Sabtu, 12 Desember 2015

GAYA BAHASA METAFORA SEPASANG MATA AYU KARYA M. HELMY PRASETYA DAN CIUMAN HUJAN KARYA PABLO NERUDA oleh DIAH MAYSELLA RACHMAN 20152110025

GAYA BAHASA METAFORA SEPASANG MATA AYU KARYA M. HELMY PRASETYA  DAN CIUMAN HUJAN KARYA PABLO NERUDA     


oleh:  
DIAH MAYSELLA RACHMAN 
20152110025




BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Persoalan bahasa adalah jangkauan keilmuan yang luas hingga menjangkau pada ranah sastra yang banyak melahirkan ragam gaya bahasa di dalamnya. Bahasa dalam karya sastra menciptakan fungsi sebagai kebutuhan yang yang tidak terbatas. Mengingat karya sastra yang mediumnya bahasa secara hakikat sastra adalah rekaan, dengan sebutan yang lebih populer, yaitu imajinasi. Berbeda dengan kenyataan dalam ilmu kealaman, kenyataan dalam sosial adalah kenyataan yang sudah ditafsirkan. Berbeda dengan imajinasi dalam kehidupan sehari-hari, yang dianggap sebagai semata-mata khayalan, imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang didasarkan atas kenyataan, imajinasi yang juga diimajinasikan oleh orang lain. Masalah ini perlu dijelaskan dengan pertimbangan bahwa sebagai karya seni karya sastra tidak secara keseluruhan merupakan imajinasi (Ratna, 2010:306-307).
Fenomena karya sastra banyak mendatangkan pengertian yang dapat disepakati sebagai hasil produksi realita hidup yang beragam. Endraswara (2011:7) menyatakan bahwa karya sastra adalah fenomena unik. Ia juga fenomena organik. Di dalamnya penuh makna dan fungsi. Makna dan fungsi ini sering kabur dan tak jelas. Oleh karena, karya sastra memang dengan imajinasi. Itu sebabnya, peneliti sastra memiliki tugas untuk mengungkap kekaburan itu menjadi jelas. Peneliti sastra akan mengungkap elemen dasar pembentuk sastra dan menafsirkan sesuai paradigma atau teori yang digunakan. Di sisi lain, medium tama sastra adalah bahasa, yang merupakan titik sentral berdirinya suatu karya menjadi sebuah bacaan yang siap dinikmati oleh pembaca.
Teeuw (dalam, 1986:1-2) mengemukakan bahwa mempelajari sastra berdasarkan aspek bahasa ibarat memasuki hutan; makin ke dalam makin lebat, makin belantara. Di dalam ketersesatan itu ia akan memperoleh kenikmatannya. Dari pendapat ini terungkap bahwa karya sastra adalah fenomena kemanusiaan yang kompleks dan dalam. Di dalam penuh makna yang harus digali melalui penelitian yang mendalam pula. Lebih-lebih sastra yang bergenre puisi, yang penekanan tafsirnya membutuhkan pembacaan intens dan teliti untuk mengenali kekuatan bahasa di dalamnya, sehingga dari hal tersebut lahirlah sebutan metafora atau dalam istilah umumnya disebut majas.
Kajian-kajian terhadap metafora sebagai gaya bahasa, sebagaimana disampaikan Saeed (2005:346), pada umumnya menggunakan pendekatan yang didasarkan pada dua pandangan yang berbeda. Pendekatan pertama didasarkan pada pandangan klasik (Classical View) terhadap metafora. Pandangan klasik ini muncul sejak beredarnya tulisan Aristoteles (384-322 SM) tentang metafora. Aristoteles memandang metafora sebagai satu jenis hiasan tambahan pada penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Metafora dianggap sebagai alat retorik yang hanya digunakan pada saat-saat tertentu untuk mencapai efek tertentu pula. Wujudnya menyimpang dari bahasa yang dianggap masyarakat sebagai bahasa yang normal. Oleh karena itu, setiap pendengar menangkap ujaran metafora, ia akan menangkapnya sebagai bentuk ujaran yang aneh (anomalous), sehingga ia harus berusaha sedemikian rupa untuk dapat merekonstruksi makna apa sebenarnya yang terkandung dalam ujaran aneh itu.
Pendekatan kedua didasarkan pada pandangan romantik (Romantic View). Kemunculannya terjadi sekitar abad 18-19 Masehi. Aliran ini memandang metafora sangat berbeda dengan pandangan sebelumnya. Dalam pandangan romantik, metafora merupakan wujud integral dari bahasa dan pikiran sebagai sebuah cara pencarian pengalaman. Sebuah bentuk metafora dipandang tidak hanya sebagai refleksi dari bagaimana penuturnya menggunakan bahasa, tetapi juga sebagai refleksi dari bagaimana pikiran-pikiran penuturnya.
Lebih dari itu, sebagaimana yang disampaikan Freeborn (1996:63) bahwa George Lokaff dan Mark Johnson, sebagai penganut pandangan romantik, mengakui metafora bukanlah sekedar alat imajinasi puitik dan hiasan retorik semata, tetapi meresap dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar ada dalam bahasa, namun menyatu dalam pikiran dan tindakan. Melalui metafora yang digunakan, seseorang dapat diketahui pikiran dan perbuatannya. Metafora mencerminkan siapa dan bagaimana pemakainya.
Peranan metafora di situ tidak dapat dipisahkan dari bagian penting karya sastra. Hal ini dikarnakan karya sastra memiliki ruang dimensi hayalan yang bukan hayalan kosong belaka. Hayalan dalam sastra adalah hayalan dalam imajinasinya karna berdasarkan atas kenyataan sebagai interpretasi kenyataan yang sesungguhan, sehingga kenikmatan dalam membaca karya sastra akan terasa sentuhan maknanya bahwa di dalam karya sastraitu terdapat proses, bukan hasil.
Fungsi metafora sering dijumpai dalam puisi. Hal demikian terjadi karena puisi sebagai bagian dari (genre) sastra tidak luput dari sentuhan inspirasi para pengarang. Dunia puisi memiliki tempat yang lebih khusus, atau sedikit lebih tertutup dibandingkan jenis karya sastra lainnya seperti prosa dan drama. Warna dan bentuk puisi yang padat lebih dianggap menantang bagi para sastrawan. Puisi sarat dengan intuisi, sehingga ruang imajinasi karya berdasarkan kepentingannya diberangkatkan dengan menggunakan kata-kata kias. Kedudukan dan fungsi kata-kata kiasan di sini berperan sebagai pengganti sesuatu yang lain, sehingga muncullah sebutan metafora dan motonimi (Riffaterre, 1978:2). Menurut Altenbernd, 1970:15) metafora itu adalah bahasa kiasan yang menyatakan sesuatu seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama.
Secara umum dalam pembicaraan puisi, bahasa kiasan seperti perbandingan, personifikasi, sinekdok, dan metonimi biasa disebut dengan metafora, meskipun sesungguhnya metafora itu berbeda dengan kiasan lain dan mempunyai sifat sendiri. Metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan hal atau benda lain (Pradopo, 2010:148).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa metafora memiliki kedudukan penting dalam sastra, khusus buat puisi. Perannya tidak hanya membangun struktur estetik karya sastra, tetapi juga lebih dari itu semua. Kepentingan metafora sering dijumpai sebagai pembentuk kalimat atau kata-kata (teks) yang biasanya menjadi tidak biasa, sehingga teks yang tersusun menjadi istimewa. Teks yang semula berdiri sebagai struktur isi akhirnya berfungsi ganda, dan memiliki pengertian universal sebagai pengaruh dari kuatnya fungsi dan peran bahasa.
Contoh puisi dengan metafora memukau banyak dijumpai dalam perpuisian Indonesia, sehingga berbagai jenis atau bentuknya muncul bermacam- macam. Puisi dengan metafora suasana alam atau benda alam, atau suatu tempat seperti gunung, pantai, bukit, angin, laut, batu, daun, sungai, hujan sering dijumpai pada konsep sajak Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, atau D. Zwawai Imron. Sajak-sajak mereka adalah generasi emas yang mengusung metofora dengan perspektif estetika alam. Tidak mengherankan puisi-puisi mereka mendapat tempat yang baik di mata pembaca. Metafora dengan jenis berbeda dapat ditemukan pada puisi Chairil Anwar, WS Rendra, Remy Sylado (Yapi Tambayong), atau Wiji Tukul yang cenderung menggunakan metafora protes sosial, ketidakadilan, atau kata-kata yang terkesan menentang kebijakan suatu rezim pemerintah. Puisi-puisi mereka seolah mewakili suatu zaman yang tertindas, zaman yang harus melawan keadaan agar tidak selalu menjadi korban penguasa, sehingga pada puisi mereka sering ditemukan kata seperti peluru, darah, keji, palsu, lawan, mati, kejam, hangus, bakar, atau kata-kata sejenis itu.
Sejalan perkembangan puisi yang terus menemukan tempat sebagai media baca, pertumbuhan puisi terus berlangsung dengan keanekaragaman ekspresi metafora yang semakin khas, penuh warna, subtil, dan elaboratif. Para penulis genarasi atau angkatan 2000-lah yang diakui sebagai pemrakarsa ide-ide kreatif, bahkan jika berbicara wilayah, maka Jawa Timur merupakan surga tempat penyair muda bermunculan, penyair yang pada masa 2000-an diakui turut punya andil besar memberi warna tersendiri bagi perpuisian Indonesia yang hampir kehabisan sentuhan kreatif.
Ada sederet nama penyair dari Jawa Timur yang telah berhasil mendapat pengakuan dengan bukti yang relevan di luar Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, dan Akhudiat. Mulai dari generai Tengsoe Tjahjono, Aming Aminuddin, Beni Setia, Anas Yusuf, kemudian disusul generasi W. Haryanto, Mardi Luhung, Ribut Wijoto, Tjahjono Widjianto, Tjahjono Widarmanto, S. Yoga, sampai berlanjut pada generasi seperti Mashuri, Aziz Manna, Deny Jatmiko, A. Muttaqin,  Timur Budi Raja, M. Helmy Prasetya, Didik Wahyudi, serta sederet nama para penyair muda Jawa Timur lainnya. Khusus untuk nama M. Helmy Prasetya, untuk kepentingan penelitian ini selanjutnya akan dijadikan pembahasan terkait puisi yang ditulisnya pada awal tahun 2009, yaitu antologi puisi Sepasang Mata Ayu.
Kelebihan dari Puisi Sepasang Mata Ayuyang menjadi sumber data analisis ini adalah puisi-puisi di dalamnya beraliran romantis, puisi yang arah pembacanya lebih menyukai tema-tema cinta kalangan remaja, bahkan di atas kalangan remaja. Namun meski demikian, puisi tersebut tidak dapat dianggap begitu saja sebagai puisi yang tidak berkualitas, sebab jika ditelusuri apa yang terdapat dalam puisi Sepasang Mata Ayu merupakan reduplikasi secara tidak langsung dengan gaya kepenulisan penyair Pablo Neruda (Chili) pada kumpulan puisi Ciuman Hujan yang diterjemahkan oleh Tia Setiadi. Oleh sebab itu, untuk membuktikan keterikatan itu, karya Pablo Neruda juga dijadikan sumber data analisis ini.
Penyampaian di atas adalah salah satu daya tarik ketika membaca serangkaian puisi yang terkumpul dalam buku puisi Sepasang Mata Ayu.Hal lain yang tentunya menjadi daya tarik adalah sang penulis merupakan penyair dari Madura (Bangkalan) yang masih tergolong angkatan muda, sehingga dari pandangan tersebut menjadi sangat penting untuk diungkap proses kreatifnya. Berdasarkan isi sajak yang ditulisnya, kandungan-kandungan peristiwa di dalamnya mampu dirasakan oleh pembaca, karena rangkaian kata-kata yang ada merupakan jalinan realita yang wajar. Metafora yang nampak di dalamnya merupakan bentuk-bentuk estetika bahasa dalam dunia kepenulisan yang tentu sangat menarik untuk ditelusuri. Diperkuat juga kaitan tersebut dengan penggunaan bahasa yang terdapat dalam kumpulan puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda asal Cili.

1.2  Ruang Lingkup
Berdasarkan latar belakang di atas, poin penting dalam analisis gaya bahasa yang membentuk ruang estetika sajak adalah tentang (1) metafora berdasarkan sifatnya, (2) metafora berdsarkan keterpakaiannya, dan (3) metafora berdasarkan bentuk sintaksisnya. Kriteria tersebut perannya tidak lepas dari fungsi metafora yang terdapat dalam puisi, sehingga makna puisi mampu dirasakan pembaca sebagai bagian penting struktur puisi.
Dari lingkup ini diformulasi masalah tentang jenis metafora sebagai penjabaran dari topik dan pemaknaan dengan sudut pandang gaya bahasa, dengan kata lain jenis metafora yang menunjukkan kesungguhan hati, keaslian, dan keakuratan untuk menyingkap pemikiran peyair melalui masing-masing puisinya.
1.3  Rumusan Analisis
Beradasarkan ruang lingkup di atas, rumusan analisis ini adalah mengungkap jenis-jenis metafora berdasarkan sifat dan keterpakaian dalam kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan karya Pablo Neruda?

1.4  Tujuan Analisis
Tujuan analisis ini adalah mendeskripsikan jenis-jenis metafora berdasarkan sifat dan keterpakaian dalam kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan karya Pablo Neruda.

1.5  Manfaat Analisis
1.5.1   Manfaat Teoretis
Secara teoretis manfaat penelitian ini adalah memberikan sumbangan keilmuan untuk pengembangan penelaahan gaya bahasa metafora dalam puisi dengan menggunakan pendekatan romantik sastra yang berkaitan dengan kehidupan dunia cinta dalam sebuah puisi.
1.6.2 Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan manfaat
a)    Sebagai bahan acuan yang dapat membantu pembaca memahami kandungan isi sebuah puisi sehingga dapat memperluas wawasan. Khususnya tentang puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan karya Pablo Neruda.
b)   Sebagai masukan bagi pengembangan materi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.
c)    Sebagai dasar acuan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut.



1.6  Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah suatu upaya untuk menyamakan persepsi mengenai istilah penting yang terdapat dalam penelitian ini. Berikut definisi operasional penelitian ini.
a)    Stilistika
b)   Gaya bahasa adalah ragam pemakaian bahasa yang digunakan seseorang dalam menulis, terutama untuk karya sastra.
c)    Metafora adalah perbandingan langsung, tidak menggunakan perumpaan kata seperti, bagai, laksana, ibarat dan sebagainya.
d)   Jenis-jenis Metaforaadalah macam-macam dari bentuk metafora (perbandingan tidak langsung) yang terdapat dalam keilmuan sastra, khususnya puisi.
e)    Metafora berdasarkan sifat adalah tentang metafora yang menegaskan bahwa contoh-contoh ungkapan metafora seperti lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan sebagainya
f)    Metafora berdasarkan keterpakaian adalah terpakai tidaknya sebagai metafora pada masa sekarang ungkapan-ungkapan yang sebelumnya merupakan metafora.





BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Stilistika
Istilah style (bahasa Inggris) dapat diindonesiakan menjadi gaya bahasa atau sekedar diadaptasikan menjadi ‘stile’. Jadi istilah gaya bahasa dan stile menunjuk pada pengertian yang sama. Namun, jika dilihat dari efisiensi bahasa istilah stile dipandang lebih hemat daripada gaya bahasa (Nurgiyantoro, 2014:39).
Ada berbagai rumusan mengenai stile yang ditulis orang dan beberapa di antaranya berikut dikemukakan. Stile atau gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa dalam karya sastra, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Abrams, 1999:303). Stile ditandai dengan ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk, bahasa figuratif dan sarana retorika, penggunaan kohesi, dan lain-lain. Jadi, bagaimana cara seseorang, pembicara, penulis, atau penutur bahasa, atau penutur bahasa mempergunakan bahasa adalah stile yang dia pilih yang antara lain tampak dalam hal pilihan kata, ungkapan, struktur kalimat, retorika, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2014:40).

2.2 Gaya Bahasa Metafora
Hendy (1991:69) mengemukakan bahwa metafora berasal dari kata meta dan phoreo yang berarti bertukar nama atau perumpamaan. Metafora adalah majas perbandingan langsung, yaitu membandingkan sesuatu secara langsung terhadap penggantinya.
Waluyo (1987:84), dalam bukunya yang berjudul Teori dan Apresiasi Puisi, menyatakan bahwa metafora adalah kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan. Metafora itu langsung berupa kiasan. Sebagai contoh klasik, yaitu lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan sebagainya. Contoh-contoh yang dipaparkan ini dikatakannya sebagai metafora konvensional, yaitu metafora yang sudah lazim.Dalam puisi modern, banyak dijumpai metafora yang tidak konvensional sebagai hasil upaya kreatif penyair. Jenis metafora ini bersifat original. Ia hanya dimiliki oleh penyairnya.
Selanjutnya, Aminudin (1987:143) juga mengajukan pengertian metafora yang menekankan pada kandungan makna kiasnya. Aminudin mengemukakan bahwa metafora merupakan bentuk pengungkapan yang di dalamnya terdapat hubungan makna secara tersirat, mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya. Suatu kata atau frasa tidak lagi mewakili acuan maknanya, tetapi mewakili acuan makna yang dimiliki kata atau frasa lain yang  sepadan.
Ahli lain, yakni Saeed (2005:345-346), juga membenarkan adanya pemindahan makna (concept transference) dalam metafora. Saeed menyatakan bahwa pada umumnya, metafora disamakan halnya dengan simile bahwa pada keduanya terdapat identifikasi kemiripan hal-hal yang dianalogikan. Padahal, metafora sebenarnya lebih dari itu karena dalam metafora terdapat pemindahan konsep dari komponen yang satu pada komponen yang lainnya. Komponen-komponen pembangun metafora itu berupa domain target (target domain) dan domain sumber (source domain). Domain target, dalam terminologi I.A. Richard, disebut sebagai tenor sedangkan domain sumber disebut sebagai vehicle.
Batasan yang diajukan para ahli di atas pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu munculnya makna kias sebagai akibat dari perbandingan antara dua objek secara langsung (directanalogy). Kedua objek yang dibandingkan tersebut sebenarnya merupakan objek-objek yang berbeda. Namun, salah satu objek memiliki kondisi-kondisi yang mirip atau bahkan mungkin sama dengan kondisi-kondisi yang dimiliki oleh objek yang lain. Artinya, kondisi suatu objek dapat menggambarkan kondisi objek lainnya. Objek-objek seperti inilah oleh penyair yang kreatif sering digunakan secara distributif sehingga lahir apa yang disebut dengan kiasan langsung dalam metafora.
Pengertian-pengertian di atas, bila dicermati tampaknya dirumuskan oleh para ahli berdasarkan tinjauan secara semantis. Sebuah kata - dapat pula berupa kelompok kata, nama, maupun istilah - dapat dipakai sebagai perbandingan atau kiasan kata lain apabila keduanya memiliki kandungan semantis yang mirip atau mungkin sama. Kata-kata itu dianggap memiliki kandungan konsep yang sepadan sehingga konsep kata yang satu dipakai untuk menggambarkan konsep kata yang lainnya. Objek yang satu digunakan untuk menggambarkan kondisi objek yang lainnya.
Di samping rumusan pengertian metafora yang didasarkan pada tinjauan aspek semantis sebagaimana dipaparkan sebelumnya, ada pula rumusan-rumusan pengertian metafora yang didasarkan pada tinjauan aspek sintaksis. Pada rumusan ini, sudut pandang para ahli dipusatkan pada bagaimana hubungan dua hal yang dibandingkan itu dalam sebuah konstruksi sintaksis. Mengingat kedua hal tersebut merupakan komponen-komponen pembangun konstruksi kalimat metaforis. Sebagai kompenen-komponen yang dibandingkan, keduanya pasti bersifat sepadan dan secara sintaksis hubungannya bersifat koordinatif. Namun demikian, dalam sebuah konstruksi kalimat metaforis, justru tidak diperlukan piranti formal lingustik yang berupa konjungsi komparatif untuk menjalin hubungan di antara keduanya.
Rumusan pengertian metafora yang menggunakan sudut pandang itu diajukan Siswantoro. Siswantoro (2005:27-28) menyampaikan bahwa metafora sama halnya seperti simile, motafora juga membandingkan antara objek yang memiliki titik-titik kesamaan, tetapi tanpa menggunakan kata-kata pembanding seperti, sebagai, bagai, dan lain-lain. Siswantoro secara tegas mengatakan bahwa ketiadaan konjungsi komparatif sebagai piranti formal linguistik secara sintakitis merupakan keharusan dalam sebuah metafora.
Hal serupa juga disampaikan Pradopo dan Djajasudarma. Pradopo (2005:66) dan Djajasudarma (1999:21) menjelaskan bahwa metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak menggunakan kata-kata pembanding seperti, bagai, laksana, dan sebagainya. Metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain. Metafora menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama.
Selain itu, Pradopo juga menjelaskan bahwa ada metafora yang disebut dengan metafora mati (dead metaphor). Metafora mati adalah metafora yang sudah klise. Metafora semacam ini sudah dilupakan orang bahwa itu metafora. Sebagai contoh ungkapan kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan ini sudah biasa dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Penyair yang kreatif menghindari pemakaian metafora seperti ini. Ia akan mencari bentuk-bentuk ungkapan atau metafora yang baru, yang original.
Para ahli di atas, membicarakan metafora dari dua sudut pandang yang terpisah dan berbeda, yaitu dari aspek semantis dan aspek sintaksis. Namun, ada juga ahli lain yang memandang bahwa kedua sudut pandang itu merupakan satu-kesatuan integral yang harus dibicarakan dalam pembahasan tentang metafora. Artinya, untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan memuaskan, kedua hal tersebut harus dibahas secara serempak, sebagaimana yang diajukan Griffith, Freeborn, dan Keraf berikut.
Griffith (1982:59-60) menyampaikan bahwa metafora memiliki dua pengertian, yakni pengertian secara umum (general meaning) dan pengertian secara khusus (specific meaning). Secara umum, metafora merupakan bentuk analogi, yakni perbandingan untuk mencari persamaan-persamaan antara dua hal yang dibandingkan. Sementara secara khusus, metafora merupakan jenis bentuk perbandingan tersendiri yang khas, yang berbeda dengan simile. Jika simile membandingkan dua hal yang berbeda ditandai dengan penggunaan kata like ‘seperti’ atau as ‘bagai atau bagaikan’, maka metafora justru menghilangkan penggunaan kata-kata pembanding seperti itu.Dijelaskan bahwa analogi dalam metafora terjadi secara langsung atau bersifat implisit. Artinya, suatu hal dibandingkan secara langsung dengan hal lain sehingga makna yang dikehendaki muncul secara tersirat dibalik perbandingan itu. Untuk memperjelas batasan yang diajukan, Griffith memaparkan contoh larik-larik puisi Shakespare yang berjudul Fair Is My Love.  Perbandingan-perbandingan tak langsung dalam larik-larik itu dijalin menggunakan kata as sebagai konjungsi komparatif. Secara sintaksis, perbandingan-perbandingan seperti itu bersifat eksplisit, bukan implisit sebagaimana perbandingan dalam metafora.
Freeborn (1996:63) menyatakan bahwa dalam metafora sebutan atau keterangan atas suatu objek dipindahkan pada objek lain yang berbeda tapi analog, sehingga sebutan atau keterangan-ketarangan itu dapat berlaku dengan baik atas keduanya. Perbandingan yang terjadi dalam metafora bersifat implisit karena hubungan kedua objek tanpa disetai kehadiran konjungsi komparatif. Sementara, perbandingan yang terjadi dalam simile bersifat eksplisit karena menggunakan konjungsi komparatif like ‘seperti’ atau as ‘bagai/bagaikan’. Sebuah simile bila konstruksinya dimampatkan (to be compressed) akan dapat menjadi metafora.
Penegasan yang sama juga disampaikan Keraf (2006:139-140) bahwa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, seperti bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Metafora sebagai perbandingan langsung, tidak menggunakan kata seperti, bak, bagai, bagaikan dan lain-lain. Dalam metafora, pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Proses terjadinya, sebenarnya sama dengan simile, tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan. Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa metafora tidak selalu menduduki fungsi predikat, tetapi dapat juga menduduki fungsi lain, seperti subjek, objek, dan sebagainya. Metafora dapat berdiri sendiri sebagai kata. Di sinilah letak perbedaan metafora dengan simile. Simile tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata karena keberadaan konteks sangat diperlukan untuk membantu menentukan persamaan makna.
Rumusan yang agak berbeda dan menarik untuk dikaji adalah rumusan definisi yang diajukan Wahab. Sebelum mengajukan pendapatnya tentang metafora, Wahab (2006:65-67) mengemukakan bahwa pembicaraan tentang metafora ada sejak jaman kuno, yakni sejak jaman Aristoteles dan Quintilian. Menurut Aristoteles (384-322 SM), metafora merupakan ungkapan kebahasan untuk menyatakan hal yang umum bagi hal yang khusus, hal yang khusus bagi yang khusus, yang khusus bagi yang umum, atau dengan analogi. Sementara bagi Quintilian (35-95 M), metafora dipandang sebagai ungkapan kebahasaan untuk menyetakan sesuatu yang hidup bagi sesuatu yang hidup lainnya, sesuatu yang hidup untuk sesuatu yang mati, sesuatu yang mati untuk sesuatu yang hidup, dan sesuatu yang mati untuk sesuatu yang mati lainnya.Menurut Wahab, kedua tokoh itu terjebak oleh cara-cara berpikir simplistis dan dikotomis. Aristoteles dianggapnya terjebak pada pola berpikir umum-khusus atau khusus-umum. Pendapat Quintilian dibatasi oleh kerangka berpikir hidup-mati atau mati-hidup. Untuk itulah, Wahab mengajukan pengertian metafora yang lebih fleksibel. Ia mengartikan metafora sebagai ungkapan kebahasaan yang tidak dapat diartikan secara langsung, melainkan dari predikasi-predikasi yang dapat dipakai baik oleh lambang maupun makna yang dimaksudkan oleh ungkapan kebahasan itu. Dengan kata lain, metafora itu adalah pemahaman dan pengalaman terhadap suatu hal yang dimaksudkan untuk hal lain oleh penulis atau penyairnya.
Dalam bukunya yang lain, Wahab (2005:72) menjelaskan bahwa predikasi-predikasi yang dapat dipakai bersama antara lambang (signifier) dengan yang dilambangkan (signified) akan membantu memudahkan pemahaman terhadap ungkapan metafora. Hal ini karena makna yang dimaksudkan pada yang dilambangkan, dapat diungkap melalui predikasi-predikasi yang berlaku pada lambang. Oleh sebab itu, semakin banyak predikasi yang mungkin dapat dimunculkan dan dapat dipakai, akan semakin baik dan jelas makna ungkapan metafora itu. Sebagai contoh, ungkapan metafora Waktu adalah uang. Pada ungkapan ini, waktu sebagai signified, uang sebagai signifier. Predikasi-predikasi yang dapat dipakai bersama adalah berguna, berharga, sangat dibutuhkan, dipakai secara teratur. Ini membuktikan predikasi-predikasi itu dapat dipakai bersama antara signifier uang dengan signified waktu. Dengan demikian, makna yang dimaksud ungkapan metaforis tersebut adalah waktu itu berharga nilainya, sangat berguna bagi siapa saja, sangat dibutuhkan siapa saja, dan harus dipakai secara teratur sebagaimana uang.
Lebih lanjut, ditegaskan pula bahwa dalam menciptakan ungkapan-ungkapan metaforis, penyair tidak dapat dilepaskan begitu saja dari intensitas penghayatan penyair terhadap segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Artinya, keseimbangan interaksi itu menggambarkan kesimbangan persepsi penyair yang dapat ditelusuri melalui penggunaan lambang dalam ungkapan metaforanya. Lambang-lambang yang dipakai dapat dikategorisasi menurut ruang persepsi manusia. Taksonomi ruang persepsi manusia yang dipakai Wahab (2006:71) dipinjam dari Haley, secara berurutan terdiri atas sembilan ruang persepsi, yaitu Human, Animate, Living, Objective, Terrestrial, Substantial, Energetic, Cosmos, dan Being.

2.3 Jenis-Jenis Metafora
Di bagian atas telah dijelaskan bahwa gaya bahasa, termasuk metafora, merupakan cara khas penyair menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya pada orang lain (pembaca). Setiap penyair yang kreatif akan mencari dan menemukan keaslianya (karekteristiknya) masing-masing dalam bertutur. Kenyataan ini mengakibatkan lahirnya begitu banyak corak dan ragam gaya bahasa, khususnya metafora. Hal ini karena gaya bahasa kiasan, khususnya metafora, seolah-olah merupakan ladang subur bagi para penyair untuk berkreasi menciptakan ungkapan-ungkapan yang khas dan berdaya ungkap kuat tanpa melupakan estetika.
Meskipun begitu banyak corak metafora yang ditemukan, pada bagian ini akan dipaparkan klasifikasi metafora ditinjau dari beberapa segi, yaitu segi sifatnya, segi keterpakaiannya, dan segi bentuk sintaksisnya. Selanjutnya, paparan yang dimaksud disajikan seperti di bawah ini.

2.3.1        Berdasarkan Sifatnya
Dalam penjelasannya tentang metafora, Waluyo (1987:84) menegaskan bahwa contoh-contoh ungkapan metafora seperti lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan sebagainya digolongkan sebagai metafora klasik (konvensional). Metafora klasik (konvensional) adalah metafora yang sudah dimiliki masyarakat pemakai bahasa. Metafora jenis ini lazim di-pahami sebagai bentuk metafora. Ia banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Keberadaannya dapat dilacak dalam kamus-kamus idiom (ungkapan).
Lebih lanjut, Waluyo menambahkan bahwa dalam puisi-puisi modern, banyak dijumpai metafora yang tidak konvensional sebagai hasil upaya kreatif penyair. Jenis metafora ini bersifat original. Ia hanya dimiliki penyairnya.

2.3.2        Berdasarkan Keterpakaiannya
Pembagian metafora berdasarkan keterpakaiannya yang dimaksudkan adalah terpakai tidaknya sebagai metafora pada masa sekarang ungkapan-ungkapan yang sebelumnya merupakan metafora. Hal ini karena adanya kenyataan bahwa bentuk-bentuk metafora tertentu yang sudah sangat tua dan lazim dianggap tidak memiliki nilai kias lagi dalam kandungan maknanya. Sebagaimana yang dijelaskan Pradopo (2005:66), ada metafora yang disebut dengan metafora mati (dead metaphor). Metafora mati adalah metafora yang sudah klise. Metafora semacam ini sudah dilupakan orang bahwa itu metafora. Sebagai contoh ungkapan kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan metafora yang masih hidup dan yang sudah mati, Keraf (2006:139-140) menyatakan bahwa bila pada masa sekarang sebuah metafora masih dapat ditentukan makna dasar dari konotasinya, maka metafora itu masih hidup, tetapi bila konotasinya tidak dapat ditentukan lagi, maka metafora itu sudah mati, sudah merupakan klise.
Kebanyakan perubahan makna kata mula-mula terjadi karena metafora. Metafora yang sudah sangat umum, lama-kelamaan dilupakan orang itu  metafora sehingga makna yang baru itu dianggap sebagai makna yang kedua atau ketiga, seperti: berlayar, berkembang, jembatan, dan sebagainya. Metafora semacam ini adalah metafora mati.Dengan matinya sebuah metafora, pemakai bahasa berada kembali di depan sebuah kata yang mempunyai denotasi baru. Metafora semacam ini dapat membentuk sebuah kata kerja, kata sifat, kata benda, frasa atau klausa, seperti menarik hati, memegang jabatan, mengembangkan, menduga, dan sebagainya. Sekarang tidak ada orang yang berpikir bahwa bentuk-bentuk itu tadinya adalah metafora.

















BAB III
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diambil dari buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan karya Pablo Neruda. Dalam hal ini akan membahas beberapa temuan yang tersaji di dalamnya terdiri atas jenis metafora yang di dalamnya terdapat 1) berdasarkan sifatnya dan 2) berdasarkan keterpakaian.

4.1 Jenis Metafora dalam Puisi Sepasang Mata Ayu Karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan Karya Pablo Neruda
            Metafora dalam kajian genre sastra (puisi) pengertiannya tetap mengarah pada sebuah arti kiasan perbandingan dua keadaan yang memiliki sifat sama. Metafora sering digunakan oleh seorang penyair terhadap karya-karya yang ditulisnya, sebagai upaya ciri khas sang penyair dalam menyampaikan buah pikiran dan perasaannya pada oranglain. Setiap penyair dalam hal ini berhubungan dengan penggunaan metafora yang dipakainya, merupakan usaha untuk mencari dan menemukan keasliannya (karakteristik) dalam bertutur.
Berangkat dari kenyataan semacam itu, kemudian mengakibatkan begitu banyaknya corak ragam bahasa kias yang timbul, yakni metafora. Seolah-olah hal tersebut menjadi sebuah lahan subur bagi para penyair tentunya untuk berkreasi menciptakan ungkapan-ungkapan yang khas dan  memiliki daya ungkap yang kuat tanpa melupakan estetika. Digunakannya ragam bahasa metafora sebagai cara penyair mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap orang lain melalui karya-karyanya, sehingga dampak yang dirasakan terkesan melampaui batas nalar manusia.
Metafora sejauh ini perannya masih digunakan pada penulisan sajak-sajak. Dalam sajak, akan banyak dijumpai bentuk-bentuk metafora pada setiap struktur bait puisi yang ditulis, sebagai suatu susunan kata yang mampu mewakili perasaan si penyair itu sendiri. Pengadaan metafora dalam sajak biasanya bermacam-macam gaya dilakukan oleh sang penyair terhadap satuan objek yang dikehendakinya. Penggunaan metafora inilah satu-satunya jalan penyampaian bagi penyair yang mampu membantu segala bentuk ekspresi yang ia lahirkan jadi indah dan memiliki kesan yang sangat tinggi. Sehingga bagi bagi seseorang yang dikenai bentuk tuturan berbau metafora akan cepat luluh, terharu, mengharu biru jiwa dan perasaannya sebab sesuatu (bahasa) dalam hal ini telah membuatnya melambungkan angan-angan.
Entah mengapa sejauh ini perkembangan karya sastra perpuisian di Indonesia pemakaian metafora tersebut lebih berorientasi pada sosok perempuan. Sosok perempuan seakan menjadi satu-satunya objek tema yang paling banyak digandrungi bagi setiap orang yang ingin menulis puisi. Perempuan lagi-lagi menjadi sebuah urusan pribadi seseorang (penyair) yang baginya sangat penting untuk dituangkan lewat karya sastra berupa puisi.  Dan menjadi sebuah area paling sensitif yang mampu menghasilkan berjibun karya bila landasan objek tema tersebut berkenaan dengan sosok perempuan. Perempuan menjadi titik nilai yang begitu berharga dibanding tema-tema lain, semisal pembicaraan tertuju masalah sosial, sejarah lokal budaya, Tuhan, atau pun tema-tema lain yang sifatnya sedikit lepas dari sosok pembicaraan tentang perempuan.
Bisa saja sebetulnya tema-tema di luar pembicaraan mengenai perempuan dituangkan ke dalam sajak-sajak dengan penggunaan metafora yang baik, dilakukan oleh penyair yang ingin atau tengah sedang melahirkan karya sastra berupa sajak-sajak buah penyampaian pikiran dan perasaannya yang peduli terhadap sesuatu. Namun hal tersebut imajinasi yang terus ingin membicarakan si objek tidak semengalir ketika landasan temanya fokus diarahkan berbicara tentang sosok perempuan. Bisa dimaklumi sebetulnya mengapa objek perempuan mayoritas jadi sumber inspirasi banyak penulis. Persoalan cinta dalam hal ini jadi faktor pemicu utama dekatnya sosok perempuan dengan wilayah persoalan batin seseorang (penyair) yang mudah luluh dan terbuai hasrat pikirannya karena menyangkut persoalan wajah, bentuk tubuh, pancaran daya tangkap rasa yang terkesan lekas ingin menggurui dan langsung berniat menuliskan karya. 
Bagi kalangan remaja yang menyukai bahasa puitis pun mencoba menulis puisi yang tidak lain pasti berbicara sosok perempuan yang dielukannya. Sejauh itu pula bahasa yang digunakan melalui bentuk metafor yang sederhana, semisal wajahmu seperti rembulan di malam hari, matamu bening seperti embun, hatiku laksana daun-daun gugur, dan lain sebagainya. Merupakan bentuk ungkapan sering tampak kita dengar pola ekspresianya diungkapkan pada sosok perempuan yang dimaksud. Penggunaaan bahasa ungkapan tersebut tentu seringkali digunakan dalam cara dia menulis puisi. Perempuan sepertinya memiliki tatapan yang beda dibandingkan laki-laki. Perempuan seakan menjadi satu hal yang sosoknya memiliki kandungan metafor yang sangat tinggi. Sehingga tak khayal para sastrawan (penyair) banyak menggunakan objek perempuan pada puisinya. Mungkin saja keberadaan perempuan sentuhannya sangat tajam kena pada batin penyair. Atau pun sosok perempuan memang pantas untuk disanjung keberadaaannya sebagai suatu yang ajaib dan pantas untuk dituangkan ke dalam sajak.
Berbicara tentang sosok perempuan dalam hal ini M. Helmy Prasetya adalah seorang penyair asal Bangkalan Madura yang berupaya menjadikan perempuan sebagai tema pembicaraannya. Buku puisi lainnya yang hampir serupa dengan bentuk puisi M. Helmy Prasetya adalah buku puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda. Namun pada dua karya tersebut, baik cara M. Helmy Prasetya maupun Pablo Neruda mengutarakan bahasa yang dipakai tampak memiliki karakteristik tersendiri bagaimana struktur kalimat yang digunakan.  Bahasa yang digunakan sangat mudah diterima untuk dikonsumsi para kalangan remaja khususnya.
            Dalam dua buku kumpulan puisi tersebut seluruhnya berkisah tentang jalinan percintaan atau rasa cinta yang secara apik dikemas dengan menggunakan metafora-metafora yang begitu dekat, mudah, dan tidak teralu sulit untuk dimaknai, bahkan karenanya menghasilkan reaksi emosi pembaca. Sebut saja puisi yang berjudul: “Alamat wajahmu”, “Matamu; gerimis pagi yang jatuh untuk hari-hari berikutnya”, “Mata yang Membunuh”, “Mata Bermawar”, dan seterusnya terdapat dalam buku kumpulan puisi karya M. Helmy Prasetya. Di karya Pablo Neruda terdapat dalam karya puisi berjudul “Pagi” yang terdapat pada bagian ketiga, keempat, kedelepan, dan  ketujuhbelas yang akan jadi bahasan penelitian karya kali ini.
             Setidaknya kandungan jenis metafora yang ditemukan dalam dua buku kumpulan puisi tersebut bentuk-bentuk bahasannya terbagi menjadi beberapa macam, yakni berdasarkan sifat dan  keterpakaiannya. Beberapa kandungan jenis metafora tersebut yang akan menjadi sajian analisa mengenai kumpulan puisi yang berjudul Sepasang Mata Ayu yang ditulis M. Helmy Prasetya dan kumpulan puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda. Penjabaran yang dimaksud di atas berikut penjelasannya.

4.1.1   Berdasarkan Sifatnya
Berdasarkan sifatnya, sajak-sajak yang terdapat dalam buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya dan Ciuman Hujan karya Pablo Neruda memiliki karakteristik tersendiri dalam mendeskripsikan bentuk gaya tutur bahasanya. Karakteristik pengucapan tersebut bisa dilihat dari keseluruhan teks penyajian dalam sajak-sajak yang dia tulis berkonotasi pada satu titik pembicaraan mengenai Sepasang Mata. Sepasang mata dalam hal ini menjadi semacam sumber inspirasi penyair untuk mengalirkan sajak-sajaknya kepada sosok perempuan yang dimaksud. Sehingga karakteristik penyampaian bahasa tuturnya tidak lepas dari pembicaraan tentang sepasang mata. Seperti judul-judul sajak berupa: “Mata bermawar”, “Beri Aku Kesempatan Melihat Matamu”, “Mata yang Membunuh”, “Matamu; Gerimis Pagi yang jatuh untuk Hari-hari Berikutnya”, “Mata Setengah Nada”, “Dari Matamu Aku Belajar Mencintai Kesetiaan”, dan lain-lain semua terangkum dan merupakan karakteristik gaya sifat M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul Sepasang Mata Ayu. Keseluruhan beberapa judul tersebut tampaknya menjadi sebuah landasan cara sang penyair menunjukkan keasliannya (karakteristik) dalam ragam bahasa tuturnya kepada seseorang.
Sementera untuk puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda bentuk objek yang dijadikan pondasi utama adalah perasaan cinta itu sendiri. Seperti yang sudah ditunjukkan oleh beberapa bagian puisi yang sudah tercatat pada paragraph sebelumnya.
Pembahasan analisa pembentukan sifat dalam hal ini setiap penyair tentu memiliki karakteristik masing-masing bagaimana dia harus mengatur pola struktur pemilihan kata. Pola pemilihan kata tersebut setidaknya bertujuan untuk pengidentitasan seorang penyair. Adanya semacam pengertian pengidentitasan puisi dari seorang penyair dalam hal ini sebab mengingat begitu banyaknya penyair-penyair tanah air bermunculan dari tahun ke tahun yang sama-sama terhibur dengan wahana penulisan puisi sebagai jalan membangkitkan pengkayaan karya sastra (puisi) di era zamannya masing-masing. Sistem pengkarakteristikan bentuk cara penyampaian berdasarkan teks puisi dalam hal ini mengingat puisi tersebut mengandung pengertian sifat bebas mengekspresikan bentuk puisi karya penyair. Struktur penulisan bagaimana penyair harus menciptakan karya puisnya. Dalam hal ini menurut periodisasinya sudah mulai meninggalkan aturan sistem pola lama yang dibikin oleh penyair-penyair zaman dulu.
  Digunakannya struktur pola baru, dengan berani meninggalkan aturan sistem lama. Dalam hal ini nuansa sastra lebih mengedepankan esensi rasa pada kandungan sajak-sajak yang ditulis oleh penyair. Alhasil dari tahun-ke tahun dampak yang timbul pada ranah pencaturan gaya puisi yang dihasilkan oleh penyair terlihat adanya pengkubuan-pengkubuan terhadap bentuk dan gaya kepenulisan yang diyakini oleh beberapa pihak merupakan sebuah identitas bagi kaumnya yang sama-sama mencintai gaya kepenulisan yang demikian.
Berdasarkan konsepsi yang timbul di batin kepenyairan tentang cara struktur bahasa sebagai media untuk mengkomunikasikan puisi-puisinya untuk dikonsumsi masyarakat. Dalam hal ini penyair M. Helmy Prasetya dan Pablo Neruda lewat buku kumpulan puisinya yang berjudul Sepasang Mata Ayu seakan sudah melakukan pembuktian karakteristik bahasa puisi yang diciptakan beda dengan bentuk gaya penyair lain. Sifat di sini lebih mengacu pada arahan konsumsi masyarakat menilai sajak-sajak M. Helmy Prasetya dan Pablo Neruda tersebut bahasanya mudah dicerna dan dipahami kandungan maknanya dalam realita kehidupan sehari-hari.
Membuat jalan pengertian agar puisi tersebut cepat dimengerti masyarakat tentu tidak mudah melakukannya. Apalagi kandungan esensi puisi tersebut memiliki dampak yang begitu besar pada pembaca sebagai buku pengetahuan yang banyak mengandung amanat tentang hidup di sana. Setidaknya hal tersebut dapat kita simak pada judul puisi “ Alamat Wajahmu” bagaimana M. Helmy Prasetya mengungkapkan gaya tutur bahasanya ke dalam sebuah sajak berikut ini.  
“Aku memuja sepi jalan sebagai/
alamat wajahmu/

Sebentar lagi senja pipih, dan bibirku/
kukenali sebagai lembaran/
malam/

setelah kuingat ada yang berpijar/
dari bawah pipi dan matamu,/
aku semakin tahu/
kelak kaulah yang berjalan dalam/ pikiranku”
                                   
Berdasarkan sajak di atas yang berjudul “Alamat Wajahmu”, bentuk sifat gaya penuturan M. Helmy Prasetya sangatlah memiliki karakteristik tersendiri bagaimana dia mengkiaskan dirinya pada karya yang ia tulis. Simak pada barisan awal kalimat pembuka judul puisi di atas berbunyi “Aku memuja sepi jalan sebagai alamat wajahmu”. Si aku lirik dalam hal ini mengkiaskan dirinya laksana sepi jalan yang ingin dia salurkan pada sosok perempuan yang dimaksud. Sedangkan mengenai persoalan objek sang penyair menggunakan kata “Mata” sebagai landasan pokok ciri karakteristik M. Helmy Prasetya lewat sajak-sajaknya. Suatu bentuk penuturan yang sederhana, metafora yang digunakan pada gabungan kedua kata “sepi jalan” mewakili ungkapan isi hati sang penyair sebagai buah usaha penceritaan terhadap objek yang menjadi sumber masuknya inspirasi. Lalu berikutnya pernyataan “setelah kuingat ada yang berpijar/ dari bawah pipi dan matamu,/ aku semakin tahu/ kelak kaulah yang berjalan dalam pikiranku” barangkali tidak ada semacam perumitan perihal penerimaan pembaca terhadap karya M. Helmy Prasetya kali ini yang sejujurnya berbicara tentang cinta. Pola tersebut sebagaimana yang dilakukan sang penyair merupakan gaya bahasa tutur yang biasa digunakan sehari-hari. Bisa digaris bawahi bentuk puisi semacam ini banyak disukai pembaca terutama kalangan para remaja yang sedang jatuh cinta pada pasangan.
Tampak berbeda jauh dengan gaya tutur sastrawan lain ketika bahasa sebagai media dalam mengkomunikasikan puisi masih kesulitan dalam menanggapi atau pun menyelami maknanya satu persatu dalam hal ini masih terkesan amat rumit dan membingungkan. Keluhan tersebut tampaknya tidak selamanya seperti itu terasa di mata masyarakat yang menganggap memaknai puisi sangatlah sulit. Dengan kehadiran sifat bentukan puisi karya  M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan puisinya berjudul Sepasang Mata Ayu peneliti mencoba menyuguhkan bentuk sifat gaya kepenulisannya terhadap masyarakat yang peduli terhadap karya sastra(puisi). Berdasarkan sifatnya inilah dijadikan sebuah elemen yang mampu menunjukkan karakteristik penyair Helmy sendiri dalam menuangkan bentuk perasaannya lewat sajak yang diciptakan.
Sementara untuk puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda tampak pada puisi berjudul “Pagi” yang berbunyi sebagai berikut.
Cinta yang pahit, setangkai violet dengan mahkota
durinya di belukar derita-derita yang runcing,/ tombak kepedihan, amuk kegusaran: bagaimana engkau datang/ menaklukkan jiwaku? Adakah kau bawa serta via dolorosa

Pada kutipan puisi di atas yang menjadi tolak ukur metafora berdasarkan sifat diwakili oleh dua kata yaitu ‘tombak’ dan ‘kepedihan’. Pada dua kata tersebut sifat yang berbeda (bandingan) bertemu untuk menyusun suatu kesatuan arti yang dibutuhkan oleh makna. Sehingga ketika keduanya utuh menjadi kalimat lahirkan pengertian yang dapat menghidupkan pembaca.
Bentuk kutipan puisi lain berdasarkan judul yang terdapat dalam buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya menunjukkan eksistensinya terhadap gaya pembentukan dari cara menggunakan bahasanya untuk mengungkapkan peran cinta menjadi dapat mudah diterima pembaca. Puisi berjudul “Beri Aku Kesempatan Melihat Matamu” akan peneliti sajikan ke dalam tambahan analisa pembahasan puisi berdasarkan sifatnya. Simak bersama bunyi penuturan dialog ucap yang tertera berikut ini.
“Kapan kau memberi aku kesempatan untuk/ melihat matamu dengan baik. Bukankah telah kau/ punyai tatapan yang lengkap. Serupa laut dan cahaya/ bulan, juga hijau bunga-bunga.

Lalu mengapa pula berhari-hari kau selalu membuat/ aku tunduk dan gemetar.

            Berdasarkan bentuk sajian kutipan pada judul puisi di atas. Bisa kita urai bentuk sifatnya pada barisan kalimat yang berbunyi “Bukankah telah kau/ punyai tatapan yang lengkap. Serupa laut dan cahaya/ bulan, juga hijau bunga-bunga.” Bentuk metafora berdasarkan sifatnya pada sajian kutipan puisi tersebut penyair lebih mengkiaskan sosok perempuan yang memiliki tatapan mata yang bagus, indah, hal ini dikiaskan seperti laut, cahaya, bulan, juga hijau bunga-bunga. Menjadi semacam pengandaian yang sifatnya melambung-lambungkan angan dan perasaan. Namun di sanalah letak sifat yang dimiliki oleh sang penyair M. Helmy Prasetya melalui sajak-sajak yang ia susun sedemikian rupa. Tidak seperti halnya penyair lain melalui karya-karyanya harus bersusah payah memikirkan puisi tersebut memiliki sifat kerahasiaan yang pada umumnya menyimpan bangunan-banguan temanya pada pengaturan simbol-simbol dan dalam bentuk konteks absurd atau gelap. 
Dengan kajian maknanya tidak begitu sulit untuk diselami. Hal tersebut seakan memberi penawaran tersendiri terhadap ruang baca masyarakat ketika harus berinteraksi dengan bentuk gaya penuturan puisi M. Helmy Prasetya yang beda dengan gaya tutur penyair lain pada umumnya. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap stigma puisi yang katanya menurut mereka sulit untuk mendalami seluk-beluk kata yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut yang memungkinkan seakan memberi pembekuan terhadap pembaca dalam menyelami arti teks yang tersusun pada setiap bait puisi siapapun penyairnya. Tidak hanya itu saja M. Helmy Prasetya sebagai penyair yang menganut aliran romantisme percintaan yang mampu mengolah kalimat dalam sajak-sajaknya menjadi sebuah sifat tersendiri yang dimilikinya.
Pada puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda metafora berdasarkan sifat dapat ditemukan pada susunan kalimat dari puisinya pada bagian keempat yang berbunyi sebagai berikut.
Kau akan ingat berkah-berkah itu dari alam:/ bebauan yang lekang, lempung emas,/ ilalang-ilalang di semak dan akar-akar gila,/ duri-duri magis laksana barisan pedang

Kutipan di atas menunjukkan adanya metafora berdasarkan sifat dapat diamati pada kata ‘akar-akar gila’. Pada kesatuan kata yang sebenarnya secara harfiah bertolak belakang ini, ketika masuk ke dalam gaya bahasa menjadi bahasa yang cenderung aneh namun dapat melahirkan dampak estetika makna yang benar-benar memikat pembaca. Kata gila identik dengan kebutuhan sifat yang melekat pada manusia sebagai identitas kejiwaan, kata-kata akar juga merupakan kata yang fungsinya identik dengan sifat biologi seperti yang terdapat pada tumbuhan. Jadi ketika dua kata tersebut dijadikan satu akan melahirkan bias makna yang sangat puitis.
Selanjutnya, berikut sajak yang mencerminkan jenis metafora berdasarkan sifatnya terdapat pula pada sajak yang berjudul “ Mata Bermawar”.  Mari kita simak bentuk penuturan dialognya tersaji berikut ini.
“Sampai hari ini aku memang tak ingin mengarti-kannya sebagai/ tanda dari degup jantungmu yang dingin, atau itukah/ sebenarnya isi cintamu yang kau sebut-sebut hanya kegugupan/ dari sebuah jalan yang tanpa sengaja telah kau lalui, menuju/ tempat di mana aku diam dan tinggal. Sejauh itu, aku tetap/ tidak mengerti mengapa gemar kau simpan bayangan/ matahari ke balik matamu sendiri, sedang aku tak/ berdaya membacanya.

Berdasarkan puisi berjudul “Mata Bermawar di atas,  bila kita simak orientasi tuturan kata demi kata yang terbaca pada setiap bait puisinya, aku lirik pada bagian tutur penyampaiannya berusaha dikiaskan sebagai sebuah keadaan suatu jalan. Semisal hal tersebut tersaji pada bunyi barisan kalimatnya “atau itukah/ sebenarnya isi cintamu yang kau sebut-sebut hanya kegugupan/ dari sebuah jalan yang tanpa sengaja telah kau lalui, menuju/ tempat di mana aku diam dan tinggal.” penggunaan metafora dalam sifat penuturannya menjadi orientasi penyair dalam melakukan daya ungkap perasaan terhadap sosok perempauan yang dicintainya. Tidak ada hal dari pikiran pembaca tentunya untuk menganalisa kata demi kata yang tersaji di dalamnya. Inilah yang barangkali karakteristik puisi karya M. Helmy Prasetya  mudah diterima kalangan muda yang biasanya penggunaan kata-kata tersebut adalah bahasa puitis yang digunakan masyarakat.
Bentuk sifat penuturan lain dari beberapa kutipan judul teks sajak-sajak yang diciptakan M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan puisnya kali ini berjudul Sepasang Mata Ayu dapat kita simak bersama-sama bentuk olahan penuturannya yang senantiasa pemakaian metafora untuk melengkapi estetika penceritaannya tampak dilihatnya bagus secara visual teks yang tersaji di dalamnya. Berikut ini akan kita simak sajak yang berjudul “Kau Pernah Kuanggap Segalanya” yang bisa kita jadikan sebagai sampel tambahan mengenai sajak-sajak karya M. Helmy Prasetya lewat penyampaian bahasa yang digunakan memiliki ciri khas tersendiri sifat teksnya.
“Aku pernah sebut engkau sebagai alasan hidupku/ Aku pernah sebut engkau sebagai sesuatu yang/ selalu mendatangkan kekhawatiran/

Aku pernah katakan engkau sebagai keajaibanku/ Aku pernah katakan engkau sebagai pecahan asmara/ dan rintik hujan/


Berdasarkan sajian kutipan teks puisi yang tertera di atas sedikit beda bentuk struktur penyampaian yang dilakukan M. Helmy Prasetya untuk mengungkapkan ekspresi batinnya pada sosok perempauan yang menjadi objek fokus penceritaan. Ada pengkayaan bagaimana dia harus meneriakkan kata-katanya tersebut pada sosok perempuan yang ia kagumi sebagai gerak suara batinnya yang benar-benar ingin luapkan kepada sang perempuan. Bila kita ulas kembali dan menyimak gaya penuturan kalimat yang terdapat pada judul sajak di atas terdapat sedikit perbedaan bentuk struktur  seperti pemakaian pengulangan gabungan beberapa kata “aku pernah katakan engkau”. Hal tersebut yang menjadi sifat ciri khas sang penyair dalam mencitrakan perasaannya untuk perempuan tersebut.

4.1.2   Berdasarkan Keterpakaian
Jenis metafora yang kedua adalah jenis yang berdasarkan keterpakaian. Acuan puisi yang mengarah pada metafora jenis ini tidak lain adalah karya-karya yang bermunculan pada periode terkini. Periode di sini, adalah masa di mana karya sastra (puisi) tersebut muncul di awal tahun 70-an. Pada periode tersebut sajian-sajian puisi yang ada telah mengarah pada bentuk yang bebas. Tidak lagi terikat oleh suatu hubungan seperti yang terjadi pada puisi-puisi lama. Pola keterpakaian di sini dimaksudkan pada bentuk-bentuk metafora yang digunakan yang masih mengandung nilai hidup dan masih diterima oleh masyarakat sebagai sebuah sajian yang berbentuk baru.
Pola keterpakaian pada sajak-sajak yang ditulis M. Helmy Prasetya memberi semacam pendistribusian kepada pembaca yang memiliki keinginan untuk melakukan orientasi  pengenalan lebih dalam mengenai struktur kebahasan yang terdapat pada sebuah teks karya sastra (puisi) yang masih minim untuk dikenali lebih dekat suatu proses penyampaian makna secara keseluruhan oleh masyarakat. Berdasarkan metafora keterpakaian yang terdapat pada buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya setidaknya secara struktur penyampaian sajak-sajaknya memiliki karakteristik yang berdiri sendiri sebagai ruang gerak pada sebuah wahana pencaturan ragam bentuk puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair di zamannya. Pola keterpakaian seperti yang telah dilakukan oleh M. Helmy Prasetya ini seakan menganggap penuturan sebuah bahasa teks dalam puisi tidak begitu diperumit jalan pengkomunikasian terhadap dunia baca masyarakat ketika harus menemukan jalan pencapaian makna teks yang terkandung dalam puisi. 
Keterpakaian yang menjadi satu bentuk dari jenis metafora ini dapat diambil dari contoh puisi yang ditulis oleh M. Helmy Prasetya yang berjudul “Pada Ujung Pagi”. Berikut bunyi keterangannya.
Ayu, bibirmu bening/
dan pagi membayang di ujungnya./
Dan tiupan matamu, sungguh seperti/
buku harian.”

Keterpakaian berdasarkan judul puisi di atas seakan tidak membebankan sistem bagaimana pola sajak tersebut harus melibatkan unsur-unsur pembentukan tata cara puisi yang mengacu pada sistem pola aturan lama penulisan puisi. Bisa kita simak kembali penuturan kalimat di atas yang menyatakan “Ayu, bibirmu bening/ dan pagi membayang di ujungnya./Dan tiupan matamu, sungguh seperti/ buku harian.” Pola keterpakaian mengenai penuturan puisi di atas benar-benar dirasakan dan mungkin sudah jelas ada pembeda dengan gaya tutur penyair lain dalam mengoperasikan sajak-sajaknya ke dalam suatu wahana pergumulan karya sastra puisi yang banyak penyair ciptakan sedemikian rupa bentuk ekspresi penyampaiannya. Seperti pada bunyi kalimat/bibirmu bening/pagi membayang/ tiupan matamu/segalanya berdasarkan kandungan kata-kata tersebut terasa kesannya masih bisa dirasakan dan hidup. Jika dibandingkan dengan pola keterpakaian puisi zaman dulu, pola mereka dalam penciptaan sajak masih kesan terikat dengan sistem. Sehingga keberadaan puisi masih terkesan ada pengurungan. Sistem ketergantungan di situ yang membuat penyair seakan memiliki ruang keterbatasan dalam membebaskan imajinasinya dalam berkarya.
Sementara untuk puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda tampak pada puisi berjudul “Pagi” pada bagian delapan yang berbunyi sebagai berikut.
Bukan saat yang kuning/ sewaktu musim gugur mendaki ke pohon-pohon anggur;/ andai engkau bukan roti beraroma bulan/ meremas-remas, menebarkan serbuknya menyeberangi langit,

Pada kutipan puisi di atas yang menjadi tolak ukur metafora berdasarkan keterpakaian terdapat pada peran kata yang diwakili oleh kalimat ‘musim gugur mendaki’. Pada dua kata tersebut keterpakaian melahirkan bandingan untuk melahirkan peran baru pada arti kata pada makna yang diinginkan. Keterpakain di sini yang dimaksud tidak lain adalah penggunaan metafora yang berperan ganda. Kata ‘musim gugur’ dipadukan dengan kata ‘mendaki’ melahirkan efek bandingan yang sangat indah. Kepentingan ini dalam menyusun suatu kesatuan arti yang dibutuhkan oleh makna benar-benar member pengaruh kepada pembaca sebagai sebuah bacaan yang khas sebagai karya sastra.
Seiring berkembangnya periodisasi penyair tanah air dari tahun ke tahun dengan puisi tetap dijadikan sebagai senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan polemik sosial, pemberontakan pribadi yang merasa terkekang oleh keadaan, atau pun puisi dijadikan sebuah tolak ukur gambaran struktural pembangunan suatu bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Sehingga dari mereka (penyair) yang begitu memiliki sifat keprihatiannanya pada sebuah dampak yang timbul di masyarakat, menyebutnya sastra (puisi) pantas untuk ditulis dan dibacakan kepada mereka.  
Di sini, berbicara tentang puisi berdasarkan keterpakaian, sekali lagi M. Helmy Prasetya dan Pablo Neruda membebaskan cara dia pribadi mengungkapkan sajak-sajaknya dalam buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu dan Ciuman Hujan. Aliran yang digunakan, bahasa yang disuguhkan tampak berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri sebagaiamana esensi dari pertanyaaan mengapa puisi itu harus ada dan harus tetap dilahirkan dari kolong sunyi mata batin penyair yang terkesibak oleh suka duka masalah yang menyeruak sebagai upaya pembebasan sepihak atas dirinya yang merasa terkekang oleh situasi keadaan yang menekannya untuk harus menuliskan sebuah puisi sebagai gamabran jujur isi hati yang ia betul-betul rasakan pada seseorang. Usaha tersebut M. Helmy Prasetya lakukan pada seorang perempuan yang memiliki sepasang mata yang bagus yang menimbulkan getaran jiwa, mengharu biru seperti kesannya orang yang sedang jatuh hati pada sosok pribadi perempuan.
Unsur keterpakaian tersebut tampaknya dalam hal ini sudah dilakukan oleh M. Helmy Prasetya dengan gaya penuturan sajaknya yang barangkali dalam hal ini bentuk-bentuk puisi tersebut banyak diminati oleh kalangan remaja atau pun mahasiswa.  Seperti berikut ini bentuk sajian ungkapan sajaknya yang fokus berbicara tentang kekagumannya pada seorang perempuan. Lewat sajak yang berjudul “Matamu, Ayu”. Mari kita simak bentuk penuturannya.

“aku menyukai cara matamu melihat/
aku kagumi gerak matamu ketika kau/ menatap/
seperti ujung laut, seperti kilauan”

Berdasarkan kutipan sajak yang tersaji di atas, pola keterpakaian terdapat pada bunyi “aku kagumi gerak matamu ketika kau/ menatap”. Bentuk metafora berdasarkan pola keterpakaiannya tertuju pada pengkiasan gerak mata yang dilakukan oleh perempuan. Begitu romantisnya hal tersebut dilakukan oleh M. Helmy Prasetya pada sosok perempuan yang memiliki kandungan mata yang indah, yang bergerak pun mampu memberi daya efek pada hal-hal yang menyentuh. 
Sebagai salah satu bentuk dari cara penyair membebaskan kata-katanya, unsur keterpakaian tersebut dari seorang penyair M. Helmy Prasetya kiranya cepat digauli bentuk-bentuk puisinya oleh kalangan masyarakat sehari-hari. Karya-karya yang terdapat dalam buku kumpulan puisi sepasang mata ayu ini seakan menjadi konsumsi masyarakat sebagai langkah mudah untuk memahami karya sastra (puisi) lebih dekat. Mungkin tujuan inilah M. Helmy Prasetya meluruskan karya-karyanya demi prioritasnya sebagai penyair yang senang mengunakan cara penyampaian dengan gaya tutur bahasa yang romantis dan juga mungkin hal tersebut untuk kepentingan masyarakat baca yang belum paham mengenai seluk belum penulisan puisi.
Untuk puisi Ciuman Hujan karya Pablo Neruda metafora keterpakaian tampak pada puisi berjudul “Pagi” pada bagian tujuh belas yang berbunyi sebagai berikut.
Aku tak mencintaimu seakan kau mawar bergaram atau menika,/ atau panah-panah bunga anyelir yang diluncurkan nyala api./ Aku mencintaimu bak benda-benda tertentu yang dicintai,/ dalam rahasia, di antara bebayang dan jiwa

Pada kutipan puisi di atas yang menjadi pilihan untuk dikatakan memiliki kandungan metafora berdasarkan keterpakaian diwakili oleh dua kata yaitu ‘mawar’ dan ‘bergaram’. Dua kata tersebut keterpakaian memiliki kesamaan dengan contoh kata yang terjadi pada kutipan sebelumnya. Keterpakaian yang berbeda (bandingan) yang dikombinasikan oleh dua peran kata tersebut mengkombinasi menjadi sebuah majas atau baya bahasa yang citra bandingannya benar-benar hidup dan penuh makna. Dari hal itu, ciri dari suatu karya seseorang yang mampu melakukan pengkombinasian itu, niscaya akan pendapat penilaian bahwa karya sastra tersebut penuh dengan karakter yang berbeda dengan yang lain.
Tetap pada pembahasan pola puisi berdasarkan keterpakaiannya, selanjutnya akan kita simak sajak penuturan dari kutipan beberapa sampel yang telah diambil dari buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu karya M. Helmy Prasetya yang berjudul “Matamu; Gerimis Pagi yang Jatuh untuk Hari-hari Berikutnya”. Berikut bunyi penuturan sajaknya.
“Aku telah/
mencintaimu dengan mencatat seluruh bentuk senyum yang/ kau kirimkan kepadaku sebagai satu isyarat yang sanggup/
menyembunyikan kebiasaan burukku menjadi semacam/ keindahan yang kuikat kuat-kuat ujungnya, tapi selalu gagal/ kuterjemahkan, hingga di hari-hari kita tak ada perseteruan/ yang pantas dianggap menakutkan selain diri sendiri./ Atau perlukah kukatakan lagi mengapa aku harus menjadi/ tanah dan batu-batu untuk tangkai bunga mawar yang/ tumbuh di sepanjang jalan menuju rumahmu, sebelum/ sepasang matamu itu benar-benar jatuh menjadi pagi,/ untuk hari-hari selanjutnya.” /

Apa yang menjadi tujuan M. Helmy Prasetya dengan gaya bentuk penuturan sajak-sajaknya tentu tidak ingin ditunjang berbau kepentingan mendapatkan respon sepihak dari masyarakat yang butuh pengakuannya sebagai penyair romantis. Puisi ada dan dilahirkan sepenuhnya dari ruang gerak hati sang penyair yang sedang dirundu kegelisahan dengan landasan niat luhur untuk membuktikannya kepada sosok perempuan yang dicintainya yang tentu dalam hal ini pada judul buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu memiliki ketahanan mata yang indah bila ia sedang menatap, bergerak, atau pun memejamkan sesuatu yang menghampirinya.
Berdasarkan pola keterpakaian bahasa yang digunakan M. Helmy Prasetya dalam buku kumpulan puisi yang berjudul Sepasang Mata Ayu, dalam hal ini menjadi ciri khas tersendiri dari cara bagaimana dia harus menyusun kata untuk produktivitas karya-karyanya terhadap perkembangan sastra masa kini. Sejauh keinginan untuk menghindari aturan baku yang lama pada pola penulisan sebuah puisi, mau tidak mau hal tersebut sangat ingin dihindari oleh M. Helmy Prasetya sebagai sesuatu yang mengekang sang penyair untuk bebas mengekspresikan diri ke dalam saja-sajak yang ia tulis. Kebebasan tersebut benar-benar sangat dirasakan pada seluruh judul sajak yang terangkum dalam buku kumpulan puisi Sepasang Mata Ayu.
Sebagai tambahan pembahasan mengenai puisi berdasarkan keterpakaiannya, berikut akan peneliti sajikan sebuah sajak dengan judul “Mata Bermawar”. Berikut bunyi kutipannya kita simak baca penuturannya. 
“Pada kedalaman matamu, samakah antara kisah cintaku/ dengan wangi mawar yang pernah kau tunjukan di sebuah/ pagi kepadaku, yang kau bawa dengan selembar catatan biru/ seraut wajah, di mana maknanya yang merah tak sempat/ kupahami sebagai peristiwa yang nantinya akan merobek-/ merobek juga jalan dan pikiran kita menjadi satu asmara/ yang selalu basah oleh hujan.

Berdasarkan uraian sajak di atas, jenis metafora berdasarkan keterpakaiannya bisa kita simak pada barisan potongan kalimatnya yang berbunyi “Pada kedalaman matamu, samakah antara kisah cintaku/ dengan wangi mawar...”. Ungkapan bentuk metafora di atas kita tunjuk sebagai usaha pembentukan gaya penyampaian yang dilakukan M. Helmy Prasetya ketika meluapkan perasaan cintanya pada perempuan bernama Ayu Pujiyana. Tetap pada persoalan menyangkut metafora bunyi tentang sepasang mata.  Aku lirik dalam kutipannya mencoba menanyakan cintanya kepada sang perempuan lewat pengandaian wangi mawar. Wangi mawar selayaknya kita asumsikan adalah bunga yang menciptakan bau harum, semerbak wangi bunga. Dalam hal ini M. Helmy Prasetya menggunakan pengkiasan cintanya kepada sang perempuan tersebut melalui bentuk gugusan sifat dari bunga mawar yang memiliki warna merah.
Mungkin demikian sifat yang diinginkan sang penyair melambangkan bentuk cintanya dengan warna merah. Namun di sisi lain tanda dari sebuah pelambangan warna merak itu sendiri pada akhirnya berubah fungsi menjadi sebuah jalan yang merusak, seperti yang terkutip lanjutan potongan bunyinya “di mana maknanya yang merah tak sempat/ kupahami sebagai peristiwa yang nantinya akan merobek-/ merobek juga jalan dan pikiran kita menjadi satu asmara/ yang selalu basah oleh hujan.” Metafora berdasarkan keterpakaian tersebut terletak pada peralihan pelambangan cinta seperti merah mawar jadi sesuatu yang merobek-robek jalan pikiran.
Sisi layaknya sebuah pengutaraan dialog ucap seperti orang yang tengah kasmaran. SelamaNya sang penyair M. Helmy Prasetya pertahankan sebagai sebuah identitas karakteristik  dia dalam menulis sebuah karya yang mampu memberi sentuhan lain bagi pembaca yang ingin berorientasi pada dunia sastra sekelas puisi. Di sini ada perentangan jalan mudah sekan memang telah dibekali oleh sang penyair untuk membatasi ruang gerak masyarakat dengan dunia seorang penyair lain yang biasa menciptakan sajak-sajak dengan penjabaran makana yang sulit dimengerti oleh masyarakat awam yang mungkin hal tersebut hanya penyair dan ahli sastra yang mampu mengenali seluk beluk pernyataan yang diungkapkan.














DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Endaswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Caps.

Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Neruda, Pablo. 2009. Ciuman Hujan. Yogyakarta: Madah

Nurgiyantoro, Burhan. 2014. Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Prasetya, M. Helmy. 2009. Sepasang Mata Ayu. Bangkalan: Findama Production

Ratna, Nyoman Kutha S.U. 2010. Sastra dan Cultural Studie (Representasi Fiksi dan Fakta). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington and London: Indiana

1 komentar:

  1. Artikel yang menarik, tetapi untuk mendialogkan teori Haley, mungkin artikel singkat saya tentang teori Haley dalam link https://jokokusmanto.blogspot.co.id/2017/08/kekeliruan-kekeliruan-dalam-memahami.html bermanfaat sebagai dialog keilmuan untuk memajukan ilmu bahasa di Indonesia.

    BalasHapus