Sabtu, 12 Desember 2015

ANALISIS STRUKTURAL DAN STILISTIKA PADA NOVEL “SEMESTA MENDUKUNG”KARYA AYU WIDYA



ANALISIS STRUKTURAL DAN STILISTIKA PADA NOVEL “SEMESTA MENDUKUNG”KARYA AYU WIDYA


Disusun oleh:
WIWIK RAHMAWATI
                 NIM : 20152110003

        

      A.    LATAR BELAKANG
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1993: 8). Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam segi kehidupannya, maka sastra tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir manusia. Sastra dapat dibahas berdasarkan dua hal, yaitu isi dan bentuk. Dari segi isi, sastra membahas tentang hal yang terkandung di dalamnya, sedangkan bentuk sastra membahas cara penyampaiannya. Ditinjau dari isinya, sastra merupakan karangan fiksi dan nonfiksi. Apabila dikaji melalui bentuk atau cara pengungkapannya, sastra dapat dianalisis melalui genre sastra itu sendiri, yaitu puisi, novel, dan drama. Karya sastra juga digunakan pengarang untuk menyampaikan pikirannya tentang sesuatu yang ada dalam realitas yang dihadapinya. Realitas ini merupakan salah satu faktor penyebab pengarang menciptakan karya, di samping unsur imajinasi.
Karya sastra merupakan gambaran kehidupan hasil rekaan seseorang yang sering kali karya sastra itu menghadirkan kehidupan yang diwarnai oleh sikap latar belakang dan keyakinan pengarang. Novel sebagai salah satu produk sastra memegang peranan penting dalam memberikan pandangan untuk menyikapi hidup secara artistik imajinatif. Hal ini dimungkinkan karena persoalan yang dibicarakan dalam novel adalah persoalan tentang manusia dan kemanusiaan.


     B.     KAJIAN TEORI
1.      Teori Struktural
Menurut Nurgiantoro (1995: 36), langkah-langkah karya sastra dalam teori strukturalisme adalah:
a.       Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra secara lengkap               dan jelas, nama tema, dan nama tokohnya.
b.      Mengkaji unsur-unsur yang telah diidentifikasi sehingga diketahui bagaimana tema, alur,  dari sebuah karya sastra.
c.       Mengidentifikasikan fungsi masing-masing unsur sehingga diketahui fungsi alur, latar, dan penokohan dari sebuah karya sastra.
d.       Menghubungkan masing-masing unsur sehingga diketahui tema, alur,
       latar, penokohan dalam sebuah karya sastra.
Menurut Goldman (dalam Faruk, 1994: 12) bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang tidak statis, melahirkan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung dan dihayati oleh masyarakat. Analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu dari karya fiksi, misal peristiwa, plot, latar, tokoh dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetika dan seluruh makna yang ingin dicapai. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra merupakan salah satu faktor yang membedakan antara karya sastra satu dengan karya sastra yang lain. Sebagaimana diketahui bahwa analisis struktural adalah analisis mengenai karya sastra itu sendiri tanpa melihat kaitannya dengan data di luar karya sastra tersebut. Pada taraf ini belum sampai pada pertimbangan berdasarkan hal-hal di luar karya sastra. Hal ini diungkapkan Atmazaki (1990: 57), bahwa teori sastra struktural melepaskan kaitan karya sastra dengan aspek ekstrinsik. Pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis struktural berusaha memaparkan dan menunjukkan unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra serta menjelaskan interaksi antar unsur-unsur dalam membentuk makna yang utuh. Analisis yang tampak menghiraukan hubungan antar unsur-unsur intrinsik kurang berfungsi tanpa adanya interaksi tersebut. Analisis struktural dilakukan dengan mengidentifikasi,
mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang bersangkutan.
1.1  Tema

Tema adalah gagasan pokok dalam menulis cerita. Tema merupakan unsur penting dalam cerita. Tanpa tema cerita yang akan ditulis tidak mempunyai arah atau tempat pijakan. Nurgiyantoro (2000:83) membagi tema menjadi dua yaitu Tema mayor dan tema minor. Tema mayor ialah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra itu, sedangkan makna-makna tambahan merupekan tema-tema minor. Untuk menemukan tema mayor, menurut Esten (1990:92) ada tiga cara yaitu :
1.    Menentukan persoalan mana yang menonjol.
2.    Menentukan persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik.
3.    Menentukan persoalan mana yang membutuhkan waktu penceritaan.

1.2  Penokohan
Jones (dalam Nurgiyantoro, 2007: 165) mengemukakan bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya atau pelaku cerita. Tokoh-tokoh cerita dalam cerita fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dikategorikan ke dalam jenis penamaan sekaligus, misalnya sebagai tokoh utama protagonis-berkembang-tipikal (Nurgiyantoro, 2007: 176).
Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu:
      1.    Tokoh utama
Tokoh utama yaitu tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus        sehingga merasa mendominasi sebagian besar cerita.
2.    Tokoh tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan beberapa kali dalam cerita, dan itu pun mungkin dalam porsi yang relatif pendek.

Menurut Esten (dalam Maslikatin, 2007: 26) ada tiga cara untuk menentukan tokoh utama.
1.      Dilihat persoalannya, tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan                                       permasalahan.
2.      Tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain.
3.      Tokoh mana yang paling banyak membutuhkan waktu penceritaan.

1.3  Alur
Alur merupakan susunan cerita. Setiap pengarang mempunyai cara untuk menyusun cerita. Oemarjati (dalam Maslikatin: 2007: 40) manyatakan alur adalah struktur penyusunan kejadia-kejadian dalam cerita yang disusun secara logis dan rangkaian kejadian itu saling terjalin dalam hubungan kausalitas.
Tasrif (dalam Maslikatin: 2007: 40) membagi alur menjadi lima bagian.

1.      Situasion, pangarang menggambarkan suasana awal cerita. Pada tahapan ini belum    ada konflik, pengarang hanya mengenalkan tokoh-tokohnya dan situasi.
2.      Generating circumstances (cerita mulai bergerak) pada tahapan ini pengarang mulai mengenalkan konflik pada tokoh cerita.
3.      Rising action, cerita mulai memuncak. Pada tahapan ini persoalan-persoalan mulai menuju puncak.
4.      Climax, cerita mencapai puncak. Pada tahap ini konflik yang dialami para tokoh mencapai puncak.
5.      Denoument atau penyelesaian. Pada tahap ini pengarang memberi penyelesaian dari permasalahan-permasalahan yang ada.



2.      Teori  Stilistika
Istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata style dan ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics atau ika adalah ilmu, kaji, telaah. Jadi, stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa. Stlistika dapat dipahami sebagai aplikasi teori linguistik pada pemakaian bahasa dalam sastra. Pradopo (1994) menyebutkan bahwa gaya bahasa adalah bagaimana seorang penulis berkata mengenai apapun yang dikatakannya. Dengan kata lain bahasa merupakan penggunaan bahasa atau cara bertutur secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, baik efek estetis atau efek puitis.
Gaya bahasa adalah cara pemakaian bahsa dalam karangan atau bagaimana seorang pengarang  dalam mengungkapkan sesuatu.  Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata, struktur kalimat, majas dan citra, makna yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Misalnya, kita dapat menduga siapa pengarang sebuah karya sastra karena kita menemukan ciri-ciri penggunaan bahasa yang khas, kecenderungannya untuk secara konsisten menggunakan struktur tertentu, gaya bahasa pribadi seseorang. Setelah membaca sebuah karya sastra, kita dapat juga menentukan ragamnya (genre) berdasarkan gaya bahasa teks karena kekhasan penggunaan bahasa, termasuk tipografinya. Gaya bahasa sebuah karya juga dapat mengungkapkan periode, angkatan, atau aliran sastranya.
Sebuah karya sastra terdiri dari dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur lahir yang identik dengan isi dan bentuk dalam gaya bahasa. Bentuk struktur lahir tergantung pada kreativitas dan kepribadian pengarang yang dipengaruhi oleh ideology dan lingkungan social budaya. Untuk memperoleh bukti-bukti konkret stile pada sebuah karya sastra, harus dikaji tanda-tanda yang terdapat dalam sebuah sruktur lahir suatu karya sastra. Kajian stile dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur stile dalam karya sastra untuk mengetahui konstruksi masing-masing unsur untuk mencapai efek keindahan (estetis) dan unsur yang dominan dalam karya sastra tersebut.

Tujuan kajian stilistika ialah:              
a.        menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya.
b.      menentukan dan memperlihatkan penggunaan bahasa sastrawan, khusus penyimpangan    dan   penggunaan linguistik untuk memperoleh efek khusus.
c.        menggambarkan karakteristik khusus sebuah karya sastra, dan
d.       mengkaji berbagai bentuk gaya bahasa yang digunakan oleh sastrawan dalam karyanya.


a.      Diksi
Diksi merupakan sesuatu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang dalam karya yang diciptakan. Pemilihan kata-kata tersebut harus melewati pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis (keindahan). Ketepatan kata-kata tersebut dapat dipertimbangkan dari segi bentuk dan makna atau isi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diksi tersebut mampu mendukung efek estetis dari karya itu sendiri, mampu mengkomunikasikan makna, pesan, dan gagasan pengarang.


b.      Majas
Pemajasan merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata atau kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi, pemajasan merupakan gaya yang sengaja memanfaatkan penuturan dengan menggunakan bahasa kias. Dalam pemajasan ini, masih ada hubungan makna antara bentuk harfiah dengan makna kiasnya. Akan tetapi, hubungan tersebut bersifat tidak langsung yang membutuhkan penafsiran pembaca. Jadi, penggunaan bahasa dalam kesusastraan merupakan salah satu bentuk penyimpangan makna.
Berdasarkan langsung tidaknya makna yang terkandung dalam sebuah kata, frasa, atau klausa. Gaya bahasa dibagi menjadi dua yaitu gaya langsung atau gaya retoris (rhetorical figures) dan bahsa kiasan (tropes). Untuk mendapatkan efek estetis yang diharapkan gaya retoris dan bahasa kiasan tersebut harus tepat dalam penggunaannya, gaya bahasa tersebut harus mampu mengarahkan interpretasi pembaca yang kaya dengan asosiasi-asosiasi, di samping juga dapat mendukung terciptanya suasana dan nada tertentu.

c.       Pencitraan
Dalam dunia kesusastraan dikenal istilah citra (image) dan pencitraan (imagery) yang keduanya mengacu pada reproduksi mental. Citra adalah gambaran pengalaman indra yang diungkapkan lewat kata-kata, gambaran berbagai pengalaman sensoris yang diangkat oleh kata-kata. Sementara itu, pencitraan merupakan kumpulan citra, the collection of image, yang dipergunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun secara kias.
Gambaran-gambaran angan dalam sajak disebut citraan. Citraan tersebut khususnya di dalam puisi yang bertujuan untuk memberi gambaran yang jelas, memberi suasana yang khusus, dan membuat lebih hidup gambaran yang diungkapkan dalam pikiran atau karya tersebut. Selain itu, citraan juga digunakan untuk menarik perhatiaan pembaca pada karya sastra khususnya puisi. Pencitraan terdiri dari lima bentuk yaitu citraan penglihatan (visual), pendengaran (auditoris), gerakan (kinestetik), rabaan (taktik termal), dan penciuman (olfaktori). Akan tetapi, kelima pencitraan tersebut berbeda intensitas pemanfaatannya dalam karya sastra.


     C.     PEMBAHASAN
1.      Analisis struktural
a.      Tema
Novel Semesta Mendukung karya Ayuwidya mengangkat tema pencarian  rasa sayang dan kerinduan seorang anak kepada ibunya , dimana rasa rindu dan ingin bertemu kepada seorang ibu sehingga membuat perjalanan hidup dan perjuangan itu tidak sia-sia. Hal tersebut dalam data di bawah ini :
Cuma kaleng bekas kue memang,tapi isinya adalah kepingan-kepingan harapan yang sedang disusun Arif. Ia mengeluarkan kaleng itu dan membuka pelan. Di dalamnya , tersimpan berlembar-lembar uang kertas dan sebuah foto lama. Dihitungnya lagi uang itu lembar demi lembar ,”Masih kurang banyak untuk menemuimu,Ibu.”Arif menghela nafas. Dadanya sesak diisi kerinduan kepada ibunya. ( Mestakung : 8 ).  
b.      Penokohan
A.    Tokoh utama
1.      Arif
Arif merupakan tokoh utama yang menjadi pusat penceritaan , tokoh yang paling penting, yang banyak diceritakan dari awal hingga akhir cerita dan selalu berhubungan dengan tokoh lain. Secara fisiologi , Arif digambarkan sebagai seorang anak laki-laki yang berkulit coklat gelap dan  berasal dari Madura yang suka dengan budaya karapan sapi. Berikut datanya :
“Matahari menyengat ,Arif berlari dipematang padang garam. Keringat menitik di kulitnya yang coklat gelap. Kontras dengan seragam putih biru yang dikenakan nya. Inilah panas yang ditunggu para petani garam untuk mengeringkan padang garam mereka. Ketika orang-orang menganggap hujan adalah anugrah , petani-petani garam di Madura ini justru sebaliknya “. (Mestakung : 12 ).   
2.      Muslat

Muslat merupakan tokoh utama laki-laki dan merupakan bapak dari Arif yang bekerja sebagai sopir truk. Berikut datanya :
“Dari kejauhan, Arif melihat truk bapaknya sudah terparkir di depan rumahnya,”Wah ...kebetulan ,bisa sekalian kutunjukkan pada bapak. Ia pasti senang ,”pikir Arif. Rupanya,Muslat telah menunggu Arif di truknya. Namun yang menyambutnya adalah mata kemerahan dan rahang yang mengeras”. (Mestakung : 9 )
B.     Tokoh Tambahan 
1.      Salmah
Salmah merupakan tokoh tambahan dalam novel Semesta mendukung.Tokoh Salmah mempunyai kaitan erat dengan tokoh utama Arif dan Muslat.Tokoh Salmah digambarkan sebagai seorang istri dari Muslat dan ibu dari Arif. Salma merupakan seorang ibu yang penyayang tetapi kurang sabar dalam menghadapi permasalahan rumah tangga. Berikut datanya :
            “Muslat mencengkeram bahu Arif dengan kedua tangannya dan menatap lurus. “Ibumu jadi pergi,Rif. Ia sudah memutuskan jadi TKI  di Singapura.” Sambil mengatakan itu,tangan Muslat meremas surat yang ada di genggamannya. Surat dari Salmah yang tak sanggup pamitan langsung karena begitu kecewanya kepada Muslat.Salmah juga tak mampu melihat mata anaknya yang pasti akan menahannya pergi.” ( Mestakung : 9 ) 
2.      Alul
Alul merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan sesosok         pemuda Madura yang bekerja sebagai TKI di Malaysia dan memiliki perilaku yang sombong dan suka pamer dengan harta benda yang dimiliki,tetapi sebenarnya itu hanya sebuah gaya saja.Berikut datanya:
“Wah,motor baru ?” Romli terpancing mengangumi motor Alul.
Alul makin menjadi -,”lihat ini,cak!”dipamerkan sekalian gas motornya.Bising sekali bunyinya.Romli mengangguk-angguk.
Arif tidak begitu paham apa yang dikerjakan TKI seperti Alul di Malaysia. ( Mestakung : 28 )  
3.      Tino
Tino merupakan tokoh tambahan yang memiliki hubungan dengan tokoh utama Arif. Tino merupakan tokoh yang menggambarkan seorang peserta lomba karapan sapi.Tino merupakan tokoh yang mengharap kedatangan Arif sebaigai joki dan memberikan prediksi-prediksi yang jitu . Berikut datanya :
“ Setelah melewati padang garam,Arif tidak berbelok ke kiri seperti biasanya. Siang ini,ia mau ke arena kerapan sapi dulu. Ia sudah janji membantu pakde Tino. Jika peserta lainnya mengandalkan dukun , Tino mengandalkan Arif.Arif memang bukan dukun yang bisa membaca maantra-mantra untuk melindungi sapi dari mantra-mantra dukun lain. Tino perlu Arif untuk berada di sana dan mendukungnya,sekedar mengecek arena karapan dengan prediksi-prediksi Arif yang jitu.”(Mestakung : 13)
           
4.      Romli
Romli merupakan tokoh tambahan yang memiliki hubungan dengan tokoh utama. Romli merupakan tokoh yang menggambarkan seorang laki-laki yang memiliki bengkel motor.Berikut datanya :
“Romli ,pemilik bengkel,menghampiri mereka.”Nggak apa-apa,Rif?”


5.      Tari Hayat
Tari Hayat merupakan tokoh tambahan yang memiliki hubungan dan kedekatan sangat baik dan berperan penuh dalam keberhasilan cita-cita tokoh utama. Tari hayat menggambarkan seorang guru yang baik,tegas dan disukai murid-muridnya. Berikut datanya :
“Sebagai seorang guru ,Tari Hayat tahu pelajaran fisika bukanlah palajaran faforit para siswa .Di dalamnya ada hitung-hitungan ,rumus, logika,konsep,dan teori yang harus dipahami.Semua itu tentu saja membosankan buat anak-anak remaja yang gandrung mengoleksi poster band ini. Namun, Tari hayat membuat fisika ringan dan menarik seperti permainan.Contohnya kemarin,tari Hayat membuat balon jadi alat peraga. Ini membuat  fisika jadi salah satu mata pelajaran favorit para siswa di sekolahini.” (Mestakung : 62).
6.      Tio Johanes
Tio Johanes merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan seorang ahli fisika yang menjadi guru dan pembimbing di Tim FUSI.Berikut datanya :
“satu- satunya orang yang berkeliling di ruangan itu adalahTio Johanes,seorang ahli fisika yang menjadi guru dan membimbing di tim FUSI.Sebuah tim anak-anak yang genius fisika.”

7.      Debby
Debby merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan seorang perempuan yang tegas dan disiplin.Debby merupakan tokoh yang berperan sebagai pengurus asrama Tim FUSI. Berikut datanya :
“Kamar-kamar tidur dibagi di dua sayap asrama. Sayap sebelah kanan,untuk putri, dan untuk putra sebelah sini,”jelas Debby,pengurus asrama Fusi. Arif mengikuti Debby berjalan sepanjang lorong. Sejak pertama kali diperkenalkan Tio tadi,Debby bersikap ramah kepada arif,namun arif melihat ada gurat ketegasan yang tidak bisa ditolak di wajah Debby.”( Mestakung : 99 ).   
8.      Thamrin
Tamrin merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan anak laki-laki yang berasal dari Betawi dan memiliki sifat ramah,suka humor.Berikut datanya :
“ Setelah minum beberapa teguk,thamrin melanjutkan , kalo aku,orang Betawi asli !”( Mestakung : 104 )

9.      Erwin
Erwin merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan anak laki-laki yang bersosok gemulai. Berikut datanya :
“ Sampeno terlalu manis dan Erwin terlalu gemulai .”(Mestakung : 104)



10.  Bima
Bima merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan anak laki-laki yang pandai,genius dan sombong.Berikut datanya :
“Buat aku ,tes tadi gampang banget,”kata Bima.Clara pura-pura tidak mendengar ocehan sombong Bima,namun Bima tida tanggap.Bima melanjutkan ,”kalau mau,aku bisa ajari kamu.”Clara masih diam,dalam hatinya,ia justru ingin mengajari Bima bagaimana cara menyelotip mulutnya.” (Mestakung : 121 )

11.  Clara
Clara merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan sosok seorang gadis cantik,berkulit putih dan ramah. Berikut datanya :
“Arif tak sempat menjawab thamrin yang cerewet itu karena dilihatnya bidadari itu menghampirinya.”baru datang , ya ?”tanya bidadari itu,suaranya ringan seperti dentingan gelas dan ringan seperti gemercik air.Ia bahkan lebih cantik dari dekat.Kulitnya putih bersih cemerlang,jarang sekali kulit seperti ini dilihatnya di Madura.Matanya kecil,namun berkerlip.Duh...cakepnya...batin Arif.”

c.       Alur
1.      Tahap Situasion ( Tahap Perkenalan )
Tahapan ini, dalam novel terdapat pada halaman 7-8. Gaya bertutur yang dipergunakan oleh pengarang adalah memakai sudut pandang orang lain atau di luar orang pertama dan kedua. Datanya adalah sebagai berikut :
Pukul satu malam .
Semua orang terlelap,Arif masih di ruang shalat. Suaranya lirih melantunkan ayat terakhir mengajinya. Ketika Al-Quran telah ditutup,yang tinggal cum suara kerikan jangkrik dan sesekali,lenguhan sapi pakdenya.Selebihnya ,hening.
      Tak ingin mengusik keheningan , dilangkahkan kakinya perlahan masuk ke kamar bapaknya.Tercium bau obat nyamuk bakar di ruangan yang Cuma diisi oleh satu set tempat tidur,lemari kayu,danmeja rias yang sudah jarang difungsikan.Di atas tempat tidur itu,Muslat,bapaknya,sudah tidur pulas.Selimutnya tersibak hingga kaki.Arif memunggut dan memakaikanitu ke tubuh bapaknya yang meringkuk,juga dengan pelan ,tanpa suara.(Mestakung : 7-8)
2.      Tahap Pemunculan Konflik
Permulaan konflik adalah ketika Salmah memutuskan untuk pergi menjadi TKI di Singapura.Datanya adalah sebagai berikut :
Muslat mencengkeram bahu Arif dengan kedua tangannya dan menatap lurus.”Ibu jadi pergi,Rif. Ia sudah memutuskan jadi TKI di Singapura.”(Mestakung :9).
Pertengkaran terjadi karena Muslat selalu berjanji untuk menghentikan kebiasaannya berjudi di karapan sapi,namun janji Cuma janji.Datanya adalah sebagai berikut :
Beberapa detik, mata Muslat tertangkaap maataa Salmah.Detik berikutnya,mata Muslat menghindar. Ia tak mampu menatap Salmah lebih lama.Ada rasa bersalah dan malu dalam diri Muslat.Ia telah beberapa kali berjanji kepada Salmah akan menghentikan kebiasaannya berjudi di karapan sapi.(Mestakung : 40).
Muslat yang waktu itu ingin menghentikan kebiasaan berjudi menyanggupi permintaan Salmah .”Ya , Salmah,Aku berjanji,tadi itu yang terakhir.:Namun,janji hanyalah  janji.Ditepati atau tidak ,itu perkara lain.Muslat tadak pernah menepatinya.( Mestakung : 41).  


3.      Tahap Klimaks
Penderitaan dan kemarahan Arif semakin menjadi-jadi karena Alul yang menganggap mencari ibunya itu hal yang gampang yang penting uangnya dulu. Datanya adalah sebagai berikut :
Arif berkata dengan ketus ,”Duit saya buat cari Ibu.Bukan buat nebus motor.”
Alul mendengus sambil menggelengkan kepalanya. Di kepala Alul saat ini hanyalah bagaimana menebus belahan hatinya itu. Tidak ada yang lain-lain, termasuk ibu Arif. Tidak ada waktu untuk memikirkan orang hilang. “Cari Ibu kamu gampang,”suaranya meninggi.”Sekarang yang penting uang...uang..”
“Enak saja gampang-gampangin !” Arif kesal.Ia menantang. Alul kaget , bertahun-tahun ia mencari ibunya belum berhasil, dan sekarang ada orang yang seenaknya bilang gampang . Kepercayaannya kepada Alul sudah lenyap sekarang.
“Heh...Arif !Aku kasi tau kamu,ya!Ia tahu apa yang paling bisa menyakiti Arif,bocah yang telah menyulut amarahnya.” Kamu mau ketemu ibu kamu ? Percuma Ibu kamu nggak mau ketemu kamu!”kata Alul.
Alul berhasil.Wajah Arif berubah tegang. Alul melanjutkan ,Ia tidak tahan sama hobi judi bapak kamu !Ngabisin duit!Makanya jadi sopir truk serabutan sekarang ! bentak Alul.   

4.      Tahap Penyelesaian
Novel semesta mendukung ini berakhir dengan happy ending. Hal ini ditandai dengan kemenangan Arif dalam meraih juara Olimpiade Fisika.Datanya adalah sebagai berikut :
Now,it’s the time we have been waiting for.”Seisi ruangan yang gempita mendadak sunyi,The champion of XXI th WPO...Mohammad Arif from indonesia !” ( Mestakung : 187 ).
“Sudah lima bulan ...kamu bertambah besar ,Rif.”
Muslat memegang pundak Arif erat. Arif mengangguk. Ia memandang bapaknya dengan hati bangga. Muslat dan Arif sama-sama menghapus air mata haru yang menetes di pipi mereka. “Ada yang mau bertemu kamu,”kata Muslat sambil membimbing Arif masuk rumah. Seorang wanita sudah berdiri di depan pintu. Ia tersenyum menatap Arif. Air mata Arif langsung menetas lagi melihat senyuman yang sudah ia rindukan lama sekali,bagai ribuan tahun. Senyuman yang ia kejar hingga Singapura.
“Itu ibu kamu ,”kata Muslat pelan,”Ia sudah pulang,doamu terjawab,Rif.”
Salmah mendekati Arif,”Ariiiiff...,”katanya lirih,suaranya tertelan isakan tangis yang ditahannya. Arif sudah tidak dapat mengerjakan apa-apa lagi. Rasa syukur memenuhi dadanya. (Mestakung : 194 ).  
2.      Analisis stilistika
a.      Diksi
Pilihan kata yang digunakan Ayuwidya dalam novelnya yang berjudul  Semesta Mendukung tersebut banyak yang mengandung makna konotatif, tetapi secara denotatif makna kata-kata tersebut mudah dipahami. Datanya adalah sebagai berikut.
Arif menganggap semuanya selesai hanya dengan menukar sapinya. Ketika senyum ibunya kembali ,semua masalah dianggapnya selesai. Padahal,badai besar baru saja akan muncul.Gelombang kekecewaan dalam hati salmah bergulung,pusarannya semakin besar dan akan memecahkan .(Mestakung : 43 ).
Kalimat badai besar,gelombang kekecewaan,hati bergulung dan pusarannya semakin besar dan akan memecahkan,merupakan pelukisan keadaan seseorang yang memendam rasa kecewa.

b.      Majas
Pada novel Semesta mendukung karya Ayuwidya , terdapat beberapa majas. Diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Personifikasi
Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberi sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau benda hidup. Datanya adalah sebagai berikut :
Lemari yang sudah renta itu memang cerewet, kalau engselnya disuruh bergeser sedikit,ia merengek. Kreeekkk...Ah,betul,kan,...Arif melirik Muslat,untunglah bapaknya tetap pulas. (Mestakung : 8 ).



2.      Simile
Majas simile adalah majas yang menggunakan kata-kata perbandingan : seperti, laksana, umpama. Datanya adalah sebagai berikut :
“Itulah ! Jokinya juga sudah lemes. Yakin kalah.”arif memandang joki Tino. Betul yang tino bilang .Tampang joki itu sesuai untuk menggambarkan perumpamaan hidup segan mati tak mau.(Mestakung :15).
Bukannya terbang dengan anggun seperti layaknya bidadari,Arif terbang dengan anggun seperti burung puyuh kena racun,tersaruk-saruk. Salmah tertawa melihat Arif. (Mestakung : 46).

c.       Citraan
1.      Citraan Penglihatan
Citraan penglihatan pada novel Semesta Mendukung  ini dapat diliahat pada data berikut.
Melihat anak-anak muridnya tenang, Tari Hayat meraih tasnya,mengeluarkan sebuah majalah. Dibacanya majalah itu sambil sesekali melirik pada anak-anak. Saat membuka salah satu lembar majalah,Tari Hayat terpakupada sebuah artikel dengan judul ,”Siswa Indonesia Menuju Panggung Fisika Dunia”.(Mestakung: 62).
2.      Citraan Pendengaran
Citraan pendengaran pada novel Semesta Mendukung ini dapat diliahat pada data berikut.
Pukul satu malam.
Semua orang terlelap , Arif masih di ruang shalat . Suaranya lirih melantunkan ayat terakhir mengajinya. Ketika Al-Quran telah ditutup,yang tinggal Cuma suara kerikan jangkrik dan sesekali,lenguhan sapi pakdenya. Selebihnya, hening.(Mestakung:7).
3.      Citraan Penciuman
Citraan penciuman pada novel Semesta Mendukung ini dapat dilihat pada data berikut.
Tercium bau obat nyamuk bakar di ruangan yang Cuma diisi oleh satu set tempat tidur,lemari kayu,dan meja rias yang sudah jarang difungsikan.(Mestakung:6).
4.      Citraan Rasa
Citraan rasa pada novel Semesta Mendukung ini dapat dilihat pada data berikut.
Gerimis berubah jadi hujan dan hujan jadi tambah deras hanya dalam beberapa menit.Arif meneduh di teras depan toko itu. Karena tak begitu luas,kadang cipratan air hujan mengenai Arif. Baju Arif sudah basah kuyup dan ia kedinginan.( Mestakung : 135).

     D.    PENUTUP

Struktur novel Semesta Mendukung karya Ayuwidya terdiri dari tema, alur, penokohan. Tema novel Semesta Mendukung adalah tentang pencarian cinta dan kasih sayang seorang anak kepada ibunya yang telah merantau ke negeri sebrang. Alur atau plot novel Semesta Mendukung ini adalah plot campuran. Penokohan terdiri dari tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah Arif,Muslat.
Pada analisis stilistika, yaitu Diksi atau pilihan kata dalam novel  Semesta Mendukung cenderung menggunakan kata-kata yang mengandung makna konotatif dan penggunaan majas. Di antaranya  menggunakan majas personifikasi, simile.  Pencitraan yang dapat ditemukan adalah citaraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan rasa, dan citaraan penciuman.
























DAFTAR PUSTAKA

Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Padang : Angkasa Raya.

Widya, Ayu. 2011. Semesta Mendukung. Jakarta : PT. Mizan Pustaka
Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Nusa Indah.
Maslikatin, Titik. 2007. Kajian Sastra Prosa, Puisi, Drama. Jember: UNEJ Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Univesity Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar