ANALISIS
STRUKTURAL DAN STILISTIKA PADA NOVEL “SEMESTA MENDUKUNG”KARYA AYU WIDYA
Disusun
oleh:
WIWIK RAHMAWATI
NIM : 20152110003
A.
LATAR BELAKANG
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni
kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa
sebagai mediumnya (Semi, 1993: 8). Sebagai seni kreatif yang menggunakan
manusia dan segala macam segi kehidupannya, maka sastra tidak saja merupakan
suatu media untuk menyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir manusia. Sastra
dapat dibahas berdasarkan dua hal, yaitu isi dan bentuk. Dari segi isi, sastra
membahas tentang hal yang terkandung di dalamnya, sedangkan bentuk sastra
membahas cara penyampaiannya. Ditinjau dari isinya, sastra merupakan karangan
fiksi dan nonfiksi. Apabila dikaji melalui bentuk atau cara pengungkapannya,
sastra dapat dianalisis melalui genre sastra itu sendiri, yaitu puisi, novel,
dan drama. Karya sastra juga digunakan pengarang untuk menyampaikan pikirannya
tentang sesuatu yang ada dalam realitas yang dihadapinya. Realitas ini
merupakan salah satu faktor penyebab pengarang menciptakan karya, di samping
unsur imajinasi.
Karya sastra
merupakan gambaran kehidupan hasil rekaan seseorang yang sering kali karya
sastra itu menghadirkan kehidupan yang diwarnai oleh sikap latar belakang dan
keyakinan pengarang. Novel sebagai salah satu produk sastra memegang peranan
penting dalam memberikan pandangan untuk menyikapi hidup secara artistik
imajinatif. Hal ini dimungkinkan karena persoalan yang dibicarakan dalam novel
adalah persoalan tentang manusia dan kemanusiaan.
B.
KAJIAN TEORI
1. Teori Struktural
Menurut Nurgiantoro (1995:
36), langkah-langkah karya sastra dalam teori strukturalisme adalah:
a. Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang membangun
karya sastra secara lengkap dan jelas, nama tema, dan nama
tokohnya.
b. Mengkaji unsur-unsur yang telah diidentifikasi
sehingga diketahui bagaimana tema, alur, dari sebuah karya sastra.
c. Mengidentifikasikan fungsi masing-masing unsur
sehingga diketahui fungsi alur, latar, dan penokohan dari sebuah karya sastra.
d. Menghubungkan
masing-masing unsur sehingga diketahui tema, alur,
latar,
penokohan dalam sebuah karya sastra.
Menurut Goldman (dalam Faruk, 1994: 12) bahwa karya
sastra merupakan sebuah struktur yang tidak statis, melahirkan produk dari
proses sejarah yang terus berlangsung dan dihayati oleh masyarakat. Analisis
struktural tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu dari
karya fiksi, misal peristiwa, plot, latar, tokoh dan lain sebagainya. Akan
tetapi, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur
dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetika dan seluruh makna yang
ingin dicapai. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra merupakan
salah satu faktor yang membedakan antara karya sastra satu dengan karya sastra
yang lain. Sebagaimana diketahui bahwa analisis struktural adalah analisis
mengenai karya sastra itu sendiri tanpa melihat kaitannya dengan data di luar
karya sastra tersebut. Pada taraf ini belum sampai pada pertimbangan
berdasarkan hal-hal di luar karya sastra. Hal ini diungkapkan Atmazaki (1990:
57), bahwa teori sastra struktural melepaskan kaitan karya sastra dengan aspek
ekstrinsik. Pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis struktural
berusaha memaparkan dan menunjukkan unsur-unsur intrinsik yang membangun karya
sastra serta menjelaskan interaksi antar unsur-unsur dalam membentuk makna yang
utuh. Analisis yang tampak menghiraukan hubungan antar unsur-unsur intrinsik
kurang berfungsi tanpa adanya interaksi tersebut. Analisis struktural dilakukan
dengan mengidentifikasi,
mengkaji,
dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang
bersangkutan.
1.1 Tema
Tema adalah gagasan pokok
dalam menulis cerita. Tema merupakan unsur penting dalam cerita. Tanpa tema
cerita yang akan ditulis tidak mempunyai arah atau tempat pijakan. Nurgiyantoro
(2000:83) membagi tema menjadi dua yaitu Tema mayor dan tema minor. Tema mayor
ialah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra itu,
sedangkan makna-makna tambahan merupekan tema-tema minor. Untuk menemukan tema
mayor, menurut Esten (1990:92) ada tiga cara yaitu :
1.
Menentukan persoalan mana
yang menonjol.
2.
Menentukan persoalan mana
yang paling banyak menimbulkan konflik.
3.
Menentukan persoalan mana
yang membutuhkan waktu penceritaan.
1.2 Penokohan
Jones (dalam Nurgiyantoro,
2007: 165) mengemukakan bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas
tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Istilah tokoh menunjuk
pada orangnya atau pelaku cerita. Tokoh-tokoh cerita dalam cerita fiksi dapat
dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan
itu dilakukan. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh
dikategorikan ke dalam jenis penamaan sekaligus, misalnya sebagai tokoh utama
protagonis-berkembang-tipikal (Nurgiyantoro, 2007: 176).
Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Tokoh
utama
Tokoh utama
yaitu tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus sehingga merasa mendominasi sebagian
besar cerita.
2. Tokoh tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan
beberapa kali dalam cerita, dan itu pun mungkin dalam porsi yang relatif
pendek.
Menurut
Esten (dalam Maslikatin, 2007: 26) ada tiga cara untuk menentukan tokoh utama.
1. Dilihat persoalannya, tokoh
mana yang paling banyak berhubungan dengan
permasalahan.
2. Tokoh mana yang paling
banyak berhubungan dengan tokoh lain.
3. Tokoh mana yang paling
banyak membutuhkan waktu penceritaan.
1.3 Alur
Alur merupakan susunan
cerita. Setiap pengarang mempunyai cara untuk menyusun cerita. Oemarjati (dalam
Maslikatin: 2007: 40) manyatakan alur adalah struktur penyusunan
kejadia-kejadian dalam cerita yang disusun secara logis dan rangkaian kejadian
itu saling terjalin dalam hubungan kausalitas.
Tasrif (dalam Maslikatin:
2007: 40) membagi alur menjadi lima bagian.
1. Situasion,
pangarang menggambarkan suasana awal cerita. Pada tahapan ini belum ada konflik, pengarang hanya mengenalkan
tokoh-tokohnya dan situasi.
2. Generating circumstances (cerita mulai bergerak) pada tahapan ini pengarang
mulai mengenalkan konflik pada tokoh cerita.
3. Rising action, cerita
mulai memuncak. Pada tahapan ini persoalan-persoalan mulai menuju puncak.
4. Climax, cerita
mencapai puncak. Pada tahap ini konflik yang dialami para tokoh mencapai
puncak.
5. Denoument atau
penyelesaian. Pada tahap ini pengarang memberi penyelesaian dari
permasalahan-permasalahan yang ada.
2. Teori Stilistika
Istilah stilistika berasal
dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika atau stylistics
terdiri dari dua kata style dan ics. Stylist adalah
pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam
mode. Ics atau ika adalah ilmu, kaji, telaah. Jadi, stilistika
adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa. Stlistika dapat dipahami sebagai
aplikasi teori linguistik pada pemakaian bahasa dalam sastra. Pradopo (1994)
menyebutkan bahwa gaya bahasa adalah bagaimana seorang penulis berkata mengenai
apapun yang dikatakannya. Dengan kata lain bahasa merupakan penggunaan bahasa
atau cara bertutur secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, baik efek
estetis atau efek puitis.
Gaya bahasa adalah cara
pemakaian bahsa dalam karangan atau bagaimana seorang pengarang dalam
mengungkapkan sesuatu. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata,
struktur kalimat, majas dan citra, makna yang digunakan seorang sastrawan atau
yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Misalnya, kita dapat menduga siapa
pengarang sebuah karya sastra karena kita menemukan ciri-ciri penggunaan bahasa
yang khas, kecenderungannya untuk secara konsisten menggunakan struktur
tertentu, gaya bahasa pribadi seseorang. Setelah membaca sebuah karya sastra,
kita dapat juga menentukan ragamnya (genre) berdasarkan gaya bahasa teks karena
kekhasan penggunaan bahasa, termasuk tipografinya. Gaya bahasa sebuah karya
juga dapat mengungkapkan periode, angkatan, atau aliran sastranya.
Sebuah karya sastra terdiri
dari dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur lahir yang identik dengan
isi dan bentuk dalam gaya bahasa. Bentuk struktur lahir tergantung pada
kreativitas dan kepribadian pengarang yang dipengaruhi oleh ideology dan
lingkungan social budaya. Untuk memperoleh bukti-bukti konkret stile pada sebuah
karya sastra, harus dikaji tanda-tanda yang terdapat dalam sebuah sruktur lahir
suatu karya sastra. Kajian stile dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur
stile dalam karya sastra untuk mengetahui konstruksi masing-masing unsur untuk
mencapai efek keindahan (estetis) dan unsur yang dominan dalam karya sastra
tersebut.
Tujuan
kajian stilistika
ialah:
a.
menerangkan
hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya.
b.
menentukan dan memperlihatkan penggunaan bahasa
sastrawan, khusus penyimpangan
dan penggunaan linguistik untuk
memperoleh efek khusus.
c.
menggambarkan
karakteristik khusus sebuah karya sastra, dan
d.
mengkaji
berbagai bentuk gaya bahasa yang digunakan oleh sastrawan dalam karyanya.
a. Diksi
Diksi merupakan sesuatu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata
tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang dalam karya yang diciptakan.
Pemilihan kata-kata tersebut harus melewati pertimbangan-pertimbangan tertentu
yang dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis (keindahan). Ketepatan
kata-kata tersebut dapat dipertimbangkan dari segi bentuk dan makna atau isi.
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diksi tersebut mampu mendukung efek
estetis dari karya itu sendiri, mampu mengkomunikasikan makna, pesan, dan
gagasan pengarang.
b. Majas
Pemajasan merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang
maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata atau kata yang mendukungnya,
melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi, pemajasan
merupakan gaya yang sengaja memanfaatkan penuturan dengan menggunakan bahasa
kias. Dalam pemajasan ini, masih ada hubungan makna antara bentuk harfiah
dengan makna kiasnya. Akan tetapi, hubungan tersebut bersifat tidak langsung
yang membutuhkan penafsiran pembaca. Jadi, penggunaan bahasa dalam kesusastraan
merupakan salah satu bentuk penyimpangan makna.
Berdasarkan
langsung tidaknya makna yang terkandung dalam sebuah kata, frasa, atau klausa.
Gaya bahasa dibagi menjadi dua yaitu gaya langsung atau gaya retoris
(rhetorical figures) dan bahsa kiasan (tropes). Untuk mendapatkan efek estetis
yang diharapkan gaya retoris dan bahasa kiasan tersebut harus tepat dalam
penggunaannya, gaya bahasa tersebut harus mampu mengarahkan interpretasi
pembaca yang kaya dengan asosiasi-asosiasi, di samping juga dapat mendukung
terciptanya suasana dan nada tertentu.
c. Pencitraan
Dalam dunia kesusastraan dikenal istilah citra (image) dan pencitraan
(imagery) yang keduanya mengacu pada reproduksi mental. Citra adalah gambaran
pengalaman indra yang diungkapkan lewat kata-kata, gambaran berbagai pengalaman
sensoris yang diangkat oleh kata-kata. Sementara itu, pencitraan merupakan
kumpulan citra, the collection of image, yang dipergunakan untuk melukiskan
objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra, baik
dengan deskripsi secara harfiah maupun secara kias.
Gambaran-gambaran
angan dalam sajak disebut citraan. Citraan tersebut khususnya di dalam puisi
yang bertujuan untuk memberi gambaran yang jelas, memberi suasana yang khusus,
dan membuat lebih hidup gambaran yang diungkapkan dalam pikiran atau karya
tersebut. Selain itu, citraan juga digunakan untuk menarik perhatiaan pembaca
pada karya sastra khususnya puisi. Pencitraan terdiri dari lima bentuk yaitu
citraan penglihatan (visual), pendengaran (auditoris), gerakan (kinestetik),
rabaan (taktik termal), dan penciuman (olfaktori). Akan tetapi, kelima
pencitraan tersebut berbeda intensitas pemanfaatannya dalam karya sastra.
C.
PEMBAHASAN
1. Analisis struktural
a. Tema
Novel
Semesta Mendukung karya Ayuwidya
mengangkat tema pencarian rasa sayang
dan kerinduan seorang anak kepada ibunya , dimana rasa rindu dan ingin bertemu
kepada seorang ibu sehingga membuat perjalanan hidup dan perjuangan itu tidak
sia-sia. Hal tersebut dalam data di bawah ini :
Cuma
kaleng bekas kue memang,tapi isinya adalah kepingan-kepingan harapan yang
sedang disusun Arif. Ia mengeluarkan kaleng itu dan membuka pelan. Di dalamnya
, tersimpan berlembar-lembar uang kertas dan sebuah foto lama. Dihitungnya lagi
uang itu lembar demi lembar ,”Masih kurang banyak untuk menemuimu,Ibu.”Arif
menghela nafas. Dadanya sesak diisi kerinduan kepada ibunya. ( Mestakung : 8 ).
b. Penokohan
A. Tokoh utama
1. Arif
Arif
merupakan tokoh utama yang menjadi pusat penceritaan , tokoh yang paling
penting, yang banyak diceritakan dari awal hingga akhir cerita dan selalu
berhubungan dengan tokoh lain. Secara fisiologi , Arif digambarkan sebagai
seorang anak laki-laki yang berkulit coklat gelap dan berasal dari Madura yang suka dengan budaya
karapan sapi. Berikut datanya :
“Matahari
menyengat ,Arif berlari dipematang padang garam. Keringat menitik di kulitnya
yang coklat gelap. Kontras dengan seragam putih biru yang dikenakan nya. Inilah
panas yang ditunggu para petani garam untuk mengeringkan padang garam mereka.
Ketika orang-orang menganggap hujan adalah anugrah , petani-petani garam di
Madura ini justru sebaliknya “. (Mestakung : 12 ).
2. Muslat
Muslat merupakan tokoh utama laki-laki
dan merupakan bapak dari Arif yang bekerja sebagai sopir truk. Berikut datanya
:
“Dari kejauhan, Arif melihat truk
bapaknya sudah terparkir di depan rumahnya,”Wah ...kebetulan ,bisa sekalian
kutunjukkan pada bapak. Ia pasti senang ,”pikir Arif. Rupanya,Muslat telah
menunggu Arif di truknya. Namun yang menyambutnya adalah mata kemerahan dan
rahang yang mengeras”. (Mestakung : 9 )
B. Tokoh Tambahan
1. Salmah
Salmah merupakan tokoh tambahan dalam
novel Semesta mendukung.Tokoh Salmah
mempunyai kaitan erat dengan tokoh utama Arif dan Muslat.Tokoh Salmah
digambarkan sebagai seorang istri dari Muslat dan ibu dari Arif. Salma
merupakan seorang ibu yang penyayang tetapi kurang sabar dalam menghadapi
permasalahan rumah tangga. Berikut datanya :
“Muslat
mencengkeram bahu Arif dengan kedua tangannya dan menatap lurus. “Ibumu jadi
pergi,Rif. Ia sudah memutuskan jadi TKI
di Singapura.” Sambil mengatakan itu,tangan Muslat meremas surat yang
ada di genggamannya. Surat dari Salmah yang tak sanggup pamitan langsung karena
begitu kecewanya kepada Muslat.Salmah juga tak mampu melihat mata anaknya yang
pasti akan menahannya pergi.” ( Mestakung : 9 )
2. Alul
Alul
merupakan tokoh tambahan yang menggambarkan sesosok pemuda Madura yang bekerja sebagai TKI
di Malaysia dan memiliki perilaku yang sombong dan suka pamer dengan harta
benda yang dimiliki,tetapi sebenarnya itu hanya sebuah gaya saja.Berikut
datanya:
“Wah,motor
baru ?” Romli terpancing mengangumi motor Alul.
Alul
makin menjadi -,”lihat ini,cak!”dipamerkan sekalian gas motornya.Bising sekali
bunyinya.Romli mengangguk-angguk.
Arif
tidak begitu paham apa yang dikerjakan TKI seperti Alul di Malaysia. (
Mestakung : 28 )
3. Tino
Tino merupakan tokoh tambahan yang
memiliki hubungan dengan tokoh utama Arif. Tino merupakan tokoh yang
menggambarkan seorang peserta lomba karapan sapi.Tino merupakan tokoh yang
mengharap kedatangan Arif sebaigai joki dan memberikan prediksi-prediksi yang
jitu . Berikut datanya :
“
Setelah melewati padang garam,Arif tidak berbelok ke kiri seperti biasanya.
Siang ini,ia mau ke arena kerapan sapi dulu. Ia sudah janji membantu pakde
Tino. Jika peserta lainnya mengandalkan dukun , Tino mengandalkan Arif.Arif
memang bukan dukun yang bisa membaca maantra-mantra untuk melindungi sapi dari
mantra-mantra dukun lain. Tino perlu Arif untuk berada di sana dan
mendukungnya,sekedar mengecek arena karapan dengan prediksi-prediksi Arif yang
jitu.”(Mestakung : 13)
4. Romli
Romli merupakan tokoh
tambahan yang memiliki hubungan dengan tokoh utama. Romli merupakan tokoh yang
menggambarkan seorang laki-laki yang memiliki bengkel motor.Berikut datanya :
“Romli ,pemilik
bengkel,menghampiri mereka.”Nggak apa-apa,Rif?”
5. Tari Hayat
Tari Hayat merupakan
tokoh tambahan yang memiliki hubungan dan kedekatan sangat baik dan berperan
penuh dalam keberhasilan cita-cita tokoh utama. Tari hayat menggambarkan
seorang guru yang baik,tegas dan disukai murid-muridnya. Berikut datanya :
“Sebagai seorang guru
,Tari Hayat tahu pelajaran fisika bukanlah palajaran faforit para siswa .Di
dalamnya ada hitung-hitungan ,rumus, logika,konsep,dan teori yang harus
dipahami.Semua itu tentu saja membosankan buat anak-anak remaja yang gandrung
mengoleksi poster band ini. Namun, Tari hayat membuat fisika ringan dan menarik
seperti permainan.Contohnya kemarin,tari Hayat membuat balon jadi alat peraga.
Ini membuat fisika jadi salah satu mata
pelajaran favorit para siswa di sekolahini.” (Mestakung : 62).
6. Tio Johanes
Tio Johanes merupakan tokoh tambahan
yang menggambarkan seorang ahli fisika yang menjadi guru dan pembimbing di Tim
FUSI.Berikut datanya :
“satu- satunya orang yang berkeliling di
ruangan itu adalahTio Johanes,seorang ahli fisika yang menjadi guru dan
membimbing di tim FUSI.Sebuah tim anak-anak yang genius fisika.”
7. Debby
Debby merupakan tokoh tambahan yang
menggambarkan seorang perempuan yang tegas dan disiplin.Debby merupakan tokoh
yang berperan sebagai pengurus asrama Tim FUSI. Berikut datanya :
“Kamar-kamar tidur dibagi di dua sayap
asrama. Sayap sebelah kanan,untuk putri, dan untuk putra sebelah sini,”jelas
Debby,pengurus asrama Fusi. Arif mengikuti Debby berjalan sepanjang lorong.
Sejak pertama kali diperkenalkan Tio tadi,Debby bersikap ramah kepada
arif,namun arif melihat ada gurat ketegasan yang tidak bisa ditolak di wajah
Debby.”( Mestakung : 99 ).
8. Thamrin
Tamrin merupakan tokoh tambahan yang
menggambarkan anak laki-laki yang berasal dari Betawi dan memiliki sifat
ramah,suka humor.Berikut datanya :
“
Setelah minum beberapa teguk,thamrin melanjutkan , kalo aku,orang Betawi asli
!”( Mestakung : 104 )
9. Erwin
Erwin merupakan tokoh tambahan yang
menggambarkan anak laki-laki yang bersosok gemulai. Berikut datanya :
“ Sampeno terlalu manis dan Erwin
terlalu gemulai .”(Mestakung : 104)
10. Bima
Bima merupakan tokoh tambahan yang
menggambarkan anak laki-laki yang pandai,genius dan sombong.Berikut datanya :
“Buat aku ,tes tadi gampang banget,”kata
Bima.Clara pura-pura tidak mendengar ocehan sombong Bima,namun Bima tida
tanggap.Bima melanjutkan ,”kalau mau,aku bisa ajari kamu.”Clara masih
diam,dalam hatinya,ia justru ingin mengajari Bima bagaimana cara menyelotip
mulutnya.” (Mestakung : 121 )
11. Clara
Clara merupakan tokoh tambahan yang
menggambarkan sosok seorang gadis cantik,berkulit putih dan ramah. Berikut datanya
:
“Arif tak sempat menjawab thamrin yang
cerewet itu karena dilihatnya bidadari itu menghampirinya.”baru datang , ya
?”tanya bidadari itu,suaranya ringan seperti dentingan gelas dan ringan seperti
gemercik air.Ia bahkan lebih cantik dari dekat.Kulitnya putih bersih
cemerlang,jarang sekali kulit seperti ini dilihatnya di Madura.Matanya
kecil,namun berkerlip.Duh...cakepnya...batin Arif.”
c. Alur
1. Tahap Situasion ( Tahap Perkenalan
)
Tahapan ini, dalam novel terdapat pada
halaman 7-8. Gaya bertutur yang dipergunakan oleh pengarang adalah memakai
sudut pandang orang lain atau di luar orang pertama dan kedua. Datanya adalah
sebagai berikut :
Pukul
satu malam .
Semua
orang terlelap,Arif masih di ruang shalat. Suaranya lirih melantunkan ayat
terakhir mengajinya. Ketika Al-Quran telah ditutup,yang tinggal cum suara
kerikan jangkrik dan sesekali,lenguhan sapi pakdenya.Selebihnya ,hening.
Tak ingin mengusik keheningan ,
dilangkahkan kakinya perlahan masuk ke kamar bapaknya.Tercium bau obat nyamuk
bakar di ruangan yang Cuma diisi oleh satu set tempat tidur,lemari kayu,danmeja
rias yang sudah jarang difungsikan.Di atas tempat tidur
itu,Muslat,bapaknya,sudah tidur pulas.Selimutnya tersibak hingga kaki.Arif
memunggut dan memakaikanitu ke tubuh bapaknya yang meringkuk,juga dengan pelan
,tanpa suara.(Mestakung : 7-8)
2. Tahap Pemunculan Konflik
Permulaan konflik adalah ketika Salmah memutuskan untuk pergi menjadi TKI
di Singapura.Datanya adalah sebagai berikut :
Muslat mencengkeram bahu Arif dengan kedua tangannya dan menatap lurus.”Ibu
jadi pergi,Rif. Ia sudah memutuskan jadi TKI di Singapura.”(Mestakung :9).
Pertengkaran terjadi karena Muslat selalu berjanji untuk menghentikan
kebiasaannya berjudi di karapan sapi,namun janji Cuma janji.Datanya adalah
sebagai berikut :
Beberapa detik, mata Muslat tertangkaap maataa Salmah.Detik berikutnya,mata
Muslat menghindar. Ia tak mampu menatap Salmah lebih lama.Ada rasa bersalah dan
malu dalam diri Muslat.Ia telah beberapa kali berjanji kepada Salmah akan
menghentikan kebiasaannya berjudi di karapan sapi.(Mestakung : 40).
Muslat yang waktu itu ingin menghentikan kebiasaan berjudi menyanggupi
permintaan Salmah .”Ya , Salmah,Aku berjanji,tadi itu yang
terakhir.:Namun,janji hanyalah
janji.Ditepati atau tidak ,itu perkara lain.Muslat tadak pernah
menepatinya.( Mestakung : 41).
3. Tahap Klimaks
Penderitaan dan kemarahan Arif semakin
menjadi-jadi karena Alul yang menganggap mencari ibunya itu hal yang gampang
yang penting uangnya dulu. Datanya adalah sebagai berikut :
Arif berkata dengan ketus ,”Duit saya
buat cari Ibu.Bukan buat nebus motor.”
Alul mendengus sambil menggelengkan
kepalanya. Di kepala Alul saat ini hanyalah bagaimana menebus belahan hatinya
itu. Tidak ada yang lain-lain, termasuk ibu Arif. Tidak ada waktu untuk
memikirkan orang hilang. “Cari Ibu kamu gampang,”suaranya meninggi.”Sekarang
yang penting uang...uang..”
“Enak saja gampang-gampangin !” Arif
kesal.Ia menantang. Alul kaget , bertahun-tahun ia mencari ibunya belum
berhasil, dan sekarang ada orang yang seenaknya bilang gampang . Kepercayaannya
kepada Alul sudah lenyap sekarang.
“Heh...Arif !Aku kasi tau kamu,ya!Ia
tahu apa yang paling bisa menyakiti Arif,bocah yang telah menyulut amarahnya.”
Kamu mau ketemu ibu kamu ? Percuma Ibu kamu nggak mau ketemu kamu!”kata Alul.
Alul berhasil.Wajah Arif berubah tegang.
Alul melanjutkan ,Ia tidak tahan sama hobi judi bapak kamu !Ngabisin
duit!Makanya jadi sopir truk serabutan sekarang ! bentak Alul.
4. Tahap Penyelesaian
Novel semesta mendukung ini berakhir dengan happy ending. Hal ini ditandai dengan kemenangan Arif dalam meraih
juara Olimpiade Fisika.Datanya adalah sebagai berikut :
“Now,it’s
the time we have been waiting for.”Seisi ruangan yang gempita mendadak
sunyi,The champion of XXI th WPO...Mohammad Arif from indonesia !”
( Mestakung : 187 ).
“Sudah lima bulan ...kamu bertambah
besar ,Rif.”
Muslat memegang pundak Arif erat. Arif
mengangguk. Ia memandang bapaknya dengan hati bangga. Muslat dan Arif sama-sama
menghapus air mata haru yang menetes di pipi mereka. “Ada yang mau bertemu
kamu,”kata Muslat sambil membimbing Arif masuk rumah. Seorang wanita sudah
berdiri di depan pintu. Ia tersenyum menatap Arif. Air mata Arif langsung
menetas lagi melihat senyuman yang sudah ia rindukan lama sekali,bagai ribuan
tahun. Senyuman yang ia kejar hingga Singapura.
“Itu ibu kamu ,”kata Muslat pelan,”Ia
sudah pulang,doamu terjawab,Rif.”
Salmah mendekati
Arif,”Ariiiiff...,”katanya lirih,suaranya tertelan isakan tangis yang
ditahannya. Arif sudah tidak dapat mengerjakan apa-apa lagi. Rasa syukur
memenuhi dadanya. (Mestakung : 194 ).
2. Analisis stilistika
a. Diksi
Pilihan kata yang digunakan Ayuwidya dalam novelnya yang berjudul Semesta
Mendukung tersebut banyak yang mengandung makna konotatif, tetapi secara
denotatif makna kata-kata tersebut mudah dipahami. Datanya adalah sebagai
berikut.
Arif menganggap semuanya selesai hanya dengan menukar sapinya. Ketika
senyum ibunya kembali ,semua masalah dianggapnya selesai. Padahal,badai
besar baru saja akan muncul.Gelombang kekecewaan dalam hati
salmah bergulung,pusarannya semakin besar dan akan memecahkan
.(Mestakung : 43 ).
Kalimat badai
besar,gelombang kekecewaan,hati bergulung dan pusarannya semakin besar dan akan memecahkan,merupakan pelukisan
keadaan seseorang yang memendam rasa kecewa.
b. Majas
Pada novel Semesta mendukung karya Ayuwidya , terdapat beberapa
majas. Diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Personifikasi
Majas yang
melukiskan suatu benda dengan memberi sifat-sifat manusia kepada benda-benda
mati sehingga seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau benda hidup.
Datanya adalah sebagai berikut :
Lemari yang
sudah renta itu memang cerewet, kalau engselnya disuruh
bergeser sedikit,ia merengek. Kreeekkk...Ah,betul,kan,...Arif melirik
Muslat,untunglah bapaknya tetap pulas. (Mestakung : 8 ).
2. Simile
Majas
simile adalah majas yang menggunakan kata-kata perbandingan : seperti, laksana,
umpama. Datanya adalah sebagai berikut :
“Itulah !
Jokinya juga sudah lemes. Yakin kalah.”arif memandang joki Tino. Betul yang
tino bilang .Tampang joki itu sesuai untuk menggambarkan perumpamaan hidup
segan mati tak mau.(Mestakung :15).
Bukannya
terbang dengan anggun seperti layaknya bidadari,Arif terbang dengan anggun seperti burung puyuh kena racun,tersaruk-saruk.
Salmah tertawa melihat Arif. (Mestakung : 46).
c. Citraan
1.
Citraan Penglihatan
Citraan penglihatan pada novel Semesta Mendukung ini dapat diliahat pada data berikut.
Melihat anak-anak muridnya tenang, Tari Hayat meraih tasnya,mengeluarkan
sebuah majalah. Dibacanya majalah itu sambil sesekali melirik pada
anak-anak. Saat membuka salah satu lembar majalah,Tari Hayat terpakupada
sebuah artikel dengan judul ,”Siswa Indonesia Menuju Panggung Fisika
Dunia”.(Mestakung: 62).
2.
Citraan Pendengaran
Citraan pendengaran pada novel Semesta Mendukung ini dapat diliahat
pada data berikut.
Pukul satu malam.
Semua orang terlelap , Arif masih di ruang shalat . Suaranya lirih melantunkan
ayat terakhir mengajinya. Ketika Al-Quran telah ditutup,yang tinggal Cuma
suara kerikan jangkrik dan sesekali,lenguhan sapi pakdenya. Selebihnya,
hening.(Mestakung:7).
3.
Citraan Penciuman
Citraan penciuman pada novel Semesta Mendukung ini dapat dilihat
pada data berikut.
Tercium bau obat nyamuk bakar di ruangan yang Cuma diisi oleh satu set tempat tidur,lemari
kayu,dan meja rias yang sudah jarang difungsikan.(Mestakung:6).
4.
Citraan Rasa
Citraan
rasa pada novel Semesta Mendukung ini dapat dilihat pada data berikut.
Gerimis
berubah jadi hujan dan hujan jadi tambah deras hanya dalam beberapa menit.Arif
meneduh di teras depan toko itu. Karena tak begitu luas,kadang cipratan air
hujan mengenai Arif. Baju Arif sudah basah kuyup dan ia kedinginan.(
Mestakung : 135).
D.
PENUTUP
Struktur novel Semesta
Mendukung karya Ayuwidya terdiri dari tema, alur, penokohan. Tema novel Semesta
Mendukung adalah tentang pencarian cinta dan kasih sayang seorang anak
kepada ibunya yang telah merantau ke negeri sebrang. Alur atau plot novel Semesta Mendukung ini adalah plot
campuran. Penokohan terdiri dari tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama
adalah Arif,Muslat.
Pada analisis stilistika, yaitu Diksi atau pilihan
kata dalam novel Semesta Mendukung cenderung menggunakan kata-kata
yang mengandung makna konotatif dan penggunaan majas. Di antaranya
menggunakan majas personifikasi, simile. Pencitraan yang dapat
ditemukan adalah citaraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan rasa, dan
citaraan penciuman.
DAFTAR PUSTAKA
Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Padang
: Angkasa Raya.
Widya, Ayu. 2011. Semesta Mendukung. Jakarta :
PT. Mizan Pustaka
Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa.
Jakarta: Nusa Indah.
Maslikatin, Titik. 2007. Kajian Sastra Prosa, Puisi, Drama. Jember:
UNEJ Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gajah Mada Univesity Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar