KAJIAN STILISTIKA PADA ANTOLOGI PUISI “CIUMAN PERTAMA”
Karya Edy Firmansyah
DISUSUN OLEH: HARIS SUPRIADI 20152110022
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya puisi
merupakan salah satu karya sastra yang paling sederhana dibandingkan beberapa
karya sastra lainnya, seperti prosa (cerpen, novel, novelet dll) dan drama.
Aminuddin (1997—67) mengemukakan terdapat jenis karya sastra yaitu puisi
dan prosa fiksi. Puisi membutuhkan efek-efek motif yang mempengaruhi karya
sastra. Memperoleh efek-efek tersebut dapat melalui kebahasaan, paduan bunyi,
penggunaan tanda baca, cara penulisan dan lain sebagainya. Puisi bisa dikatakan
karya sastra paling sederhana, sebab semua orang dapat menulis puisi.
Walaupun
puisi tersebut ditulis demi kepentingan pribadi. Syahreza menulis dalam
papernya (puisi dan personalitas) “Seringkali puisi dihubungkan dengan
personalitas atau reaksi psikologis dan sosial seorang penyair”. Dia
berpendapat ada kecenderungan seseorang untuk menulis puisi untuk dirinya
sendiri, atau untuk kepentingan orang lain.
Pradopo (2002-1)
puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu
yang kosong tanpa makana. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang
lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan
bernilai estetis. Ketika menganalisis sebuah puisi ada tiga pilihan cara
pendekatan yaitu dengan pendekatan semiotika, pendekatan fenomenologis, dan
pendekatan stilistika.
Pendekatan analisis
yang dipakai pada puisi-puisi dalam antologi puisi “Ciuman Pertama” karya Edy
Firmansyah adalah Analisis Stilistika. Stilistika adalah ilmu yang mempelajari
gaya bahasa, terlepas dari apakah itu karya sastra atau bukan.
Puisi-puisi yang
terdapat pada antologi puisi “Ciuman Pertama” karya Edy Firmansyah terdapat
enam puluh sembilan puisi. Agar hasil analisis lebih mendalam dan terarah maka
perlu ada batasan-batasan puisi yang akan dianalisis, sehingga penulis hanya
memilih sepuluh puisi diantara puisi-puisi yang terdapat pada antologi puisi
“ciuman pertama” karya Edy Firmansyah. Adapun judul-judul puisi yang akan
dianalisis adalah kutulis sajak ini, mencintaimu, dan cerita rumput.
Sedangkan untuk
kajian stilistika (gaya bahasa) yang akan dibahas yaitu penggunaan diksi dan
penggunaan bahasa figurative (pemajasan), pada antologi puisi “Ciuman Pertama”.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang yang
sudah diuraikan oleh penulis, maka penulis merumuskan permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1.
Bagaimana
penggunaan diksi pada antologi puisi ciuman pertama?
2.
Bagaimana
penggunaan pemajasan pada antologi puisi ciuman pertama?
C.
Tujuan dan Manfaat Analisis
- Tujuan
Suatu analisis diharuskan mempunyai tujuan agar
tidak menyimpang dari bahasan utama dalam antologi puisi ciuman
pertama, maka tujuan analisis ini sebagai berikut:
- Mendeskripsikan diksi yang terdapat dalam antologi puisi ciuman pertama.
- Mendeskripsikan majas yang terdapat dalam antologi puisi ciuman pertama
- Manfaat
Hasil dalam analisis ini diharapkan dapat menambah wawasan
dan pengetahuan pembaca mengenai penggunaan diksi dan majas, untuk menentukan
pembelajaran apresiasi puisi bagi mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia dalam antologi
puisi ciuman pertama.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Hakikat Stilistika
Stilistika (stylistic)
dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Secara etimologis stylistic
berhubungan dengan kata style yaitu gaya. Dengan demikian stilistika adalah
ilmu pemanfaatan bahasa dalam karya sastra. Penggunaan gaya bahasa secara
khusus dalam karya sastra. Gaya bahasa yang muncul ketika pengarang
mengungkapkan idenya. Gaya bahasa ini merupakan efek seni dan dipengaruhi oleh
hati nurani. Melalui gaya bahasa itu seorang penyair mengungkapkan idenya.
Pengungkapan ide yang diciptakan melalui keindahan dengan gaya bahasa
pengarangnya (Endraswara, 2011:72—73).
Melalui ide dan pemikirannya
pengarang membentuk konsep gagasannya untuk menghasilkan karya sastra.
Aminuddin (1997:68) mengemukakan stilistika adalah wujud dari cara pengarang
untuk menggunakan sistem tanda yang sejalan dengan gagasan yang akan
disampaikan. Namun yang menjadi perhatian adalah kompleksitas dari kekayaan
unsur pembentuk karya sastra yang dijadikan sasaran kajian adalah wujud
penggunaan sistem tandanya.
Secara sederhana menurut
Sudiman dikutip Nurhayati (2008:8) “Stilistika adalah ilmu yang meneliti
penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra”. Konsep utamanya adalah
penggunaan bahasa dan gaya bahasa. Bagaimana seorang pengarang mengungkapkan
karyanya dengan dasar dan pemikirannya sendiri.
Dalam hal ini untuk memahami
konsep stilistik secara seksama Nurhayati (2008:7) mengemukakan pada dasarnya
stilistika memiliki dua pemahaman dan jalan pemikiran yang berbeda. Pemikiran
tersebut menekankan pada aspek gramatikal dengan memberikan contoh-contoh
analisis linguistik terhadap karya sastra yang diamati. Selain itu pula
stillistika mempunyai pertalian juga dengan aspek-aspek sastra yang menjadi
objek penelitiannya adalah wacana sastra.
Stilistika secara definitif
adalah ilmu yang berkaiatan dengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya
lebih banyak mengacu pada gaya bahasa. Dalam pengertiannya secara luas
stilistika merupakan ilmu tentang gaya, meliputi berbagai cara yang dilakukan
dalam kegiatan manusia (Ratna, 2011:167).
B.
Tujuan Kajian Stilistika
Stilistika sebagai salah satu
kajian untuk menganalisis karya sastra. Endraswara (2011:72) mengemukakan
bahasa sastra memiliki tugas mulia. Bahasa memiliki pesan keindahan dan
sekaligus pembawa makna. Tanpa keindahan bahasa, karya sastra menjadi hambar. Keindahan
suatu sastra dipengaruhi oleh kemampuan penulis mengolah kata. Keindahan karya
sastra juga memberikan bobot penilaian pada karya sastra itu. Selain itu,
menurut Sudjiman dikutip Nurhayati (2008:11) mengemukakan titik berat
pengkajian stilistik adalah terletak pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa
suatu sastra, tetapi tujuan utamanya adalah meneliti efek estetika bahasa.
Keindahan juga merupakan bagian pengukur dan penentu dari sebuah sastra yang
bernilai.
C.
Sumber Objek Penelitian
Stilistika
Penelitian stilistika menuju
kepada bahasa, dalam hal ini merupakan bahasa yang khas. Menurut Ratna
(2009:14) bahasa yang khas bukan pengertian bahwa bahasa dan sastra berbeda
dengan bahasa sehari-hari dan bahasa karya ilmiah. Ciri khasnya yaitu pada
proses pemilihan dan penyusunan kembali. Hal tersebut merupakan analog dengan
kehidupan sehari-hari dan merupakan proses seleksi, manipulasi dan
mengombinasikan kata-kata. Bahasa yang memiliki unsur estetis, berbagai fungsi
mediasi, dan emonsionalitas.
Dalam hal ini kekuatan dalam
karya seni adalah kekuatan untuk menciptakan kombinasi baru, bukan objek baru.
Dengan demikian seperti yang telah dikemukan sebelumnya jenis sastra puisilah
yang dianggap sebagai objek utama stilistika. Puisi memiliki medium yang
terbatas sehingga keterbatasannya sebagai totalitas puisi yang hanya terdiri
dari beberapa baris harus mampu menyampaikan pesan sama dengan sebuah cerpen,
bahkan juga novel yang terdiri atas banyak jumlah halaman.
D.
Pendekatan dalam Stilistika
Melalui stilistika dapat
dijabarkan ciri-ciri khusus karya sastra. Berdasarkan hal itu, Wellek, dan
Warren (1993:226) menyatakan ada dua kemungkinan pendekatan analisis stilistika
dengan cara semacam itu. Yang pertama di analisis secara sistematis tentang
sistem linguistik karya sastra, kemudian membahas interprestasi tentang
ciri-cirinya dilihat berdasarkan makna total atau makna keseluruhan. Melalui
hal ini akan muncul sistem linguistik yang khas dari karya atau sekelompok
karya. Pendekatan yang kedua yaitu mempelajari sejumlah ciri khas membedakan
sistem satu dengan yang lainnya. Analisis stilistika adalah dengan mengamati
deviasi-deviasi seperti pengulangan bunyi, inversi susunan kata, susunan
hirarki klausa yang semuanya mempunyai fungsi estetis penekanan, atau membuat
kejelasan, atau justru kebalikannya yang membuat makna menjadi tidak jelas.
Sejalan dengan pernyataan di
atas dalam kajian stilistik dipengaruhi oleh karya sastra dan bentuk pendekatan
yang digunakan. Nurhayati (2008:13—20) mengemukakan lima pendekatan yang dapat
digunakan yaitu, sebagai berikut:
1.
Pendekatan Halliday
Dalam pendekatan ini Halliday
mengilustrasikan bagaimana kategori-kategori dan metode-metode linguistik
deskriptif dapat diaplikasikan ke dalam analisis teks-teks sastra seperti dalam
materi analisis teks yang lainnya. Melalui hal ini analisis bukan hanya kepada
interprestasi atau evaluasi estetika terhadap pesan-pesan sastra yang
dianalisisnya tetapi hanya kepada deskripsi unsur-unsur bahasa. Dalam kajiannya
ia tidak mengungkapkan bagaimana bentuk-bentuk verbal tersebut disusun sehingga
berhubungan dengan bentuk lainnya pada hubungan intra-tekstual.
2.
Pendekatan Sinclair
Pendekatan ini searah dengan
teori pendekatan Halliday. Ia menerapkan kategori-kategori deskripsi linguistik
Halliday. Sinclair mengemukakan terdapat dua aspek yang berperan penting dalam
pengungkapan pola-pola intratekstual karya sastra.
3.
Pendekatan Goeffrey Leech
Leech mengemukakn bahwa karya
sastra mengandung dimensi-dimensi makna tambahan yang beroperasi pula di dalam
wacana lainnya. Leech mengungkapkan tiga gejala ekspresi sastra, yaitu
cohesion, foregrounding, dan cohesion of foregrounding. Ketiga gejala ekspresi
ini menghadirkan dimensi-dimensi makna yang berbeda yang tidak tercakup oleh
deskripsi linguistik dengan kategori-kategori normalnya. Cohesion merupakan
hubungan interatekstual antara unsur gramatikal dengan unsur leksikal yang
jalin-menjalin dalam sebuah teks sehingga menjadi sebuah unit wacana yang
lengkap. Foregrounding merupakan gejala khas yang hanya terdapat dalam karya
sastra. Sedangkan cohesion of foregrounding adalah penyimpangan-penyimpangan
dalam teks yang dihubungkan dengan bentuk lain untuk membentuk pola-pola
intratekstual.
4.
Pendekatan Roman Jakobson
Pendekatan ini menggolongkan
fungsi puitik bahasa sebagai sebuah penggunaan bahasa yang berpusat kepada
bentuk aktual dari pesan itu sendiri. Tulisan sastra tidak seperti
bentuk-bentuk lainnya. Dalam tulisan sastra ditemukan pesan yang berpusat pada
pesan itu sendiri.
5.
Pendekatan Samuel R. Levin
Pendekatan Levin dalam analisis
stilistika serupa dengan pendekatan Halliday dan Sinclair yang berpusat pada
analisis butir-butir linguistik. Levin juga mengembangkan gagasan kesejajaran
yang juga dikemukakan oleh Jakobson. Dalam hal ini kesejajaran tersebut berlaku
pada level fonologi, sintaksis, dan semantik yang untuk menghasilkan ciri-ciri
struktural.
E.
Teori yang Berhubungan dengan
Kajian Stilistik
Pembentuk utama unsur puisi
selain bahasa adalah keindahan. Pada dasarnya kajian stilistika
dikemukakan beberapa teori-teori yang berhubungan. Menurut Nurhayati
(2008:30—38) teori-teori tersebut digunakan untuk menganalisis bahasa. Teori
tersebut adalah sebagai berikut:
- Diksi, pemilihan kata sangat erat kaitannya dengan hakikat puisi yang penuh pemadatan. Oleh karena itu, penyair harus pandai memilih kata-kata. Penyair harus cermat agar komposisi bunyi rima dan irama memiliki kedudukan yang sesuai dan indah. Selain itu, Tarigan (2011:29) mengemukakan diksi adalah pilihan kata yang digunakan oleh penyair. Pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, dan nada dalam suatu puisi.
- Citraan, merupakan penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, pikiran dan setiap pengalaman indera atau pengalaman indera yang istimewa. Dalam hal ini yang dimaksud adalah citraan yang meliputi gambaran angan-angan dan pengguna bahasa yang menggambarkan angan-angan tersebut, sedangkan setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji. Secara spesifik Tarigan (2011:31) dalam menciptakan karya penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa dan perasaan tersebut. Penyair berusaha agar penikmat dapat melihat, merasakan mendengar, dan menyentuh apa yang ia alami dan rasakan.
- Kata-kata konkret, merupakan kata yang dapat melukiskan dengan tepat, membayangkan dengan jitu apa yang hendak dikemukakan oleh pengarang. Tarigan (2011:32) mengungkapkan salah satu cara membangkitkan daya bayang imajianasi para penikmat puisi adalah menggunakan kata-kata yang tepat, kata yang dapat menyarankan suatu pengertian secara menyeluruh.
- Bahasa figuratif, untuk memperoleh kepuitisan, penyair menggunakan bahasa figuratif, yaitu bahasa kiasan atau majas. Menurut Endraswara (2011:73) terdapat dua macam bahasa kiasan atau stilistik kiasan, yaitu gaya retorik dan gaya kiasan. Gaya retorik meliputi eufemisme, paradoks, tautologi, polisndeton, dan sebagainya. Sedangkan gaya kiasan amat banyak ragamnya antara lain alegori, personifikasi, simile, sarkasme, dan sebagainya. Menurut Ratna (2011:164) majas (figure of speech) adalah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan.
- Rima dan ritma, merupakan pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan pengulangan bunyi tersebut, puisi menjadi merdu bila dibaca. Bentuk-bentuk rima yang paling sering muncul adalah aliterasi, asonansi, dan rima akhir. Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suatu gerak yang teratur. Gerak yang teratur tersebut di sebut ritma atau rhythm. Tarigan (2011:35) mengatakan rima dan ritma memiliki pengaruh untuk memperjelas makna puisi. Dalam kepustakaan Indonesia, ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur, sedangkan rima adalah persamaan bunyi.
BAB III
ANALISIS DATA
A. Data
- Puisi ke-1
Kutulis Sajak Ini
kutulis
sajak ini kala malam terbakar
debu
menghambar
kepedihan
meneriakkan sepi
hati
iseng sendiri
aku
masuk dalam mimpimu
seperti
lampu-lampu perahu
memandang
horizon,
dimana
pengeboran minyak
menjarah
lautmu
kupeluk
kau dalam hutan kemarau
hutan
ta’al yang jadi lahang
jadi
tuak
jadi
pasir
bagi
orang orang-orang terusir
dari
akar tanah lahir
ada
duka berbiak
di
dalam dadamu yang sesak
o,
tanah garam
tanah
hitam teriris
bulan
arit api
gubuk-gubuk
tua menangis
runcing
hujan sepi
makin
bengis
- Puisi ke-2
Mencintaimu
aku
ingin mencintaimu seperti akar
yang
menghujam jauh ke dasar tanah
tak
peduli di atasnya angin kering atau hujan
kecuali
sekadar menumbuhkan pepohonan
aku
ingin mencintaimu seperti pohon
yang
tak gentar menantang badai
namun
tak alpa membuat rindang
aku
ingin mencintaimu seperti mencintai puisi
sebab
begitulah caraku menunda mati
- Puisi ke-3
Cerita Rumput
Kami
adalah rumput liar yang kau injak.
Tapi
kami terus tumbuh dan menyebar,
Jadi
padang kering, padang merah
Padang
merah
Padang
darah
Kau
bangun gedung-gedung
Kau
rampas tanah
Alat-alat
berat melindas kami
Paku-paku
bumi
Semen
setebal sepuluh senti
Mengubur
kami
Tapi
kami biasa hidup dengan penderitaan
Kami
adalah benih segala macam kesakitan
Kami
adalah semesta, kami adalah cinta
Yang
dikoyak-koyak luka
Dan
kami berbiak di sisi-sisi gedung
Yang
suram dan lembab
Yang
tak bisa kau jangkau
Dengan
tangan
Dan
isi kepalamu yang kejam
Kamilah
rumput liar
Sanggup
jadi padang kering
Padang
merah
Padang
darah
Padang
api
Mengepungmu
Menghancurkanmu
Sebab
bumi ini
Milik
kami!
B. Analisis Data
1.
Diksi
Penggunaan diksi dalam
membuat puisi memang menjadi perhatian khusus bagi seorang pengarang agar kata
atau kalimat-kalimat di dalam puisinya itu lebih puitis, enak di baca atau
didengar, dan yang paling penting agar kata-kata dalam puisinya tersebut
betul-betul mampu menjadi media curahan hatinya sehingga kata-kata itu betul-betul sesuai dengan apa yang ada dalam
pikiran seorang pengarang.
Penggunaan kata
bermakna konotasi dalam sebuah puisi itu merupakan hal yang biasa dan seakan
pemunculan kata bermakna konotasi itu sudah menjadi hal yang wajib ada karena
sesuai dengan sifat bahasa puisi itu yaitu multi tafsir. Namun meskipun
demikian pengarang harus betul-betul bisa memilah dan memilih kata-kata konotasi
itu yang sesuai dengan keadaan hatinya dan mampu membuat pembaca tergugah.
Penggunaan diksi
ini dapat kita temui juga dalam puisi karya Edy firmansyah dalam antologinya
“Ciuman Pertama”.
Pada puisi ke-1
kutulis
sajak ini kala malam terbakar
debu
menghambar
kepedihan
meneriakkan sepi
hati
iseng sendiri
penggalan bait puisi di atas menggambarkan perasan diri
seorang pengarang yang sedang merasa kesepian atau kegelisahan baik fisik
atapun batin dimana kegelisahan tersebut pengarang alami pada waktu malam hari.
Dalam penggalan kalimat pada puisi tersebut “kutulis sajak ini kala malam terbakar”, pengarang sengaja memilih
kata terbakar bukan hanya agar
kalimat dalam puisinya tersebut nampak puitis akan tetapi pengarang ingin
menceritakan suasana hatinya kepada pembaca atau pendengar bahwa hatinya sedang
sangat kacau atau sangat gelisah, dimana kata terbakarlah yang cocok menjadi
media untuk mencurahkan perasaan yang dialami pengarang kepada pembaca.
Sebetulnya kata terbakar pada penggalan kalimat puisi tersebut dapat diganti
menjadi “malam kelabu” atau “malam yang hitam” atau malah yang lainnya, namun
ketika kata “terbakar” tersebut diganti maka seakan kegelisan yang dialami
pengarang merupakan kegelisahan yang biasa saja.
Pada puisi
ke-2
aku ingin mencintaimu seperti
akar
yang menghujam jauh ke dasar tanah
tak peduli di atasnya angin
kering atau hujan
kecuali sekadar menumbuhkan
pepohonan
Pada penggalan puisi ke-2 menceritakan tentang cara seorang
pengarang di dalam mencintai seseorang yang dicintainya entah itu pacar atau
orang terdekat yang memang mempunyai hubungan khusus dengan si pengarang.
Kata “menghujam” sebetulnya dapat diganti dengan kata
“masuk” atau kata “menancap”, namun kedua kata ini kurang sesuai jika menjadi pelengkap
dari kalimat tersebut. Untuk mengungakapkan perasaan cinta yang begitu mendalam
yang dirasakan oleh seorang pengarang membutuhkan kata yang mempunyai arti
lebih, sehingga dengan memilih kata “menghujam” untuk membuat kalimat “aku
ingin mencintaimu seperti akar yang menghujam
jauh ke dasar tanah” justru akan lebih cocok menjadi kalimat pengungkap bahwa
cintanya seorang pengarang bukanlah cinta yang biasa.
Pada puisi
ke-3
Kami
adalah rumput liar yang kau injak.
Tapi
kami terus tumbuh dan menyebar,
Jadi
padang kering, padang merah
Padang
merah
Padang
darah
Pada puisi ke-3 menceritakan tentang kesengsaraan rakyat biasa
atau rakyat miskin yang dirampas haknya oleh kaum-kaum elit atau para pejabat
dan orang kaya.
Pengarang memilih kata “rumput liar” yang artinya adalah
rakyat miskin atau rakyat jelata karena kata tersebut mempunyai persamaan sifat
dengan rakyat miskin yang diinjak-injak martabatnya, dilecehkan, direndahkan,
dicaci dan lain sebagainya. Kata “rumput liar” sebetulnya dapat diganti dengan
kata “rakyat miskin” atau “rakyat kecil”, namun pengarang lebih memilih kata
“rumput liar” agar kalimat didalam
puisinya tersebut menjadi kalimat yang lebih puitis dan menggugah
sehingga pembaca merasa tertarik untuk lebih menikmati puisi tersebut.
2.
Pemajasan
dalam antologi puisi “Ciuman Pertama”
Majas menurut Perrine (waluyo
1995:83), majas dapat digunakan untuk menghasilkan sebuah imajinatif
kesenangan, imajinatif tambahan yang
memiliki sebuah kata-kata yang abstrak dan konkret yang dapat dinikmati oleh
pembaca. Intensitas perasaan pengarang dalam kumpulan puisi Ciuman Pertama dalam menyampaikan sebuah
makna, sikap dan cara mengkonsentrasikan sebuah makna yang menyampaikan sebuah
kata-kata di dalam bahasa yang sangat singkat.
Majas memiliki empat jenis
yaitu sebagai berikut: majas
penegasan, majas perbandingan, majas pertentangan dan majas sindiran.
a)
Majas penegasan
Contoh Majas Eksklmasio:
o, tanah garam
tanah
hitam teriris
bulan
arit api
gubuk-gubuk
tua menangis
runcing
hujan sepi
makin
bengis
Dalam penggalan puisi tersebut terdapat majas eksklmasio
yaitu ditandai dengan penggunaan kata seru “o”. kata seru “o” digunakan oleh
pengarang untuk menyatakan keheranan. Heran akan tanah garam yang sudah
teriris. Dimana tanah garam merupakan kata yang bermakna konotasi yang
sebetulnya memiliki arti “pulau madura”.
Contoh Majas Enumerasio:
aku
masuk dalam mimpimu
seperti lampu-lampu perahu
memandang horizon,
dimana pengeboran minyak
menjarah lautmu
Menggambarkan suasana hati pengarang kepada pembaca itu
merupakan tugas dari seorang pengarang sehingga pesan yang terkandung dalam
larik-larik puisinya tersebut dapat diterima daan dipahami oleh pembaca. Salah
satu cara pengarang didalam menggambarkan suasana hatinya yaitu dengan cara
menggunakan majas enumerasio seperti pada penggalan puisi di atas yang bercetak
tebal. Majas enumerasio yaitu mengungkapkan beberapa
peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap
peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas.
b)
Majas perbandingan
Contoh majas asosiasi:
aku
ingin mencintaimu seperti akar
aku
ingin mencintaimu seperti pohon
aku
ingin mencintaimu seperti mencintai
puisi
Majas asosiasi adalah perbandingan
dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini
ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana.
Pada penggalan puisi di atas penggunaan majas asosiasi ditandai dengan
menggunaka kata seperti.
Contoh majas metafora:
Kami adalah rumput liar yang kau injak
Penggunaan majas metafora juga dapat kita temui dalam
antologi ini. Hal ini dapat kita lihat pada penggalan puisi di atas. Pengarang
mengungkapkan secara langsung perbandingan antara kami dengan rumput liar.
Contoh majas personifikasi:
aku
masuk dalam mimpimu
seperti
lampu-lampu perahu
memandang horizon,
dimana
pengeboran minyak
menjarah lautmu
Majas personifikasi adalah majas
yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti
manusia. Pada penggalan bait puisi di atas terdapat dua majas personifikasi.
Pertama yaitu lampu-lampu perahu
memandang horizon. Lampu-lampu perahu merupakan benda mati, namun
seakan-akan hidup dan bisa memandang horizon layaknya manusia. Kedua yaitu pengeboran minyak menjarah lautmu, pada
kalimat ini juga digambarkan pengeboran minyak yang sebetulnya mati tapi
seakan-akan hidup dan bias menjarah, mencuri atau mengambil kekayaan laut
seperti manusia yang bias menangkap ikan di laut.
c)
Majas pertentangan
Contoh majas hiperbola
kutulis
sajak ini kala malam terbakar
debu
menghambar
kepedihan
meneriakkan sepi
hati
iseng sendiri
Hiperbola adalah pengungkapan
sesuatu secara berlebih-lebihan atau dibesar-besarkan dari kenyataan yang
sebenarnya, baik jumlah, ukuran dan sifatnya. Pada penggalan bait puisi
tersebut pengarang secara berlebihan di dalam mengungkapkan pikirannya. Kata terbakar dipakai untuk menimbulkan efek
puitis pada kalimat tersebut, sehingga dengan kata terbakar pengarang betul-betul bisa meluapkan perasaanya bahwa dia
betul-betul dalam keadaan sedih, merana, dan tersiksa batinnya (kutulis
sajak ini kala malam terbakar)
d)
Majas sindiran
Majas sendiran adalah majas atau gaya bahasa yang digunakan untuk
menyindir seseorang atau sesuatu. Macam- macam majas sindiran yaitu sarkasme,
sinisme, satire, dan innuendo.
Pada bait-bait puisi di atas tidak ditemui pemakaian majas
sindiran.
DAFTAR PUSTAKA
Aminnuddin. 1997. Stilistika, Pengantar Memahami Karya
Sastra. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Tarigan, HG. 2011. (dalam
catatan Remy Silado) Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Djoko Pradopo, Rahmat. 2009. Pengkajian Puisi.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Syahreza, Faisal. 2012. (pada paper yang disampaikan pada
acara Gentala di Universtitas Pendidikan Indinesia) Puisi dan Personalitas.
Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar