Sabtu, 19 Desember 2015

KAJIAN STILISTIKA PADA ANTOLOGI PUISI “CIUMAN PERTAMA” Karya Edy Firmansyah DISUSUN OLEH: HARIS SUPRIADI 20152110022




KAJIAN STILISTIKA PADA ANTOLOGI PUISI “CIUMAN PERTAMA”

 Karya Edy Firmansyah    






DISUSUN OLEH: HARIS SUPRIADI   20152110022

















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada dasarnya puisi merupakan salah satu karya sastra yang paling sederhana dibandingkan beberapa karya sastra lainnya, seperti prosa (cerpen, novel, novelet dll) dan drama. Aminuddin (1997—67) mengemukakan terdapat  jenis karya sastra yaitu puisi dan prosa fiksi. Puisi membutuhkan efek-efek motif yang mempengaruhi karya sastra. Memperoleh efek-efek tersebut dapat melalui kebahasaan, paduan bunyi, penggunaan tanda baca, cara penulisan dan lain sebagainya. Puisi bisa dikatakan karya sastra paling sederhana, sebab semua orang dapat menulis puisi.
Walaupun puisi tersebut ditulis demi kepentingan pribadi. Syahreza menulis dalam papernya (puisi dan personalitas) “Seringkali puisi dihubungkan dengan personalitas atau reaksi psikologis dan sosial seorang penyair”. Dia berpendapat ada kecenderungan seseorang untuk menulis puisi untuk dirinya sendiri, atau untuk kepentingan orang lain.
Pradopo (2002-1) puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makana. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis. Ketika menganalisis sebuah puisi ada tiga pilihan cara pendekatan yaitu dengan pendekatan semiotika, pendekatan fenomenologis, dan pendekatan stilistika.
Pendekatan analisis yang dipakai pada puisi-puisi dalam antologi puisi “Ciuman Pertama” karya Edy Firmansyah adalah Analisis Stilistika. Stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa, terlepas dari apakah itu karya sastra atau bukan.
Puisi-puisi yang terdapat pada antologi puisi “Ciuman Pertama” karya Edy Firmansyah terdapat enam puluh sembilan puisi. Agar hasil analisis lebih mendalam dan terarah maka perlu ada batasan-batasan puisi yang akan dianalisis, sehingga penulis hanya memilih sepuluh puisi diantara puisi-puisi yang terdapat pada antologi puisi “ciuman pertama” karya Edy Firmansyah. Adapun judul-judul puisi yang akan dianalisis adalah kutulis sajak ini, mencintaimu, dan cerita rumput.
Sedangkan untuk kajian stilistika (gaya bahasa) yang akan dibahas yaitu penggunaan diksi dan penggunaan bahasa figurative (pemajasan), pada antologi puisi “Ciuman Pertama”.

B.       Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang yang sudah diuraikan oleh penulis, maka penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1.      Bagaimana penggunaan diksi pada antologi puisi ciuman pertama?
2.      Bagaimana penggunaan pemajasan pada antologi puisi ciuman pertama?

C.      Tujuan dan Manfaat Analisis
  1. Tujuan
Suatu analisis diharuskan mempunyai tujuan agar tidak menyimpang dari bahasan utama dalam antologi puisi ciuman pertama, maka tujuan analisis ini sebagai berikut:
  1. Mendeskripsikan diksi yang terdapat dalam antologi puisi ciuman pertama.
  2. Mendeskripsikan majas yang terdapat dalam antologi puisi ciuman pertama
  1. Manfaat
Hasil dalam analisis ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai penggunaan diksi dan majas, untuk menentukan pembelajaran apresiasi puisi bagi mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia dalam antologi puisi ciuman pertama.














BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Hakikat Stilistika
Stilistika (stylistic) dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Secara etimologis stylistic berhubungan dengan kata style yaitu gaya. Dengan demikian stilistika adalah ilmu pemanfaatan bahasa dalam karya sastra. Penggunaan gaya  bahasa secara khusus dalam karya sastra. Gaya bahasa yang muncul ketika pengarang mengungkapkan idenya. Gaya bahasa ini merupakan efek seni dan dipengaruhi oleh hati nurani. Melalui gaya bahasa itu seorang penyair mengungkapkan idenya. Pengungkapan ide yang diciptakan melalui keindahan dengan gaya bahasa pengarangnya (Endraswara, 2011:72—73).
Melalui ide dan pemikirannya pengarang membentuk konsep gagasannya untuk menghasilkan karya sastra. Aminuddin (1997:68) mengemukakan stilistika adalah wujud dari cara pengarang untuk menggunakan sistem tanda yang sejalan dengan gagasan yang akan disampaikan. Namun yang menjadi perhatian adalah kompleksitas dari kekayaan unsur pembentuk karya sastra yang dijadikan sasaran kajian adalah wujud penggunaan sistem tandanya.
Secara sederhana menurut Sudiman dikutip Nurhayati (2008:8) “Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra”. Konsep utamanya adalah penggunaan bahasa dan gaya bahasa. Bagaimana seorang pengarang mengungkapkan karyanya dengan dasar dan pemikirannya sendiri.
Dalam hal ini untuk memahami konsep stilistik secara seksama Nurhayati (2008:7) mengemukakan pada dasarnya stilistika memiliki dua pemahaman dan jalan pemikiran yang berbeda. Pemikiran tersebut menekankan pada aspek gramatikal dengan memberikan contoh-contoh analisis linguistik terhadap karya sastra yang diamati. Selain itu pula stillistika mempunyai pertalian juga dengan aspek-aspek sastra yang menjadi objek penelitiannya adalah wacana sastra.
Stilistika secara definitif adalah ilmu yang berkaiatan dengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya lebih banyak mengacu pada gaya bahasa. Dalam pengertiannya secara luas stilistika merupakan ilmu tentang gaya, meliputi berbagai cara yang dilakukan dalam kegiatan manusia (Ratna, 2011:167).

B.       Tujuan Kajian Stilistika
Stilistika sebagai salah satu kajian untuk menganalisis karya sastra. Endraswara (2011:72) mengemukakan bahasa sastra memiliki tugas mulia. Bahasa memiliki pesan keindahan dan sekaligus pembawa makna. Tanpa keindahan bahasa, karya sastra menjadi hambar. Keindahan suatu sastra dipengaruhi oleh kemampuan penulis mengolah kata. Keindahan karya sastra juga memberikan bobot penilaian pada karya sastra itu. Selain itu, menurut Sudjiman dikutip Nurhayati (2008:11) mengemukakan titik berat pengkajian stilistik adalah terletak pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa suatu sastra, tetapi tujuan utamanya adalah meneliti efek estetika bahasa. Keindahan juga merupakan bagian pengukur dan penentu dari sebuah sastra yang bernilai.

C.      Sumber Objek Penelitian Stilistika
Penelitian stilistika menuju kepada bahasa, dalam hal ini merupakan bahasa yang khas. Menurut Ratna (2009:14) bahasa yang khas bukan pengertian bahwa bahasa dan sastra berbeda dengan bahasa sehari-hari dan bahasa karya ilmiah. Ciri khasnya yaitu pada proses pemilihan dan penyusunan kembali. Hal tersebut merupakan analog dengan kehidupan sehari-hari dan merupakan proses seleksi, manipulasi dan mengombinasikan kata-kata. Bahasa yang memiliki unsur estetis, berbagai fungsi mediasi, dan emonsionalitas.
Dalam hal ini kekuatan dalam karya seni adalah kekuatan untuk menciptakan kombinasi baru, bukan objek baru. Dengan demikian seperti yang telah dikemukan sebelumnya jenis sastra puisilah yang dianggap sebagai objek utama stilistika. Puisi memiliki medium yang terbatas sehingga keterbatasannya sebagai totalitas puisi yang hanya terdiri dari beberapa baris harus mampu menyampaikan pesan sama dengan sebuah cerpen, bahkan juga novel yang terdiri atas banyak jumlah halaman.

D.      Pendekatan dalam Stilistika
Melalui stilistika dapat dijabarkan ciri-ciri khusus karya sastra. Berdasarkan hal itu, Wellek, dan Warren (1993:226) menyatakan ada dua kemungkinan pendekatan analisis stilistika dengan cara semacam itu. Yang pertama di analisis secara sistematis tentang sistem linguistik karya sastra, kemudian membahas interprestasi tentang ciri-cirinya dilihat berdasarkan makna total atau makna keseluruhan. Melalui hal ini akan muncul sistem linguistik yang khas dari karya atau sekelompok karya. Pendekatan yang kedua yaitu mempelajari sejumlah ciri khas membedakan sistem satu dengan yang lainnya. Analisis stilistika adalah dengan mengamati deviasi-deviasi seperti pengulangan bunyi, inversi susunan kata, susunan hirarki klausa yang semuanya mempunyai fungsi estetis penekanan, atau membuat kejelasan, atau justru kebalikannya yang membuat makna menjadi tidak jelas.
Sejalan dengan pernyataan di atas dalam kajian stilistik dipengaruhi oleh karya sastra dan bentuk pendekatan yang digunakan. Nurhayati (2008:13—20) mengemukakan lima pendekatan yang dapat digunakan yaitu, sebagai berikut:
1.         Pendekatan Halliday         
Dalam pendekatan ini Halliday mengilustrasikan bagaimana kategori-kategori dan metode-metode linguistik deskriptif dapat diaplikasikan ke dalam analisis teks-teks sastra seperti dalam materi analisis teks yang lainnya. Melalui hal ini analisis bukan hanya kepada interprestasi atau evaluasi estetika terhadap pesan-pesan sastra yang dianalisisnya tetapi hanya kepada deskripsi unsur-unsur bahasa. Dalam kajiannya ia tidak mengungkapkan bagaimana bentuk-bentuk verbal tersebut disusun sehingga berhubungan dengan bentuk lainnya pada hubungan intra-tekstual.
 2.         Pendekatan Sinclair
Pendekatan ini searah dengan teori pendekatan Halliday. Ia menerapkan kategori-kategori deskripsi linguistik Halliday. Sinclair mengemukakan terdapat dua aspek yang berperan penting dalam pengungkapan pola-pola intratekstual karya sastra.
3.         Pendekatan Goeffrey Leech
Leech mengemukakn bahwa karya sastra mengandung dimensi-dimensi makna tambahan yang beroperasi pula di dalam wacana lainnya. Leech mengungkapkan tiga gejala ekspresi sastra, yaitu cohesion, foregrounding, dan cohesion of foregrounding. Ketiga gejala ekspresi ini menghadirkan dimensi-dimensi makna yang berbeda yang tidak tercakup oleh deskripsi linguistik dengan kategori-kategori normalnya. Cohesion merupakan hubungan interatekstual antara unsur gramatikal dengan unsur leksikal yang jalin-menjalin dalam sebuah teks sehingga menjadi sebuah unit wacana yang lengkap. Foregrounding merupakan gejala khas yang hanya terdapat dalam karya sastra. Sedangkan cohesion of foregrounding adalah penyimpangan-penyimpangan dalam teks yang dihubungkan dengan bentuk lain untuk membentuk pola-pola intratekstual.
4.         Pendekatan Roman Jakobson
Pendekatan ini menggolongkan fungsi puitik bahasa sebagai sebuah penggunaan bahasa yang berpusat kepada bentuk aktual dari pesan itu sendiri. Tulisan sastra tidak seperti bentuk-bentuk lainnya. Dalam tulisan sastra ditemukan pesan yang berpusat pada pesan itu sendiri.
5.         Pendekatan Samuel R. Levin
Pendekatan Levin dalam analisis stilistika serupa dengan pendekatan Halliday dan Sinclair yang berpusat pada analisis butir-butir linguistik. Levin juga mengembangkan gagasan kesejajaran yang juga dikemukakan oleh Jakobson. Dalam hal ini kesejajaran tersebut berlaku pada level fonologi, sintaksis, dan semantik yang untuk menghasilkan ciri-ciri struktural.
E.       Teori yang Berhubungan dengan Kajian Stilistik
Pembentuk utama unsur puisi selain bahasa adalah keindahan. Pada  dasarnya kajian stilistika dikemukakan beberapa teori-teori yang berhubungan. Menurut Nurhayati (2008:30—38) teori-teori tersebut digunakan untuk menganalisis bahasa. Teori tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Diksi, pemilihan kata sangat erat kaitannya dengan hakikat puisi yang penuh pemadatan. Oleh karena itu, penyair harus pandai memilih kata-kata. Penyair harus cermat agar komposisi bunyi rima dan irama memiliki kedudukan yang sesuai dan indah. Selain itu, Tarigan (2011:29) mengemukakan diksi adalah pilihan kata yang digunakan oleh penyair. Pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, dan nada dalam suatu puisi.
  2. Citraan, merupakan penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, pikiran dan setiap pengalaman indera atau pengalaman indera yang istimewa. Dalam hal ini yang dimaksud adalah citraan yang meliputi gambaran angan-angan dan pengguna bahasa yang menggambarkan angan-angan tersebut, sedangkan setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji. Secara spesifik Tarigan (2011:31) dalam menciptakan karya penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa dan perasaan tersebut. Penyair berusaha agar penikmat dapat melihat, merasakan mendengar, dan menyentuh apa yang ia alami dan rasakan.
  3. Kata-kata konkret, merupakan kata yang dapat melukiskan dengan tepat, membayangkan dengan jitu apa yang hendak dikemukakan oleh pengarang. Tarigan (2011:32) mengungkapkan salah satu cara membangkitkan daya bayang imajianasi para penikmat puisi adalah menggunakan kata-kata yang tepat, kata yang dapat menyarankan suatu pengertian secara menyeluruh.
  4. Bahasa figuratif, untuk memperoleh kepuitisan, penyair menggunakan bahasa figuratif, yaitu bahasa kiasan atau majas. Menurut Endraswara (2011:73) terdapat dua macam bahasa kiasan atau stilistik kiasan, yaitu gaya retorik dan gaya kiasan. Gaya retorik meliputi eufemisme, paradoks, tautologi, polisndeton, dan sebagainya. Sedangkan gaya kiasan amat banyak ragamnya antara lain alegori, personifikasi, simile, sarkasme, dan sebagainya. Menurut Ratna (2011:164) majas (figure of speech) adalah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan.
  5. Rima dan ritma, merupakan pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan pengulangan bunyi tersebut, puisi menjadi merdu bila dibaca. Bentuk-bentuk rima yang paling sering muncul adalah aliterasi, asonansi, dan rima akhir. Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suatu gerak yang teratur. Gerak yang teratur tersebut di sebut ritma atau rhythm. Tarigan (2011:35) mengatakan rima dan ritma memiliki pengaruh untuk memperjelas makna puisi. Dalam kepustakaan Indonesia, ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur, sedangkan rima adalah persamaan bunyi.














BAB III
ANALISIS DATA
A.      Data
  1. Puisi ke-1

Kutulis Sajak Ini

kutulis sajak ini kala malam terbakar
debu menghambar
kepedihan meneriakkan sepi
hati iseng sendiri

aku masuk dalam mimpimu
seperti lampu-lampu perahu
memandang horizon,
dimana pengeboran minyak
menjarah lautmu      

kupeluk kau dalam hutan kemarau
hutan ta’al yang jadi lahang
jadi tuak
jadi pasir
bagi orang orang-orang terusir
dari akar tanah lahir

ada duka berbiak
di dalam dadamu yang sesak

o, tanah garam
tanah hitam teriris
bulan arit api
gubuk-gubuk tua menangis
runcing hujan sepi
makin bengis

  





                                                              
  1. Puisi ke-2
Mencintaimu

aku ingin mencintaimu seperti akar
yang menghujam jauh ke dasar tanah
tak peduli di atasnya angin kering atau hujan
kecuali sekadar menumbuhkan pepohonan

aku ingin mencintaimu seperti pohon
yang tak gentar menantang badai
namun tak alpa membuat rindang

aku ingin mencintaimu seperti mencintai puisi
sebab begitulah caraku menunda mati

  1. Puisi ke-3
Cerita Rumput

Kami adalah rumput liar yang kau injak.
Tapi kami terus tumbuh dan menyebar,
Jadi padang kering, padang merah
Padang merah
Padang darah

Kau bangun gedung-gedung
Kau rampas tanah
Alat-alat berat melindas kami
Paku-paku bumi
Semen setebal sepuluh senti
Mengubur kami

Tapi kami biasa hidup dengan penderitaan
Kami adalah benih segala macam kesakitan
Kami adalah semesta, kami adalah cinta
Yang dikoyak-koyak luka

Dan kami berbiak di sisi-sisi gedung
Yang suram dan lembab
Yang tak bisa kau jangkau
Dengan tangan
Dan isi kepalamu yang kejam

Kamilah rumput liar
Sanggup jadi padang kering
Padang merah
Padang darah
Padang api
Mengepungmu
Menghancurkanmu

Sebab bumi ini
Milik kami!



B.       Analisis Data
1.         Diksi
Penggunaan diksi dalam membuat puisi memang menjadi perhatian khusus bagi seorang pengarang agar kata atau kalimat-kalimat di dalam puisinya itu lebih puitis, enak di baca atau didengar, dan yang paling penting agar kata-kata dalam puisinya tersebut betul-betul mampu menjadi media curahan hatinya sehingga kata-kata itu  betul-betul sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran seorang pengarang.
Penggunaan kata bermakna konotasi dalam sebuah puisi itu merupakan hal yang biasa dan seakan pemunculan kata bermakna konotasi itu sudah menjadi hal yang wajib ada karena sesuai dengan sifat bahasa puisi itu yaitu multi tafsir. Namun meskipun demikian pengarang harus betul-betul bisa memilah dan memilih kata-kata konotasi itu yang sesuai dengan keadaan hatinya dan mampu membuat pembaca tergugah.
Penggunaan diksi ini dapat kita temui juga dalam puisi karya Edy firmansyah dalam antologinya “Ciuman Pertama”.
              Pada puisi ke-1
kutulis sajak ini kala malam terbakar
debu menghambar
kepedihan meneriakkan sepi
hati iseng sendiri
           
penggalan bait puisi di atas menggambarkan perasan diri seorang pengarang yang sedang merasa kesepian atau kegelisahan baik fisik atapun batin dimana kegelisahan tersebut pengarang alami pada waktu malam hari. Dalam penggalan kalimat pada puisi tersebut “kutulis sajak ini kala malam terbakar”, pengarang sengaja memilih kata terbakar bukan hanya agar kalimat dalam puisinya tersebut nampak puitis akan tetapi pengarang ingin menceritakan suasana hatinya kepada pembaca atau pendengar bahwa hatinya sedang sangat kacau atau sangat gelisah, dimana kata terbakarlah yang cocok menjadi media untuk mencurahkan perasaan yang dialami pengarang kepada pembaca. Sebetulnya kata terbakar pada penggalan kalimat puisi tersebut dapat diganti menjadi “malam kelabu” atau “malam yang hitam” atau malah yang lainnya, namun ketika kata “terbakar” tersebut diganti maka seakan kegelisan yang dialami pengarang merupakan kegelisahan yang biasa saja.

Pada puisi ke-2
aku ingin mencintaimu seperti akar
yang menghujam jauh ke dasar tanah
tak peduli di atasnya angin kering atau hujan
kecuali sekadar menumbuhkan pepohonan

Pada penggalan puisi ke-2 menceritakan tentang cara seorang pengarang di dalam mencintai seseorang yang dicintainya entah itu pacar atau orang terdekat yang memang mempunyai hubungan khusus dengan si pengarang.
Kata “menghujam” sebetulnya dapat diganti dengan kata “masuk” atau kata “menancap”, namun kedua kata ini kurang sesuai jika menjadi pelengkap dari kalimat tersebut. Untuk mengungakapkan perasaan cinta yang begitu mendalam yang dirasakan oleh seorang pengarang membutuhkan kata yang mempunyai arti lebih, sehingga dengan memilih kata “menghujam” untuk membuat kalimat “aku ingin mencintaimu seperti akar yang menghujam jauh ke dasar tanah” justru akan lebih cocok menjadi kalimat pengungkap bahwa cintanya seorang pengarang bukanlah cinta yang biasa.

Pada puisi ke-3
Kami adalah rumput liar yang kau injak.
Tapi kami terus tumbuh dan menyebar,
Jadi padang kering, padang merah
Padang merah
Padang darah
Pada puisi ke-3 menceritakan tentang kesengsaraan rakyat biasa atau rakyat miskin yang dirampas haknya oleh kaum-kaum elit atau para pejabat dan orang kaya.
Pengarang memilih kata “rumput liar” yang artinya adalah rakyat miskin atau rakyat jelata karena kata tersebut mempunyai persamaan sifat dengan rakyat miskin yang diinjak-injak martabatnya, dilecehkan, direndahkan, dicaci dan lain sebagainya. Kata “rumput liar” sebetulnya dapat diganti dengan kata “rakyat miskin” atau “rakyat kecil”, namun pengarang lebih memilih kata “rumput liar” agar kalimat didalam  puisinya tersebut menjadi kalimat yang lebih puitis dan menggugah sehingga pembaca merasa tertarik untuk lebih menikmati puisi tersebut.

2.         Pemajasan dalam antologi puisi “Ciuman Pertama”
Majas menurut Perrine (waluyo 1995:83), majas dapat digunakan untuk menghasilkan sebuah imajinatif kesenangan, imajinatif  tambahan yang memiliki sebuah kata-kata yang abstrak dan konkret yang dapat dinikmati oleh pembaca. Intensitas perasaan pengarang dalam kumpulan puisi Ciuman Pertama dalam menyampaikan sebuah makna, sikap dan cara mengkonsentrasikan sebuah makna yang menyampaikan sebuah kata-kata di dalam bahasa yang sangat singkat.
Majas memiliki empat jenis yaitu sebagai berikut: majas penegasan, majas perbandingan, majas pertentangan dan majas sindiran.
a)      Majas penegasan
Contoh Majas Eksklmasio:
 o, tanah garam
tanah hitam teriris
bulan arit api
gubuk-gubuk tua menangis
runcing hujan sepi
makin bengis

Dalam penggalan puisi tersebut terdapat majas eksklmasio yaitu ditandai dengan penggunaan kata seru “o”. kata seru “o” digunakan oleh pengarang untuk menyatakan keheranan. Heran akan tanah garam yang sudah teriris. Dimana tanah garam merupakan kata yang bermakna konotasi yang sebetulnya memiliki arti “pulau madura”.

Contoh Majas Enumerasio:
aku masuk dalam mimpimu
seperti lampu-lampu perahu
memandang horizon,
dimana pengeboran minyak
menjarah lautmu


Menggambarkan suasana hati pengarang kepada pembaca itu merupakan tugas dari seorang pengarang sehingga pesan yang terkandung dalam larik-larik puisinya tersebut dapat diterima daan dipahami oleh pembaca. Salah satu cara pengarang didalam menggambarkan suasana hatinya yaitu dengan cara menggunakan majas enumerasio seperti pada penggalan puisi di atas yang bercetak tebal. Majas enumerasio yaitu mengungkapkan beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. 

b)     Majas perbandingan
Contoh majas asosiasi:
aku ingin mencintaimu seperti akar
aku ingin mencintaimu seperti pohon
aku ingin mencintaimu seperti mencintai puisi

Majas asosiasi adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana. Pada penggalan puisi di atas penggunaan majas asosiasi ditandai dengan menggunaka kata seperti.

Contoh majas metafora:
Kami adalah rumput liar yang kau injak

Penggunaan majas metafora juga dapat kita temui dalam antologi ini. Hal ini dapat kita lihat pada penggalan puisi di atas. Pengarang mengungkapkan secara langsung perbandingan antara kami dengan rumput liar.

Contoh majas personifikasi:
aku masuk dalam mimpimu
seperti lampu-lampu perahu
memandang horizon,
dimana pengeboran minyak
menjarah lautmu

Majas personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia. Pada penggalan bait puisi di atas terdapat dua majas personifikasi. Pertama yaitu lampu-lampu perahu memandang horizon. Lampu-lampu perahu merupakan benda mati, namun seakan-akan hidup dan bisa memandang horizon layaknya manusia. Kedua yaitu pengeboran minyak menjarah lautmu, pada kalimat ini juga digambarkan pengeboran minyak yang sebetulnya mati tapi seakan-akan hidup dan bias menjarah, mencuri atau mengambil kekayaan laut seperti manusia yang bias menangkap ikan di laut.
c)      Majas pertentangan
Contoh majas hiperbola
kutulis sajak ini kala malam terbakar
debu menghambar
kepedihan meneriakkan sepi
hati iseng sendiri

Hiperbola adalah pengungkapan sesuatu secara berlebih-lebihan atau dibesar-besarkan dari kenyataan yang sebenarnya, baik jumlah, ukuran dan sifatnya. Pada penggalan bait puisi tersebut pengarang secara berlebihan di dalam mengungkapkan pikirannya. Kata terbakar dipakai untuk menimbulkan efek puitis pada kalimat tersebut, sehingga dengan kata terbakar pengarang betul-betul bisa meluapkan perasaanya bahwa dia betul-betul dalam keadaan sedih, merana, dan tersiksa batinnya (kutulis sajak ini kala malam terbakar)

d)     Majas sindiran
Majas sendiran adalah majas atau gaya bahasa yang digunakan untuk menyindir seseorang atau sesuatu. Macam- macam majas sindiran yaitu sarkasme, sinisme, satire, dan innuendo.
Pada bait-bait puisi di atas tidak ditemui pemakaian majas sindiran.
















DAFTAR PUSTAKA

Aminnuddin. 1997. Stilistika, Pengantar Memahami Karya Sastra. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.

Tarigan, HG. 2011. (dalam catatan Remy Silado) Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Djoko Pradopo, Rahmat. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Syahreza, Faisal. 2012. (pada paper yang disampaikan pada acara Gentala di Universtitas Pendidikan Indinesia) Puisi dan Personalitas. Bandung





Tidak ada komentar:

Posting Komentar