Sabtu, 19 Desember 2015

ANALISIS STILISTIKA PADA GURU-GURU DAHSYAT (KARYA NISRINA LUBIS) DAN MENJADI WANITA PALING BAHAGIA (KARYA `AIDH AL QARNI) NURLAILI SAADAH NIM 20152110001

ANALISIS  STILISTIKA PADA GURU-GURU DAHSYAT (KARYA NISRINA LUBIS) DAN MENJADI WANITA PALING BAHAGIA (KARYA `AIDH AL QARNI)       


            NURLAILI SAADAH          

NIM 20152110001





PENGANTAR

Stilistika sebagai ilmu yang mengkaji gaya bahasa mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan bahasa.  Menurut Abram (dalam Ratna)  penelitian gaya bahasa ada dua macam, penelitian tradisional (isi dan bentuk) dan modern (ciri formal: fonologi, sintaksis, leksikal) .Mengingat kajian Stilistika sangat luas (seperti tersebut di atas) maka kajian analisis makalah ini dibatasi pada kajian sintaksis pada karya berjudul Guru-guru dahsyat dan Menjadi wanita paling bahagia.

Demikian pula bila dilihat pendapat  Idat, terdapat empat pembagian wacana, maka dalam analisis ini juga dibatasi pada komunikasi dengan media buku atau dua arah yakniantara penulis dan pembaca.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian iniadalah
A.    Bagaimana peran Stilistika pada bahasa
B.     Bagaimana gaya bahasa pada buku Guru-guru Dahsyat karya Nisrina Lubis dan buku Menjadi 
Wanita Paling Bahagia karya `Aid Al Qorni

Tujuan makalah ini adalah
A.    Mengetahui peran Stilistika pada bahasa
B.     Mengetahui analisis Stilistika pada Guru-guru Dahsyat
 C.     Mengetahui analisis Stilistika pada Menjadi Wanita Paling Bahagia









LANDASAN TEORI

Stilistika

          Stilistika adalah cabang linguistik yang mempelajari ragam bahasa. Bisa pula dimaknai ilmu yang menerangkan alasan pemilihan ragam bahasa yang digunakan oleh individu atau kelompok sosial tertentu, produksi, dan penerimaan makna, analisis wacana, serta kritik sastra.

          Menurut Ratna Stilistika sebagai ilmu pengetahuan yang menfokuskan kajiannya pada gaya bahasa. Yakni yangmenjadi sumber penelitiannya adalah semuajenis komunikasi yang menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Jadi meliputi karya sastra dan karya seni, termasuk bahasa sehari-hari. Darbyshire (dalam Ratna, 2014) menunjukkan dua cara  untuk mengidentifikasi gaya bahasa, yaitu  a) secara teoritis, dilakukan dengan sengaja  menemukan ciri-ciri pemakaian bahasa yang khas pada umumnya dilakukan dalam kaitannya dengan penelitian ilmiah (analisis karya sastra), b) secara praktis, melalui pengamatan langsung terhadap pemakaian bahasa sehari-hari.

          Pembagian wacana menurut Idat (dalam Ratna)  dibagi menjadi empat jenis kajian a) kajian segi eksistensi (verbal dan nonverbal, b) media komunikasi(lisan dan tulisan), c)pemakaian (monolog, dialog, polilog), dan d) kajian dari segi pemaparan (naratif, deskriptif, prosedural,ekspositoris, dan hortatori). Penjelasan tersebut jelas bahwa dominasi kajian stilistika yaitu pada analisis linguistik . Kajian stilistika sastra hanya terkandung dalam subpemaparan secara naratif.   Seperti telah dijelaskan pada pendahuluan, bahwa fokus analisis ini adalah sintaksis.
Bahasa
       
          Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa dibentuk oleh sejumlah komponenyang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Maksudnya bahwa bahasa adalah sistemis (bahasa bukan sistem tunggal,melainkan terdiri dari subsistem,seperti morfologi,sintaksisi dan leksikon), sistematis berarti tersusun menurut pola, tidak tersusun secara acak.
          
       Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk melahirkan ide dan sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Dalam hal ini isi bahasa bisa bermacam-macam sesuai dengan tujuan seseorang menyampaikan ujarannya.
          Di samping sebagai alat menyampaikan pesan atau ide, bahasa juga berfungsi personal/pribadi (untuk mengungkapkan emosi), fungsi interpersonal (merjalin hubungan persahabatan), fungsi imajinatif (berisi imanitasi atau khayalan) yakni untuk menampilkan puisi,cerpen, drama, dan lain-lain. (Chaedar, 2010:15-17)
           
           Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Komunikasi 
searah maksudnya pengirim pesan tidak dapat berkomunikasi dengan penerima pesan, seperti pidato, khutbah, buku. Komunikasi dua arah yaitu  komunikasi yang bisa dilakukan dua arah, seperti rapat, dialog interaktif, seminar, dan lain-lain. (Chaer, 2010: 21)













METODOLOGI

Pendekatan

          Analisis stilistika pada buku ini termasuk penelitian deskriptif  yang menggunakan jenis pendekatan kausal komparatif, yakni penelitian  yang membandingkan suatu variabel (objek penelitian)
Objek penelitian
           
       Dua buku yang menjadi kajian ini adalah 1. Guru-guru dahsyat (kisah-kisah nyata sangat inspiratif tentang pengabdian tulus pada guru) ditulis oleh Nisrina Lubis. 2. Menjadi wanita paling bahagia (spesial untuk wanita) karya Dr. `Aid al Qorni

DATA

GURU-GURU DAHSYAT

          Kalimat yang digunakan penulis yang bermajas adalah

          Hiperbola, analisis gaya bahasa yang terdapat dalam karya Nisrina Lubis yang menceritakan kondisi realita masyarakat Indonesi. Gaya bahasa hiperbola ini sering dijumpai Lubis dalam memberikan penilaian kepada realita yang tidak sesuai dengan harapan. Seperti pendidikan nasional di Indonesia tidak dapat menyentuh  setiap anak Indonesia. Persoalan kurikulum hingga sistem pendidikan yang hanya mencetak tenaga kerja menjadi persoalan bagi masyarakat. (19) Begitu pula pada tulisannya di halaman 87  Namun tidak banyak yang tahu kalau peraih TheOutstanding Young Person of the World 1987 ini pernah melalui getirnya hidup menjadi pembantu rumah tangga, tukang batu, dan tukang semir sepatu di Blok M.  Pada halaman 88 telah disebutkan perjalanan hidup Seto di masa muda penuh liku yang pahit. Terdapat pula dihalaman 89  Seto benar-benar mulai dari bawah. Ia menjadi tukang batu kemudian tukang semir sepatu diBlok M. Berat sekali kondisi yang dihadapinya.
  
        Dalam kisahnya Sapardi Joko Damono terdapat satu gaya bahasa hiperbola yaitu  sumbangsih Sapardi cukup besar pada budaya dan sastra dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar sebagai administrator dan mengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh kepuasan finansial.

          Dalam kisahnya Bu Kasur juga terdapat gaya bahasa hiperbola, Bu Kasur tidak mengenal kata bosan berkecimpung dalam dunia pendidikan dasar anak-anak.

          Konotasi, selain gaya bahasa hiperbola terdapat pula pemilihan kata yang bermakna konotasi. Yaitu:

          Dia adalah seorang guru yang bisa memberikan kehidupan baru  bagi generasi muda bangsanya dengan satu cara yang membuat buku kuduk kita merinding.

          Dalam kisahnya Butet Manurung terdapat makna konotasi yaitu orang lokal mengejar mimpi.

          Dalam kisah Azzumardi Azzra kata bermakna konotasi adalah pada awalnya diatidaklah terobsesi atau bercita-cita menggeluti studi keislaman. Sebab dia lebih berniat memasuki bidang kependidikan umum di IKIP. (64)

          Kisah Alwi Dahlan dijelaskan Alwi Dahlan adalah orang Indonesia pertama yang menggondol gelar doktor ilmu komunikasi  dari Amerika Serikat

MENJADI WANITA PALING BAHAGIA

             Contoh kutipan berisi nasihat padahalaman 56berjudul Agar Engkau Menjadi Wanita Tercanti di Dunia

Dengan kecantikanmu, engkau lebih indah dari matahari; dengan akhlakmu, engkau lebih harus dari  aroma minyak mistik; dengan rendah hatimu, engkau lebih mulia dari bulan; dan dengan kelembutanmu, engkau lebih lembut dari rintik hujan. Maka, jagalah kecantikanmu dengan keimanan, kerelaanmu dalam menerima apa yang ada dengan senang hati, dan harga dirimu dengan jilbab.

Ketahuilah, perhiasanmu bukanlah emas atau perak, tetapi dua rekaat menjelang Subuh, dahagamu di tengah hari yang panas saat berpuasa, dermamu yang tersembunyi dan hanya diketahui Allah semata, air mata tobat, sujud panjang di atas karpet ibadah dan rasa malumu kepada Allah tatkala tergoda oleh bisikan nista dan ajakan setan. Kenakanlah pakaian taqwa, maka engkau akan menjadi wanita tercantik di dunia, meskipun bajumu terkoyak. Kenakanlah mantel kesantunan, agar engkau menjadi wanita tercantik di dunia, kendati engkau tak memakai alas kaki.

Pemilihan kata yang digunakan Al Qorni sangat mendukung judul buku yakni diksi yang berkaitan dengan wanita seperti batu permata, emas, kalung, permata, berlian, mutiara, zamrud, yakut, nilam, safir, manikam, intan, kristal.

Menurut Ratna ( 2014:206) penegasan dalam bentuk perulangan kata (repetisi) merupakan hal penting dalam gaya bahasa daripada penegasan dengan menggunakan nada yang keras. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari sering dilakukan orang untuk menegaskan perlu adanya perulangan kata berkali-kali. Hal ini bisa dilihat dalam karya Al Qorni pada halaman 7.

Selamat datang ...
Saudariku yang tekun mendirikan shalat dan puasa dengan penuh kepatuhan dan kekhusukan.
 Saudariku yang memakai jilbab demi kesopanan, kewibawaan, dan kesucian diri.
Saudariku yang selalu belajar menelaah dengan penuh kesadaran dan ketulusan niat.
Saudariku yang selalu menepatijanji, bisa dipercaya, dan jujur.
Saudariku yang selalu bersabar, mawas diri, dan bertobat dengan penuh penyesalan.
...
Dalam karya ini juga menunjukkan adanya pengaruh religi yang sangat tinggi, terbukti banyak pemakaian kata yang bersifat keagamaan seperti shalat, berpuasa, hijab, berdzikir, bersyukur, berdoa, Allah, Al Quran, al Hadits, nabi, mukminah, sholihah, dan lain-lain.
Nasihat berbuat baik yang disampaikan Al Qorni ini sangat memperhatikan hati wanita. Terbukti nasihat diberikan dengan bahasa yang santun dan memberikan motivasi kepada hati wanita, serta berupa ajakan untuk mendorong hati berlaku positif .
1.      Optimislah meskipun engkau berada di tengah-tengah badai yang menerjang. (18)
2.      Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, setelah cucuran air mata akan terbit sebuah senyuman. (19).
3.      Sebaik-baik teman sepanjang hidupadalah buku. (26)
4.      Jika kesedihan datang mengurung dan duka mengurung, ucapkanlah La ilaha ilaa Allah. (27)
5.       Jangan turuti tamak! Seandainya engaku puas dengan yang ada, pasti engkau tetap bebas dan mereka. (30)
6.      Penyakit merupakan pesan yang menyimpan kabar gemira, sedangkan kesehatan adalah perhiasan yang sangat berharga. (31)
7.      Shalat itu merupakan penjamin kelapangan dada dan pengusir keresahan. (37)
8.      Abaikan segala sesuatu yang engkau tidak mampu melakukannya. Pergunakanlah waktumu untuk memperbaiki hal-hal yang engkau mampu melakukannya. (104)
9.      Jalan kebahagiaan ada di depanmu. Carilah ia dengan ilmu, amal shaleh, dan akhlak mulia. Bersikaplah objektif dalam setiap hal, niscaya akan bahagia. (210)
10.  Jadikanlah rumahmu sebagai surga kedamaian, bukan arena keributan. Sesungguhnya ketenangan itu adalah nikmat. (232)
Pada karya ini juga terdapat uraian tentang pemakaian perintah dan larangan yang disertai alasan. Ini menunjukkan bahwa penulis dalam memberikan perintah atau larangan bukan hanya sekedar semosional untuk memerintah atau melarang,  melainkan juga disertai sikap tanggung jawab untuk memberikan alasan atas perintah dan larangannya. Antara lain seperti di bawah ni.
1.      Kami nasihatkan kepadamu untuk tekun bekerja, jangan malas, bosan maka engkau akan menemukan kelapangan, kebahagiaan, dan kegembiraan.
2.      Jangan sia-siakan waktumu dengan kekosongan karena hal itu akan mendatangkan penderitaan, kesempitan hati, godaan, keraguan, dan kesuraman jiwa yang tidak akan bisa dihilangkan kecuali dengan pekerjaan.
3.      Jauhilah segala perbuatan maksiat. Sebab maksiat adalah pemicu kesebihan, terutama maksiat yang sering dilakukan para wanita, melihat sesuatu yang diharamkan, mempertontonkan kecantikan, berpacaran.
4.      Jangan engkau mengingkari hak-hak suami dan tidak mengaku kebaikannya. Itulah dosa-dosa yang sering diperbuat wanita, bertaqwalah karena taqwa menjamin kebahagiaanmu dan keridlaan-Nya atas ketulusan hatimu.
5.      Jangan menonton tayangan yang tidak bermanfaat karena akan mengikis rasa malu, kehormatan, dan agamamu.
6.      Janganlah melihat majalah porno dan cabul, membaca pemikiran kotor, buku-buku sesat, atau roman yang tidak bermoral karena akan menimbulkan kebimbangan jiwa dan mengotori ketulusan hati.
7.      Teladanilah Asiyah (isteri Firaun), Maryam (ibu Nabi Isa a.s.), Khadijah (isteriNabi Muhammad saw), Asma binti Abu Bakar), dan Fatimah (putri Nabi Muhammad saw) karena mereka adalah orang-orang terpilih yang baik.
8.      Setiap pagi tiba, ingatlah bahwa pagi itu terasa panjang bagi yang sengsara, sedang engkau berada dalam kenikmatan.  Pagi itu terasa membosankan bagi orang yang kelaparan, dengan merenung maka engkau akan merasa  banyak bersyukur.



PEMBAHASAN
Nisrina Lubis adalah penulis kelahiran Sorowaku, Sulawesi Selatan, 9 Januari 1984. Dia alumni UGM, FIB tahun  2007. Buku Guru-guru Dahsyat  ini ditulis tahun 2010 berisi kisah masa lalu para guru dalam memperjuangkan pendidikan diIndonesia dengan segala rintangan yang menghambatnya. Tokoh yang diangkat kisahnya adalah Xia, ButetManurung, Sukarso, S.A. Sujatna, S.S., M.Hum., Mahmud, Dasih, S.Pd.,Achmad Zen Purba, Prof. Azzumardi Azza, M.A., Sandiah, dan lain-lain.

Semua kisah nyata tersebut ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Beraneka ragam permasalahan yang dihadapi setiap tokoh yang disertai bagaimana tokoh secara bijaksana menyikapi konflik kemanusiaan terkait dengan pendidikan di Indonesia.

Penulis kedua adalah `Aidh al Qorni. Dia penulis kelahiran 1379 H. Atau 1960 M. memiliki nama lengkap Dr. `Aidh Abdullah bin `Aidh al  Qorni. Nama alQorni diambil dari daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi. 
           
          Bahasa sebagai media komunikasi (Idat) terdiri atas simbol-simbol yang membawa pesan secara arbitrer pada kajian analisis ini dalam bentuk bahasa tulis berjudul menjadi wanita paling bahagia. Karya `Aidh Al Qorni ini berbentuk buku yang telah diterbitkan oleh Qisthi Press berisi banyak nasihat yang ditujukan kepada para wanita. Baik remaja wanita maupun ibu rumah tangga. Model pemaparannya dikemas seperti halnya nasihat sehari-hari yang diberikan orang tua kepada anaknya.  Gaya penceritaan dalam buku ini tidak menunjukkan alur seperti dalam karya sastra. Seperti pendapatnya Ratna (2014:162) ada perbedaan gradual antara gaya dalam kehidupan sehari-hari dengan gaya bahasa dalam karya sastra. Peranan bahasalah yang membedakan di antara keduanya. Peristiwa dalam kehidupan sehari-hari tidak berulang sehingga kehidupan sehari-hari tidak memerlukan plot. Sebaliknya dalam karya sastra, dengan medium bahasa peristiwa disusun kembali. Penyusunan inilah yang pada giirannya menghasilkan alur yang berbeda, sehingga muncullah keindahan dalam karya sastra.

Gaya bahasa yang nampak pada buku karya Nisrina Lubis ini antara lain hiperbola, sedangkan karya `Aidh alQorni didominasi oleh majas pertentangan.

             





























BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan

Bahasa sebagai media yang digunakan manusia untuk alat komunikasi merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif baik komunikasi lisan maupun tulisan. Pemakaian bahasa ini menandakan karakter pengguna yang dapat membedakan antara satu orang dengan orang lain. Ini membuktikan bahwa kebesaran Yang Maha Kuasa dapat dilihat dari perilaku parmakhluk-Nya.

Stilistika adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari ragam bahasa. Kajian kongret stilistika adalah gaya bahasa pada dua buku karya Nirina Lubis dan `Aidh Al-Qorni.

Dari analisis stilistika pada kedua buku tersebut dapat disimpulkan bahwa
-          Setiap pengarang buku mempunyai gaya kepenulisan yang berbeda-beda, yang disebabkan latar belakang penulis.
-          Terdapat perbedaan gaya kepenulisan antara kisah dan nasihat (nonfiksi). Kisah diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga sedangkan nasihat diinformasikan langsung kepada pembaca.
-          Gaya bahasa pada kisah lebih didominasi pada kata bermakna konotasi, dan gaya bahasa hiperbola, sedangkan nasihat ditulis seperti halnya berkomunikasi dengan sahabat karib. 


3.2    Saran
        
    Setelah menganalisis stilistika pada hasil karya, disarankan kepada:

Penulis : hendaknya para penulis meningkatkan kepenulisannya dengan menggunakan gaya bahasa yang disesuaikan dengan pangsa pasar (pembaca) serta memperhatikan tata tulis (ejaan).

Pembaca : hendaknya setiappembaca lebih selektif menemukan buku bacaan atau menyeleksi buku yang dibaca karena waktu yang digunakan membaca apabila bahan bacaan kurang bermanfaat juga ikut terbuang sia-sia. 


















Daftar Pustaka


-          Al-Qorni,`Aidh. 2012. Menjadi Wanita Paling Bahagia.Jakarta: Qisthi Press.
-          Lubis, Nisrina. 2010. Guru-guru Dahsyat. Jogjakarta: FlashBooks
-          Ratna, Nyoman Kutha. 2014.Stilistika,Kajian Puitika Bahasa,Sastra, dan Budaya.  
          Yogyakarta: Pustaka Pi

1 komentar: