaitannya dengan metafora yang masih hidup dan yang sudah mati, Keraf (2006:139-140) menyatakan bahwa bila pada masa sekarang sebuah metafora masih dapat ditentukan makna dasar dari konotasinya, maka metafora itu masih hidup, tetapi bila konotasinya tidak dapat ditentukan lagi, maka metafora itu sudah mati, sudah merupakan klise.
Kebanyakan perubahan makna kata
mula-mula terjadi karena metafora. Metafora yang sudah sangat umum,
lama-kelamaan dilupakan orang itu
metafora sehingga makna yang baru itu dianggap sebagai makna yang kedua
atau ketiga, seperti: berlayar, berkembang, jembatan, dan sebagainya. Metafora
semacam ini adalah metafora mati.Dengan matinya sebuah metafora, pemakai bahasa
berada kembali di depan sebuah kata yang mempunyai denotasi baru. Metafora
semacam ini dapat membentuk sebuah kata kerja, kata sifat, kata benda, frasa
atau klausa, seperti menarik hati, memegang jabatan, mengembangkan, menduga,
dan sebagainya. Sekarang tidak ada orang yang berpikir bahwa bentuk-bentuk itu
tadinya adalah metafora.
BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diambil dari
buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya
M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan karya
Pablo Neruda. Dalam hal ini akan membahas beberapa temuan yang tersaji di
dalamnya terdiri atas jenis metafora yang di dalamnya terdapat 1) berdasarkan
sifatnya dan 2) berdasarkan keterpakaian.
4.1 Jenis Metafora dalam Puisi Sepasang Mata Ayu Karya M. Helmy
Prasetya dan Ciuman Hujan Karya Pablo
Neruda
Metafora dalam kajian genre sastra (puisi) pengertiannya tetap
mengarah pada sebuah arti kiasan perbandingan dua keadaan yang memiliki sifat
sama. Metafora sering digunakan oleh seorang penyair terhadap karya-karya yang
ditulisnya, sebagai upaya ciri khas sang penyair dalam menyampaikan buah
pikiran dan perasaannya pada oranglain. Setiap penyair dalam hal ini
berhubungan dengan penggunaan metafora yang dipakainya, merupakan usaha untuk
mencari dan menemukan keasliannya (karakteristik) dalam bertutur.
Berangkat dari kenyataan semacam itu, kemudian
mengakibatkan begitu banyaknya corak ragam bahasa kias yang timbul, yakni
metafora. Seolah-olah hal tersebut menjadi sebuah lahan subur bagi para penyair
tentunya untuk berkreasi menciptakan ungkapan-ungkapan yang khas dan memiliki daya ungkap yang kuat tanpa
melupakan estetika. Digunakannya ragam bahasa metafora sebagai cara penyair
mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap orang lain melalui
karya-karyanya, sehingga dampak yang dirasakan terkesan melampaui batas nalar
manusia.
Metafora sejauh ini perannya masih digunakan pada
penulisan sajak-sajak. Dalam sajak, akan banyak dijumpai bentuk-bentuk metafora
pada setiap struktur bait puisi yang ditulis, sebagai suatu susunan kata yang
mampu mewakili perasaan si penyair itu sendiri. Pengadaan metafora dalam sajak
biasanya bermacam-macam gaya dilakukan oleh sang penyair terhadap satuan objek
yang dikehendakinya. Penggunaan metafora inilah satu-satunya jalan penyampaian
bagi penyair yang mampu membantu segala bentuk ekspresi yang ia lahirkan jadi
indah dan memiliki kesan yang sangat tinggi. Sehingga bagi bagi seseorang yang
dikenai bentuk tuturan berbau metafora akan cepat luluh, terharu, mengharu biru
jiwa dan perasaannya sebab sesuatu (bahasa) dalam hal ini telah membuatnya
melambungkan angan-angan.
Entah mengapa sejauh ini perkembangan karya
sastra perpuisian di Indonesia pemakaian metafora tersebut lebih berorientasi
pada sosok perempuan. Sosok perempuan seakan menjadi satu-satunya objek tema
yang paling banyak digandrungi bagi setiap orang yang ingin menulis puisi.
Perempuan lagi-lagi menjadi sebuah urusan pribadi seseorang (penyair) yang
baginya sangat penting untuk dituangkan lewat karya sastra berupa puisi. Dan menjadi sebuah area paling sensitif yang
mampu menghasilkan berjibun karya bila landasan objek tema tersebut berkenaan
dengan sosok perempuan. Perempuan menjadi titik nilai yang begitu berharga
dibanding tema-tema lain, semisal pembicaraan tertuju masalah sosial, sejarah
lokal budaya, Tuhan, atau pun tema-tema lain yang sifatnya sedikit lepas dari
sosok pembicaraan tentang perempuan.
Bisa saja sebetulnya tema-tema di luar
pembicaraan mengenai perempuan dituangkan ke dalam sajak-sajak dengan
penggunaan metafora yang baik, dilakukan oleh penyair yang ingin atau tengah
sedang melahirkan karya sastra berupa sajak-sajak buah penyampaian pikiran dan
perasaannya yang peduli terhadap sesuatu. Namun hal tersebut imajinasi yang
terus ingin membicarakan si objek tidak semengalir ketika landasan temanya
fokus diarahkan berbicara tentang sosok perempuan. Bisa dimaklumi sebetulnya
mengapa objek perempuan mayoritas jadi sumber inspirasi banyak penulis.
Persoalan cinta dalam hal ini jadi faktor pemicu utama dekatnya sosok perempuan
dengan wilayah persoalan batin seseorang (penyair) yang mudah luluh dan terbuai
hasrat pikirannya karena menyangkut persoalan wajah, bentuk tubuh, pancaran
daya tangkap rasa yang terkesan lekas ingin menggurui dan langsung berniat
menuliskan karya.
Bagi kalangan remaja yang menyukai bahasa puitis
pun mencoba menulis puisi yang tidak lain pasti berbicara sosok perempuan yang
dielukannya. Sejauh itu pula bahasa yang digunakan melalui bentuk metafor yang
sederhana, semisal wajahmu seperti
rembulan di malam hari, matamu bening seperti embun, hatiku laksana daun-daun
gugur, dan lain sebagainya. Merupakan bentuk ungkapan sering tampak kita
dengar pola ekspresianya diungkapkan pada sosok perempuan yang dimaksud.
Penggunaaan bahasa ungkapan tersebut tentu seringkali digunakan dalam cara dia
menulis puisi. Perempuan sepertinya memiliki tatapan yang beda dibandingkan
laki-laki. Perempuan seakan menjadi satu hal yang sosoknya memiliki kandungan
metafor yang sangat tinggi. Sehingga tak khayal para sastrawan (penyair) banyak
menggunakan objek perempuan pada puisinya. Mungkin saja keberadaan perempuan
sentuhannya sangat tajam kena pada batin penyair. Atau pun sosok perempuan
memang pantas untuk disanjung keberadaaannya sebagai suatu yang ajaib dan
pantas untuk dituangkan ke dalam sajak.
Berbicara tentang sosok perempuan dalam hal ini
M. Helmy Prasetya adalah seorang penyair asal Bangkalan Madura yang berupaya
menjadikan perempuan sebagai tema pembicaraannya. Buku puisi lainnya yang
hampir serupa dengan bentuk puisi M. Helmy Prasetya adalah buku puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda. Namun
pada dua karya tersebut, baik cara M. Helmy Prasetya maupun Pablo Neruda
mengutarakan bahasa yang dipakai tampak memiliki karakteristik tersendiri
bagaimana struktur kalimat yang digunakan.
Bahasa yang digunakan sangat mudah diterima untuk dikonsumsi para
kalangan remaja khususnya.
Dalam
dua buku kumpulan puisi tersebut seluruhnya berkisah tentang jalinan percintaan
atau rasa cinta yang secara apik dikemas dengan menggunakan metafora-metafora
yang begitu dekat, mudah, dan tidak teralu sulit untuk dimaknai, bahkan
karenanya menghasilkan reaksi emosi pembaca. Sebut saja puisi yang berjudul:
“Alamat wajahmu”, “Matamu; gerimis pagi yang jatuh untuk hari-hari berikutnya”,
“Mata yang Membunuh”, “Mata Bermawar”, dan seterusnya terdapat dalam buku
kumpulan puisi karya M. Helmy Prasetya. Di karya Pablo Neruda terdapat dalam
karya puisi berjudul “Pagi” yang terdapat pada bagian ketiga, keempat,
kedelepan, dan ketujuhbelas yang akan
jadi bahasan penelitian karya kali ini.
Setidaknya kandungan jenis metafora yang
ditemukan dalam dua buku kumpulan puisi tersebut bentuk-bentuk bahasannya
terbagi menjadi beberapa macam, yakni berdasarkan sifat dan keterpakaiannya. Beberapa kandungan jenis
metafora tersebut yang akan menjadi sajian analisa mengenai kumpulan puisi yang
berjudul Sepasang Mata Ayu yang
ditulis M. Helmy Prasetya dan kumpulan puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda. Penjabaran yang dimaksud di atas
berikut penjelasannya.
4.1.1
Berdasarkan Sifatnya
Berdasarkan sifatnya, sajak-sajak yang terdapat
dalam buku kumpulan puisi Sepasang Mata
Ayu karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman
Hujan karya Pablo Neruda memiliki karakteristik tersendiri dalam
mendeskripsikan bentuk gaya tutur bahasanya. Karakteristik pengucapan tersebut
bisa dilihat dari keseluruhan teks penyajian dalam sajak-sajak yang dia tulis
berkonotasi pada satu titik pembicaraan mengenai Sepasang Mata. Sepasang mata
dalam hal ini menjadi semacam sumber inspirasi penyair untuk mengalirkan
sajak-sajaknya kepada sosok perempuan yang dimaksud. Sehingga karakteristik
penyampaian bahasa tuturnya tidak lepas dari pembicaraan tentang sepasang mata.
Seperti judul-judul sajak berupa: “Mata bermawar”, “Beri Aku Kesempatan Melihat
Matamu”, “Mata yang Membunuh”, “Matamu; Gerimis Pagi yang jatuh untuk Hari-hari
Berikutnya”, “Mata Setengah Nada”, “Dari Matamu Aku Belajar Mencintai
Kesetiaan”, dan lain-lain semua terangkum dan merupakan karakteristik gaya
sifat M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul Sepasang Mata Ayu. Keseluruhan beberapa
judul tersebut tampaknya menjadi sebuah landasan cara sang penyair menunjukkan
keasliannya (karakteristik) dalam ragam bahasa tuturnya kepada seseorang.
Sementera untuk puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda bentuk objek yang dijadikan pondasi
utama adalah perasaan cinta itu sendiri. Seperti yang sudah ditunjukkan oleh
beberapa bagian puisi yang sudah tercatat pada paragraph sebelumnya.
Pembahasan analisa pembentukan sifat dalam hal
ini setiap penyair tentu memiliki karakteristik masing-masing bagaimana dia
harus mengatur pola struktur pemilihan kata. Pola pemilihan kata tersebut
setidaknya bertujuan untuk pengidentitasan seorang penyair. Adanya semacam
pengertian pengidentitasan puisi dari seorang penyair dalam hal ini sebab
mengingat begitu banyaknya penyair-penyair tanah air bermunculan dari tahun ke
tahun yang sama-sama terhibur dengan wahana penulisan puisi sebagai jalan
membangkitkan pengkayaan karya sastra (puisi) di era zamannya masing-masing.
Sistem pengkarakteristikan bentuk cara penyampaian berdasarkan teks puisi dalam
hal ini mengingat puisi tersebut mengandung pengertian sifat bebas
mengekspresikan bentuk puisi karya penyair. Struktur penulisan bagaimana
penyair harus menciptakan karya puisnya. Dalam hal ini menurut periodisasinya
sudah mulai meninggalkan aturan sistem pola lama yang dibikin oleh
penyair-penyair zaman dulu.
Digunakannya struktur pola baru, dengan berani meninggalkan aturan
sistem lama. Dalam hal ini nuansa sastra lebih mengedepankan esensi rasa pada
kandungan sajak-sajak yang ditulis oleh penyair. Alhasil dari tahun-ke tahun
dampak yang timbul pada ranah pencaturan gaya puisi yang dihasilkan oleh
penyair terlihat adanya pengkubuan-pengkubuan terhadap bentuk dan gaya
kepenulisan yang diyakini oleh beberapa pihak merupakan sebuah identitas bagi
kaumnya yang sama-sama mencintai gaya kepenulisan yang demikian.
Berdasarkan konsepsi yang timbul di batin
kepenyairan tentang cara struktur bahasa sebagai media untuk mengkomunikasikan
puisi-puisinya untuk dikonsumsi masyarakat. Dalam hal ini penyair M. Helmy
Prasetya dan Pablo Neruda lewat buku kumpulan puisinya yang berjudul Sepasang Mata Ayu seakan sudah melakukan
pembuktian karakteristik bahasa puisi yang diciptakan beda dengan bentuk gaya
penyair lain. Sifat di sini lebih mengacu pada arahan konsumsi masyarakat
menilai sajak-sajak M. Helmy Prasetya dan Pablo Neruda tersebut bahasanya mudah
dicerna dan dipahami kandungan maknanya dalam realita kehidupan sehari-hari.
Membuat jalan pengertian agar puisi tersebut
cepat dimengerti masyarakat tentu tidak mudah melakukannya. Apalagi kandungan
esensi puisi tersebut memiliki dampak yang begitu besar pada pembaca sebagai
buku pengetahuan yang banyak mengandung amanat tentang hidup di sana.
Setidaknya hal tersebut dapat kita simak pada judul puisi “ Alamat Wajahmu”
bagaimana M. Helmy Prasetya mengungkapkan gaya tutur bahasanya ke dalam sebuah
sajak berikut ini.
“Aku memuja sepi jalan sebagai/
alamat wajahmu/
Sebentar lagi senja pipih, dan bibirku/
kukenali sebagai lembaran/
malam/
setelah kuingat ada yang berpijar/
dari bawah pipi dan matamu,/
aku semakin tahu/
kelak kaulah yang berjalan dalam/
pikiranku”
Berdasarkan sajak di atas yang berjudul “Alamat
Wajahmu”, bentuk sifat gaya penuturan M. Helmy Prasetya sangatlah memiliki
karakteristik tersendiri bagaimana dia mengkiaskan dirinya pada karya yang ia
tulis. Simak pada barisan awal kalimat pembuka judul puisi di atas berbunyi “Aku memuja sepi jalan sebagai alamat
wajahmu”. Si aku lirik dalam hal ini mengkiaskan dirinya laksana sepi jalan
yang ingin dia salurkan pada sosok perempuan yang dimaksud. Sedangkan mengenai
persoalan objek sang penyair menggunakan kata “Mata” sebagai landasan pokok
ciri karakteristik M. Helmy Prasetya lewat sajak-sajaknya. Suatu bentuk
penuturan yang sederhana, metafora yang digunakan pada gabungan kedua kata
“sepi jalan” mewakili ungkapan isi hati sang penyair sebagai buah usaha penceritaan
terhadap objek yang menjadi sumber masuknya inspirasi. Lalu berikutnya
pernyataan “setelah kuingat ada yang
berpijar/ dari bawah pipi dan matamu,/ aku semakin tahu/ kelak kaulah yang
berjalan dalam pikiranku” barangkali tidak ada semacam perumitan perihal
penerimaan pembaca terhadap karya M. Helmy Prasetya kali ini yang sejujurnya
berbicara tentang cinta. Pola tersebut sebagaimana yang dilakukan sang penyair
merupakan gaya bahasa tutur yang biasa digunakan sehari-hari. Bisa digaris
bawahi bentuk puisi semacam ini banyak disukai pembaca terutama kalangan para
remaja yang sedang jatuh cinta pada pasangan.
Tampak berbeda jauh dengan gaya tutur sastrawan
lain ketika bahasa sebagai media dalam mengkomunikasikan puisi masih kesulitan
dalam menanggapi atau pun menyelami maknanya satu persatu dalam hal ini masih
terkesan amat rumit dan membingungkan. Keluhan tersebut tampaknya tidak
selamanya seperti itu terasa di mata masyarakat yang menganggap memaknai puisi
sangatlah sulit. Dengan kehadiran sifat bentukan puisi karya M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan
puisinya berjudul Sepasang Mata Ayu peneliti
mencoba menyuguhkan bentuk sifat gaya kepenulisannya terhadap masyarakat yang
peduli terhadap karya sastra(puisi). Berdasarkan sifatnya inilah dijadikan
sebuah elemen yang mampu menunjukkan karakteristik penyair Helmy sendiri dalam
menuangkan bentuk perasaannya lewat sajak yang diciptakan.
Sementara untuk puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda tampak pada puisi berjudul “Pagi”
yang berbunyi sebagai berikut.
Cinta yang
pahit, setangkai violet dengan mahkota
durinya di
belukar derita-derita yang runcing,/ tombak kepedihan, amuk kegusaran:
bagaimana engkau datang/ menaklukkan jiwaku? Adakah kau bawa serta via dolorosa
Pada kutipan puisi di atas yang menjadi tolak
ukur metafora berdasarkan sifat diwakili oleh dua kata yaitu ‘tombak’ dan
‘kepedihan’. Pada dua kata tersebut sifat yang berbeda (bandingan) bertemu
untuk menyusun suatu kesatuan arti yang dibutuhkan oleh makna. Sehingga ketika
keduanya utuh menjadi kalimat lahirkan pengertian yang dapat menghidupkan
pembaca.
Bentuk kutipan puisi lain berdasarkan judul yang
terdapat dalam buku kumpulan puisi Sepasang
Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya menunjukkan eksistensinya terhadap gaya
pembentukan dari cara menggunakan bahasanya untuk mengungkapkan peran cinta
menjadi dapat mudah diterima pembaca. Puisi berjudul “Beri Aku Kesempatan
Melihat Matamu” akan peneliti sajikan ke dalam tambahan analisa pembahasan
puisi berdasarkan sifatnya. Simak bersama bunyi penuturan dialog ucap yang
tertera berikut ini.
“Kapan kau memberi aku kesempatan untuk/ melihat
matamu dengan baik. Bukankah telah kau/ punyai tatapan yang lengkap. Serupa
laut dan cahaya/ bulan, juga hijau bunga-bunga.
Lalu mengapa pula berhari-hari kau selalu membuat/
aku tunduk dan gemetar.
Berdasarkan
bentuk sajian kutipan pada judul puisi di atas. Bisa kita urai bentuk sifatnya
pada barisan kalimat yang berbunyi “Bukankah
telah kau/ punyai tatapan yang lengkap. Serupa laut dan cahaya/ bulan, juga
hijau bunga-bunga.” Bentuk metafora berdasarkan sifatnya pada sajian
kutipan puisi tersebut penyair lebih mengkiaskan sosok perempuan yang memiliki
tatapan mata yang bagus, indah, hal ini dikiaskan seperti laut, cahaya, bulan,
juga hijau bunga-bunga. Menjadi semacam pengandaian yang sifatnya
melambung-lambungkan angan dan perasaan. Namun di sanalah letak sifat yang
dimiliki oleh sang penyair M. Helmy Prasetya melalui sajak-sajak yang ia susun
sedemikian rupa. Tidak seperti halnya penyair lain melalui karya-karyanya harus
bersusah payah memikirkan puisi tersebut memiliki sifat kerahasiaan yang pada
umumnya menyimpan bangunan-banguan temanya pada pengaturan simbol-simbol dan
dalam bentuk konteks absurd atau gelap.
Dengan kajian maknanya tidak begitu sulit untuk
diselami. Hal tersebut seakan memberi penawaran tersendiri terhadap ruang baca
masyarakat ketika harus berinteraksi dengan bentuk gaya penuturan puisi M.
Helmy Prasetya yang beda dengan gaya tutur penyair lain pada umumnya. Bagaimana
pandangan masyarakat terhadap stigma puisi yang katanya menurut mereka sulit
untuk mendalami seluk-beluk kata yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut yang
memungkinkan seakan memberi pembekuan terhadap pembaca dalam menyelami arti
teks yang tersusun pada setiap bait puisi siapapun penyairnya. Tidak hanya itu
saja M. Helmy Prasetya sebagai penyair yang menganut aliran romantisme
percintaan yang mampu mengolah kalimat dalam sajak-sajaknya menjadi sebuah
sifat tersendiri yang dimilikinya.
Pada puisi Ciuman
Hujan karya Pablo Neruda metafora berdasarkan sifat dapat ditemukan pada
susunan kalimat dari puisinya pada bagian keempat yang berbunyi sebagai
berikut.
Kau akan
ingat berkah-berkah itu dari alam:/ bebauan yang lekang, lempung emas,/
ilalang-ilalang di semak dan akar-akar gila,/ duri-duri magis laksana barisan
pedang
Kutipan di atas menunjukkan adanya metafora
berdasarkan sifat dapat diamati pada kata ‘akar-akar gila’. Pada kesatuan kata
yang sebenarnya secara harfiah bertolak belakang ini, ketika masuk ke dalam
gaya bahasa menjadi bahasa yang cenderung aneh namun dapat melahirkan dampak
estetika makna yang benar-benar memikat pembaca. Kata gila identik dengan
kebutuhan sifat yang melekat pada manusia sebagai identitas kejiwaan, kata-kata
akar juga merupakan kata yang fungsinya identik dengan sifat biologi seperti
yang terdapat pada tumbuhan. Jadi ketika dua kata tersebut dijadikan satu akan
melahirkan bias makna yang sangat puitis.
Selanjutnya, berikut sajak yang mencerminkan
jenis metafora berdasarkan sifatnya terdapat pula pada sajak yang berjudul “
Mata Bermawar”. Mari kita simak bentuk
penuturan dialognya tersaji berikut ini.
“Sampai hari ini aku memang tak ingin
mengarti-kannya sebagai/ tanda dari degup jantungmu yang dingin, atau itukah/
sebenarnya isi cintamu yang kau sebut-sebut hanya kegugupan/ dari sebuah jalan
yang tanpa sengaja telah kau lalui, menuju/ tempat di mana aku diam dan
tinggal. Sejauh itu, aku tetap/ tidak mengerti mengapa gemar kau simpan
bayangan/ matahari ke balik matamu sendiri, sedang aku tak/ berdaya membacanya.
Berdasarkan puisi berjudul “Mata Bermawar di
atas, bila kita simak orientasi tuturan
kata demi kata yang terbaca pada setiap bait puisinya, aku lirik pada bagian
tutur penyampaiannya berusaha dikiaskan sebagai sebuah keadaan suatu jalan.
Semisal hal tersebut tersaji pada bunyi barisan kalimatnya “atau itukah/ sebenarnya isi cintamu yang kau sebut-sebut hanya
kegugupan/ dari sebuah jalan yang tanpa sengaja telah kau lalui, menuju/ tempat
di mana aku diam dan tinggal.” penggunaan metafora dalam sifat penuturannya
menjadi orientasi penyair dalam melakukan daya ungkap perasaan terhadap sosok
perempauan yang dicintainya. Tidak ada hal dari pikiran pembaca tentunya untuk
menganalisa kata demi kata yang tersaji di dalamnya. Inilah yang barangkali
karakteristik puisi karya M. Helmy Prasetya
mudah diterima kalangan muda yang biasanya penggunaan kata-kata tersebut
adalah bahasa puitis yang digunakan masyarakat.
Bentuk sifat penuturan lain dari beberapa kutipan
judul teks sajak-sajak yang diciptakan M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan
puisnya kali ini berjudul Sepasang Mata
Ayu dapat kita simak bersama-sama bentuk olahan penuturannya yang
senantiasa pemakaian metafora untuk melengkapi estetika penceritaannya tampak
dilihatnya bagus secara visual teks yang tersaji di dalamnya. Berikut ini akan
kita simak sajak yang berjudul “Kau Pernah Kuanggap Segalanya” yang bisa kita
jadikan sebagai sampel tambahan mengenai sajak-sajak karya M. Helmy Prasetya
lewat penyampaian bahasa yang digunakan memiliki ciri khas tersendiri sifat
teksnya.
“Aku pernah sebut engkau sebagai alasan hidupku/
Aku pernah sebut engkau sebagai sesuatu yang/ selalu mendatangkan kekhawatiran/
Aku pernah katakan engkau sebagai keajaibanku/
Aku pernah katakan engkau sebagai pecahan asmara/ dan rintik hujan/
Berdasarkan sajian kutipan teks puisi yang
tertera di atas sedikit beda bentuk struktur penyampaian yang dilakukan M.
Helmy Prasetya untuk mengungkapkan ekspresi batinnya pada sosok perempauan yang
menjadi objek fokus penceritaan. Ada pengkayaan bagaimana dia harus meneriakkan
kata-katanya tersebut pada sosok perempuan yang ia kagumi sebagai gerak suara
batinnya yang benar-benar ingin luapkan kepada sang perempuan. Bila kita ulas
kembali dan menyimak gaya penuturan kalimat yang terdapat pada judul sajak di
atas terdapat sedikit perbedaan bentuk struktur
seperti pemakaian pengulangan gabungan beberapa kata “aku pernah katakan engkau”. Hal
tersebut yang menjadi sifat ciri khas sang penyair dalam mencitrakan
perasaannya untuk perempuan tersebut.
4.1.2
Berdasarkan Keterpakaian
Jenis metafora yang kedua adalah jenis yang
berdasarkan keterpakaian. Acuan puisi yang mengarah pada metafora jenis ini
tidak lain adalah karya-karya yang bermunculan pada periode terkini. Periode di
sini, adalah masa di mana karya sastra (puisi) tersebut muncul di awal tahun
70-an. Pada periode tersebut sajian-sajian puisi yang ada telah mengarah pada
bentuk yang bebas. Tidak lagi terikat oleh suatu hubungan seperti yang terjadi
pada puisi-puisi lama. Pola keterpakaian di sini dimaksudkan pada bentuk-bentuk
metafora yang digunakan yang masih mengandung nilai hidup dan masih diterima
oleh masyarakat sebagai sebuah sajian yang berbentuk baru.
Pola keterpakaian pada sajak-sajak yang ditulis
M. Helmy Prasetya memberi semacam pendistribusian kepada pembaca yang memiliki
keinginan untuk melakukan orientasi
pengenalan lebih dalam mengenai struktur kebahasan yang terdapat pada
sebuah teks karya sastra (puisi) yang masih minim untuk dikenali lebih dekat
suatu proses penyampaian makna secara keseluruhan oleh masyarakat. Berdasarkan
metafora keterpakaian yang terdapat pada buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy
Prasetya setidaknya secara struktur penyampaian sajak-sajaknya memiliki
karakteristik yang berdiri sendiri sebagai ruang gerak pada sebuah wahana
pencaturan ragam bentuk puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair di zamannya.
Pola keterpakaian seperti yang telah dilakukan oleh M. Helmy Prasetya ini
seakan menganggap penuturan sebuah bahasa teks dalam puisi tidak begitu diperumit
jalan pengkomunikasian terhadap dunia baca masyarakat ketika harus menemukan
jalan pencapaian makna teks yang terkandung dalam puisi.
Keterpakaian yang menjadi satu bentuk dari jenis
metafora ini dapat diambil dari contoh puisi yang ditulis oleh M. Helmy
Prasetya yang berjudul “Pada Ujung Pagi”. Berikut bunyi keterangannya.
“Ayu, bibirmu bening/
dan pagi membayang di ujungnya./
Dan tiupan matamu, sungguh seperti/
buku harian.”
Keterpakaian berdasarkan judul puisi di atas
seakan tidak membebankan sistem bagaimana pola sajak tersebut harus melibatkan
unsur-unsur pembentukan tata cara puisi yang mengacu pada sistem pola aturan
lama penulisan puisi. Bisa kita simak kembali penuturan kalimat di atas yang
menyatakan “Ayu, bibirmu bening/ dan pagi
membayang di ujungnya./Dan tiupan matamu, sungguh seperti/ buku harian.”
Pola keterpakaian mengenai penuturan puisi di atas benar-benar dirasakan dan
mungkin sudah jelas ada pembeda dengan gaya tutur penyair lain dalam
mengoperasikan sajak-sajaknya ke dalam suatu wahana pergumulan karya sastra
puisi yang banyak penyair ciptakan sedemikian rupa bentuk ekspresi
penyampaiannya. Seperti pada bunyi kalimat/bibirmu bening/pagi membayang/
tiupan matamu/segalanya berdasarkan kandungan kata-kata tersebut terasa
kesannya masih bisa dirasakan dan hidup. Jika dibandingkan dengan pola
keterpakaian puisi zaman dulu, pola mereka dalam penciptaan sajak masih kesan
terikat dengan sistem. Sehingga keberadaan puisi masih terkesan ada
pengurungan. Sistem ketergantungan di situ yang membuat penyair seakan memiliki
ruang keterbatasan dalam membebaskan imajinasinya dalam berkarya.
Sementara untuk puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda tampak pada puisi berjudul “Pagi”
pada bagian delapan yang berbunyi sebagai berikut.
Bukan saat
yang kuning/ sewaktu musim gugur mendaki ke pohon-pohon anggur;/ andai engkau
bukan roti beraroma bulan/ meremas-remas, menebarkan serbuknya menyeberangi
langit,
Pada kutipan puisi di atas yang menjadi tolak
ukur metafora berdasarkan keterpakaian terdapat pada peran kata yang diwakili
oleh kalimat ‘musim gugur mendaki’. Pada dua kata tersebut keterpakaian
melahirkan bandingan untuk melahirkan peran baru pada arti kata pada makna yang
diinginkan. Keterpakain di sini yang dimaksud tidak lain adalah penggunaan metafora
yang berperan ganda. Kata ‘musim gugur’ dipadukan dengan kata ‘mendaki’
melahirkan efek bandingan yang sangat indah. Kepentingan ini dalam menyusun
suatu kesatuan arti yang dibutuhkan oleh makna benar-benar member pengaruh
kepada pembaca sebagai sebuah bacaan yang khas sebagai karya sastra.
Seiring berkembangnya periodisasi penyair tanah
air dari tahun ke tahun dengan puisi tetap dijadikan sebagai senjata yang
paling ampuh untuk menaklukkan polemik sosial, pemberontakan pribadi yang
merasa terkekang oleh keadaan, atau pun puisi dijadikan sebuah tolak ukur
gambaran struktural pembangunan suatu bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Sehingga dari mereka (penyair) yang begitu memiliki sifat keprihatiannanya pada
sebuah dampak yang timbul di masyarakat, menyebutnya sastra (puisi) pantas
untuk ditulis dan dibacakan kepada mereka.
Di sini, berbicara tentang puisi berdasarkan
keterpakaian, sekali lagi M. Helmy Prasetya dan Pablo Neruda membebaskan cara
dia pribadi mengungkapkan sajak-sajaknya dalam buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu dan Ciuman Hujan. Aliran yang digunakan,
bahasa yang disuguhkan tampak berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri
sebagaiamana esensi dari pertanyaaan mengapa puisi itu harus ada dan harus
tetap dilahirkan dari kolong sunyi mata batin penyair yang terkesibak oleh suka
duka masalah yang menyeruak sebagai upaya pembebasan sepihak atas dirinya yang
merasa terkekang oleh situasi keadaan yang menekannya untuk harus menuliskan
sebuah puisi sebagai gamabran jujur isi hati yang ia betul-betul rasakan pada
seseorang. Usaha tersebut M. Helmy Prasetya lakukan pada seorang perempuan yang
memiliki sepasang mata yang bagus yang menimbulkan getaran jiwa, mengharu biru
seperti kesannya orang yang sedang jatuh hati pada sosok pribadi perempuan.
Unsur keterpakaian tersebut tampaknya dalam hal
ini sudah dilakukan oleh M. Helmy Prasetya dengan gaya penuturan sajaknya yang
barangkali dalam hal ini bentuk-bentuk puisi tersebut banyak diminati oleh
kalangan remaja atau pun mahasiswa.
Seperti berikut ini bentuk sajian ungkapan sajaknya yang fokus berbicara
tentang kekagumannya pada seorang perempuan. Lewat sajak yang berjudul “Matamu,
Ayu”. Mari kita simak bentuk penuturannya.
“aku menyukai cara matamu melihat/
aku kagumi gerak matamu ketika kau/ menatap/
seperti ujung laut, seperti kilauan”
Berdasarkan kutipan sajak yang tersaji di atas,
pola keterpakaian terdapat pada bunyi “aku
kagumi gerak matamu ketika kau/ menatap”. Bentuk metafora berdasarkan pola
keterpakaiannya tertuju pada pengkiasan gerak mata yang dilakukan oleh
perempuan. Begitu romantisnya hal tersebut dilakukan oleh M. Helmy Prasetya
pada sosok perempuan yang memiliki kandungan mata yang indah, yang bergerak pun
mampu memberi daya efek pada hal-hal yang menyentuh.
Sebagai salah satu bentuk dari cara penyair
membebaskan kata-katanya, unsur keterpakaian tersebut dari seorang penyair M.
Helmy Prasetya kiranya cepat digauli bentuk-bentuk puisinya oleh kalangan
masyarakat sehari-hari. Karya-karya yang terdapat dalam buku kumpulan puisi
sepasang mata ayu ini seakan menjadi konsumsi masyarakat sebagai langkah mudah
untuk memahami karya sastra (puisi) lebih dekat. Mungkin tujuan inilah M. Helmy
Prasetya meluruskan karya-karyanya demi prioritasnya sebagai penyair yang
senang mengunakan cara penyampaian dengan gaya tutur bahasa yang romantis dan
juga mungkin hal tersebut untuk kepentingan masyarakat baca yang belum paham
mengenai seluk belum penulisan puisi.
Untuk puisi Ciuman
Hujan karya Pablo Neruda metafora keterpakaian tampak pada puisi berjudul
“Pagi” pada bagian tujuh belas yang berbunyi sebagai berikut.
Aku tak
mencintaimu seakan kau mawar bergaram atau menika,/ atau panah-panah bunga
anyelir yang diluncurkan nyala api./ Aku mencintaimu bak benda-benda tertentu
yang dicintai,/ dalam rahasia, di antara bebayang dan jiwa
Pada kutipan puisi di atas yang menjadi pilihan
untuk dikatakan memiliki kandungan metafora berdasarkan keterpakaian diwakili
oleh dua kata yaitu ‘mawar’ dan ‘bergaram’. Dua kata tersebut keterpakaian
memiliki kesamaan dengan contoh kata yang terjadi pada kutipan sebelumnya.
Keterpakaian yang berbeda (bandingan) yang dikombinasikan oleh dua peran kata
tersebut mengkombinasi menjadi sebuah majas atau baya bahasa yang citra
bandingannya benar-benar hidup dan penuh makna. Dari hal itu, ciri dari suatu
karya seseorang yang mampu melakukan pengkombinasian itu, niscaya akan pendapat
penilaian bahwa karya sastra tersebut penuh dengan karakter yang berbeda dengan
yang lain.
Tetap pada pembahasan pola puisi berdasarkan
keterpakaiannya, selanjutnya akan kita simak sajak penuturan dari kutipan
beberapa sampel yang telah diambil dari buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy
Prasetya yang berjudul “Matamu; Gerimis Pagi yang Jatuh untuk Hari-hari
Berikutnya”. Berikut bunyi penuturan sajaknya.
“Aku telah/
mencintaimu dengan mencatat seluruh bentuk senyum
yang/ kau kirimkan kepadaku sebagai satu isyarat yang sanggup/
menyembunyikan kebiasaan burukku menjadi semacam/
keindahan yang kuikat kuat-kuat ujungnya, tapi selalu gagal/ kuterjemahkan,
hingga di hari-hari kita tak ada perseteruan/ yang pantas dianggap menakutkan
selain diri sendiri./ Atau perlukah kukatakan lagi mengapa aku harus menjadi/
tanah dan batu-batu untuk tangkai bunga mawar yang/ tumbuh di sepanjang jalan
menuju rumahmu, sebelum/ sepasang matamu itu benar-benar jatuh menjadi pagi,/
untuk hari-hari selanjutnya.” /
Apa yang menjadi tujuan M. Helmy Prasetya dengan
gaya bentuk penuturan sajak-sajaknya tentu tidak ingin ditunjang berbau
kepentingan mendapatkan respon sepihak dari masyarakat yang butuh pengakuannya
sebagai penyair romantis. Puisi ada dan dilahirkan sepenuhnya dari ruang gerak
hati sang penyair yang sedang dirundu kegelisahan dengan landasan niat luhur
untuk membuktikannya kepada sosok perempuan yang dicintainya yang tentu dalam
hal ini pada judul buku kumpulan puisi Sepasang
Mata Ayu memiliki ketahanan mata yang indah bila ia sedang menatap,
bergerak, atau pun memejamkan sesuatu yang menghampirinya.
Berdasarkan pola keterpakaian bahasa yang
digunakan M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan puisi yang berjudul Sepasang Mata Ayu, dalam hal ini menjadi
ciri khas tersendiri dari cara bagaimana dia harus menyusun kata untuk
produktivitas karya-karyanya terhadap perkembangan sastra masa kini. Sejauh
keinginan untuk menghindari aturan baku yang lama pada pola penulisan sebuah
puisi, mau tidak mau hal tersebut sangat ingin dihindari oleh M. Helmy Prasetya
sebagai sesuatu yang mengekang sang penyair untuk bebas mengekspresikan diri ke
dalam saja-sajak yang ia tulis. Kebebasan tersebut benar-benar sangat dirasakan
pada seluruh judul sajak yang terangkum dalam buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu.
Sebagai tambahan pembahasan mengenai puisi
berdasarkan keterpakaiannya, berikut akan peneliti sajikan sebuah sajak dengan
judul “Mata Bermawar”. Berikut bunyi kutipannya kita simak baca
penuturannya.
“Pada kedalaman matamu, samakah antara kisah
cintaku/ dengan wangi mawar yang pernah kau tunjukan di sebuah/ pagi kepadaku,
yang kau bawa dengan selembar catatan biru/ seraut wajah, di mana maknanya yang
merah tak sempat/ kupahami sebagai peristiwa yang nantinya akan merobek-/ merobek
juga jalan dan pikiran kita menjadi satu asmara/ yang selalu basah oleh hujan.
Berdasarkan uraian sajak di atas, jenis metafora
berdasarkan keterpakaiannya bisa kita simak pada barisan potongan kalimatnya
yang berbunyi “Pada kedalaman matamu,
samakah antara kisah cintaku/ dengan wangi mawar...”. Ungkapan bentuk
metafora di atas kita tunjuk sebagai usaha pembentukan gaya penyampaian yang
dilakukan M. Helmy Prasetya ketika meluapkan perasaan cintanya pada perempuan
bernama Ayu Pujiyana. Tetap pada persoalan menyangkut metafora bunyi tentang
sepasang mata. Aku lirik dalam
kutipannya mencoba menanyakan cintanya kepada sang perempuan lewat pengandaian
wangi mawar. Wangi mawar selayaknya kita asumsikan adalah bunga yang
menciptakan bau harum, semerbak wangi bunga. Dalam hal ini M. Helmy Prasetya
menggunakan pengkiasan cintanya kepada sang perempuan tersebut melalui bentuk
gugusan sifat dari bunga mawar yang memiliki warna merah.
Mungkin demikian sifat yang diinginkan sang
penyair melambangkan bentuk cintanya dengan warna merah. Namun di sisi lain
tanda dari sebuah pelambangan warna merak itu sendiri pada akhirnya berubah
fungsi menjadi sebuah jalan yang merusak, seperti yang terkutip lanjutan
potongan bunyinya “di mana maknanya yang
merah tak sempat/ kupahami sebagai peristiwa yang nantinya akan merobek-/
merobek juga jalan dan pikiran kita menjadi satu asmara/ yang selalu basah oleh
hujan.” Metafora berdasarkan keterpakaian tersebut terletak pada peralihan
pelambangan cinta seperti merah mawar jadi sesuatu yang merobek-robek jalan
pikiran.
Sisi layaknya sebuah pengutaraan dialog ucap
seperti orang yang tengah kasmaran. SelamaNya sang penyair M. Helmy Prasetya
pertahankan sebagai sebuah identitas karakteristik dia dalam menulis sebuah karya yang mampu memberi
sentuhan lain bagi pembaca yang ingin berorientasi pada dunia sastra sekelas
puisi. Di sini ada perentangan jalan mudah sekan memang telah dibekali oleh
sang penyair untuk membatasi ruang gerak masyarakat dengan dunia seorang
penyair lain yang biasa menciptakan sajak-sajak dengan penjabaran makana yang
sulit dimengerti oleh masyarakat awam yang mungkin hal tersebut hanya penyair
dan ahli sastra yang mampu mengenali seluk beluk pernyataan yang diungkapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi
Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Endaswara,
Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian
Sastra. Yogyakarta: Caps.
Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya
Bahasa. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Neruda, Pablo. 2009. Ciuman Hujan. Yogyakarta: Madah
Nurgiyantoro, Burhan. 2014. Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Prasetya, M. Helmy. 2009. Sepasang Mata Ayu. Bangkalan: Findama
Production
Ratna, Nyoman Kutha S.U. 2010. Sastra dan Cultural Studie (Representasi
Fiksi dan Fakta). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Artikel yang menarik, tetapi untuk mendialogkan teori Haley, mungkin artikel singkat saya tentang teori Haley dalam link https://jokokusmanto.blogspot.co.id/2017/08/kekeliruan-kekeliruan-dalam-memahami.html bermanfaat sebagai dialog keilmuan untuk memajukan ilmu bahasa di Indonesia.
BalasHapus